Episode Rumah – Bagian 2

Sumber gambar: wallhere.com


Serambi


Di depan, ia akrab dengan orang asing
Di tengah, ia merekam tawa dan bising
Di belakang, ia menyimpan rahasia para penghuni



Dapur

Jika dia tak datang sore ini,
Tak perlu kau mendidih,
Karena apa–apa yang menguap,
Tak terpegang, tak kembali.



Kamar

Doa-doa yang kau bentangkan malam tadi,
Dan aroma terapi yang tersisa pagi ini,
Membuatmu mawas diri
Terjaga hingga dini hari,
Karena semua yang tersimpan rapi,
Berarti perih tak terperi.
Jika kau ungkit sedikit,
Terluka lagi sedih,
Tersayat dalam nyeri.



Dinding

Yang kokoh berdiri,
Menjadi Inti segala inti,
Adalah dia yang akrab dengan berbagai emosi,
Yang tegar melewati bisikan di malam sepi,
Ataupun kasak kusuk di pagi berseri.



Ruang Tengah

Ampas di secangkir kopi,
Remah kue di atas laci,
Kaki yang menjulur di depan layar TV,
Desing kipas pada ruang ini,
Juga kelakar jarum jam di dinding,
Adalah prasasti dan saksi,
Untuk masa lalu dan kini.  



Taman

Kesetiaan embun pada pagi,
Seperti isyarat kepada bening hati,
Agar kau khatam mencari,
Sebab renjana tak pernah berebutan mengambil porsi,
Mereka tahu diri,
Bahwa sendiri adalah hak setiap pribadi.



Ditulis oleh: Wahyu Mardhatillah. Tinggal dengan keluarga kecil di kota penuh romantisme Yogya. Rumah virtualnya ada di IG @wahyumardha, www.thediaryofquestions.wordpress.com, dan www.cintaanakyatim.com.

4 thoughts on “Episode Rumah – Bagian 2”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *