Deklamasi Puisi pada Suatu Pagi

Januari sudah hampir berakhir. Mengingat masa liburan telah selesai, seharusnya media sosial sudah tidak lagi dipenuhi foto-foto liburan kemarin. Memang sih, tidak ada peraturan khusus tentang itu. Orang-orang bebas memilih waktu untuk mengunggah foto liburan. Biasanya, foto-foto itu diunggah setelah liburan berakhir. Tidak jarang pula diunggah saat masih berlibur, dengan keterangan OTW ke objek wisata berikutnya.

Tapi, ternyata keadaan berbeda terjadi di lini berita media sosialku, baik Facebook, twitter, Instagram, hingga WhatssApp. Foto-foto liburan berseliweran. Bagiku, itu bukan hal baik. Aku tidak menyukainya. Tidak. Tidak. Tidak. Aku tidak membenci orang-orang yang melakukan liburan. Aku hanya benci karena seakan diungkitkan kembali pada rindu yang kupangkas diam-diam. Aku pernah di titik itu. Pernah. Iya, pernah.

Beberapa tahun lalu, aku adalah pemburu tanggal merah. Berapa pun jumlah harinya, aku sering menghabiskannya dengan berlibur. Destinasi favoritku adalah gunung dan pantai. Untuk teman perjalanan, aku pernah memiliki teman khusus. Biasanya aku pergi bertiga. Keuntungannya adalah: kami tidak perlu lagi untuk beradaptasi satu dan lainnya. Sama-sama sudah mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika sedang dalam perjalanan liburan; tidak jaim melakukan suatu hal, meski konyol sekalipun juga bisa tahu apa yang harus dilakukan, meski tidak ada kata-kata yang kami lontarkan.

Dampak dari semua itu membuat kami bisa saling mengerti emosi masing-masing. Ketika salah satu terpancing emosinya karena lelah, yang lainnya hanya garuk-garuk sembari nyengir kuda. Kami juga tidak memiliki batasan sungkan untuk menegur bila salah satu dari kami melakukan kesalahan.

Meski liburan selalu identik dengan bersenang-senang, tidak membuat kami alergi untuk berakrab ria dengan kesulitan. Numpang tidur di warung, terminal, stasiun, bukan hal aneh lagi, demi meminimalkan pengeluaran. Makan minum bersama dalam satu wadah. Naik bus kelas ekonomi, truk, hingga mobil pick up pengangkut sayuran bukan hal tabu untuk dilakukan. Belum lagi, bila kami masih harus patungan, membayar semua itu dengan mengumpulkan uang receh. Kami sih, santai ketika mengumpulkan dan membayarnya. Tapi, bisa jadi tidak demikian dengan orang yang kami bayar. Mungkin orang itu berpikir, “Gila nih bocah-bocah, ini jalan buat senang-senang, atau buat nyari susah?”

Padahal, sejujurnya, kami memang orang susah yang sedang jalan-jalan. Hahaha ….

Namun, semua keseruan itu tidak berjalan lama. Tidak ada kebersamaan yang abadi. Selalu ada perpisahan. Begitu pun kami. Kami harus membubarkan diri sebagai sebuah tim. Bukan. Ini bukan karena ada larangan dari pasangan kami. Tapi, karena kedua sahabatku menemukan pasangan jiwanya. Aku menghormati pernikahan mereka, dan membiarkan  mereka memprioritaskan keluarga masing-masing. Bagaimanapun, hobi menjadi nomor dua.

Setelah kedua sahabatku menikah dengan pasangan masing-masing, aku sempat gamang untuk melakukan liburan seperti dulu. Aku tidak dapat membayangkan, datang ke sebuah tempat baru tanpa ada seorang pun yang kukenal. Tiba-tiba paranoid menyesaki kepalaku. Bertemu orang jahat di bus, terminal, gunung, warung, di mana saja. Bayangan penjambret, pelaku pembiusan, hipnotis, dan beraneka modus kejahatan lainnya silih berganti memenuhi benak. Untuk melakukan perjalanan tanpa mereka, aku seperti burung bersayap sebelah.

Sebulan, dua bulan, hingga setahun dua tahun, aku bisa menahan untuk tidak mengisi liburan dengan melakukan perjalanan. Liburan kuisi dengan menjadi anak manis yang selalu ada di dalam kota, tidak ke mana-mana. Menginjak tahun ketiga pernikahan sahabat-sahabatku, aku berada di titik jenuh. Bila bekerja, aku pasti bertemu kemacetan, lengkingan klakson motor, dan mobil yang beradu cepat. Saat di kontrakan, hiruk pikuk dari tiap kamar yang jejal, dan berdampingan dengan berisiknya pabrik.

Aku sungguh tak tahan.

Sebetulnya, bisa saja sih, aku mengajak sahabat-sahabatku yang lain untuk melakukan liburan. Toh, sahabatku tak cuma dua. Tapi, masalahnya, tak satu pun dari sahabatku yang mau melakukan liburan di alam terbuka sepertiku.

Tak menemukan sahabat yang satu frekuensi di dunia nyata, membuatku banting setir. Aku mencari sahabat di dunia maya. Duh, seperti depresi, ya? Maksud awalnya sih, tidak begitu. Aku mencari temanku saat masih sekolah dulu melalui akun Facebook. Maklumlah, aku besar di zaman ponsel belum ditemukan. Jadilah aku harus berusaha ekstra untuk mencarinya. Namun, akhirnya aku merangkap niat, tak hanya mencari teman sekolah, tapi juga teman yang sehobi.

Seringnya berinteraksi melalui status dan komentar di Facebook membuatku menjalin persahabatan dengan beberapa teman yang akhirnya menjadi sahabat. Merasa tak cukup bersahabat di maya, kami memutuskan untuk melakukan liburan bersama. Ke mana lagi tujuannya bila bukan ke gunung dan pantai?

Meski sempat ragu, akhirnya aku terbiasa melakukan perjalanan dengan mereka. Tidak lagi tim tetap seperti ketika aku bersama kedua sahabatku dulu. Tapi, kami sering random. Yang jelas, orang yang dipilih adalah orang yang telah sangat dekat sebelumnya, meski hanya melalui Facebook.

Bukan traveler namanya bila tak mampu beradaptasi. Entah siapa yang pertama kali menyadari dan mencetuskan hal itu. Tapi, memang demikianlah adanya.

Terbukti, meski baru pertama kali bertemu, aku dan teman-teman bisa langsung klik. Kami tidak berusaha menjaga image sebagai orang dengan karakter A, B, C, D, bahkan Z sekalipun. Semua bebas dengan karakter masing-masing. Justru ketika itulah kami mengeluarkan karakter asli kami. Coba saja kau bayangkan, apa yang harus dilakukan bila kau selalu bersama orang lain selama berhari-hari, tapi tidak pernah mandi? Ketika jalan masih belum berujung, sedang stok air dalam botol tinggal sedikit lagi, padahal mata air tak kunjung ditemukan? Apa yang akan kau lakukan bila ternyata bebanmu terlalu berat? Sementara perjalanan itu baru dilakukan pertama kali bersama mereka. Ingin mengomunikasikan, tapi takut melukai hati orang lain. Begitulah, komunikasi dan kepekaan yang lambat laun kami pelajari, dan membuat kami kian dekat.

Dari perjalanan itu, tak hanya memiliki sahabat baru, tapi juga memiliki kisah seru lainnya. Salah satunya seperti kisah ini.

Pagi itu kami sedang melakukan persiapan untuk tracking ke Taman Nasional Baluran. Kala itu kami mujur, diperbolehkan menginap di gazebo milik pengelola Taman Nasional. Tak apa kami tidur di udara terbuka. Toh, ada kantung tidur. Yang terpenting, kami bisa mandi pagi di kamar mandi mereka. Itu kemewahan, man. Hahaha ….

Aku sudah selesai mandi. Teman-teman seperjalanan mulai kupaksa bangun dan berkemas. Ada yang malas-malasan terlebih dulu, ada yang segera gegas ke kamar mandi, termasuk Imeh—satu-satunya temanku yang perempuan dalam perjalanan saat itu.

Sementara menunggu mereka mandi, aku memasak air untuk menyeduh kopi, teh, susu, atau apa saja minuman yang akan dipilih nanti. Minuman itu yang akan menemani kami ke tahap berikutnya, menanak nasi dan membuat sarapan.

Mungkin Imeh sempat heran melihatku sepagi itu sudah mengeluarkan kompor dan nesting—peralatan memasak yang biasa digunakan pendaki gunung—tiba-tiba ia berteriak dari dalam kamar mandi, “Lintang …, kamu udah mandi?”

Teriakan itu membutuhkan jawaban dalam bentuk teriakan pula. Aku pun melakukannya. Mengiyakan  dalam teriak. Berisik, ya? Pasti. Tapi, bukan itu masalahnya. Selain rombongan kami, ada satu rombongan lain yang juga berada di situ. Sepertinya sih, mereka mendengar teriakan-teriakan itu. Lalu detik berikutnya aku mendengar dialog mereka.

“Eh, itu Mbak Lintang?”

“Iya, itu Mbak Lintang.”

Sungguh, tidak aneh bila mereka merasa familiar dengan nama Lintang. Maaf, bukan bermaksud narsis. Jadi begini, kami dalam lingkup hobi yang sama, yang bisa jadi telah terkoneksi pertemanan di Facebook. Nah, bila kami memang telah berteman di Facebook, sangat besar kemungkinan mereka sering menjumpai nama atau statusku di beranda Facebook. Tentang mengapa mereka seakan tidak yakin, penyebabnya tak lain karena aku jarang mengenakan foto profil yang menampakkan wajahku secara utuh. Analisa itu keluar ketika detik berikutnya aku dibuat bengong dengan tingkah mereka. Ah, tidak. Berawal dari suara.

“Pagi ….”

Hei! Ada suara orang berdeklamasi. Kulihat ke arah mereka. Ternyata memang salah satu dari mereka yang melakukannya. Dia berdiri. Sebelah tangannya setengah siku di depan dada. Sedang tangan satunya bergerak bebas menyapa langit. Diiringi gerak tubuhnya yang meliuk.

“Aku di sini …. Mentari bersinar ….”

Ya, Allah …, kenapa ada yang berdeklamasi pada pagi hari? Padahal aku sedang bersiap-siap menyeduh kopi. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, sembari meminta maaf pada mereka di dalam hati. Mungkin, itu dampak dari kebiasaanku mengunggah status berupa puisi-puisi versiku. Mereka mengenali, hafal, dan mendeklamasikannya. Mungkin, selama ini mereka eneg, jenuh dengan status-statusku. Rasanya, aku ingin memasukkan wajahku ke dalam carrier saja.

Detik berikutnya, aku tak mampu melihat mereka. Yang jelas, pagiku dengan bersiap menyeduh kopi, dan mereka dengan deklamasi puisi. []

Ditulis oleh: Lintang Kinanti

Reviewer: Dhita

Baca Juga:   [Cerpen] Sisa Kenangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *