Coki, Sahabat yang Hilang

Keluarga Coki sebentar lagi pindah ke Surabaya. Sang ayah mendapat tugas baru di kota Pahlawan itu. Beberapa hari yang lalu, Coki memberi tahu kepada kedua sahabatnya. Feri dan Riko adalah sahabat Coki di sekolah dasar yang berada di kampung. Mereka kebetulan tinggal di desa yang sama, dan satu kelas di kelas lima.

“Ki, kapan kamu pindah ke Surabaya?” tanya Riko.

“Besok pagi, Ko.”

“Waduh, lama nggak bisa ketemu, nih. Kami pasti kangen bermain sama kamu, Ki,” keluh Feri.

Coki  melempar senyumnya. Ia segera menanggapi keluhan Feri. “Nggak usah khawatir, kalau libur aku akan mengajak Ayah pulang kampung. Bukankah nenekku masih tinggal di sini?”

Mendengar kata-kata Coki, Riko dan Feri tercenung sejenak. Ada rasa was-was yang merasuk di hati kedua bocah kampung itu. Perasaan khawatir jika Coki tinggal di kota, mereka tidak akan bisa bermain bersama lagi.

Belum selesai Feri dan Riko termenung, tiba-tiba Coki mengagetkan mereka.

“He, ngapain bengong. Ayo, kita lanjutkan permainan lagi. Nggak usah mikirin kepergianku. Suatu saat nanti, aku pasti akan kembali ke kampung ini.”

Riko dan Feri tersentak mendengar ucapan anak laki-laki yang berhidung mancung itu. Kedua sahabat itu segera tersadar dan menuruti ajakan Coki. Mereka bermain air di sungai dekat kampung. Tempat ini biasa digunakan tiga sahabat itu untuk bermain bersama.

“Wah, asyik ya, bisa main sama-sama seperti ini!”

Celetukan Riko tidak terdengar oleh kedua temannya. Feri dan Coki asyik mencipratkan air sambil tertawa gembira. Karena tidak digubris, akhirnya Riko ikut bergabung bermain air di sungai tersebut.

Ketiga sahabat itu asyik main air di sungai. Mereka sangat menikmati suasana gembira saat bermain bersama sampai hampir lupa waktu.

“Eh, udah sore nih, aku mau pulang. Besok kan, aku mau pindahan,” seru Coki.

Feri dan Riko mengikuti Coki melangkah keluar dari sungai. Mereka segera mengenakan baju, sedangkan celananya dibiarkan tetap basah. Sebelum berpisah ke rumah masing-masing, Riko menyeletuk,“Wah, kita bakal kehilangan teman nih, Fer.”

***

Setahun kemudian, liburan sekolah tiba. Feri dan Riko mendengar tentang kedatangan Coki di kampungnya. Mereka bermaksud mengajak teman lamanya untuk mandi dan bermain di sungai.

“Aku ingin mandi dan bermain di sungai bersamanya,” kata Riko.

“Wah, kalau aku teringat saat memandikan kerbau di sungai. Rasanya asyik walau harus mandi bersama kerbau. Hehehe…,” balas Feri.

Kedua sahabat itu kemudian menuju rumah nenek Coki. Dua anak itu ingin segera bertemu dengan mantan teman sekelas mereka.

Sesampainya di rumah nenek Coki, Riko langsung mengajaknya bermain. “Ki, kebetulan cuaca hari ini panas. Ayo, kita main di sungai seperti dulu lagi!”

Feri tidak mau kalah untuk mengajak Coki. Ia ingin Coki menuruti ajakannya.

“Atau kita main lumpur di sawah. Setelah itu, kita memandikan kerbau di sungai.”

Coki menggelengkan kepala kuat-kuat sambil mencibirkan bibir. Anak yang baru datang dari kota itu  menolak.

“Nggak ah, mandi di sungai kan, kotor. Aku nggak biasa mandi di sungai. Aku lebih suka berenang di kolam renang. Airnya bersih, tempatnya juga nyaman. Nggak seperti kalian, jorok!”

Riko dan Feri saling berpandangan sambil mengangkat bahu dan memelototkan mata.

“Hah, kotor? Jorok? Bukannya dulu, kita sering mandi di sungai dan memandikan kerbau setelah berkubang di sawah?” sahut Riko.

Coki tidak mau ambil pusing. Ia melanjutkan main game di hp dan menjawab, ”Iya, tapi sekarang aku nggak mau lagi. Kotor, jorok, jijik, ah!”

“Bagaimana kalau kita main di sawah bersama kerbau?” tanya Feri.

“Wah, nanti kulitku kotor dan hitam. Ogah, ah! Nih lihat, kulitku sekarang putih dan bersih, kan,” pamer Coki.

“Ah Coki, kenapa kamu jadi begini. Kamu bukanlah Coki yang dulu, teman sekelasku yang asyik!” kata Riko kesal.

Mendengar jawaban temannya yang baru datang dari kota, Riko dan Feri memutuskan untuk pulang. Hati kedua sahabat itu kecewa. Mereka merasa Coki sekarang, bukanlah Coki yang dulu. Sementara Coki hanya memandang kedua temannya itu berjalan menjauh dengan hati bimbang.*)

 

Baca Juga:   Permainan dari Zaman ke Zaman

Ditulis oleh: Suprapti

Reviewer: Oky E. Noorsari

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *