Dua Hobi Paling Seksi

Di dunia ini ada banyak hobi yang digeluti manusia. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang dimaksud hobi adalah kegemaran atau kesenangan. Kegemaran atau kesenangan tersebut dilakukan pada waktu senggang saja. Itu artinya bukan sebagai pekerjaan utama.

Ada yang suka membaca, bersepeda, becocok tanam, memelihara binatang kesayangan dan lain-lain. Malah ada orang yang mempunyai hobi aneh dan ekstrem. Kalau hobi yang aneh ya semacam hobi ngupil, hobi jahilin temen, hobi ditraktir temen, hobi ngikutin temen dan lain sebagainya. Sementara kalau hobi ekstrem itu ya sesuatu yang di luar kebiasaan atau di luar kewajaran.

Hobi ekstrem banyak dilakukan oleh orang-orang pemberani dan nekat. Hobi-hobi ekstrem yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang profesional. Kita sebagai orang biasa atau awam tentu akan berpikir seribu kali untuk melakukan bungge jumping, downhill, street ludging dan lain sebagainya. Sebab hobi-hobi tersebut riskan dan bisa jadi, nyawa taruhannya. Jadi kalau belum mampu jangan coba-coba ya? Ya, minimal harus ada pengawasan dari pelatih.

Kalau saya sendiri lebih senang hobi yang save dan menghasilkan. Sebenarnya semua hobi menghasilkan, ya minimal menghasilkan kepuasan. Setidaknya, orang yang mengerjakan hobinya pasti dia akan merasa senang atau puas. Entah hobi yang dikerjakan tersebut berhasil atau tidak. Namun biasanya setelah selesai melaksanakan hobi, orang tersebut akan tampak lebih baik.

Dari sekian hobi yang ada di dunia, hobi saya hanya dua; berburu lomba dan mengejar beasiswa. Bagaimana dengan membaca? Ah, membaca itu efek dari dua hobi saya. Bagaimana dengan menulis? Menulis itu ya dampak dari mengikuti atau menjalani kedua hobi saya tersebut. Jadi kalau menjalani salah satu atau kedua hobi tersebut maka saya pasti membaca dan menulis. Jadi membaca dan menulis itu sebagai suatu paksaan dari proses berlomba dan mengejar beasiswa.

Apa enaknya hobi saya? Banyak. Oke mari kita bahas tentang hobi yang pertama; berburu lomba. Tahu enggak bahwa lomba itu hampir ada setiap bulan, setiap minggu bahkan kalau mau ada setiap hari. Ada lomba yang berhadiah besar sampai lomba yang tidak ada hadiahnya. Bahkan ada lomba yang hadiahnya surga. Apakah ada? Ada, yaitu berlomba mengalahkan hawa nafsu. Dengan mengalahkan hawa nafsu maka kita dijauhkan dari api neraka dan didekatkan dengan pintu surga. Amin.

Nah, itu lomba yang hadiahnya di akhirat. Lalu bagaimana dengan lomba di dunia. Sepanjang saya mengikuti dunia persilatan (baca: lomba) sudah banyak hasil yang diperoleh. Dari yang sifatnya hiburan atau jalan, saya pernah singgah di beberapa tempat. Sebut saja saya pernah pergi ke Jakarta berulang kali. Terus Bandung, Bogor, Ceribon dan Solo secara gratis tanpa biaya sepeser pun. Malah kalau pas pulang kita akan diberi uang saku yang tidak sedikit. Belum makan, minum dan menginap ditanggung panitia. Sedap.

Itu yang di pulau Jawa. Ada juga yang pergi ke luar pulau Jawa, sebut saja Kalimantan (Banjarmasin) dan pulau Bali beberapa kali. Nah, itu karena lomba menulis. Semua berkat tulisan saja. Belum ditambah kalau juara, bakal bisa beli sepeda motor, mobil atau rumah. Kalau mobil atau rumah yang dibeli kok kemahalan ya minimal bisa untuk DP (Down Payment). Itu kalau juara. Kalau enggak juara? Biasanya panitia atau penyelenggara akan memberi uang partisipasi dan transport. Lumayanlah, bisa untuk mentraktir bakso se-RT.

Bayangkan saja, bila kita mengikuti berbagai lomba, tinggal hadiah dan uang transport dikumpulkan. Hum, pasti hasilnya banyak sekali. Ini belum ditambah kemampuan kita yang berkembang. Untuk lomba, saya menganut prinsip paman saya, “Sesuatu yang tampak itu bisa dipelajari.” Dengan prinsip itu, saya yakin bisa mengikuti berbagai macam lomba. Walaupun mungkin belum juara tetapi minimal pengetahuan kita bertambah.

Salah satu bukti saya pernah mengikuti lomba menulis skenario film pendek remaja. Nah dalam lomba tersebut, saya mencari referensi dari berbagai tempat. Kemudian belajar sendiri secara otodidak. Nah, mungkin karena idenya unik dan menarik, maka loloslah saya. Mungkin menulis skenarionya tidak bagus atau pakemnya belum tepat. Namun secara ide, bolehlah. Setelah lolos dan menjadi tiga terbaik, dapatlah sebuah laptop dan sejumlah uang.

Waktu itu penyelenggaranya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan diadakan lombanya (dan pelatihan) di Bali selama 5 (lima) hari. Di lomba itulah aku baru tahu bagaimana menulis skenario film yang benar dan bagus. Akhirnya naskah, saya rombak sesuai arahan mentor yang sudah berkecimpung di dunia perfilman. Luar biasa bukan? Ditambah lagi menurut kabar, naskah skenarioku mau dibuat film oleh KPK. Semoga film itu segera tayang. Mohon doanya. Judulnya “Jujur Itu Menyehatkan” atau dalam bahasa Inggris “ Let’s be honest students.” Memang naskah skenarionya ada dua bahasa; Inggris dan Indonesia.

Itulah keasyikkan hobi saya yang pertama; berburu lomba. Mengikuti berbagai lomba membuat kita memperluas pengetahuan dan memperkaya ketrampilan. Dengan lomba-lomba, saya bisa (eh, belajar) menulis cerita pendek, esai, karya ilmiah dan lain sebagainya. Kemudian hobi saya yang kedua adalah mengejar beasiswa. Ini juga menjadi sesuatu yang menggiurkan bagi saya. Namun sayang, saya sudah tidak muda lagi. Sehingga saat ingin mengejar beasiswa terbentur oleh keadaan. Saya harus memikirkan anak dan istri juga sih. Tidak mungkin kan, saya kuliah di luar negeri sementara anak dan istri di Indonesia.

Atau ketidakmungkinan yang lain, menjadi kepala sekolah di luar negeri sementara anak dan istri di tanah air. Impian itu harus saya pendam dan jauhkan dari angan-angan. Cukuplah saya mendapat tiga beasiswa saja selama kuliah. Kalau pun nanti ada beasiswa lagi, saya mengharapkan beasiswa S3 di Indonesia. Untuk S2 saya sudah merasa cukup dengan dua gelar saja. Pinginnya seperti Prof Slamet, yang namanya pendek tetapi gelarnya MasyaAllah panjang banget. Profesor Slamet PH, MA, MLHR, M.Ed, Ph.D begitu gelar lengkapnya. Itu pun belum ditambah gelar S1-nya, duh semakin panjang pastinya.

Profesor Slamet adalah ilmuan dan konsultan pendidikan. Beliau menjadi dosen di jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Ah, siapa sih yang tidak kenal beliau?Inspiratif sekali beliau ini. Nama boleh pendek tetapi gelar sepanjang jalan kenangan. Orang-orang yang mempunyai wawasan luas (salah satu indikatornya gelar) tentu orang yang mengasyikkan. Tersebab orang berpikiran terbuka, enak diajak bicara dan kreatif.

Itulah dua hobi yang paling seksi. Menurutku hobi itulah yang menarik dan mengasyikkan. Dua-duanya layak diikuti dan dikejar, apalagi bagi kamu yang merasa masih muda. Sayangnya hobi saya tinggal satu yaitu berburu lomba. Hobi mengejar beasiswa sebaiknya kutangguhkan sampai waktu yang tepat. Semoga selalu sehat, kuat dan penuh semangat. Amin.

Ditulis oleh : Joko Sulistya

Reviewer: Hapsari TM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *