Eksistensi Pengrawit dan Wayang Kulit

Enggak banyak orang yang tahu kalau istri saya ini dulunya seorang sinden. Lahir dari keluarga seniman karawitan yang kesehariannya bergelut dengan gamelan. Bahkan berdasar cerita-cerita yang saya dengar, sejak kecil istri saya ini sudah dijejali dengan notasi gending-gending jawa. Begitu juga dengan kedua adik laki-lakinya.

Kalau sepuluh tahun yang lalu saya biarkan istri saya tetap menjalani profesinya sebagai sinden, barangkali sekarang sudah setenar Soimah. Atau malah sudah punya seperangkat wayang gamelan yang bisa disewakan setiap kali ada hajatan. Berhubung saya minta berhenti jadi sinden, ya sekarang istri saya jadi ibu rumah tangga. Enggak setenar Soimah atau menjadi seniman terkenal lainnya.

Tentu enggak semua kehidupan pesinden, pengrawit, penabuh gamelan bakal berakhir seperti istri saya atau seperti Soimah. Masing-masing memiliki jalan sendiri untuk menunjukkan eksistensi di panggung hiburan. Bisa saja sukses di panggung hiburan atau malah berakhir jadi pengangguran. Sebagian besar yang saya amati, para pengrawit ini justru menjadi aktor di balik panggung seni pertunjukan. Di balik panggung dalam arti dianggap hanya sebagai pelengkap saja.

Misalnya ketika orang melihat pementasan wayang kulit, ketoprak, atau kesenian tradisional lainnya yang menggunakan iringan musik gamelan, banyak yang tidak menyadari peran penting pengrawit. Mereka akan menyanjung Pak Dalang ketika pementasannya dinilai bagus. Mereka akan memuji pemeran ketoprak ketika pertunjukannya berhasil menghibur. Padahal tanpa pengrawit, pertunjukan wayang maupun ketoprak akan terasa hambar. Pengrawitlah yang memiliki peran besar menghidupkan suasana melalui alunan musik gamelan. Mereka adalah aktor di balik panggung yang sering tidak diperhitungkan penonton seni pertunjukan.

Padahal jika kita mau menelusuri lebih jauh, peran pengrawit dalam pentas seni pertunjukan sangat vital. Kita ambil contoh dalam seni pertunjukan wayang kulit. Ki Dalang ibaratnya adalah pemeran utama jika kita analogikan pementasan wayang sebagai sebuah pertunjukan film. Kemudian pengrawit adalah kru utama yang harus ada. Bisa saya katakan bahwa, ruhnya pentas pewayangan itu 70% adalah unsur karawitan. Sedangkan sisanya adalah unsur cerita, tata panggung, dan urusan teknis lainnya.

Iya, karawitan menjadi unsur paling pokok dalam sebuah pentas pewayangan. Seperti yang pernah diungkapkan Pak Giyar, seorang pengrawit dari Gunungkidul. “Seorang dalang harus paham gending. Karena setiap suluk, lelagon, dan gerak wayang harus selaras dengan musik gamelan. Bahkan setiap adegan dalam cerita pewayangan tidak bisa sembarangan memakai gending sebagai iringan. Ada gending khusus untuk guyonan, peperangan, dan kematian. Kalau salah penempatan, ya bisa jadi tertawaan.”

Dari Pak Giyar pula saya tahu jika ada proses panjang di balik pementasan wayang kulit. Jauh-jauh hari para empu gending, yang juga seorang pengrawit, merancang iringan untuk sebuah lakon pementasan wayang. Mulai dari notasi iringan adegan setiap cerita, penataan gending dalam setiap adegan, sampai pada setiap detail durasi waktu yang digunakan untuk setiap adegan. Setelah notasi iringan ini selesai dibuat, lalu dilatihkan kepada semua pengrawit yang terlibat. Tentu saja dengan simulasi sang dalang yang memainkan wayang. Latihan ini tak cukup hanya sekali. Biasanya memakan waktu beberapa kali untuk mendapatkan komposisi yang tepat.

Saya rasa wajar saja jika pementasan wayang kulit ini menjadi salah bentuk kesenian yang tarifnya lumayan mahal. Minimal sekali pentas bisa menghabiskan dana puluhan juta. Bahkan katanya, ada dalang kondang yang tarifnya mencapai ratusan juta. Ini wajar, karena biaya yang besarnya sekian tidak hanya masuk ke kantong Pak Dalang. Karena ada biaya untuk sound system, sewa wayang gamelan, dan amplop untuk puluhan pengrawit sebagai pengiring pementasan wayang. Bagi orang awam seperti kita, tentu merupakan pekerjaan yang berat jika harus terjaga selama semalam suntuk. Bayangkan saja kalau dalam sebulan mereka pentas 20 sampai 30 kali. Yang saya tahu biasanya seorang pengrawit tidak hanya ikut satu dalang. Jadi ketika satu dalang tidak pentas, si pengrawit bisa nyari penghasilan dengan ikut dalang lainnya.

Sekadar iseng, saya telusuri jadwal pagelaran wayang di google. Saya temukan website kluban.net yang menayangkan jadwal pentas wayang di seluruh Indonesia. Tentu saja referensi mereka diambil dari berbagai sumber. Dari jadwal tersebut bisa saya lihat untuk wilayah Yogyakarta tercatat ada empat kali pementasan wayang dengan dalang yang berbeda selama bulan Februari 2018. Tentu saja saya yakin di Yogyakarta bisa lebih dari itu. Maka, data ini kemudian saya crosscek dengan agenda job adik ipar saya yang juga seorang pengrawit.

Selama bulan Februari 2018 ini adik ipar saya mendapat job mengiringi pentas wayang sebanyak tujuh kali. Tentu saja jadwalnya berbeda dengan yang ada di daftar pementasan yang dirilis website kluban.net. Karena biasanya para pengrawit akan dihubungi langsung oleh Ki Dalang atau koordinator pengrawit ketika ada job. Sebagian besar job ini tentu tidak di-publish secara online. Hanya sebatas penandaan pada kalender yang ada di rumah pengrawit masing-masing. Bisa jadi para pengrawit-pengrawit ini memiliki job dengan jumlah yang berbeda-beda.

Dari keterangan beberapa pengrawit mengatakan bahwa, biasanya ramai tidaknya job ditentukan bulan. Semacam musiman. Musim nikahan, khitanan, dan lainnya. Paling ramai biasanya antara bulan Juni dan Juli. Sedangkan untuk bulan Februari memang termasuk bulan yang sepi. Hal ini bisa jadi dipengaruhi oleh mitos orang jawa yang sering menghubungkan antara hari baik dengan hajatan yang ingin diselenggarakan. Saya melihat mitos ini masih sering dipakai untuk menentukan tanggal pernikahan dan hajatan lain di wilayah Yogyakarta.

Melihat dari sisi gaya hidup masyarakat saat ini, sepertinya bakalan semakin sepi permintaan pentas wayang. Kalaupun ada mungkin hanya kalangan tertentu, seperti pejabat, seniman, atau institusi yang memang sudah memiliki tradisi mementaskan wayang untuk merayakan event tertentu. Karena masyarakat zaman sekarang sepertinya lebih terhibur dengan televisi dan gawai yang mereka punyai. Tanpa perlu keluar biaya banyak sudah bisa bikin happy. Sedangkan untuk merayakan hajatan, sepertinya lebih suka yang biayanya lebih murah. Organ tunggal, misalnya. Hehe ….

Saya meyakini persoalan hiburan ini erat kaitannya dengan kesenangan individu, juga perkara prinsip. Karena pertunjukan seni memang tujuannya untuk menghibur. Bukan hanya untuk penikmatnya, bagi seniman ternyata juga mendapatkan kepuasan tersendiri saat berhasil menunjukkan karyanya. Apalagi berhasil meninggalkan kesan di hati penikmatnya. Sedangkan perkara prinsip, ada sebagian orang begitu kuat memegang prinsip ingin melestarikan seni dan budaya. Ada juga yang memang ingin mengejar popularitas di panggung hiburan. Tentu saja dengan menyenangi, melakoni, serta menjiwai seni itu sendiri. Bagi mereka melestarikan seni adalah sebuah amanah warisan nenek moyang yang harus dijaga.

Saya pribadi suka dengan seni, bahkan dulu sempat punya cita-cita ingin jadi seniman. Namun, saya pun punya prinsip terkait hal ini. Sebuah prinsip yang diturunkan oleh Bapak saya dan harus saya jaga layaknya sebuah amanah untuk diri saya pribadi dan keluarga. Oleh karena itulah saya meminta istri saya berhenti jadi sinden sejak pertama kali kami memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Bukan berarti saya melarangnya menyukai seni karawitan. Saya tetap membiarkan karawitan itu tumbuh dalam keluarga kami, tapi prinsip warisan Bapak saya itu tetap menjadi pegangan. Bahwa, “Apa yang kita lakukan sebaiknya menjadi tuntunan, bukan jadi tontonan.” Iya, saya ingin diri saya, dan juga istri saya bisa jadi tuntunan, bukan tontonan. Minimal bagi anak cucu saya di kemudian hari.*

Ditulis oleh: Seno Ns

Reviewer: Hapsari

Referensi:

kluban.net, Jadwal Pagelaran Wayang Bulan Februari 2018 Seluruh Indonesia

Baca Juga:   [Cernak] Lukisan Impian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *