Dilema Mantri Sunat

roikansoekartun[dot]blogspot[dot]com
Saya seorang mantri sunat, dan saya bangga. Karena nggak semua orang bisa. Perawat pun nggak semua bisa sunat. Suatu kali teman saya minta tolong, anaknya mau sunat. Saya datang ke rumahnya dengan peralatan lengkap. Begitu saya buka sarungnya, burungnya terbang. Anaknya nangis minta dibeliin burung yang baru. Dia suka sembunyiin kenari dalam sarung.

 

Saya sebenernya agak bermasalah dengan penglihatan. Jadi harus selalu pakai kaca mata. Tanpa kaca mata, saya kesulitan ketika menjahit luka. Karena yang di jahit adalah kulit luar disambung dengan kulit bagian dalam. Selain untuk menghentikan perdarahan, jahitan juga berfungsi untuk menyatukan jaringan yang terpotong. Untung dikasih obat bius. Jadi nggak kerasa sakit. Pernah suatu kali saya nekat mengkhitan tanpa pakai kaca mata. Kebetulan kaca mata saya ketlingsut entah di mana. Begitu selesai saya jahit, ternyata darahnya tetap nggak mau berhenti. Terus saja merembes. Njirrr … ternyata jempol saya yang terjahit.

 

Prosedur pertama yang harus dilakukan saat menyunat adalah pembiusan. Ada sih sunat modern tanpa bius. Nggak pake obat bius. Pakai hipnotis misalnya. Sebenarnya prinsipnya sama, mengurangi nyeri ketika proses sunat berlangsung.

 

 

“Kenapa, Dik? Masih kerasa sakit?” Saya memastikan biusnya bekerja.

 

 

“Iya, Pak. Sakit banget ….” Anak teman saya tampak merem melek sambil meringis nggak karuan. Mirip barongsai kesurupan arwah nenek-nenek yang mati klilipan.

 

 

“Kan dah disuntik bius. Kalau masih sakit nanti suntiknya saya tambahin, lho.”

 

 

Itu kalimat pamungkas untuk meredam kerewelan anak. Karena menurut survey yang saya lakukan, dari 100 anak yang di sunat, 80 anak takut disuntik dan 20 anak sisanya nggak berani disuntik.

 

 

Fakta mengejutkan menunjukkan bahwa kecenderungan anak untuk berbohong sangat tinggi ketika di sunat. Misalnya gini, setelah disuntik bius, biasanya mantri memastikan efektifitas bius dengan uji penjapitan. Pertama kita tempelkan ujung gunting ke ujung burung si anak. Trus tanyakan, “sakit atau kerasa, Dik?” Kalau si Anak teriak-teriak bilang kesakitan, dia nangis, meronta, nendang, koprol, itu tandanya dia bohong.

 

 

Biusnya bisa dipastikan bekerja apabila si Anak nggak merasa kesakitan ketika ujung burungnya kita jepit pakai klamp. Sebuah alat penjepit yang bentuknya mirip gunting, tapi tidak bisa untuk memotong. Tidak tajam, mirip tang kacil yang bentuk ujungnya mirip kepala buaya air laut. Paham? Udah, Amati saja reaksi si Anak.

 

 

Di sini seorang mantri sunat dituntut bisa mengenali mimik muka anak yang benar-benar kesakitan atau hanya pura-pura. Cukup sulit, karena mimik muka anak bercampur kecemasan. Kalau dengan cara-cara ini masih juga nggak kooperatif, maka lakukan jurus terakhir. Kombinasi teknik bius pithing dan bius vocal. Anak dipegangi oleh beberapa orang (pithing) dan gunakan teriakan untuk membuatnya diam. “Woi!!! DIAAAMMMM!!! Gue bius bibir lo baru tau rasa ntar!”

 

 

Pernah suatu kali saya dapet pasien sunat yang kebal dengan obat bius. Udah di coblas-coblos beberapa kali tetap saja nggak mempan. Dah habis beberapa ampul obat bius, tetap saja nggak ngaruh. Baru mau dijepit, dia dah teriak kesakitan. Tambah suntikan lagi, di test, tetap kesakitan. Serius, bikin penasaran.

 

 

“Dik, kok sampeyan nggak terbius? Padahal dah abis banyak obat bius, lho.”

 

 

“Maaf, Pak Mantri. Nggak ada yang bisa membius saya kecuali kecantikan Ibu guru biologi.”

 

 

“Kamvret! Itu istri saya, Dik!”

 

 

Sebelumnya mantri harus memastikan si anak nggak punya riwayat penyakit hemofiliadan hipospadia. Hemofilia ini semacam penyakit yang kalau luka, darahnya ngak mau berhenti. Karena ada kelainan genetik pada darah yang kadar pembekuan darahnya kurang memadai. Biasanya butuh penanganan khusus oleh dokter ahli.

 

 

Sedangkan istilah hipospadia, ini sejenis kelainan bentuk burung yang letak lubangnya nggak pada posisi normal seperti pada umumnya. Cara ngeceknya mudah. Ini tips buat orang tua yang punya anak laki-laki. Perhatikan burung anak anda ketika pipis. Pastikan air pipisnya mengucur dari ujung batang burung anak anda. Kalau air pipis keluarnya melalui lubang di pangkal batang atau tidak di ujung, maka hati-hati. Mungkin saja anak anda terdiagnosa hipospadia. Penanganannya harus dilakukan operasi oleh dokter spesialis bedah. Jadi jangan memaksa anak anda untuk ikut sunatan massal. Apalagi memaksa bapaknya ikutan sunat juga.

 

 

Tahap berikutnya dalam proses sunat adalah pemotongan. Konon kabarnya nenek moyang kita dulu disunat pakai sembilu. Ada juga yang bilang disunat pakai golok. Jaman dulu sunatnya sama dukun, dan dukun nggak pernah sekolah medis. Mereka nggak diajari jahit luka kayak mantri jaman now. Realitanya tetap aman-aman saja tuh. Nggak ada laporan kisah sejarah nenek moyang mati karena perdarahan setelah sunat. Mungkin sama dukun sunatnya disembur pakai air putih lalu lukanya kering saat itu juga. Emejing.

 

 

Anak-anak jaman sekarang biasanya pilih disunat pakai laser. Eh, orang tuanya ding yang minta. Anaknya sih kepaksa. Kepaksa karena malu sama temannya, atau bisa jadi kepaksa nerima iming-iming bingkisan hadiah. Anaknya menahan sakit, sedangkan bapaknya menahan amplop dalam saku. Lumayan. Salam tempel dari tamu bisa buat beli semen, batu bata, dan material buat bikin kandang ternak burung kenari.

 

 

Umumnya orang tua nggak masalah soal tarif. Berapapun OK, asal sunatnya pakai laser. Memang sebaiknya begitu sebagai ortu. Sudah jadi kewajiban untuk menyunatkan anaknya. Sebenarnya pakai laser atau manual, namanya tetap sunat. Bedanya kalau manual, katanya perdarahannya lebih banyak dan sembuhnya lama. Kalau pakai laser lebih cepat sembuhnya. Begitu selesai sunat langsung bisa main bola. Sunatnya pakai laser pointer LCD yang biasa dipakai presentasi.

 

 

Ada satu momen saat sunat yang membuat saya merasa dilema sebagai mantri sunat. Momen ketika anak histeris kesakitan, bapak-bapak berkerumun panik memegangi kaki dan tangan, mantri mulai keringetan menyunat si Anak, tapi ibu anak ini malah selfie menggunakan background burung yang hampir putus. Pake pose chibi-chibi seolah si Ibu selfie pakai backgroundartis korea. Parah banget.

 

 

Rasanya pengin ngingetin bagaimana rasa sakitnya disunat. Biar si ibu bisa menghargai perjuangan anak. Menghargai bagaimana si Anak berproses  menjadi dewasa. Sayangnya saya lupa bagaimana rasa sakitnya disunat. Mungkin karena terlalu sering ngerasain sakitnya ditinggalin.

 

 

Salam sehat dalam tawa.

 

 

Ditulis oleh: Seno NS. Founder Blogerclass.

Baca Juga:   Eksistensi Pengrawit dan Wayang Kulit

5 thoughts on “Dilema Mantri Sunat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *