Hanya 900 Ribu Bisa Keliling Bali Hingga Puas

Foto kenangan di pantai kuta. Sumber Gambar: Jack Sulistya.
 
Menjadi seorang guru itu menyenangkan dan menggembirakan. Salah satunya adalah adanya kegiatan pembelajaran kontekstual. Banyak orang menyebutnya study tour atau piknik, namun kami menyebutnya pembelajaran kontekstual. Nyatanya memang dengan pergi ke obyek wisata tersebut para siswa bisa belajar langsung tentang berbagai pengetahuan. Sebagai contoh kami saat ini pergi ke pulau Bali. Pergi ke Bali menjadi destinasi pilihan sebagain besar siswa walau ada kegundahan tersendiri bagi diri ini. Terutama gaya hidup dan cara berpakaian para wisatawan di beberapa obyek di Bali. Tetapi mau bagaimana lagi?

Tidak terlalu mahal iuran para siswa jika dibandingkan dengan sekolah lain. Hanya sebesar Rp. 900.000 mereka bisa pergi ke Bali selama 2 malam 3 hari. Belum ditambah dua obyek di Jawa Timur; Selecta dan Museum Brawijaya. Itu baru dua obyek yang tercecer di jalan, ya ibaratnya destinasi tambahan. Sebab tujuan utama jelas ke Bali, yups ke Bali. Sebab ada satu sekolah yang tujuan study tour ke Jawa Timur, eh bayarnya hampir 800ribu. Cuma selisih dikit dengan sekolah kami. Namun mereka tidak pergi ke Bali. Lah, kalau kami ini merupakan anugerah bisa ke Bali dengan biaya minimalis tetapi pelayanan funtastis. Minimal menurutku, pembimbingnya.

Setelah melewati selat Bali, kita langsung menuju obyek pertama yaitu Tanah Lot. Di sini anak-anak bermain ke pantai. Oiya,mereka pun bebas mandi di dekat tempat pemberhentian bus. Tidak perlu antri sebab sepanjang tempat parkir bus tersebut, banyak betebaran kamar mandi dan kamar kecil. Di situlah kita menghabiskan waktu untuk mandi dan keperluan yang mendesak lainnya. Hanya dengan tambahan tiga ribu rupiah, wajah kembali cantik dan tamvan plus seger. Kelar mandi kita menuju ke Tanah Lot. Dengan wajah super duper keren (jiah), kita pun berani selfie. Puas di Tanah Lot, kita segera menuju Masjid bagi yang cowok untuk salat Jumat. Kebetulan hari ini hari Jumat, jadi wajib salat di Masjid. Sementara yang cewek kita drop di Cening (pusat oleh-oleh khas Bali).

Habis Jumatan, cap cus kita nyusul ke Cening untuk makan siang bersama. Tak begitu lama kita lanjut ke Monumen Bajra Sandi. Sebuah monumen yang didirikan untuk mengenang peristiwa perang Puputan. Habis menikmati monumen, yang malah sering digunakan pre-wedding, kita ke Pantai Kuta. Mungkin tempat ini bagus dan menarik sehingga dijadikan settingpra nikah.

Sampai di pantai Kuta, duh beban mulai menyeruak. Betapa tidak, banyak bule berjemur hanya dengan menggunakan underwear. Malah ada tiduran di pantai tanpa sehelai benang pun. Untung, posisinya tengkurap sehingga tidak terlalu vulgar. Demi menjaga mata dari zina, kami pun tidak berlama-lama di pantai Kuta. Entah bagaimana perasaan anak-anak, tetapi kami memutuskan untuk meninggalkan pantai Kuta segera. Pulang dari pantai Kuta, kami melanjutkan ke pantai Pandawa.

Kita di pantai Pandawa bukan untuk menikmati pantai lagi. Bukan. Toh, kita sudah puas bermain air di Tanah Lot dan Pantai Kuta. Jadi di pantai Pandawa kita menikmati tarian kecak outdoor. Berbeda dengan tontonan kecak pada tahun sebelumnya, kecak di pantai Pandawa lebih mistis dan menakjubkan. Dengan latar belakang pantai Pandawa yang berada jauh di bawah panggung membuat tontonan ini sungguh menarik sekali.

Kurang lebih satu jam berlangsung pementasan Kecak, kami merasa kelelahan. Waktu terus berlalu, jam di tangan menunjukkan pukul 9 malam. Saatnya pulang dan istirahat. Alhamdulillah, tempat menginap sangat representatif.Sebuah hotel dengan bed yang lebar. Di depannya terpajang sebuah televisi flatyang menempel di dinding. Kita bisa memilih beberapa acara luar negeri sebab ada channel HBO, FOX dan lainnya. Tidak melulu produk Indonesia yang lebih konsen dengan sinetron atau FTV. Ya tahulah, bagaimana kualitas produk keduanya. Itu baru televisinya, belum air panas untuk mandi dan juga kasur plus bantal super empuk. Terakhir sleeping bed yang tebal berpadu dengan AC kamar yang super dingin. Pas deh.

Dengan kualitas kamar tidur seperti itu, kami dapat tidur dengan nyenyak dan fresh di pagi harinya. Dan pagi hari ini kita masih punya dua obyek yang wajib dikunjungi; Joger dan Bedugul. Duh, lengkap bener perjalanan ini. Pas di Joger, masuk sebentar dan lihat-lihat sebentar. Tidak ada yang istimewa dengan tempat ini. Sebab tahun kemaren sudah ke sini, dua kali malah. Belum tahun-tahun sebelum, ah pokoknya ke Joger sudah sampai titik jenuh. Lalu apa yang mau dicari? Eits, sebentar-sebentar di sebelah Joger ada apa itu? Ya, tawaran yang lebih menarik, wisata kuliner. Sebuah warung bubur, begitu aku memyebutnya. Dari beberapa pilihan bubur yang ada, aku memilih bubur sumsum. Kata orang Jawa, bubur sumsum itu kalau dimakan bisa mengurangi rasa capek sampai ke tulang sumsum. Ingin rasanya membuktikan hal itu.

Namun, sayang bubur sumsum belum menjadi rezekiku. Kata mbaknya sudah habis, ya sudah, pilihan jatuh ke bubur yang lain. Bubur campur. Berhubung namanya bubur campur, ya campur campuran. Ada ketan hitam, buah waluh, mutiara, sirup gula, buburnya sendiri dan diaduk-aduk menjadi satu. Rasanya? Hm, seperti itulah. Tidak ada yang istimewa, biasa saja, namun berhubung ini hal baru ya sudah nikmati saja. Apalagi tidak terlalu mahal hanya Rp. 8.000 untuk dimakan di tempat. Kalau mau dibungkus maka tambah biaya Rp. 2.000 untuk gelas plastiknya. So, lebih irit dimakan disitu sih. Rencana tidak akan membeli oleh-oleh untuk keluar namun si besar meminta dibelikan kaos Joger. Ya, sudah masuk juga ke Joger untuk membeli kaos, daripada diamuk. Setelah obrak-abrik sana sini, akhirnya nemu juga kaos joger. Hm, oleh-oleh yang tidak murah, dibandingkan produk yang sama made in Yogya; Dagadu. Sayang Dagadu sudah tidak booming lagi, akhirnya kesinilah orang-orang.

Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 siang, saatnya melanjutkan perjalanan ke Bedugul. Kata mbak TL (Tour Leader), Bedugul itu dulu ceritanya anunya siapa itu yang dipotong agar tanah kembali subur. Maka jangan heran kalau ke Bali menemukan gantungan kunci yang bentuknya mirip alat kelamin laki-laki. Naudzubillah. Belum sampai di bedugul kita mampir dahulu di rumah makan Saras. Kata seorang teman, kopi di daerah sini enak, eh pas nyoba kopi kok terasa seperti kopi sachet dan seperti kopi merk ABC. Ah, dimana enaknya? Belum rasanya pahit tersebab gula belum dituangkan dalam gelas. Nasib. Setelah meminta tambahan gula, yang dikasihkan gula sachet juga.

Dalam bayanganku diberi sebuah tempat gula dan secangkir kecil susu cair kemudian dicampur menjadi satu. Disitulah rasa kopi terasa nikmat, menurutku sih. Ah, lupakan soal kopi. Sekarang fokus ke Bedugul, sebuah danau terbesar di Bali. Salah satu hal yang menarik dari tempat ini, di samping danau ini adalah sebuah masjid. Masjid satu-satunya di Bedugul, satu-satunya man. Di setiap singgah di Bedugul, aku selalu menyempatkan diri untuk membeli jagung rebus. Jagung yang besar dan bijinya yang empuk serta gurih, menambah nikmat hawa sejuk siang ini. Benar, biarpun ini siang hari tetapi masih tampak pagi. Gerimis turun dengan pelan dan lembut, pas sudah untuk makan jagung rebus. Jagung rebus seharga Rp. 10.000 untuk tiga jagung. Hm, nikmat bener.

Oiya mau photo sekali jadi? Bisa juga kok, tinggal keluarkan uang Rp. 15 000 bersama pasangan bisa diperoleh bonus framekertas yang cantik. Dengan photo sekali jadi itu mungkin Anda bisa menyimpan kenangan bersama pasangan. Okelah itu sekilas tentang Bali dan perjalanan 2 malam 3 hari.
 
Ditulis Oleh : Jack Sulistya, Seorang pengajar yang aktif menulis buku fiksi dan nonfiksi.
 
Baca Juga:   Kalau Pernah Makan Sirip Ikan Hiu, Tobat Mulai Sekarang!

10 thoughts on “Hanya 900 Ribu Bisa Keliling Bali Hingga Puas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *