Jamur, dan Semua Cerita Tentangnya

Empat ribu lima  ratus rupiah? Keterangan harga itu berkali-kali kubaca, memastikan tak ada satu digit pun yang keliru. Ternyata memang tak keliru. Itulah harga yang harus dibayar untuk menebus seplastik jamur tiram seberat 250 gram.

Sebelum membelinya, kuputuskan untuk membandingkannya dengan harga jamur di pasar. Setelah kuingat-ingat, ternyata aku tak mampu mengingat berapa persisnya harga seplastik jamur di pasar tradisional.

Pandanganku meraba jamur di dalam plastik. Payungnya lebar merekah sempurna, warnanya seputih kapas. Pun teksturnya. Plastik itu kutimbang-timbang. Beli? Enggak? Beli? Enggak?

Ingatan melompat pada olahan jamur yang pernah kubuat, baik dari eksperimen terhadap sebuah resep, atau resep warisan dari keluargaku. Seperti: tumis, sup, pepes, atau dibuat keripik.

Aku tidak asing dengan olahan makanan dari jamur. Sewaktu kecil, mbah uti, dan mamak telah mengenalkan bermacam-macam jamur yang sering tumbuh secara liar di musim hujan. Seperti jamur trucuk, barat, so, lot, merang, kuping, dan beberapa jenis jamur lainnya yang layak untuk dikonsumsi.

Kita tentu telah familiar dengan jamur merang dan jamur kuping. Bahkan sering mengonsumsinya. Namun, tidak demikian dengan beberapa nama jamur yang kusebut tadi. Maklum saja, penamaan itu memang menggunakan istilah yang lebih mudah ditangkap oleh lingkup masyarakat kami, yakni orang-orang suku Jawa. Aku sendiri sering merasa bingung ketika harus mencari padanannya dalam bahasa Indonesia, apalagi bahasa ilmiah.

Jamur trucuk berukuran sangat kecil. Tingginya berkisar 2-4 cm, berwarna putih atau broken white. Bila kuncupnya belum mekar, ia terlihat seperti paku. Meski ukurannya sangat kecil, namun bila ia tumbuh, biasanya sangat banyak—bila dipepes, bisa untuk konsumsi satu keluarga. Hal paling ironis bagiku, ketika aku kecil dulu, aku tak bertanya, mengapa ia dinamakan trucuk. Mungkin karena bentuknya yang seperti paku, atau mungkin karena tumbuhnya teramat banyak (nrucuk). Atau mungkin karena dua hal itu.

Bagi sebagian orang, bisa dipastikan akan mengernyitkan kening dengan nama jamur barat. Mungkin sebagian benak disesaki tanya, “Emang tumbuhnya  di sebelah barat? Berarti kalau tumbuhnya di utara,  namanya jamur utara?”

Sejatinya tidak demikian. Nama barat bukan mengacu pada arah mata angin. Namun, barat merupakan istilah para simbah dulu untuk angin kencang yang mengiringi hujan. Bila ada pepatah menyebutkan “Ada pelangi setelah hujan”, simbah kami mengajarkan, “Ada jamur setelah angin kencang.”

Kontras sekali ya? Meski begitu, keduanya sama-sama mengajarkan hal positif dalam memandang hidup, selalu ada hikmah dibalik sebuah peristiwa.

Ada perbedaan mencolok antara jamur barat dan jamur trucuk. Baik dilihat dari namanya, penyebab ia tumbuh, hingga ukurannya. Jamur barat ini berukuran sangat besar. Tingginya bisa mencapai 15 cm, dengan diameter payungnya sekitar 10 cm. Menariknya, ia hanya tumbuh sebatang saja. Konon, hanya orang-orang tertentu saja yang boleh melihatnya. Bukan karena orang-orang itu memiliki kesaktian, namun disebabkan kabejan—keberuntungan yang jatuh secara acak.

Hei, adakah yang terkejut dengan jamur so? Bila kau beranggapan aku terlalu keinggris-inggrisan untuk menamainya, maka sesungguhnya tidak demikian. Penyebabnya, tak lain karena jamur ini tumbuh di pokok pohon so, atau yang lazim juga disebut pohon melinjo. Ya, hanya di pohon so, bukan di pohon lainnya.

Jamur ini tidak memiliki payung seperti kebanyakan jamur lainnya. Bentuknya bulat, bergerombol. Kurang lebih seukuran bakso. Bila dipotong, jamur ini memiliki beberapa lapisan. Bagian terluar, merupakan kulit, berwarna kecoklatan, disusul bagian dalamnya yang menunjukkan usia jamur. Bila usianya masih muda, lapisan di bawah kulit akan berwarna kuning, sedang bagian dalamnya berwarna putih. Biasanya, jamur so muda inilah yang diolah oleh mbah uti, atau mamak. Karena teksturnya yang serupa bakso, maka jamur ini lebih sering dibuat sup.

Bila ada jamur so muda, berarti ada jamur so tua? Dulu, kami menamainya demikian. Cirinya jamur itu bulatannya tak lagi sebesar bakso. Ukurannya jauh lebih besar dengan bagian dalamnya berwarna hitam pekat, dan bertekstur seperti tepung. Bahkan,  mbah uti pernah berpesan agar kami tak memakannya. Karena khawatir jamur itu beracun.

Aku tentu saja menurut. Aku tak mau keracunan demi memburu enaknya sebuah jamur—sayangnya di kemudian hari ada sahabatku yang bercerita, bila jamur itu tetap enak dimakan, hanya saja setelah matang teksturnya menjadi sedikit kesat dan membuat seret.

Cara tumbuh yang hampir mirip dengan jamur so adalah jamur lot. Nama jamur ini merupakan akronim dari kata alot yang bermakna liat. Bila jamur so tumbuh di pokok pohon so, maka jamur lot tumbuh di pokok-pokok pohon jati yang telah lapuk. Mengingat pohon jati berkarakter tak mudah lapuk dan sangat liat, sifat ini juga mengikut pada jamur lot. Efeknya bukan hanya saat ia masih mentah, tapi juga setelah dimasak. Untuk memasaknya, perlu trik khusus. Jika tidak, ia menjadi liat seperti karet. Meski cara tumbuhnya serupa dengan jamur so, namun terdapat perbedaan bentuk antara keduanya. Jamur lot berbentuk payung seperti jamur lainnya.

Ada sedikit cerita menarik tentang jamur lot ini. Oleh mbah uti, aku telah dikenalkan jamur lot sejak masih kecil. Jamur yang biasa tumbuh di setelah berakhirnya musim tanam padi ini biasanya menjadi lauk alternatif untuk menghemat pengeluaran. Maklum saja, daerahku merupakan daerah pertanian dengan mata pencaharian mayoritas penduduk sebagai buruh tani. Sehingga, bila masa tanam padi telah berakhir, mereka menganggur hingga musim panen tiba. Bisa terbayangkan, bagaimana mereka harus berhemat untuk bertahan hidup hingga masa panen, dan memangkas biaya di sana sini.

Saat itu musim panen padi, aku dan mamak pusing memikirkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Biaya upah pekerja, ditambah biaya dapur membuat kepala berdenyut, mengingat kami sudah tak lagi memiliki sisa panen sebelumnya yang dapat dijual. Untuk menghemat pengeluaran, ada beberapa pemangkasan biaya. Untuk urusan dapur. Kuusulkan membuat tumis jamur lot. Aku menyanggupi mencarinya. Ada beberapa pokok jati di dekat rumah yang rajin menyuguhkannya. Mamak menyetujui saranku.

Saat makan siang, beberapa pekerja mengernyit keheranan melihat tumis jamur di atas meja. “Ini jamur apa?” tanya mereka bersamaan.

“Jamur lot,” sahut mamak sambil mengambil piring.

“Yang sering di bawah pohon jati itu, kan? Beracun enggak?”

Mamak menggeleng, sambil menjelaskan, bila aku dan mamak hampir tiap hari mengonsumsinya. Mamak lalu memindahkan nasi ke piringnya, mengambil tumis jamur lot, menumpangkannya ke atas nasi, berikut lauk, dan sambal. Setelah piringnya terisi menu lengkap, mamak mengambil posisi duduk tak jauh dari mereka, dan menikmati tiap sendok makan siangnya.

Kulihat beberapa pekerja menatap mamak. Mungkin mereka ingin memastikan, jika jamur itu sungguh tak beracun. Buktinya, setelah nasi di piring mamak tinggal separuh, mereka meniru mengambil tumis jamur lot, dan menyantapnya.

Setelah perkenalan dengan tumis jamur lot, membuat para pekerja—yang tak lain adalah tetangga-tetanggaku—mencari tahu tentang jamur lot. Mereka bertanya padaku, tentang ciri jamur lot dan cara mengolahnya.

Tanpa kututup-tutupi, kubeberkan semuanya. Aku ingin mereka bisa memanfaatkan apa yang telah disediakan alam secara cuma-cuma. Terlebih, jamur kan memiliki berbagai manfaat dan nilai gizi di dalamnya. Seperti informasi yang terdapat dalam www.alodokter.com, ada beberapa nutrisi dalam jamur yang wajib kita ketahui, di antaranya: vitamin B, kolin, vitamin C, vitamin D, selenium, serat pangan, dan sebagai makanan rendah kalori. Lalu, apa saja fungsi  semua gizi itu?

Dalam jamur terdapat asam folat—merupakan salah satu jenis vitamin B—yang dapat memengaruhi serta memperbaiki proses sintesa DNA, sehingga mampu mencegah mutasi gen penyebab kanker. Hal ini tentu menarik bagi siapa pun, kan?

Kandungan kolin dalam jamur  ternyata ternyata sesuai untuk semua lapisan umur. Untuk anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah, bisa sebagai makanan untuk menunjang daya ingat dan mendukung kemampuan belajar. Sedang bagi orang dewasa, dapat memperbaiki gangguan tidur dan gerakan otot.

Bersama serat dan kalium, kandungan vitamin C mampu menjaga kesehatan jantung, dan pembuluh darah jantung. Senyawa inilah yang menjaga tekanan darah dalam tubuh termasuk jantung. Senyawa ini dapat langsung ditemukan di dalam jamur.

Bila kandungan vitamin B tadi mampu mencegah mutasi gen penyebab kanker, maka vitamin D berperan mengatur siklus pertumbuhan sel, sehingga dapat mencegah pertumbuhan sel kanker.

Bagi sebagian orang, tentu asing dengan selenium, membuat bertanya-tanya apakah maknanya. Selenium ternyata merupakan salah satu jenis mineral. Nah, mineral ini dapat mempengaruhi fungsi hati dan membantu proses detoksifikasi zat-zat yang dapat menyebabkan kanker. Tak hanya itu, selenium ternyata  juga dapat mencegah peradangan, menurunkan tingkat pertumbuhan tumor, dan meningkatkan imunitas tubuh terhadap infeksi. Keren, kan?

Jamur juga memiliki kandungan serat yang tinggi. Kandungan serat ini tak hanya mampu mengurangi nafsu makan dan membuat rasa kenyang menjadi lebih lama—seperti yang dibutuhkan orang-orang yang sedang berusaha meraih berat badan ideal. Tapi, ternyata juga dapat membantu menekan tingkat gula darah, lipid, serta insulin bagi penderita diabetes.

Menariknya, dalam jamur ternyata juga terkandung nutrisi lain. Satu cangkir jamur mentah mengandung 2,2 gram protein, 2,3 gram karbohidrat, dan 15 kalori. Mengacu pada data ini, berarti jamur tidak memiliki kandungan lemak sedikit pun. Tentu ini menjadi kabar baik bagi orang-orang yang sedang berusaha mengurangi asupan lemak pada makanannya.

Meski memiliki banyak manfaat di dalamnya, namun tetap perlu diingat, agar tidak berlebihan dalam mengonsumsi jamur. Karena segala hal yang berlebihan itu tidak baik, termasuk urusan pangan. Kita perlu memvariasikan dengan makanan lain. Selain untuk mencegah kebosanan, tentu saja dengan maksud, gizi lain yang dibutuhkan tubuh dapat terpenuhi dengan baik.

Banyak, kan manfaat jamur? Karena itu tak ada salahnya membagikan informasi ini pada orang-orang terdekat, termasuk tetangga. Agar semua dapat sehat bersama melalui bahan pangan yang satu ini.

Sejak kuberi tahu tentang jamur lot itu, tetangga-tetangga mulai mempraktekkannya. Hasilnya, bila aku melihat serumpun jamur lot, dan menunda untuk memanennya, maka bisa dipastikan, aku akan menyesal kemudian. Karena tetangga-tetanggaku yang akan memanennya. Panen yang mereka lakukan juga tak dapat kularang, toh mereka memanen jamur yang tumbuh secara liar, bukan dari budidaya.

Lalu, apakah aku menyesal? Ah, tidak. Toh, setiap orang telah memiliki rezekinya sendiri-sendiri. Alam tak hanya menumbuhkan jamur, tapi ada banyak tanaman lain yang juga bisa diolah, dan bermanfaat.

Setelah sempat menimang-nimang seplastik jamur tiram, akhirnya kuputuskan untuk meletakkan kembali ke rak pendingin. Membiarkannya bersanding dengan paprika, kailan, terung, jagung, dan sayuran lainnya di supermarket ini.

Uh! Aku pelit ya? Sudah kebanyakan pertimbangan, ujung-ujungnya zonk.

Mungkin aku memang pelit. Tapi, ada satu hal yang tadi lupa kuberitahukan di awal, jika sesungguhnya aku ke supermarket itu bukan untuk berbelanja. Namun, untuk berteduh. Terlebih, uang di dompetku juga tak cukup untuk membeli seplastik jamur. Setelah kuingat-ingat, uangku hanya cukup untuk membeli air mineral berukuran 600 ml. Begitulah risiko masuk ke supermarket dengan uang yang jauh dari pas-pasan. Tapi, tak apa, mungkin aku bisa membelinya lagi di lain waktu.[]

Ditulis oleh: Lintang Kinanti

Reviewer: Wahyu Wibowo

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *