Curahan Hati Generasi Milenials

sumber: google image

 

Milenials everywhere!Ungkapan yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini karena topik berkaitan dengan generasi ini cukup sering dibahas. Di belahan dunia manapun, milenialsmejadi bincangan hangat bagi pelaku usaha juga bagian human resources perusahaan. Selain menjadi bagian dari cohort, generasi milenials kini menjadi manusia yang sedang ranum, mengisi posisi penting di perusahaan juga generasi muda yang sedang memersiapkan diri membangun masa depan negeri.
Berbicara tentang milenials, tentu tak lepas dari berbagai stigma negatif. Entah karena kondisi dunia yang mulai memburuk dan sangat berubah oleh hadirnya teknologi, atau memang milenials dianggap sebagai generasi yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya, baby boomers juga gen x. Milenialsterlanjur dicap sebagai generasi instant dan tak mau repot. Kebiasaannya menggunakan teknologi, mengurangi rasa sosial serta kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Masih banyak sebutan tidak baik lain yang dialamatkan kepada mereka yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000.
Sebagai bagian dari generasi ini dan terlahir sebagai orang Indonesia, saya merasa mendapat pandangan yang cukup buruk. Belum dengan sebutan generasi menunduk serta generasi micin, seolah kami butuh sekantong micin untuk memenuhi hasrat kami makan. Padahal, tak semua yang dituduhkan adalah keburukan. Kemajuan zaman, berkembangnya teknologi juga meluasnya lapangan pekerjaan tak lepas dari ide kreatif para milenials. Dan saya coba lepaskan uneg-uneg, mewakili mereka: generasi micin Indonesia (katanya).
  • Katanya kami ‘Kutu Loncat’
Milenials adalah manusia kurang setia, mudah bosan dan terus mencari datangnya kesempatan baru. Bagi milenials, dua atau tiga tahun sudah menjadi waktu yang lama untuk bertahan pada satu pekerjaan di perusahaan. Milenials tak takut, berpindah dari satu bidang ke bidang lain yang benar-benar berbeda. Tak ada alasan untuk merasa tidak bisa memelajari bidang baru, internet memberi akses belajar yang mudah, cepat dan tak terbatas.
Salah jika kami tak setia, tentu kami sangat setia terhadap diri sendiri. Belajar di tengah derasnya arus informasi adalah hal wajib. Bagaimana kami tak tergiur pekerjaan baru, sementara pintu kesempatan terbuka lebar di hadapan kami. Keinginan kami untuk mahir di segala bidang kemudian menjadi sama lebar terbuka, maka tak sepenuhnya kami bersalah atas pilihan berpindah-pindah.
  • Generasi Menunduk
Sebagai generasi yang lahir dalam situasi yang semakin maju dan modern, milenialstak bisa melepaskan diri dari gadget. Sosial media yang menjamur mampu menjadi pilihan berkomunikasi, membuat siapapun aktif dalam jejaring pertemanan dunia maya. Tak heran, dalam setiap kesempatan milenials selalu mencari kesempatan untuk mengabadikan momen penting dalam hidup mereka. Selain itu, di selang waktu menunggu bus atau kesempatan menunggu lainnya, kepala mereka menunduk melihat ponsel. Kecanduan milenials terhadap gadgetlah yang membuat julukan ini menempel sangat erat.
Ponsel diciptakan oleh generasi sebelum kami, jangan sepenuhnya menyalahkan kami atas apa yang terjadi sekarang ini. Ponsel dan teknologi tak selalu buruk, kan? Bagaimana kami tak nyaman dengan gadget, ponsel yang kecil dan praktis membantu kami membawa bacaan dengan jumlah banyak dalam ruang yang sempit. Sementara jika membawa buku fisik, tak selamanya tas kami muat. Sosial media juga sama, jika kemudahan itu tak ada, kami tak bisa membangun portofolio online. Banyak perusahaan menemukan kami di sana.
  • Generasi Micin
Julukan lain bagi milenials yang sedang ramai adalah generasi micin. Entah siapa yang awalnya membuat micin menjadi berhubungan dengan kelakuan anak muda kekinian yang tidak patut atau menimbulkan kontroversi. Yang jelas, dikatakan bahwa generasi milenials terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung micin atau MSG. Katanya, micin berpengaruh terhadap kesehatan otak. Hal inilah yang membuat milenials berkelakuan buruk diasosiasikan dengan terlalu banyak mengonsumsi micin. Alasannya, otaknya menjadi tidak berpikir jernih dan mudah melakukan hal-hal yang aneh dan cenderung melanggar norma.
Bukankah micin telah ada sejak lama? Zaman bapak-ibu dan eyang juga sudah memasak menggunakan micin. Sekarang ini pun, bisnis makanan sehat di Indonesia telah berkembang. Lihat saja artis-artis telah banyak diendorse oleh catering makanan bermenu sehat, bahkan tak cuma tanpa micin. Makanan tanpa garam dan tanpa gula juga banyak dijajakan di negeri ini. Berapa jumlah micin yang dikonsumsi milenials per hari? Apakah semua milenials mengonsumsi micin? Saya rasa, tidak. Jadi, sebutan generasi micin ini tak mewakili milenials.
Yang jelas memang betul, segala sesuatu yang dikonsumsi berlebihan tidak akan mendatangkan kebaikan. Bukan hanya micin, terlalu banyak ikut campu urusan orang lain, terlalu banyak mencari berita buruk atau keburukan orang lain juga sangat tidak baik. Terlalu banyak meninggalkan ibadah wajib: ini yang sangat berbahaya!
  • Generasi Instant
Lahir di era modern dimana internet telah meluas, menjadikan segala hal semakin mudah dilakukan. Mencari bacaan, bertemu teman dan berbelanja kini bisa dilakukan secara online. Hal ini menyebabkan milenials menjadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan layar, baik handphone maupun laptop. Proses yang serba cepat adalah dambaan setiap milenials. Kehadiran handphoneadalah wajib ‘ain, tempat nongkrong harus ber-wi-fi dengan kecepatan maksimal.
Selain itu, instant digunakan untuk menggambarkan milenials yang tidak sabaran. Milenials menginginkan duduk di jabatan strategis dengan memangkas jarak, tidak ingin berlama-lama meniti karir. Mengharapkan gaji tinggi dengan segera, kuat mengikuti keinginannya untuk sukses di usia muda.
Bukan instant, kalau bisa melakukan sesuatu dengan lebih cepat dan efisien: kenapa tidak? Zaman berkembang cepat, teknologi berkembang bahkan mungkin dalam hitungan menit. Manusia sangat dinamis dan perlu mengikuti ritme kehidupan yang demikian cepat berubah. Toh, dengan keinginan untuk mencapai posisi strategis, kami tetap berproses dan bekerja keras. Tak heran, kami mampu dan mau bekerja secara paralel; multitasking.
Selama ini dengan prinsip instant, kami para milenials telah menelurkan banyak lapangan pekerjaan. Siapa sangka bahwa ojek, bisa menjadi bisnis baru yang menyerap banyak tenaga kerja karena kepraktisannya? Juga, jika praktis ini tak menjadi kebutuhan untuk orang di luar sana, termasuk generasi selain milenials: kami tak akan berinovasi membuat perangkat serba instant.
Dari semua anggapan buruk tentang milenials, sesungguhnya selalu ada sisi positif yang menyertainya. Sebagai generasi yang memang lahir di tengah derasnya arus kreatifitas, milenials harus menyesuaikan diri demi bertarung dengan tantangan zaman. Milenials memang sulit meninggalkan layar handphone, sulit juga melepaskan diri dari internet. Tetapi kemudahan itu, akan membuat milenials belajar dan terus mengambil kesempatan baik untuk kreatif dalam berinovasi. Nantinya, segala produk yang diciptakan generasi milenials semoga memberikan manfaat yang luas bagi generasi selanjutnya.
//-//
Ditulis Oleh: Hapsari Titi Mumpuni

One thought on “Curahan Hati Generasi Milenials

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *