Emang Enak, Jadi Selebgram?

Populer, cantik atau ganteng, banyak followers dan hidupnya enak banget. Tinggal bagi apapun yang dilakukan, makan makanan enak di berbagai cafe hingga berpose setiap pagi untuk sebuah postingan bertagar OOTD alias Outfit of The Day. Tak ketinggalan menikmati hari dengan membawa barang-barang branded hasil endorse dari toko online. Begitulah selebgram, terkesan hidup dengan sangat mudah dan tak perlu bekerja keras. Sementara, tawaran iklan berbayar dan endorsement terus berdatangan. Tapi, itu kan yang kita lihat sebatas dari instagram ya? Apakah benar anggapan kita tentang selebgram selama ini? Sepertinya kita perlu melihat lebih dalam lagi. Mungkin, ada banyak hal yang tidak terlihat karena kita terlalu sibuk melihat dari jendela dunia maya.

Pertama, selebgram atau selebriti instagram adalah sebuah pekerjaan. Meskipun terlihat sebagai sebuah trend, namun sebetulnya selebgram juga tak jauh dari ikatan kerja atau perjanjian. Berbagai toko online yang menggunakan jasa iklan berbayar serta memberikan endorse kepada si selebgram tentu memberikan rambu-rambu khusus yang harus dijalankan oleh si selebgram. Mulai dari posting pada jam tertentu, konten yang sesuai dengan keinginan toko online hingga target yang diharapkan oleh toko online. Tentu saja, toko online tidak ingin mangalami kerugian, dong! Nah, kalau ada banyak tawaran iklan berbayar dan endorse, tentu si selebgram harus menata jadwalnya sendiri. Harus juga membuat sejumlah konsep yang berbeda. Nggak mungkin diposting dengan gaya yang sama kan, kalau dari toko online yang berbeda?

Belum lagi, banyak selebgram yang di dunia nyata juga bekerja atau masih dalam bangku kuliah. Kebayang ya, bagaimana harus mengatur jadwal untuk membuat video, mengambil foto ini-itu sementara pekerjaan utamanya harus tetap dijalankan. Membuat video tentu juga butuh proses yang tidak sederhana serta waktu yang tidak sedikit. Belum dengan proses editing yang juga butuh ketelitian dan keahlian. Tentunya, dengan tujuan bahwa postingan mereka akan dilihat oleh sekian ribu bahkan juta orang, mereka akan benar-benar membawa sebuah tanggung jawab besar supaya produk yang diiklankan akan lebih laku. Kita coba bayangkan saja, misal dalam satu bulan ada dua puluh tawaran produk yang mengharuskan si selebgram mebuat video. Maka dalam seminggu mereka harus mengunggah lebih dari satu video. Kita hitung saja, proses pembuatan video bisa jadi lebih lama dari satu jam. Belum lagi editing yang juga bisa berjam-jam ditambah rendering yang juga tidak sebentar. Sangat mungkin, para selebgram melakukan hal tersebut sendiri karena tidak mempunyai tim dari mulai manager sampai content creator. Pusing nggak, tuh?

Beberapa risiko di-endorse dan menerima tawaran iklan berbayar juga membayangi. Sebagai orang yang mengiklankan suatu produk, secara tidak langsung selebgram menjadi representasi dari produk tersebut. Orang-orang kemudian bisa sangat percaya terhadap suatu produk karena menganggap bahwa selebrgram ini patut dijadikan role model atau trend setter. Ketika ternyata barang dari online shop tidak sesuai dengan harapan karena banyak hal yang menjadi tantangan dari berbelanja online. Bisa jadi, model baju sama tidak cocok dipakai orang lain, atau krim wajah yang justru tidak cocok untuk pembeli karena jenis kulit yang berbeda dengan si selebgram. Sudah jelas kita tidak bisa menyalahkan satu pihak, tapi tidak jarang si selebgram menjadi sasaran empuk untuk melakukan protes. Nah, ini posisi sulit! Si selebgram tentu tidak punya wewenang untuk membuat kebijakan pengembalian barang atau apapun, kan?

Selesai di tahap pre-posting, kita coba teliti bagaimana postingan selebgram. Tentu, untuk menjaga feed instagram selebgram harus menyeleksi ketat setiap fotonya. Jadi, proses memilih foto pasti juga memakan waktu yang tidak sebentar. Ditambah dengan bagaimana membuat kalimat iklan yang ciamik supaya para followers berbondong-bondong membeli barang yang diiklankan. Wah, berarti selebgram tentu perlu belajar menulis juga, ya? Setidaknya supaya caption mereka menarik. Tetapi lucunya, warganet Indonesia mungkin kurang melihat jerih payah para selebgram dalam membuat postingan yang menguras waktu itu. Akhirnya, kolom komentar dipenuhi segala macam jenis komentar, dari mulai jualan hingga debat kusir para haters tentang hal yang bahkan tidak ada korelasinya dengan gambar atau caption.

Berbicara soal komentar, tentu para selebgram tidak akan bersih dari komentar yang beragam. Semua hal yang dilakukan maupun foto yang diunggah pasti mengundang komentar. Kurusan diprotes, gendutan dinyinyirin. Salah pilih warna jilbab dibilang norak, pakai jilbab lebar dibilang penampilannya tidak sesuai hati. Capek nggak, sih? Mungkin kalau satu atau dua orang masih tahan ya, coba yang komentar adalah ratusan bahkan ribuan orang dan juga hampir di setiap postingan? Notifikasi handphone dipenuhi hal-hal yang kadang tidak mengenakkan untuk dibaca. Saya yang bukan selebgram saja, sering sedih baca cacian orang di komentar entah siapa yang untuk mengunggah foto saja milihnya sudah berjam-jam, belum lagi dengan googling caption yang bijak. Sedih ya, usahanya dibayar dengan komentar yang bikin pusing!

Bagi kita yang tidak menjalani mungkin menjadi selebgram terlihat mudah, tapi saya rasa komentar negatif yang disampaikan dengan kasar dan tidak membangun tentu bisa membuat seseorang sedih, berkecil hati bahkan depresi. Mungkin, banyak di luar sana selebgram yang berharap hidupnya normal seperti ketika dia belum setenar sekarang ini. Siapa tahu begitu, kan? Bisa jadi, popularitasnya malah menjadikannya merasa tidak memiliki privasi dan tidak bebas mengekspresikan dirinya karena semua postingannya diatur. Tapi, mari kita ambil pelajaran dari selebgram. Pelajaran pertama adalah bahwa tidak semua yang terlihat di dunia maya mewakili semua hal yang terjadi di dunia nyata. Kedua, hidup memang sebuah pelajaran untuk membayar apa saja yang harus kita dapat, semua yang bisa kita nikmati tentu membutuhkan jerih payah. Tidak ada satu pun pekerjaan di dunia ini yang sempurna, selalu ada celah. Tapi, satu yang seharusnya kita sadari dan tanamkan dalam-dalam: pekerjaan paling membahagiakan di dunia ini adalah menjadi orang yang bersyukur. Mari bersyukur!

Ditulis oleh: Hapsari Titi Mumpuni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *