Dia Rela Nglaju dari Nganjuk ke Jogja Untuk Belajar di TPY


Foto dari Kiri Subhan Ashari, kanan Seno NS, hadir di acara temu penulis Yogyakarta

Dia Rela Nglaju Dari Nganjuk ke Jogja Untuk Belajar di TPY – Seseorang baru akan menyadari betapa berharganya sebuah ilmu ketika mengalami suatu kegagalan. “Duh, andaikan aku bisa seperti itu, mungkin semua ini nggak akan terjadi.” Penyesalan akhirnya datang. Yang terjadi kemudian adalah munculnya serangan-serangan yang nelemahkan hati dan pikiran. Mengarah pada keputusan, “sudah ah, kuakhiri saja semua ini.” Kalah dan menyerah.

 
Sebelum semua itu terjadi, kita bisa memanfaatkan kesempatan untuk menuntut ilmu. Mempelajari bagaimana caranya menghadirkan kebaikan bagi diri kita, juga orang lain. Mencoba melakukan sesuatu yang baik. Memperbaiki kekurangan untuk mendekatkan pada kesempurnaan. Hingga pada suatu saat sejarah mencatat nama kita sebagai salah satu insan mulia yang berguna bagi orang lain.
 
Seorang Subhan Ashari layak menjadi cermin buat kita. Tentang semangat, juga  perjuangan menghidupkan budaya literasi di daerahnya. Dia rela menempuh perjalanan 4 jam dari Nganjuk ke Jogja untuk belajar di kegiatan Temu Penulis Yogyakarta (TPY). Malam berangkat ke Jogja, sorenya pulang ke Nganjuk. Sendirian.
 
Pagi itu, tercatat dalam percakapan WA saya, pukul 03.39 Mas Subhan memberi kabar sudah sampai terminal Giwangan, Yogyakarta. Terus terang waktu itu saya seperti nggak percaya. Kebetulan saya masih terjaga karena jadwal ronda. Sehingga saya janjikan ba’da subuh menjemputnya di terminal.
 
Saya baru pertama kali ini bertemu dengan Mas Subhan. Tapi keakraban yang terjalin pagi itu serasa sahabat lama yang dipertemukan kembali. Nyaris tidak ada tema obrolan sepanjang pagi selain tentang komunitas penulis, literasi, penerbitan, dan buku. Juga sedikit membahas soal kampung halaman.
 
“Saya pengin belajar, Mas. Pengin bikin komunitas, tapi ndak tahu cara pengelolaannya. Saya kagum sama teman-teman yang di Jogja. Mereka selalu aktif bikin kegiatan. Barangkali nanti teman-teman yang di Nganjuk bisa ketularan ilmunya.” ungkap Mas Subhan, pagi itu.
 
Sejenak kami bincang-bincang di teras rumah kontrakan saya. Ngopi, sambil ngobrolin proses terbentuknya TPY. Kebetulan jadwal acara TPY dimulai pukul 09.00, jadi kami masih punya waktu beberapa jam. Free. Menikmati pagi dengan segelas kopi dan sepiring kacang asin. Sementara istri saya khusuk menyiapkan sarapan. Ehm…
 
“Begini, Mas. Di TPY sebenarnya tidak ada kepengurusan tetap. Tidak ada ketua, sekretaris, atau kepengurusan seperti organisasi komunitas pada umumnya. Sengaja kami bikin tugas-tugas itu dibagi rata. Setiap pertemuan ganti petugasnya. Biar semua merasakan. Jadi nggak pengurusnya saja yang aktif. Kayak yang sudah terjadi di komunitas-komunitas biasanya itu.”
 
Mendengar penjelasan saya tentang TPY, Mas Subhan terlihat manggut-manggut. Saya anggap itu tanda dia menyerap penjelasan saya. Harapannya memang ketika Mas Subhan kembali ke Nganjuk benar-benar membawa apa yang dia cari di Jogja. Punya gambaran bagaimana membangun dan mengelola komunitas.
 
“Caranya biar bisa bikin anggotanya antusias ikut kegiatan gimana mas? Biasanya kan sulit mengumpulkan orang, trus bisa guyub ngembangin komunitas.”
 
“Waduh, cara pastinya saya juga belum tahu mas. Kalau di TPY jujur saja fokusnya bukan ngembangin komunitasnya, tapi lebih pada kebutuhan anggota dan goal ‘karya’. Jadi kami nggak banyak berharap TPY ini jadi besar dan banyak anggota. Kami lebih suka anggotanya nggak terlalu banyak, tapi banyak melahirkan karya.”
 
Saya teringat betul apa yang disampaikan Mas Dwi tentang masa depan TPY. Beliau tidak ingin TPY ini seperti balon. Membesar, tapi kosong di dalam. Mudah meletus. Kami sepakat memperkuat internal dulu. Tak masalah nggak terlihat keren, asal para anggota bisa terfasilitasi kebutuhannya dan nyaman berkarya.
 
Itulah mengapa di TPY penyusunan agendanya didasarkan pada plotting tujuan personal anggota. Karya apa yang dalam waktu dekat ingin di rampungkan. Di data, lalu dikelompokkan untuk menyusun skala prioritas agenda di TPY. Simpelnya begini, ada 20 anggota yang terdata. 40% ingin garap naskah genre anak, 20% ingin bikin buku novel remaja, 15% ingin nulis nonfiksi, 10% ingin ngrampungin kumcer, dan 5% anggota ingin jadi konten writer. Nah, dari situ bisa ditentukan pertemuan selanjutnya akan ngangkat tema buku anak berapa kali pertemuan. Terus materi teknis penulisan berapa kali pertemuan.
 
“Mas, apakah di TPY setiap anggota diwajibkan bayar iuran perbulan?”
 
“Nggak, Mas. Hanya tiap kali datang pertemuan bayar iuran 25 ribu. Kalau nggak datang, ya nggak usah bayar. Iuran yang terkumpul akan dipakai untuk fee pmbicara, sedekah tempat, dan konsumsi. Misalkan ada yang mau sedekah lebih, ya alhamdulillah. Murah meriah, lah pokoknya Mas.”
 
Duh, mungkin saya terlalu banyak bicara soal TPY. Hihihi …. Siapa sih saya? Semoga teman-teman TPY nggak keberatan info ini saya bongkar. Ya, minimal ada yang bisa menginisiasi kegiatan serupa di daerah lainnya. Kan Asyik kalo setiap orang yang pengin jadi penulis terfasilitasi sesuai kebutuhan. Nggak perlu bayar mahal pula. Mahal, seminarnya online. Duh ….
 
Tak terasa sudah pukul 08.00. Istri saya sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Ah, meskipun hanya balado terong ayam dan lauk telur dadar, rasanya mak nyuss. Saya senang Mas Subhan tanpa sungkan turut sarapan. Suasananya jadi rumaket banget.
 
Tepat pukul 08.15 kami meluncur ke TKP. Menerabas jalan Imogiri Timur, ke barat, hingga jalan Bantul. Lalu lintas tidak terlalu ramai. Sehingga kami bisa asyik ngobrol sambil nunggang Honda. Cuaca juga sangat mendukung. Sayup-sayup langit meninggalkan bekas gerimis. Tapi nggak romantis. Ehm…
 
Setelah sampai di lokasi, tugas saya belum berakhir. Saya masih harus memastikan Mas Subhan mendapatkan apa yang ingin dia pelajari. Setelah itu mengantarnya ke terminal Giwangan untuk perjalanan pulang ke Nganjuk.
 
“Mantap dan mendapatkan hal-hal  baru sehingga dapat memotivasi saya untuk membentuk komunitas di Nganjuk, membagi oleh-oleh ilmu baru ke teman-teman.” tulis Mas Subhan di pesan whatsapp ketika saya mintai kesan setelah ikut acara Temu Penulis Yogyakarta. (Seno NS)
 
 
Ditulis oleh: Seno NS, Founder Blogerclass
Baca Juga:   [Cernak] Sepeda Gilang

4 thoughts on “Dia Rela Nglaju dari Nganjuk ke Jogja Untuk Belajar di TPY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *