Ini Dia Bahaya Instagram!

sumber: fenesia.com

 

Konon kabarnya, Indonesia merupakan negara dengan pengguna instagram terbanyak di dunia. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan di internet, ada lebih dari 45 juta pengguna aktif instagram di Indonesia. Para aktivis tersebut (termasuk juga saya, hehe..) membagikan stories dua kali lebih banyak dibandingkan rata-rata masyarakat global. Bahkan di negeri ini, bayi yang baru lahir pun tak jarang telah dibuatkan akun oleh orang tuanya. Salah satu contohnya adalah putri pasangan selebriti Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie, Nastusha Olivia Alinskie. Kini di usianya yang baru setahun, ia telah mendapatkan followers sebanyak 1,7 miliar!
Sebagai platformyang menjadi pilihan generasi kekinian, instagram terus memperbarui fitur-fiturnya dan yang saat ini masih menjadi favorit adalah instagram stories. Fitur yang berguna untuk membagikan foto atau video pendek ini pun dapat dilengkapi dengan berbagai filter lucu serta tulisan dengan berbagai font. Karena kelengkapan fitur ini, pengguna semakin bebas membagikan aktivitasnya secara detail. Ada juga fitur live, fitur inilah yang digunakan oleh kalangan selebriti untuk menyapa para followers-nya, selain itu followers juga dapat berinteraksi dengan mengajukan pertanyaan kepada si artis. Dengan fitur yang semakin bervariasi, rasanya jarak antara kita dan hidup orang lain menjadi lebih singkat: hanya sejauh satu klik.
Dengan semakin mudahnya kita melihat kehidupan orang lain, instagram stories bisa menjadi ‘racun’ yang berpengaruh buruk dalam keseharian kita. Pengaruh yang secara langsung dirasakan tentu kuota terasa semakin boros. Selain itu, dengan kebiasaan orang lain berbagi, kita menjadi mudah meniru: memamerkan diri pula. Masih ada banyak hal lain yang patut kita waspadai. Kemudahan dunia maya dapat menjadi ujian, sikap kitalah yang menentukan bagaimana sesuatu menjadi bermanfaat atau malah merugikan diri kita sendiri.
Disadari atau tidak, kebutuhan manusia belakangan menjadi bergeser, berwisata tidak lagi perlu tempat teduh, nyaman dan banyak makanan. Sepanjang tempat itu memiliki spotfoto yang instagramable, tak lama kemudian akan langsung diserbu pengunjung. Siapapun yang datang akan berlomba untuk memosting foto di tempat tersebut. Tempat makan yang awalnya cukup mengandalkan makanannya yang enak, kini mungkin tak lagi bisa sedemikian santai. Kebutuhan dekorasi yang cantik dan dipenuhi ornamen-ornamen unik serta caption bijak berbahasa Inggris menjadi kebutuhan lain di tengah aktifnya warganet mengunggah foto. Bahkan tak ketinggalan, ketika hendak dan setelah makan. Hal yang demikian, justru menjadi peringatan untuk pengguna instagram karena seringkali secara tidak sadar, quality time kita menjadi berkurang hanya karena kita lebih banyak mengabadikan stories dibandingkan dengan mengobrol bersama keluarga atau pun teman.
Tidak hanya sampai di situ, kebutuhan yang cenderung bergeser ini juga pernah memakan ‘korban’. Penghujung tahun lalu, sebuah taman bunga amaryllis di Patuk, Gunungkidul, rusak terinjak oleh pengunjung yang berusaha mendapatkan foto. Ini nyata terjadi, hanya demi mendapatkan satu bahan yang bisa diunggah dalam akun instagramnya. Meskipun sekarang ini pengelola telah merapikan tatanan taman bunga tersebut dengan garis pembatas, kejadian sebelumnya adalah pertanda buruk. Rambu kuning untuk level kecanduan kita terhadap kebutuhan berfoto yang telah mencapai puncak.
 Mungkin, selama ini kita telah banyak mendefinisikan kesuksesan dalam hidup sebagai apa yang banyak digambarkan dalam akun orang lain yang eksis dan hits. Membuat konten viral, menebar foto cantik atau pemandangan yang artistik, nongkrong di cafedengan bangunan futuristik, lalu mudah sekali mendapatkan followers. Dengan demikian, semakin banyak endorser yang menggunakan jasanya untuk memperkenalkan berbagai produk. Sukses terasa sebagai hal yang instant, hanya dengan membagi semua kegiatan makan dan jalan-jalan, pundi-pundi rupiah bisa datang dengan mudah. Anak kekinian menjadikannya sebagai life goals dan mencari berbagai cara untuk mendapatkan banyak followers agar mendapat julukan sebagai seorang selebgram.
Standar hidup yang kemudian dibangun dari hal-hal tersebut membuat kita masuk ke dalam jebakan agar tidak kalah ketinggalan dari orang lain. Kita mudah diserang kekhawatiran jika jumlah likes selalu saja sedikit. Akhirnya, langkah edit sana-sini, putihkan wajah juga menggunakan aplikasi editor foto yang membuat bentuk badan semakin sempurna menjadi pilihan yang sering kita gunakan. Kecenderungan untuk terus meng-update aplikasi editing mungkin juga salah satu akibat dari kekhawatiran tertinggal dari aktivitas yang sedang populer.
Kecenderungan membangun citra dalam media sosial juga berbahaya jika kita tidak berhati-hati untuk membangun dinding batas untuk diri kita sendiri. Sebagai contoh, ketakutan merasa tertinggal dan juga pembangunan citra yang terlewat batas dialami oleh seseorang yang belum lama banyak diperbincangkan. Masih ingat Dwi Hartanto? Sosok yang mengaku memiliki 5 hak paten terhadap temuan teknologi dan menyatakan bahwa dirinya adalah lulusan dari Tokyo Institute of Technology, Jepang. Kebohongan-kebohongan lain pun dilakukan untuk memperkuat citra diri sebagai ilmuwan hebat, salah satunya dengan mengaku sebagai satu-satunya orang non-eropa yang berhasil masuk dalam proyek roket dan satelit di European Space Agency (ESA). Hingga akhirnya, kebohongannya pun terbongkar dan sosok Dwi Hartanto kemudian mendapatkan banyak cibiran. Lebih menyedihkan lagi, penghargaan yang diberikan KBRI harus dicabut dan ditambah dengan keharusan untuk melewati etik di kampus TU Delf.
Saat saya coba googlingtentang Dwi Hartanto ini, sebetulnya tanpa membuat kebohongan pun ia sudah bisa membuat iri orang lain. Bagaimana tidak? Ia lulus dengan predikat cumlaude dan menyandang gelar lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,88. Lepas menyandang gelar Sarjana, ia melanjutkan pendidikan S2 di TU Delf dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2009 lalu melanjutkan S3 di kampus yang sama sampai saat ini. Bagi orang lain, lulus sarjana dengan predikat cumlaudejuga dapat melanjutkan kuliah ke luar negeri, tentu sudah menjadi hal yang bisa dibanggakan.
Dari kasus tersebut kita bisa belajar, bahwa jika kita terlalu melihat kehidupan orang lain dan menjatuhkan diri terhadap tuntutan yang dibangun media sosial dapat mengakibatkan kita buta akan nikmat yang telah kita punya. Sudah seharusnya, dalam serangan postingan orang lain yang begitu mengancam kebahagiaan kita, kita bangun tembok untuk membatasai hal-hal mana saja yang seharusnya kita ambil. Orang lain mungkin terlihat bahagia dan lebih berprestasi, tetapi kita tak boleh lupa bahwa setiap foto atau cerita yang diunggah tentu telah melewati proses pemilihan: tidak ada orang yang ingin terlihat buruk!
Jika terus saja membandingkan diri dengan orang lain, kita hanya akan berandai-andai menjadi seperti mereka tanpa bisa melakukan apa pun. Tugas yang paling penting sebetulnya adalah membangun rencana kita, tentu dengan standar yang juga kita tetapkan sendiri bukan dari apa yang sedang hits. Instagram adalah media sosial, bukan dunia nyata yang menggambarkan kehidupan manusia secara utuh. Habiskanlah energi kita untuk mengukur seberapa jauh kita telah melangkah menuju kebaikan dan banyak-banyaklah bertanya pada diri sendiri: mereka yang sangat bahagia dan hidup sempurna, atau kita yang luput untuk bersyukur atas hidup kita sendiri?
//–//
Ditulis oleh: Hapsari Titi Mumpuni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *