Ini Rahasia Buku Best Seller

Sumber gambar: 123rf.com   
 
Mau tahu rahasia buku best seller? Yang pertama, buku itu harus laris terjual. Hehehe … ya kali, namanya juga best seller. Cuma kan yang jadi pertanyaan, kenapa sih buku itu bisa terjual laris?
 
Tunggu sebentar, sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita mengenang dulu nih. Soalnya beberapa kasus di Indonesia ada yang unik soal buku best seller. Ada yang baru terbit, eh tiba-tiba di covernya sudah ditempel logo best seller. Nah, itu dari mana ceritanya? Ada yang menduga, itu tempelan abal-abal, biar bukunya terlihat waow gitu. Tetapi jangan salah, ada juga yang memang buku lagi dicetak sudah diorder ribuan eksemplar. Itu juga bisa terjadi kan. Istilahnya: best seller sebelum masuk toko buku.
 
Ada lagi kasus best seller sesaat. Maksudnya gimana? Jadi begini, ada seorang motivator andal kelas nasional yang suka mengisi acara seminar ke mana-mana. Nah, saat beliaunya menulis buku, bukunya itu dibawa keliling Indonesia dalam tiga minggu. Langsung terjual 8 ribu eksemplar! Sayangnya setelah road show selesai, eh selesai pula penjualan bukunya. Sesaat sekali kan?
 
Ada lho buku best seller langgeng. Istilahnya sepanjang masa. Tidak percaya? Coba cek saja data angka penjualan buku iqra’ (belajar baca huruf hijaiyah) dari jilid 1 sampai jilid 6. Ngaku saja, di masa kecil kamu juga pasti baca buku yang cover belakangnya ada gambar seorang bapak pakai peci warna hitam itu kan? Hehehe … sama.
 
Selain buku itu juga ada lagi. Buku terjual sepanjang masa, laris sampai hari kiamat kelak. Tak tanggung-tanggung lho, selalu best seller tiap bulan! Buku yang paling dicari umat manusia. Bahkan ada yang sudah punya satu buku ini, pengin nambah lagi, lagi, dan lagi lho. Emang buku apa itu? Buku nikah. Hahaha ….
 
Sori-sori, bercanda kok. Okelah, kita mulai yang serius nih ya. Pertama, larisnya buku nonfiksi sejak dulu itu karena kekuatan tema yang dipilih. Ini untuk kasus nonfiksi lho ya. Bahkan meskipun si penulis tidak terkenal (atau belum terkenal), tetapi tema bukunya bagus, jadinya ya tetep laris terjual. Inilah enaknya menulis buku nonfiksi, penulis pendatang baru (untuk tidak mengatakan pemula) bisa berdatangan bebas tanpa mengandalkan popularitas nama. Tidak perlu harus seorang penulis yang pernah menang lomba menulis tingkat nasional juga. Tidak perlu. Asalkan dia berhasil menulis buku dengan tema yang kuat, potensi bukunya terjual laris akan terbuka lebar. Sangat lebar.
 
Ingat judul buku Quantum Ikhlas? Duh, dulu laris sekali itu. Padahal orang-orang awalnya tidak kenal siapa penulisnya, tetapi bukunya dicetak terus menerus, dan terjual laris. Kasusnya jelas berbeda dengan larisnya buku Mencari Tuhan yang Hilang, karena memang penulisnya sudah dikenal masyarakat (umat muslim Indonesia khususnya). Sejarah perbukuan Indonesia juga mencatat begitu larisnya buku ESQ. Sang penulis sebelumnya tidak pernah tampil di televisi. Namun setelah bukunya tersebut laris, beliau pun tampil di beberapa acara di televisi swasta. Saking larisnya, tidak heran kalau semua buku itu dibajak habis-habisan. Ngenes ya.
 
Atau contoh buku laris tema lainnya? Dulu ramai sekali buku terbit dan terjual laris dengan judul model begini: Cepat Kaya dari Internet. Siapa saja penulisnya, kalau menulis tema begitu itu, langsung diburu pembaca. Terutama saat internet bisa diakses dengan mudah dan murah. Sangat menarik buat para karyawan yang mencari penghasilan tambahan. Tinggal klik-klik saja di dunia maya sudah dapat dolar. Terus berlanjut ke tema jualan online, semacam judul model begini: Banjir Order dari Facebook. Laris manis buku itu terutama setelah para pebisnis Indonesia sudah melek dengan internet marketing (online shop).
 
Itu kalau buku nonfiksi ya, bagaimana kalau novel fiksi?
 
Kalau di dunia dangdut ada raja dangdut Bang Haji Rhoma Irama, siapakah rajanya novel laris di Indonesia akhir-akhir ini? Yak betul sekali: Bang Tere Liye. Dulu saya kira, beliau itu cewek. Ternyata … duh, patah hati deh.
 
Konon kabarnya—masih konon nih, kalau mau datanya ya tanya ke toko buku—novelnya Bang Tere itu sebulan bisa menembus angka penjualan 14.000 eksempar! Sebulan lho ya. Duh sori, tapi ini harus cek data lagi sih. Sebenarnya 14.000 atau 1.400 eksemplar per bulan? Ah, pokoknya laris banget deh. Itu baru dari satu judul novelnya saja: Hujan. Belum lagi judul-judul novel lainnya.
 
Kekuatannya kalau karya fiksi itu jujur saja di nama besar penulisnya lho. Mau temanya apa saja, kalau nama penulis sudah populer, ya pasti novelnya diburu. Nama beken untuk penulis fiksi ini penting dalam konteks novel laris lho ya.
 
Coba saja, kalau ada pertanyaan, “Kamu lagi baca buku apa?”
 
“Buku nonfiksi,” dijawab begitu. Biasanya ada pertanyaan lanjutannya lagi, “Emang judulnya apa?”
 
Tapi coba kalau ada pertanyaan, “Kamu lagi baca apa itu?”
 
Dijawab, “Lagi baca novel fiksi nih.”
 
Biasanya sih ada pertanyaan lanjutannya, “Emang penulisnya siapa?”
 
Hahahaha ….
 
Itu semacam penegasan ulang saja, kalau larisnya novel fiksi itu ditentukan oleh popularitas penulisnya. Diakui atau tidak diakui, novel fiksi yang terbit dari hasil seleksi lomba tingkat nasional misalnya, biasanya juga diburu para pembaca. Bikin penasaran soalnya, menang lomba pasti penulisnya keren nih, meskipun tema cerita di dalam novelnya tidak populer. Nah, soal Bang Tere Liye tadi, tema apa pun yang beliau tulis, ya tetap laris penjualannya. Tema novel gonta-ganti pun tak jadi masalah.  
 
Meskipun begitu, teknologi sudah mengubah pola-pola lama seperti itu. Entah siapa yang bilang begini, “Teknologi tidak hanya memudahkan hidup manusia, tetapi juga menggeser semua budaya hidupnya.” Itu benar adanya. Termasuk budaya membaca cerita fiksi. Buktinya setahun ke belakang ini, ramai terbit novel fiksi dan laris pula yang diangkat dari cerita berseri yang diposting oleh penulisnya di Wattpad.
 
Pernah kan lihat di toko buku, ada novel kekinian yang di sampulnya tertempel logo khusus dan tertulis: Sudah Terbaca Jutaan Kali di Wattpad. Nama penulisnya siapa coba? Itu menjadi urusan belakangan. Bagi redaksi fiksi, yang penting cerita sudah dibaca jutaan kali, siapa pun penulisnya, itu pasti menarik untuk diterbitkan. Biasanya kalau terbit akan laris, dan terbukti laris lho. Dan bocoran terakhir yang saya dapatkan dari Owner Penerbit X, beliau bilang, “Novel-novel dari Wattpad itu, penjualannya di toko, kini sudah mengalahkan penjualan novelnya Tere Liye lho.” Waow
 
Nah sebagai ending tulisan ini, saya mau cerita. Selain berdiskusi dengan sesama penulis, beberapa tahun ini saya sering juga diskusi dengan redaksi penerbit, owner penerbit, distributor buku, kepala toko, sampai sales buku di toko dan juga sales buku online. Saya menemukan satu fakta unik saat main ke toko buku. Rupanya ada buku yang sangat laris melebihi penjualan novel apa pun lho! Serius. Lebih laris dari novelnya Tere Liye dan bahkan lebih laris dari novel dari Wattpad.
 
Ketika main di toko, saya bertemu langsung dengan kepala tokonya. Kami cukup akrab, jadi kami ngobrol santai. Kata beliau, “Ada lho mas, buku yang lebih laris dari novel Tere Liye dan novel Wattpad.”
 
Oh ya? Jujur saja saya benar-benar kaget. Jelas rasanya pengin tahu sekali. Buku seperti apa itu? Harus dibeli dan dipelajari nih. Apakah buku terjemah? Apa buku asli karya anak bangsa? Kok bisa sampai saya tidak tahu informasi sepenting ini. Saya harus mendapatkan jawaban saat itu juga.
 
“Buku apa itu pak?” tanya saya serius, penasaran.
 
Beliau tersenyum sebelum menjawab, senyumnya agak wagu sih.
 
“Pengin tahu?” Beliau malah balik tanya.
 
“Iyo dong pak, buku apa itu,” saya mulai mendesak.
 
“Mau tau banget atau mau tau aja?”
 
“Mau tau banget dong pak.”
 
“Buku tulis.”
 
“Ealah ….”
 
 

 

[] Oleh: Dwi Suwiknyo, penulis buku laris Ubah Lelah Jadi Lillah (sudah dicetak 11.000 eksemplar dalam jangka waktu delapan bulan sejak diterbitkan dan sampai sekarang masih dijual di toko buku Gramedia).

14 thoughts on “Ini Rahasia Buku Best Seller

  1. wah lengkap. tapi memang benar ini teman penerbit juga bilang gitu, kalo penulis novel fiksi belum dikenal namanya mending nulis di wattpad dlu katanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *