Free Writing, Solusi Kebuntuan Ide

Kalau ada yang bertanya bagaimana caranya menulis, jawabannya amatlah sederhana: menulis saja. Kesannya sepele, tapi memang begitulah cara paling tepat untuk bisa membuat seseorang menulis dan mengungkapkan isi kepalanya. Membiarkan penulis mencurahkan segala gundah di hatinya juga memberikan kebebasan pada imajinasi. Kebebasan inilah yang diperlukan untuk membuat tulisan mengalir, maka sebuah teknik bernama free writing dibuat sebagai salah satu cara memecah kebuntuan seorang penulis, terutama penulis pemula.

Terkadang hal yang membuat kita terhenti adalah keinginan untuk menghasilkan tulisan yang sempurna sesuai kaidah tata bahasa. Justru keinginan itu yang memecah jalan datangnya pengembangan ide, tidak jarang membuat kita lebih sering menekan tombol backspace dibanding menekan huruf-huruf dan melahirkan kalimat demi kalimat. Pada akhirnya, lembar tulisan menjadi tidak lebih dari susunan paragraf, tidak berkembang karena kita hanya melakukan ketik-hapus, ketik lagi-hapus lagi dan terus saja demikian.

Sebelum berusaha untuk memecahkan berbagai kendala dalam menulis, mungkin ada baiknya pemula mencoba teknik free writing sebagai awalan. Free writing memaksa penulis untuk membuat sebuah tulisan tanpa rencana dan bentuk yang ditentukan terlebih dahulu. Dengan cara mengeluarkan seluruh idenya, penulis akan dibuat memroduksi tulisan tanpa menahan keluarnya ide. Kepalanya tidak mengotak-kotakkan mana yang salah, mana yang keluar dari topik dan mana kalimat yang perlu dipercantik ataupun dibumbui.

Selain membebaskan diri dari aktifitas menghapus dan menyunting, free writing memberikan kesempatan kepada penulis untuk membebaskan diri dari rasa takut. Takut untuk menghasilkan tulisan yang tidak sesuai. Membebaskan diri dari ikatan aturan kebahasaan, pilihan ejaan dan segala aturan yang membuat penulis merasa terikat. Karena sungguh, teknik ini memisahkan antara proses menulis itu sendiri dengan editing. Pada intinya, proses menulis adalah mengungkapkan segala yang ada di kepala dengan apa adanya.

Kebebasan dalam teknik ini memberikan kesan bahwa menulis adalah kegiatan yang mudah. Menulis adalah mengeluarkan apa yang telah datang dalam benak penulis, baik yang telah lama disimpan atau yang hanya sekilas terlintas saat sedang menulis. Mancoba teknik ini sama dengan mengubah paradigma besar yang mungkin masih keliru kita pahami. Lebih jauh lagi, ketiadaan beban dalam proses menulis ini memberikan rasa lega dan bahagia. Sangat mungkin, proses menulis menjadi hobi yang semakin menyenangkan dan kita semakin mengerti esensi menulis bukan hanya berdasar teori dan penelitian orang lain yang tidak melibatkan kita sebagai objek penelitian.

Banyak dari kita tidak benar-benar memahami, bagaimana pengaruh menulis terhadap hidup. Teori-teori mengatakan bahwa menulis menurunkan risiko depresi atau stress juga risiko alzheimer. Tetapi, teori ini mungkin terasa terpatahkan ketika kita terlalu banyak berpikir saat hendak menulis, hingga rasanya sangat sulit untuk memulai bertutur mengalirkan segala yang kita rasakan. Pikiran yang semula menjadi beban akhirnya tertumpah, lahirlah sebagai tulisan ekspresif yang mungkin memberi kesan kepada pembaca. Siapa sangka bahwa ada orang lain di luar sana yang merasakan hal yang sama.

Jika masih kesulitan dalam menulis, cobalah dengan menemukan referensi. Tetapkan waktu di setiap pagi untuk membaca, setidaknya tiga sampai lima artikel dengan topik yang sama. Pahami isinya dan pastikan yang kita baca adalah topik yang kita sukai. Selesai membaca, biasakan untuk menulis ringkasan dari seluruh artikel yang kita baca dan tambah dengan sudut pandang kita. Saat menulis ringkasan jangan pernah melihat kembali artikel-artikel tadi, karena yang kita perlu adalah yang telah kita tangkap serta sudut pandang kita sendiri terhadap apa yang sudah kita tahu dari membaca tadi.

Cara tersebut mungkin tidak terlihat sebagai teknik membebaskan diri karena kita terikat oleh apa yang harus dituliskan. Namun, cara ini patut dicoba untuk memusatkan pikiran terhadap satu topik. Toh, kita memilih sendiri dari apa yang kita senangi. Artinya, itu tidak dibuat untuk membuat kita kesulitan malah justru memudahkan karena kita telah memasukkan materi yang diperlukan. Ini juga akan menjadi pengingat bahwa membaca adalah syarat yang tidak bisa ditolak, bagian dari proses menulis.

Membaca membuat kita menemukan kata-kata, memasukkan pengetahuan lain di luar diri kita sendiri. Jika kita lebih jeli dan membaca tulisan dari seorang penulis yang mempunyai kemampuan tata bahasa dan ejaan yang baik, mungkin saja kita bisa terpengaruh dengan tulisannya. Tanpa disadari, kita juga menulis dengan baik sesuai pedoman ketatabahasaan tanpa perlu kita ketahui lebih dulu. Meskipun, sebagai penulis yang baik mempelajari hal-hal teknis dan aturan menulis itu harus dilakukan. Ini juga syarat yang tidak bisa kita lewati meskipun bukan syarat untuk melakukan teknik ini.

Untuk melakukan teknik free writing diperlukan juga batas waktu, ini bertujuan untuk produktifitas penulis, adanya batas waktu memacu kita untuk terus menekan keyboard. Usahakan melakukan kegiatan ini saat suasana tenang dan tidak sedang dikejar oleh tugas lain, waktu terbaik sebetulnya adalah pagi hari saat pikiran masih fresh. Malam hari juga tidak masalah, ini kembali lagi kepada kebiasaan kita. Memang tidak semua penulis bisa menulis saat pagi hari karena ia merasa idenya muncul di malam hari. Tidak ada masalah, maksimalkan saja waktu yang dipilih.

Ketika telah memulai, menulislah terus sampai habis batas waktu, jangan berhenti untuk alasan apapun. Jangan mengedit, jangan berpikiran untuk membaca ulang apa yang telah ditulis. Alirkan pikiran dengan santai, tanpa beban. Menulislah dengan tempo yang teratur, jangan lambat tetapi juga jangan tergesa-gesa. Kualitas tulisan belum menjadi prioritas, runtutan dan alur bercerita juga belum diwajibkan tepat, jumlah paragraf dan panjang tulisan terserah saja. Setelah waktu habis, berhentilah dan silakan baca ulang, tandai bagian mana saja yang kiranya tidak sesuai, ide mana yang bagus, jangan lupa periksa juga kata-kata yang masih typo.

Syarat selanjutnya, penulis harus melakukan editing. Nah, dalam proses inilah aturan tata bahasa dan pemilihan ejaan sangat diperlukan. Memburu kesempurnaan tulisan akan lebih tepat dilakukan dalam proses ini, dibandingkan dengan proses awal menulis. Jika tujuan menulis adalah proses kreatif, bukan hanya sekadar untuk menulis buku diary maka editing adalah sebuah senjata untuk memberi bentuk dan menata tulisan menjadi sesuai dengan yang kita inginkan. Editing juga dilakukan untuk memisahkan beberapa ide berbeda yang tidak saling mendukung dalam sebuah tulisan. Karena free writing memungkinkan kita menulis lebih dari satu topik yang tidak sama.

Terakhir, jangan tunda untuk mencoba. Lakukan ini berulang kali dan temukan kebahagiaan dalam melakukannya. Semakin sering kita mencoba, semakin terbiasa kemudian. Semakin terbiasa, semakin tidak banyak berpikir dan semakin matanglah kita dalam membuat tulisan yang mengalir. Menulis adalah sebuah proses yang seharusnya tidak pernah mengenal kata berhenti. Bebaskan imajinasi kita, bebaskan pikiran kita, tangkap apa yang ada dan bersiaplah untuk terus menulis! *)

Ditulis Oleh: Hapsari Titi Mumpuni

Baca Juga:   Dunia Kaca yang Mengisapku ke Dalamnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *