Hari Terakhir Bersama Bapak

“Lik, kita pulang dulu,” ajak tetanggaku.

“Ada apa, Kang?” tanyaku heran.

Biasanya, aku pulang sekolah sendiri, kenapa aku harus dijemput? Apalagi ini baru jam ketiga, belum mendekati waktu pulang sekolah.

“Nanti, sampai rumah kuberitahu,” janji Kang Tapip.

Aku setuju saja dan segera membonceng Kang Tapip. Sementara sepedaku dibawa tetangga satunya.

Sebelumnya, aku berpamitan lebih dulu pada guru di kelas. Ada tatapan sedih di muka guruku, aku tidak tahu kenapa. Apa ada sesuatu di rumah? Tetapi apa? Pikiranku kalut dan aku hanya mampu menebak-nebak saja. Semoga tidak terjadi apa-apa di rumah.

Aku melewati jalan yang sama ketika aku datang pagi tadi. Jalan yang naik turun melewati perkampungan. Memang jalan ini tidak sebagus dan seramai jalan raya. Juga tidak seramai pikiranku. Pikiranku bercabang ke mana-mana.

Jalan kampung ini sangat kusukai. Selain lebih cepat, aku juga tidak akan kepanasan. Jalan yang hampir satu tahun kulewati. Di jalan ini tidak ada truk, mobil besar ataupun bus sehingga aku aman Aku bisa berangkat bersama teman-teman sambil bercanda dan kejar-kejaran dengan sepeda.

Sering kami menikmati jalanan yang menurun dengan melepas kayuhan pedal. Sangat menyenangkan melewati jalan itu setiap hari. Namun tidak dengan hari ini, jalan ini terasa sepi, bisu dan kosong. Tidak ada canda tawa bahkan tidak guyonan yang coba dilontarkan tetanggaku. Sedemikian seriuskah kejadian di rumah sehingga membuatnya lebih baik diam daripada berbasa-basi? Ah, apalah aku, hanya anak kecil, masih kelas tujuh SMP. Tahu apa urusan orang dewasa?

Sesampai rumah, aku melihat sudah banyak orang yang berkumpul. Ada yang membersihkan halaman rumah, membawa perkakas dan juga yang memasang seng depan rumah. Apa apa ini? Aku turun dari boncengan sepeda dan berjalan gontai memasuki rumah. Ibu menyambutku dengan tangisan. Air matanya berurai membasahi pipi. Aku dipeluknya erat-erat.

“Bapak, wis ora ono Lik,” ucap Ibu lirih.

“Bu, aku lapar,” kataku. Hanya kata itu yang mampu kuucapkan. Aku tahu Ibu, Bapak sudah tidak ada. Aku bingung mau melakukan apa. Serba salah. Apakah cukup kutangisi. Namun aku tidak mau larut dalam kesedihan. Perutku perlu diisi agar aku kuat menahan tangis. Aku ingin meninggalkan kesedihan di kamar dan berganti dengan aroma dapur.

“Oh, lapar, sudah sana cari makan di dapur,” kata Ibu, masih dengan terisak.

Aku melewati beberapa ibu yang sibuk mempersiapkan perkakas di dapur.

Iki lho Le, kalau mau makan,” saran salah satu ibu.

Aku pun mengambil piring dan nasi secukupnya. Kemudian makan dengan lauk ikan pindang siang itu. Makan siang itu terasa hambar, tidak ada rasa gurih, pedas dan kenyal ikan pindang.

Aku hanya ingin menyendiri dan menahan air mata ini supaya tidak jatuh. Tidak. Tidak boleh, Bapak baik-baik saja, batinku. Habis sudah sepiring nasi dan lauknya. Kuletakkan saja piring kosong itu di atas meja, sama seperti biasanya. Kemudian aku kembali ke tempat Ibu yang masih menangis sesunggukan. Di sampingnya duduk kakak perempuanku.

“Sekolahku, bagaimana Bu?” tanya kakak.

“Kalian tetap terus sekolah, Ibu akan mencarikan biaya,” ujar Ibu menguatkan kami yang rapuh.

Kami hanya dua anak yang masih kecil dalam berpikir. Apalagi kami belum mampu membantu apapun. Kami bertiga masih berkumpul dan memilih diam daripada meneruskan percakapan. Aku tidak melihat adik, mungkin dia bermain bersama teman-temannya. Bukankah hari ini banyak orang yang bisa diajaknya bermain?

Pukul dua siang, semua persiapan penguburan Bapak telah siap. Keranda juga sudah dipanggul beberapa pemuda desa. Upacara penguburan jenasah dimulai. Di awali sambutan Kepala Dusun sebagai wakil keluarga. Keluarga tentu tidak mungkin memberikan sambutan dalam kondisi berkabung. Kemudian dilanjutkan acara doa yang dipimpin seorang kiai di dusun.

Kemudian para pemuda maju ke depan siap memberangkatkan keranda.

“Lik, ayo lewati bawah keranda Bapak,” pinta Ibu.

Aku melakukan apa yang disuruh Ibu. Entah berapa kali aku berjalan bolak-balik di bawah keranda Bapak. Adik dan kakak pun melakukan hal yang sama. Orang-orang merangsek saat Pak Kiai memimpin doa. Saat doa ditutup, berangkatlah jenazah Bapak. Peti kayu itu membawa bapak pergi dan meninggalkan rumah kami. Aku memandangnya semakin menjauh dan hilang di tikungan.

Aku tidak berani mengikuti, apalagi mendatangi lubang makam bapak. Tidak. Aku tidak seberani itu. Aku cukup di rumah saja. Biarlah jenazah Bapak diurus oleh orang-orang. Ibu masih menangis tersedu-sedu. Kakakku juga berurai air mata. Matanya sembab. Aku? Tidak ada air mata yang bisa mengalir ke pipi. Tangisku tertahan.

Bapak sangat dekat denganku bahkan aku merasa dinomorsatukan di keluarga. Mungkin karena aku anak laki-laki satu-satunya. Pernah aku mendengar Ibu bercerita bahwa Bapak ingin sekali mempunyai anak laki-laki. Alhamdulillah, doa Bapak terkabul. Jadi wajar saja kalau aku sangat dimanja. Hampir seluruh keinginanku dituruti, walaupun tidak selalu karena keterbatasan ekonomi.

Aku juga sering diajak melakukan banyak kegiatan bersama. Kegiatan yang kami lakukan tidak hanya sebatas bermain tetapi juga menggarap sawah, menanami dan memanen. Aku sangat menikmati menjadi petani dan banyak belajar dari Bapak. Sebenarnya bapak bukan hanya seorang petani tetapi juga seorang pegawai.

Bapak bekerja sebagai pegawai musiman di pabrik penggilingan tebu, PG Madukismo. Karena hanya pegawai musiman maka Bapak mempunyai banyak waktu luang. Bapak hanya bekerja pada saat musim panen, ketika PG Madukismo mulai menggiling tebu. Kalau sudah selesai, Bapak akan kembali bertani atau mengerjakan sesuatu di rumah. Kata Bapak, dia tidak bisa menganggur. Maka bercocok tanam menjadi salah satu pilihannya.

Menurutku Bapak sosok lelaki yang penyabar dan penyayang. Dia sangat tabah dan bisa hidup sederhana. Bapak jarang marah padaku. Tidak mungkin bapak lakukan karena beliau sangat bangga memiliki anak laki-laki. Oleh karena itu, aku bisa meminta apa pun. Bahkan saat tidak memiliki uang Bapak rela meminjam ke PG Madukismo. Itu wujud pengorbanan Bapak. Namun sekarang, Beliau telah pergi.

Sehari sebelum Bapak meninggal, kami sangat akrab. Kami sempat bermain Pingpong. Ada sebuah meja persegi hijau di pendopo. Aku biasa bermain Pingpong dengan teman-teman. Namun hari itu berbeda, Bapak mengajakku bermain. Aku tidak menyangka itu adalah momen terakhir aku bermain bersamanya. Mungkin itu cara bapak berpamitan.

Kami bermain sangat asyik sampai lupa waktu. Setelah selesai bermain, aku dan  bapak mencuci meja itu.

“Yo, Le. Mencuci meja ini. Kayaknya sudah kotor,” ajak Bapak.

“Ya, Pak.”

Kami mencuci dengan semangat. Entah mengapa hari itu, kami tidak merasa letih dan capek. Semua terasa mudah dan penuh semangat. Beberapa menit kemudian, meja terlihat bersih. Bapak tersenyum puas melihat hasil kerjanya.

Ah, Bapak begitu saja bangga, batinku.

Kami berdua mengangkat meja makan itu menuju sinar matahari. Dengan harapan meja itu segera kering dan bisa digunakan.

Itulah hariku terakhir bersama Bapak. Tidak kusadari beberapa tanda saat Bapak akan pamit. Ibu juga tidak menyadari bahwa Bapak sudah mempersiapkan semuanya. Selebihnya, siap atau tidak, sudah saatnya beliau pulang. Sudah saatnya bapakku melepas kami untuk mandiri tidak lagi bergantung dengannya.

Kejadian itu masih membekas dalam pikiranku. Walaupun sudah terjadi dua puluh tahun yang lalu.

“Lik, andai Bapakmu masih hidup,” keluh Ibu.

“Emang kenapa, Bu?”

“Dia pasti bangga melihatmu seperti sekarang ini.”

Aku hanya diam. Langsung kupeluk Ibu untuk menumpahkan semua air mata ini. Air mata yang dulu kutahan dan tidak bisa jatuh. Sekarang tumpah.

Satu sisi, aku marah, benci dan jengkel Bapak telah diambil Tuhan namun di sisi yang lain aku bersyukur. Tersebab, aku mungkin tidak bisa seperti sekarang ini bila Bapak masih sugeng. Mungkin aku masih manja dan penuntut.

                                                                                                Ditulis oleh : Jack Sulistya

Reviewer: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *