Cinta: Ada Apa Dengan Kita?

Sumber gambar: aadc2.com

 

             Ngomongin cinta, entah kenapa gue selalu ingat sama Cinta di film AADC, “Ada Apa Dengan Cipokan“. Eh, Ada Apa Dengan Cinta. Sumpah, itu film keren. Dian Sastro keliatan cakep di film itu, meski di kehidupannya nyata mungkin ia sama kayak emak-emak naik motor matic.
 
            Tau kan emak-emak naik motor matic. Yang ngira lampu sein motornya rusak karena nyala, mati, nyala, mati.
 
            Tapi Dian Sastro beda. Dia enggak naik motor matic, dia naik pesawat ke Amerika buat temui Rangga. Tapi tetep aja nanya ke pilotnya, lampu sein pesawatnya rusak enggak?
 
            AADC itu film keren. Dian Sastro keren. Nicholas Saputra keren. Enggak kebayang kalo AADC diperankan oleh aktor/artis lainnnya. Misalnya Leonardo Dicaprio dan Kate Winslet, maka filmnya bakal jadi AADT, Ada Apa dengan Titanic. Atau diperankan sama Abdullah Gymnastiar maka filmnya jadi AAGym.
 
            Bagi gue, yang umurnya kurang lebih sama dengan Dian Sastro, Dian Sastro itu jadi standar kecantikan wanita. Tapi bagi cowok-cowok sekarang Dian Sastro itu udah jadi standar Mahmud Abbas, Mama Muda, Anak baru Satu.
 
            Kembali ke AADC, gue nonton film itu di bioskop. Nonton bioskop itu seru. Kita bayar dan bisa milih kursi. Beda ma politikus, udah bayar biaya kampanye, belum tentu dapat kursi.
 
            Tetapi bintang film dan politikus itu sebenarnya kurang lebih sama. Beda-beda tipis lah. Bintang film bermain peran untuk mendapatkan piala citra. Sedangkan politisi bermain citra untuk mendapatkan peran, peran di eksekutif, peran di legislatif, atau peran di KPK. Jadi tersangka.
 
            Setelah beli tiket dan milih kursi di bioskop, kita akan nunggu film yang diputar. Biasanya ada pengumuman kayak gini, “Teng teng teng teng… pintu teather dua sudah dibuka, bagi penonton yang telah memiliki tiket diharapkan masuk ke ruang teater“.
 
            Untung aja, pengisi suara profesional, jadi enak didengar. Coba kalo gue yang jadi pengisi suaranya. Jadinya beda. “Teng teng teng teng… maaf, salah pencet!”
 
            Pengumuman di bioskop itu ditujukan ke penonton. Iya hanya ditujukan penonton bukan petugas di bioskop. Nanti jadinya juga bakal absurd, seperti, Teng teng teng teng… pintu teather dua sudah dibuka, bagi mas-mas operator film diharapkan masuk ke ruang teater. Penonton sudah mulai rusuh… Aduhhh!! Woi Ngajak Ribut, lu?”
 
            AADC itu memenuhi syarat sebuah film yang cakep, yakni memiliki memorable scene. Adegan yang dramatik yang selalu diingat penonton setelah meninggalkan bioskop. Memorable sceneitu ada di AADC yang pertama, maupun yang kedua. Yang gue heran memorable scene ini adalah adegan Cinta sedang marah-marah ke Rangga. Seolah apa yang dilakukan Rangga selalu salah. Mungkin ini membuktikan bahwa cewek seperti Ipin di animasi Upin dan Upil; yang selalu “Betul, betul, betul.”
 
            Di film pertama, gue inget sama adegan Cinta ngamuk sama Rangga di koridor kelas, “Jadi ini salah gue, salah temen-temen gue?!”
 
            Untung Cinta ini pelajar SMA, coba kalo dia anggota dewan, ngomongnya bakal beda, “”Jadi ini salah gue, salah fraksi gue, salah komisi gue?!”
 
            Kalo gue jadi Rangga, gue bakal ngalah ngadepin Cinta versi anggota dewan, “Bukan Cinta. Ini salah rakyat Indonesia yang memilihmu sebagai anggota legislatif.”
 
            Di film kedua, Cinta juga marah-marah ke Rangga. Mata Cinta menatap tajam ke Rangga, sedang Rangga cuman nunduk ngeliat ke arah bawah. “Kayaknya, uangnya jatuh di bawah deh.”
 
            Saat itu Cinta dan Rangga duduk di sebuah cafe, di pagi hari. Dengan nada sinis, Cinta langsung marah ke Rangga, “Rangga… apa yang kamu lakukan itu… Jangkrik.”
 
            Setelah konflik tersebut, Cinta dan Rangga menyadari bahwa ada cinta di antara keduanya. Rasa cinta di film AADC mampu menyatukan Cinta dan Rangga. Meski mereka berbeda karakter, mereka saling jatuh cinta. Cinta yang suka keramaian, sedang Rangga suka kesunyian. Cinta yang anak gaul dengan Rangga yang bisa menggauli Cinta.
 
            Sebelum Cinta dan Rangga menyatu dalam buaian dewi asmara… halah… keduanya adalah lawan dalam lomba ciptapuisi yang diadakan di sekolah mereka. Iya, lomba yang pemenangnya diumumkan oleh lembaga quick count dan ditetapkan oleh KPU.
 
            Ingatkan ketika adegan pengumuman pemenang lomba cipta puisi yang dilakukan di upacara bendera hari senin. Saat itu kepala sekolah berdiri di depan, kasi pengumuman, “Teng teng teng, pemenang lomba puisi sudah diumumkan, bagi peserta lomba yang menang diharapkan masuk ke teather 2.
 
            Ketika pemenang lomba diumumkan, reaksi Cinta dan Rangga biasa aja. Cinta dengan temen-temennya biasa aja, enggak ngamuk di beranda sekolah atau beranda facebook. Rangga yang juara 1 ya biasa aja. Pak Diman, penjaga sekolah yang sohiban sama Rangga enggak bikin party. Biasa aja. Iya Biasa, enggak pake telor.
 
            Enggak kayak Pemilihan Gubernur/Walikota/Bupati atau bahkan Pilihan Presiden sekalipun. Menang atau kalah di pemilu itu sebenarnya biasa aja. Yang bikin rame itu justru ekspresi menghadapinya. Rangkaian bunga sebagai bentuk dukungan itu biasa saja. Yang parah, karangan bunga dibiarkan begitu saja, lalu jadi rangkaian sampah.
 
            Bunga itu sih biasa aja. Wujud sebuah ekspresi. Tapi ada orang menolak bunga, misalnya kemarin ada undangan pernikahan yang tertulis di dalamnya, “Dengan segala hormat, tidak menerima karangan bunga… apalagi karangan cerita.
 
            Film AADC juga mengajarkan ke kita bagaimana menerima perbedaan, dengan penuh cinta. Teman-teman Cinta, misalnya ada yang sensitif, ada yang tulalit, ada yang tomboi, ada yang modis. Begitu juga dengan kehidupan kita sehari-hari. Ada yang kritis, ada yang cuek, ada yang sedang yang-yangan.
 
            Bahkan ketika Cinta dan Rangga sedang berantem, teman-teman Cinta yang ngedukung agar keduanya bisa baikan. Temen-temen Cinta bilang kalo Cinta dan Rangga masih saling cinta, dan cinta bisa mengatasi semua masalah, kecuali satu hal. Masalah di pegadaian yang konon bisa mengatasi masalah tanpa masalah.
 
            Diending AADC 1, Cinta dan Rangga memutuskan untuk menjalin LDR. Cinta tetap di Jakarta dan Rangga mengikuti Ayahnya ke Amerika. Ngomongin soal LDR, ada temen gue yang memilih LDR karena pacarnya kuliah di luar negeri. Setelah 5 tahun, temen gue sadar ya, kalo ternyata pacarnya cuman kuliah di swasta.
 

 

            Di AADC 2, Cinta dan Rangga bertemu di Yogyakarta secara tidak sengaja. Di cerita itu Rangga seakan menggantungkan (rasa) cinta si Cinta. Dan (rasa) cinta si Cinta juga terbelah dengan hadirnya orang lain. 
            Cinta dan Rangga dalam AADC menunjukkan sikap dan perilaku yang patut kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan Rangga ke Cinta adalah implementasi rasa cinta. Begitu juga hubungan kita dengan presiden. Kita memilih satu capres di pilpres – meskipun masih besok di tahun 2019- harus didasari atas rasa cinta akan bangsa Indonesia. Bahwa jagoan kita akan membuat Indonesia maju jika janji-janji selama kampanye dilakukan setelah menjabat. Jika ada yang janji kampanye yang belum dilaksanakan, kita akan menunggu penuh cinta selesainya masa jabatan.
Cinta dan Rangga ajari kami apa itu cinta.
Ditulis oleh: Muh Rio Nisafa, pengemar Dian Sastro yang juga menerbitkan buku secara indie. Oya, bukunya melalui pesan di inbox facebook(facebook.com/rio.nisafa). Buku yang telah diterbitkan : (1) Facebook Love Story, (2) Fiksimini Facebook, (3) Mereka Bilang, Gue Playboy, (4) Tertawalah Bersamaku, (5) Roy dan Joko, (6) Pendawa, Pendamping Idaman Wanita, (7) Memandang Jendela Indonesia dengan Tawa dan (8) Happy Family, Diary Komedi Keluarga Hahaha.

11 thoughts on “Cinta: Ada Apa Dengan Kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *