HP Dibatasi, Anak Terlindungi

sumber: google image

 

Tidak mengherankan sekarang ini kalau anak-anak sudah pegang gadget. Entah itu berupa HP, Ipad, pemutar MP3/MP4 atau yang lainnya. Saking akrabnya, mereka sering membawa kemana saja gadget tersebut. Bahkan mereka rela menunda makan, mandi dan salat hanya untuk memainkannya. Dari sekian jenis gadget yang mereka kenal, anak-anak lebih memilih HP untuk digunakan.
Sebab dalam HP itulah, semua fasilitas gadget tersedia. Dari fasilitas chatting, telepon, internet, Microsoft, Bluetooth dan masih banyak lagi. Dari sekian banyaknya fasilitas tersebut, anak-anak hanya memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Path. Media sosial tersebut sangat familiar dalam kehidupan mereka. Termasuk media Youtube dan berbagai game yang mereka unduh di Playstore. Ragam tayangan dan game membuat mereka betah berlama-lama memainkannya.
Inilah yang menjadi kecemasan para orangtua bila anak maniak bermain HP. Namun sebagai orangtua, kita tidak bisa serta merta melarang sebab tanpa kiat akan percuma. Saya pernah mengikuti sebuah pelatihan “Internet Sehat”. Dalam pelatihan itu, disebutkan bahwa saat ini gadget (baca: HP) seperti sebuah sungai. Sementara rumah kita dikelilingi sungai-sungai tersebut. Lalu kita, sebagai orangtua, tidak bisa melarang anak agar tidak berenang di sungai itu. Sebab jelas, anak akan penasaran, kenapa tidak boleh? Maka akibatnya mereka tetap main di sungai, baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.
Anak-anak kita akan berusaha untuk keluar rumah dan melalui sungai itu. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Yang paling tepat adalah kita ajari anak-anak kita berenang. Dengan bisa berenang, mereka akan selamat saat melewati sungai itu. Jadi solusi dari kecintaan mereka terhadap gadget adalah memberikan mereka edukasi. Berikan pengertian dan pemahaman kepada mereka bahwa gadget itu membawa dampak seperti ini dan itu. Bagus juga untuk mengenalkan bagaimana cara bermain HP secara sehat. Gunakan jalur-jalur atau aplikasi yang bermanfaat. Di samping menggunakan aplikasi yang berguna, batasi juga pemakaiannya.  
Walaupun mereka memainkan aplikasi yang bermanfaat, jangka atau waktu memainkannya perlu diperhitungkan. Jangan dibiarkan mereka terus menerus memainkan sebab kesehatan mata mereka juga perlu diprioritaskan. Lakukanlah hal yang baik dengan cara yang baik. Atur jadwal menggunakan gadget bagi anak-anak tersebut. Apakah itu mungkin untuk anak-anak yang masih kecil? Saya rasa bisa, asal anak diajak komunikasi dan diskusi. Kemudian bersama-sama disepakati tentang aturan menggunakan gadget tersebut.
Sebagai contoh apa yang kami lakukan. Saya juga mempunyai dua anak yang masih kecil. Yang kecil berumur 4 (empat) tahun dan yang besar berumur 11 (sebelas) tahun. Hal yang saya lakukan adalah mengajak mereka berdiskusi kapan dan berapa lama mereka boleh memainkan. Memang ini bukan solusi yang terbaik tetapi minimal di keluarga saya cukup efektif. Namun ada juga keluarga yang menerapkan aturan yang lebih ekstrim. Lebih ketat dibandingkan apa yang keluarga saya lakukan.
Pernah saya membaca kisah perjalanan Musa (peraih juara 3 hafalan Al-quran tingkat internasional). Karena prestasinya tersebut, dia  sampai diundang raja Arab Saudi. Nah di keluarga Musa tersebut, dia tidak boleh menonton televisi. Malah tidak ada televisi di keluarganya. Hebatnya lagi, saat di bandara, secara tidak sengaja Musa melihat tayangan TV di bandara. Kemudian ayahnya langsung mengajaknya pindah tempat. Menjauhi tayangan televisi tersebut. Begitu dilindungi Musa dari program TV, apalagi gadget tentu dia tidak diperkenankan.
Terus terang saja, keluarga saya belum bisa melakukan pelarangan seperti itu. Kami baru bisa membatasi durasi dan menentukan kapan boleh bermain HP. Alhamdulillah, mereka bisa konsisten. Apa saja aturan yang saya terapkan?
1.  Untuk anak yang kecil tadi, saya membatasi dia selama 15 menit untuk bermain HP. Lima belas menit itu selama satu hari. Jika dia berganti memainkan HP istri maka aturannya sama 15 menit juga. Jadi total dia bermain HP maksimal 30 menit selama sehari. Lalu dia membuka apa saj? Si kecil biasanya membuka Youtube atau Instagram. Kedua aplikasi itu dia gunakan untuk membuka film Ultraman atau Power Ranger.
Namun sebelum memberikan HP kepada si kecil tentu kita harus men-setting tentang keamanannya. Di bawah akun Youtube itu bisa kita settingtentang keamanan tayangan di Restricted Mode. Model Restricted Mode ini mencegah video atau tayangan yang tidak senonoh. Di samping secara teknis kita juga wajib mengecek tontonan anak-anak kita. Hal ini untuk memastikan bahwa aman menurut Youtube, aman juga bagi anak-anak kita.
2.  Untuk anak kedua, saya selalu memberi batasan hari. Dia hanya boleh menggunakan HP tiap hari Sabtu dan Minggu. Hari-hari libur sekolahnya. Selain kedua hari tersebut, dia tidak boleh membuka HP. Hal ini dilakukan untuk membatasinya agar tidak fokus ke gadget saja. Namun ia bisa fokus ke belajar dan kegiatan di rumah. Walaupun sudah kita batasi hari-harinya, kita juga mesti mengawasi media atau aplikasi apa yang digunakan anak-anak kita.
Itulah dua hal yang saya lakukan untuk mencegah anak-anak kecanduan HP. Mungkin itu bukan solusi yang sempurna namun bagi saya itu hal terbaik bagi keluarga. Minimal anak tidak gaptek (gagap teknologi) dan terlindungi dari bahaya gadget, khususnya HP. Semoga.
//–//
Ditulis oleh: Joko Sulistya. Seorang guru dari Bantul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *