Dunia Kaca yang Mengisapku ke Dalamnya

Dunia Kaca yang Mengisapku ke Dalamnya – Menanggung rindu. Siapa yang tak tahu sakitnya disiksa rindu? Sakit yang membuat hati sesak. Menuntut perjumpaan sebagai penawarnya. Bila tak mampu mewujudkannya, membuat diri kita seakan menghunjamkan sebilah pedang pada dada sendiri. Itu pula yang kurasakan belakangan ini. Bedanya, rinduku ini bukan rindu pada sosok, namun pada tempat dan suasana.

Aku merindu ketinggian. Berada di sebuah dataran tinggi dengan hamparan awan di sekelilingnya. Aku merindu kerapatan pepohonan. Mencium aroma hujan bercampur dengan wangi anggrek liar di sepanjang jalur perjalanan. Juga kabut, pekat malam, jerit serangga yang melengking di kejauhan, kesiur angin, terantuk akar pohon, menyeduh kopi dan berkelakar bersama sahabat di depan tenda, hingga bau tubuhku yang tak mandi berhari-hari. Aku ingin mendapatkan semua hanya dalam satu momen saja. Bukan terpisah-pisah.

 Aku pernah mengeluhkan kerinduan itu pada beberapa teman yang pernah melakukan perjalanan bersama. Seringnya, bukan solusi yang kudapat, tapi malah derai tawa mereka. Tentu saja hal itu membuatku merajuk.

“Ya sebenernya sih, solusinya sederhana. Kamu tinggal berangkat aja, kan beres.” Biasanya, kalimat itu yang akhirnya kudengar, setelah derai tawa mereka reda.

Iya sih. Sederhana memang. Tinggal berangkat pada tempat yang ingin dituju. Gunung Merapi, misalnya. Atau Gunung Lawu. Tapi, ada yang tak boleh dilupa. Untuk menemui semua tempat dan suasana yang kusebutkan tadi, tak cukup meluangkan waktu hanya lima menit saja. Aku perlu menyediakan waktu beberapa hari, di samping perhitungan matang tentang biaya akomodasi, logistik, kondisi medan, cuaca,  juga beberapa standar keamanan dan kesehatan. Dari semua itu, anggaran waktulah yang paling sulit kupecahkan.

Sewaktu masih bekerja di Tangerang, aku bisa mengambil weekend sebagai waktu luang. Karena di sana menerapkan sistem lima hari kerja. Jadilah aku pergi di hari Jumat sepulang bekerja, hingga Minggu dini hari, jelang Senin pagi. Semata demi menyusuri jalur di gunung-gunung tertentu. Kondisi ini sangat kontras ketika aku bekerja di sini, Yogya. Di Yogya, waktuku menjadi terasa sempit. Aku hanya memiliki satu hari libur. Minggu saja. Tidak ada tambahan lain. Space waktu inilah yang membuatku tak bisa menyentuh pucuk-pucuk gunung di Jawa Tengah atau pun Jawa Timur. Jangankan yang di sana, puncak Merapi di utara Yogya itu setiap waktu selalu melambai-lambai, menggodaku, sangat sulit kudekati. Apalagi yang lain. Belum  lagi, tentang teman seperjalanan. Jadilah rinduku terus menggunung.

Rasanya tak adil bila aku terus menyalahkan keadaan. Toh, Yogya juga merupakan salah satu destinasi wisata favorit. Wisata alam, budaya, pendidikan, religi, semua ada. Tak bisa ke gunung, ada banyak opsi tempat wisata yang tersedia di Yogya. Tapi, lagi-lagi egoku keluar mencari pembenaran.

“Nggak asyik piknik di dalam kota. Perjalanan akan terasa maknanya, bila bisa bergeser ke daerah lain, meski sejengkal saja.” Itu alasan yang kerap kulontarkan.

Siang itu, aku baru saja mengikuti meet up TPY. Saat pulang, Bu Eti menawariku untuk bersama-sama. Karena kami memang sama-sama harus ke arah utara, untuk menuju jalan raya. Bedanya, setelah di jalan raya nanti, Bu Eti ke arah barat. Sedang aku ke arah timur. Karena di jalanan cuaca terlihat terik, aku pun tak menolak. Aku masuk ke mobil Bu Eti, dan terhindar dari sapaan matahari.

Tak butuh waktu lima menit, kami tiba di jalan raya. Kami harus berpisah jalan. Bisa saja sih, aku terus ikut di mobil Bu Eti. Tapi, masa iya, demi menghindari matahari aku harus numpang terus, dan malah tak sampai ke tempat kosku? Aku ini bukan perempuan manja, cuma mandi jarang. Hahahaa …. Aku pun segera melangkahkan kaki ke arah timur. Halte Trans Jogja tak sampai dua ratus meter dari situ.

Udara memuai. Mobil motor melaju. Orang-orang bergegas. Kulitku tersengat terik. Tak mau dijajah keadaan, dan mengeluh karenanya, aku menunda perjalananku ke halte Trans Jogja. Aku memilih mendinginkan suhu tubuhku di Amplaz, salah satu pusat perbelanjaan di Yogyakarta.

Kau tahu? Siang itu Amplaz terlihat jejal. Orang-orang di dalamnya nampak bersuka cita. Mereka seakan mendatangi pusat kebahagiaan. Anak kecil, remaja, dewasa, laki-laki, perempuan, dengan beraneka kostum dan riasan, semua ceria. Mungkin, aku satu-satunya orang yang berbeda dengan mereka. Aku memasuki Amplaz dengan hati mencibir.

Di sini, kapitalisme perlahan menyusup, tudingku. Kapitalisme yang muncul dari beraneka brand,  dan produk. Semakin branded suatu produk, akan membuat seseorang memiliki kepercayaan diri yang lebih. Menjadi bahagia. Orang-orang akan mengkonsumsinya. Lagi dan lagi. Lalu yang lain iri. Tergiur untuk membeli. Ingin juga bahagia. Lama-lama mereka bersaing. Berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. berlomba-lomba untuk bahagia, melalui sebuah harga dan benda. Padahal sejatinya, semua hanya menyenangkan produsen semata.

Masuk akal, kan alasanku? Bila tak percaya, coba kau simak ini. Ada banyak gerai di sini. Beraneka rupa barang tersedia. Ada gerai sepatu khusus olahraga, sepatu khusus perempuan, baju, jam tangan, boneka, bakery, minuman, hingga produk-produk kecantikan berbaris rapi. Semua gerai itu ada pengunjungnya. Entah siapa yang memberi aba, mereka memasuki gerai-gerai itu dengan baju bagus, rapi, wajah berbinar. Dan lagi-lagi, kali ini aku menjadi anomali.

Aku enggan memerhatikan pengunjung yang tengah duduk-duduk di tepian hall. Aku ingin menuju lantai bawah. Lower Ground, mencari suasana baru di sana. Tapi, nyatanya di sana pengunjung lebih jejal. Pengunjung mengerumuni hampir tiap gerai yang ada. Bukan hanya gerai gawai yang memang khusus ada di sana, tapi pujasera, boneka, hingga lampu beraneka rupa. Merasa heran dengan tingkah mereka, aku mencoba mengabadikannya melalui jepretan gawai.

Entahlah. Sepertinya aku memang salah sejak awal. Aku merindukan aroma hutan, gunung, pendakian, dan camping. Bukan pusat perbelanjaan. Sehingga tak salah bila apa yang kutemui tak seperti yang kuingin. Tak ada yang menjual penawar rinduku di pusat belanja ini. Tak ingin terjebak terlalu lama dalam kesalahan, aku memutuskan untuk meninggalkan Lower Ground.

Tangga eskalator mengantarku berada tak jauh dari hall. Tak ada apa-apa di sana. Hanya pameran mobil, dan sedikit orang yang berlalu lalang di depan gerai bakery. Aku memutuskan duduk di sebelah barat hall, di mana kursi-kursi tersedia. Berkali-kali kutanamkan pada diri. Aku bukan sedang menikmati pusat belanja. Tapi, aku menunggu cuaca di luar sedikit bersahabat. Itu saja.

Dua puluh menit berlalu. Suasana tak banyak berubah. Orang-orang berlalu lalang dan memerhatikan berbagai barang di dalam gerai. Dan aku tetap tak bisa menikmati suasana. Alhasil, aku memutuskan pulang. Aku memintas hall. Selain ingin membuat jalur berbeda degan saat masuk tadi, juga agar lebih cepat.

Meski batin terus bersungut-sungut, aku tetap memerhatikan sekeliling. Terutama di tengah hall. Hingga pandanganku menumbuk beberapa bilik yang berada di hall. Bilik? Otakku berpikir keras. Karena penasaran, aku menghampirinya. Lalu aku dibuat tercengang oleh suguhan pemandangan di hadapanku.

Ada bilik-bilik sederhana, terbuat dari tripleks bercat putih. Di mana tiap sisinya tergantung dua lukisan dalam bingkai cermin, yang masing-masing dilengkapi lampu sebagai pencahayaan.

Aku mendekat. Aku tiba di tengah jalanan yang menggigil. Begitu pula gedung-gedung kapital itu. Mungkin, orang yang tengah berada di tengah jalan pun merasakan gigil yang sama, namun mereka terus melaju membelah hujan. Ada sebuah senja menyepuh pantai, membawa damai dalam gradasi warna biru dan jingga di kaki langit. Tak lama, aku ditarik pada sebuah panggung di tengah hamparan kabut berlatar rumah khas kota Jingzhou. Beberapa  orang menggenggam kipas di tangan dengan kaki-kaki sedikit terbuka, membentuk kuda-kuda. Mereka senada dalam balutan gerakan dan pakaian. Ternyata mereka tengah berlatih menari.

Aku melihat air memercik ke mana-mana. Tak cukup memercik, air itu membentuk lingkaran-lingkaran yang membasahi orang didekatnya. Orang-orang memekik. Girang. Tawa tumpah di mana-mana. Tawa itu tak hanya ada di bawah percikan air. Tawa itu juga hadir dalam pesta pernikahan di Prefektur Otonom Qiang, Provinsi Sichuan.

Tawa juga bukan hanya milik sepasang pengantin, namun semua teman dan keluarga yang menghadiri dan melempar longda—kartu kecil bergambar kuda dan hal-hal yang dianggap sebagai pertanda baik atau pembawa keberuntungan lainnya—ke arah langit.

Puas dalam hiruk pikuk penuh suka cita, aku dibuat takjub dengan sepasang bayi panda di dalam inkubator. Bayi-bayi itu lucu, sekaligus menegaskan bila ia sungguh-sungguh ada. Kehidupan fauna lainnya kutemui di sebuah lapangan salju di unit Administratif Xilin Gol Daerah Otonom Mongolia Dalam. Di sana, kawanan unta berpacu di tengah salju. Aku baru tahu, jika unta ternyata tak hanya berada di tanah Arab saja. Ternyata di Mongol pun ada. Ah, selama ini ternyata mataku belum banyak melihat fakta.

“Ibu, gendong aku. Aku mau lihat itu.”

Sebuah suara mengembalikanku ke dalam kesadaran. Ternyata aku masih berada di pusat perbelanjaan. Tubuhku masih di sini. Atau jangan-jangan dikembalikan ke sini, setelah tadi menembus dimensi jarak dan waktu? Sepetinya, dunia kaca di hadapanku memang melakukannya. Mengisapku ke sana. Kini di dekatku, seorang ibu muda dengan kedua anaknya, tengah menikmati pameran foto Jalur Sutera, sepertiku. Kuperhatikan sekeliling, masih tak banyak orang mengunjungi stan ini. Semoga Ibu Muda itu tak terisap sepertiku.

Agaknya di luar lagi tak terik. Aku gegas meninggalkan pusat perbelanjaan. Kini aku tak lagi bersungut-sungut. Karena aku telah berpiknik tanpa harus pergi jauh, mengatur waktu dan mengeluarkan sedikit pun biaya. Ah, Allah Maha Baik. Ia paling tahu cara menghiburku, menawarkan rinduku hanya dalam satu waktu. []

Ditulis oleh: Lintang Kinanti

Reviewer: Hapsari Titi Mumpuni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *