Guru: Pahlawan Bertanda Jasa

Tema guru tak pernah habis untuk diperbincangkan. Pelbagai kisah menarik dan seru dari olah pikir guru bermunculan mengisi ruang buku, koran, majalah, televisi, media sosial, bahkan ruang tamu. Tak jarang pula guru hadir lewat cerita kekejaman, mogok mengajar, dan demonstrasi.

Kata “guru” memberi berkah bagi para awak media. Mereka tidak perlu lagi bersusah payah mengejar berita dengan masuk sawah, hutan, penjara, pasar, atau menghabiskan berlimpah rupiah. Para awak media cukup mendatangi lembaga, aktor, dan pemerhati pendidikan yang bertebaran di setiap jengkal tanah.

Guru muncul untuk pemenuhan pengajaran di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) beberapa tahun terakhir ini. Tercatat 14.000 guru yang dibutuhkan di daerah tersulit tahun 2015. Kita bisa bayangkan, begitu menyedihkan pelaksanaan pendidikan di dearah 3T dari tahun ke tahun. Para siswa kehilangan sosok pendidik, panutan, sahabat, sekaligus motivator saat belajar di ruang kelas. Tak berlebihan bila kita mendapati anak-anak di daerah 3T lebih memilih bekerja ketimbang melanjutkan bersekolah. Ketakmunculan sosok guru melonggarkan semangat mereka.

Memori tak menyenangkan itu akan dilenyapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saat itu. Pemerintah enggan dianggap tak keras bekerja dan menganaktirikan daerah pinggiran. Berangkat pagi dan pulang larut malam tak pantas berbalas pikiran sinis tak mengenakkan itu. Lalu, diluncurkanlah Program Guru Garis Depan (GGD) sebagai upaya penyediaan guru di daerah tersulit.

Pertama kali para GGD dikirim ke daerah 3T pada Mei 2015 lalu. Saat itu sebanyak 798 guru disebar ke 4 provinsi yakni Aceh, Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, dan Papua Barat (Pikiran Rakyat, 21 Oktober 2015). Sebelum resmi membawa “embel-embel” GGD, para calon guru mesti memenuhi syarat sebagai guru profesional seperti memenuhi kualifikasi akademik, memiliki sertifikat profesi pendidik melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan sebagainya. Untuk memuluskan langkahnya, para calon bisa mengikuti lebih dulu program Sarjana Mengajar di Daerah 3T (SM3T).

Gencarnya mewartakan program pengabdian sejenis GGD, tak lepas dari sosok Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Kita bisa bernostalgia mengenai Program Indonesia Mengajar. Ide gagasan Anies itu berjalan lancar, sukses, dan digandrungi. Ribuan pemuda mendaftar dan berseleksi. Mereka rebutan untuk mendapatkan satu kursi “Pengajar Muda” dan mengabdi di pelosok negeri.

Setelah setahun mengabdi di pelosok negeri, mereka harus undur diri. Melepas ratusan angan perbaikan di daerah itu dan bergegas menyusun perjalanan kehidupan selanjutnya. Konon, daerah itu hanya diberi jatah selama lima tahun yang setiap tahunnya didatangi pengajar berbeda. Perbedaan karakter, kepribadian, dan pengajaran setiap “guru sementara” membuat para penghuni berada di antara kebahagiaan dan kebingungan. Datang bersama kesan dan pergi membawa kehilangan. Perjumpaan tak ubahnya perkenalan yang dilakukan secara berulang. Belum sepenuhnya mampu membawa perubahan dan kemantapan pendirian.

Tahun demi tahun berlalu. Pelbagai pengalaman didapat Anies di jalan penyedia jasa pengabdian. Racikan pelajaran digunakan sebagai menu berharga untuk memperbaiki dan melengkapi kekurangan dari rencana lalu. Apalagi, saat itu Anies telah memiliki “kendaraan”. Ia memiliki dukungan kedudukan, pendanaan, dan penyanggah kekuatan. Keleluesan bertindak dari gagasan akan mudah diterima. Meski diawasi pelbagai pihak, status Mendikbud tetap memberikan kemerdekaan dan kekuasaan.

Menteri telah berganti, namun program tetap hendak dilaksana. Pikiran Rakyat, 13 September 2017, mewartakan: “Kemendikbud akan merekrut 17.000 guru garis depan atau GGD untuk ditempatkan di 15.000 desa, daerah 3T”. Ini menjadi kabar yang amat menggembirakan bagi siapa saja, bagi guru, terlebih masyarakat desa dan daerah 3T. Guru hononer di daerah itu pula berkempatan ambil bagian bila telah melaksanakan PPG. Putra daerah menjadi pertimbangan pemerintah dalam mempersiapkan GGD di tahun yang akan datang (Kompas, 30Agustus 2017).

Melalui program GGD, pola pengabdian di daerah 3T tak lagi hanya hitungan bulan. Pasukan guru dituntut mengabdi secara permanen. Seumur hidup mencurahkan rasa, menuliskan cerita, dan melukis jejak. Bersenandung dengan alam pedesaan yang jauh dari keramaian kendaraan, ocehan dusta sebagian kalangan, dan kemajuan teknologi.

Jiwa Pahlawan

Lirik lagu “Terimakasih Guruku” mengingatkan kita akan ketulusan guru. Simaklah: Terimakasihku kuucapkan/ Pada guruku yang tulus/ Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan/ Untuk bekalku nanti.// Setiap hariku dibimbingnya/ Agar tumbuhlah bakatku/ Kan kuingat selalu nasehat guruku/ Terimakasihku guruku.

Ungkapan lugu para siswa tersaji lewat lagu itu. Pesan moral mengarah pada imajinasi jiwa kepahlawanan para guru. Sosok guru sebagai aktor penting yang bersuka cita dan tulus membimbing mereka. Guru menderma waktu, energi, dan pikiran hingga tumbuh bakat mereka.

Tanda cinta para pengabdi di daerah tersulit lebih lagi. Perubahan derajat kehidupan mesti dilalui. Selain mendidik siswa-siswa, para guru dituntut mempelajari kultur daerah yang baru ditempati. Penyesuaian ini butuh waktu, ikhtiar, dan kesabaran tingkat tinggi. Mereka menjadi petarung sejati.

Bertanda Jasa

Banyak lagu menceritakan pengabdian para guru. Lagu “Oemar Bakri”  Iwan Fals mengambarkan nasib para pengabdi masa itu. Penggalan liriknya berbunyi: Oemar Bakri… Oemar Bakri pegawai negeri/ Oemar Bakri… Oemar Bakri 40 tahun mengabdi/ jadi guru jujur berbakti memang makan hati/ Oemar Bakri… Oemar Bakri banyak ciptakan menteri/  Oemar Bakri… Oemar Bakri profesor dokter insinyur pun jadi/ tapi mengapa gaji guru oemar bakri seperti dikebiri.

Para guru zaman dulu kurang dipeduli, diperbesar gaji, dan jaminan hidup lebih baik. Hanya ketegaran, kesabaran, dan kemurnian pengabdian yang meneguhkan hati mereka untuk setia di lorong pendidikan. Lewat lagu “Hymne Guru”, Sartono mengungkapkan posisi guru. Bunyinya: Terpujilah wahai Engkau Ibu Bapak guru/ namamu akan selalu hidup dalam sanubariku/ semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku/ sebagai prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu.// Engkau sebagai pelita dalam kegelapan/ Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan / Engkau patriot pahlawan bangsa/ tanpa tanda jasa.

Gelar tanpa tanda jasa tak berlaku lagi, kini. Program pengabdian ke pelosok negeri telah bernilai mewah, kaya, sempurna. Program GGD misalnya. Pelbagai fasilitas khusus sebagai imbalan yang setimpal diberikan oleh pemerintah. Para GGD akan resmi berlebel Pegawai Negeri Sipil (PNS), diberi tunjangan khusus, profesi, dan daerah bagi pengajar di daerah 3T, dan diupayakan bantuan perumahan di daerah.

Royalnya pemerintah gelontorkan bermiliar rupiah untuk Program GGD atau sejenisnya tak lain untuk memakmurkan dan menyejahterahkan para guru. Nasib para guru tak layak melarat. Pengorbanan, kesediaan, dan keikhlasan pantas diganjar tanda jasa. Sedemikian mewahnya, para sarjana berlomba-lomba meraihnya. 3.500 kursi GGD tahap kedua akan diperebutkan oleh 10.800 pendaftar (Suara Merdeka, 23 Oktober 2015). Tentu GGD tahun 2018 ini akan makin menjadi buah bibir. Peminat bakal melimpah. Jumlah penerimaan GGD yang terbilang besar akan menjadi rebutan para sarjana terkualifikasi.  Tak hanya GGD, para guru jalur umum yang memiliki sertifikat profesional akan diberi gaji berlipat melalui program. Kantong pendapatan berlimpah agaknya telah mengubah status, kini para guru lebih pantas bergelar pahwalan bertanda jasa. []

Ditulis oleh: Wahyu Wibowo

Reviewer: Hapsari

Baca Juga:   Strategi Lolos Seleksi Antologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *