GAME DAN ANAK-ANAK KITA

Saya rasa semua orang tua –kalau tidak semua- sebagian besarnya mengalami masalah dalam urusan game ini. Bedanya pada reaksi atau cara menyikapinya. Ini sangat bergantung pada pengetahuan dan visi misi keluarga masing-masing. Tetapi, ada satu titik temu yang sama, sama-sama nggak suka anaknya kecanduan game. Deal!

Muncul viral di berita dan medsos beberapa remaja kecanduan gadget dan game yang sedang ditangani oleh beberapa psikiater. Hampir mendekati gangguan kejiwaan. Mulai dari yang tidak bisa pisah hingga ada yang melukai dirinya dengan membenturkan kepalanya jika dilarang memegang gadget. Ada juga yang mengonsep dirinya sebagai pembunuh polisi atau pelindung bumi dari serangan alien. Ngeri.

Gadget dan game seharusnya sudah menjadi isu nasional yang mengkhawatirkan. Lampu kuning bagi orang tua. Salah sikap akan berakibat fatal. Saya mengamati ada tiga sikap orang tua terhadap game. Pertama, orang tua yang cuek, bahkan difasilitasi. “Lebih baik main game, anteng, duduk manis, dari pada ke sana-sini nggak jelas. Malah mengganggu pekerjaan orang rumah,” argumentasi sebagian emak-emak. Masuk akal juga sih. Anak kalau sudah duduk di depan layar TV/HP ya sudah, anteng, kadang asosial. Ada suara piring jatuh pun, sudah nggak bergeming.

Kedua, ada juga yang melarang secara ekstrem. Pokoknya nggak boleh. Titik. Anak hanya belajar dan belajar. Ikut les renang, bela diri, musik, matematika, dst.

Ketiga, ada yang mencoba moderat dan mengompromikan keduanya. Game boleh dengan batasan-batasan yang jelas. Saya lebih cenderung pada posisi tengah agak ke kanan. Game adalah masa depan mereka. Saya mustahil bisa mencegah anak-anak dari dunia game. Hari ini mungkin bisa, besok-besok belum tentu. Di rumah mungkin aman, di luar rumah siapa yang akan menjamin. Masa anak-anak mungkin bisa ditekan, setelah remaja atau dewasa siapa yang menjaga?

Duh, umur masih dikit, jari-jemari masih imut, pipi masih gemesin tapi soal mengoperasionalkan gadget wuih jangan tanya, lincah dan lancar. Kadang saya geleng-geleng lihat anak saya men-download game di play store. Hebatnya, nggak perlu dibimbing untuk memainkan game yang barhasil di-install itu, padahal petunjuknya menggunakan bahasa asing. Ckckck.

Melihat anak-anak tumbuh dengan dunia game, kami (saya dan istri) kemudian diskusi mencari solusi. Memang kami sudah terbiasa membuat aturan yang disepakati bersama. Soal TV sudah lama selesai dan tidak masalah lagi.

Deal. Anak-anak hanya boleh bermain game pada hari Ahad. Semua setuju. Si sulung yang hobinya belajar menerima dengan sangat santai. Namun, lucu bagi si bungsu, kadang bertanya, “Mi, kapan Ahad ya?” “Eh, ini sudah Ahad belum?” Bertanya dengan bibir yang imut kadang membuat saya tersenyum geli. Kadang semua hari bisa menjadi Ahad.

“Ini demi kebaikanmu kelak, Nak.”

Selanjutnya adalah proses edukasi. Selalu kami titipkan pesan-pesan akan manfaat dan bahaya game. Begitupun informasi game yang tidak boleh dimainkan. Game adalah alat, seperti halnya pisau. Akan berguna jika berada di tangan yang tepat. Gun behind the man.

Sebenarnya ada cara menyembuhkan anak yang kecanduan game. Kita akan bahas kapan-kapan. Muncul viral di medsos cara unik mengobati anak yang kecanduan game. Seorang anak -masih sangat kecil, kira-kira 2-3 tahun menangis sambil guling-guling. Pasalnya setiap kali membuka layar HP untuk main game yang dijumpainya pertama kali adalah wallpaper hantu. Sekonyong-konyong dilempar dan menangis. Begitu terus. Unik tapi kurang mendidik. Mengobati dengan menyuntikkan penyakit lain.

Ada beberapa aturan game yang kami terapkan kepada anak-anak. Ini murni dari pengalaman sehari-hari.
Pertama, berkaitan dengan hari Ahad, hari game. Sengaja, karena kami sering menggunakan Ahad sebagai hari libur yang lebih banyak keluar rumah ke alam bebas ketimbang di rumah. Sehingga waktu bermain game berkurang. Lebih ke main fisik.

Kedua, tidak boleh nge-game sampai melalaikan waktu shalat. Adzan menjadi tanda game atau TV harus berhenti.

Ketiga, saat main game, kondisi HP/Laptop off dari internet. Mencegah munculnya gambar atau aplikasi konten dewasa yang tiba-tiba muncul.

Keempat, saat bermain, sebisa mungkin sound game di-off, diganti dengan suara murattal al-Qur’an.

Kelima, antara adik dan kakak nggak boleh bertengkar atau rebutan hanya gara-gara game.

Keenam, bermain game sekadarnya saja. TV dan hiburan lainnya tetap pada porsi yang proporsional. Siip?

Dan yang pastinya orang tua tidak boleh berhenti belajar. Zaman berubah setiap hari, ilmu kudu nambah. Imam Ali ra. mengingatkan kita untuk mendidik anak-anak hidup di zaman mereka bukan di zaman old.

Ditulis oleh: Syahrul
Penulis buku, Indahnya Hidup bersama Allah.

Reviewer: Dhita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *