[Cerpen] Yang Terindah

Jay datang lagi malam ini, mengucapkan selamat ulang tahun dengan bola mata berembun. Well, usiaku sudah 32 tahun sekarang. Seharusnya sudah menyelesaikan S2, sudah bekerja sebagai branch manager di perusahaan ternama di ibukota seperti yang kucita-citakan. Namun saat ini, impian itu tinggal cerita yang bahkan tak patut aku kenang. Ah, sudahlah. Ini memang salahku, tak sepantasnya aku menyalahkan takdir.

Penampilan Jay agak berbeda. Meskipun wajahnya sedikit tirus dan tak sebersih dulu, namun ia terlihat lebih dewasa dan maskulin. Kumis dan jambangnya tumbuh lebih lebat–seperti biasa ia mencukurnya dengan rapi. Rambutnya yang ikal dan legam tumbuh lebih panjang menyentuh bahunya yang bidang. Tapi mata itu … mata elang yang tajam dan jernih dengan alis tebalnya, masih menyiratkan sejuta rasa yang sama. Cinta dan rindu pun masih menggelora di sana.

“Kuharap kamu tidak marah, Mel. Hampir dua bulan aku tak datang,” ucap Jay dengan suaranya yang khas; rendah dan berat. Ia seperti tengah menyesali apa yang telah dilakukannya. “Kamu tahu kalau aku pulang ke kampung, kan? Aku merawat Bunda di sana. Beliau sekarang sudah pergi ke surga.”

Ya Tuhan. Aku menyesal baru mengetahuinya sekarang. Aku paham Jay terlalu sibuk. Aku kagum dengan cinta dan pengorbanannya yang luar biasa untuk bundanya–orang tua satu-satunya yang membesarkan ia. Apa pun akan ia lakukan demi perempuan paruh baya yang teramat mencintainya itu. Aku cemburu, sungguh! Andai Mama bisa seperti dia, tentu aku akan menjadi manusia yang paling bahagia.

“Ini untukmu, Mel ….” Jay menggantung kalimatnya begitu saja. Tubuhnya mematung di depanku. Genangan bening mengambang di kedua bola matanya. Ada getaran di bibirnya yang setengah mengering. Kedua tangannya mendekap kado yang ia bawa, serangkum mawar jingga yang menebarkan harum lembut menyegarkan.

Ah, Jay masih seperti dulu, selalu memberikan mawar pada hari-hari yang dianggapnya istimewa. Mawar yang ia bawa malam ini memang tak begitu populer. Namun menyimpan makna yang begitu dalam, seolah ingin berucap; aku ingin kau menjadi bagian dalam hidupku. Ya, mawar jingga menyimbolkan gelora cinta, rasa kagum yang dalam dan rasa haus akan cinta kasih.

Kuhampiri Jay. Jarak kami hanya satu jangkauan tangan. Aroma tubuhnya menebar lembut, mengingatkanku pada suatu ketika di desa wisata Banyuroto, Yogyakarta. Di perkebunan strawbery yang dikelilingi sawah itu, untuk pertama kalinya aku berani melingkarkan lengan di pinggangnya. Saat itu, kami berboncengan. Jay mengayuh sepeda di tengah pematang, menerabas gerimis yang tiba-tiba hadir. Agak ragu kubenamkan wajahku di punggungnya, sekadar menghindari terpaan air hujan. Seketika, harum Issey Miyake di tubuh Jay membuatku damai.

“Sudahlah, aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan,” kata Jay lembut ketika aku menampik bahwa aku menyukai harum tubuhnya.

Aku diam. Tak mampu melukiskan bahagiaku. Dari gubuk tengah sawah, kupandangi hamparan hijau daun padi yang basah oleh sisa gerimis. Ribuan cahaya kecil berkelip di pucuk-pucuknya, laksana butiran berlian tertimpa sinar matahari. Angin dingin berembus pelan, membawa harum bunga padi dan aroma lumpur sawah.

Jay melingkarkan lengan kanannya di pundakku. Senyap. Hanya napas kami dan suara katak yang terdengar samar-samar. Matahari yang tertutup halimun tipis beringsut perlahan, menyisakan cahaya remang di sela-sela rumpun bambu di ujung tegalan. Ketika kusandarkan kepalaku di pundak Jay, aku mengingat peristiwa paling romantis malam sebelumnya, ketika Jay menyatakan cinta dengan cara yang sedikit konyol.

“Tutup matamu dengan ini,” pinta Jay malam itu. Ia mengikatkan kain hitam yang kami sewa di alun-alun selatan kraton Yogyakarta. “Nah, sekarang kamu harus jalan di antara dua beringin kembar itu. Ingat, ucapkan keinginanmu sebelum melangkah. Kalau kamu berhasil melintasinya, konon kinginanmu akan terkabul.”

Keinginanku malam itu hanya satu; Jay menyatakan cintanya. Dan, entah kebetulan atau hanya sugesti, ketika aku berhasil berjalan lurus melintasi celah di antara pohon beringin kembar itu, Jay membuka penutup mataku dan berdiri gagah di depanku dengan seikat mawar merah.

“Aku cinta kamu,” ujarnya dengan senyum segar.

Aku tak mampu berkata-kata. Dua titik air mata luruh di pipi. Rasa haru dan bahagia menyeruak di dada. Sungguh, tak dapat kulukiskan meski lewat puisi terindah sekalipun. Aku seperti melayang ke awang-awang ketika Jay mendekapku hangat.

Jay terlalu romantis. Bahkan sejak pertama kali kami bertemu dua tahun silam di parkiran belakang gedung fakultas; saat hujan menderas dengan tiba-tiba dan aku tengah sibuk mencari kunci mobil yang tak kunjung kutemukan. Aku tak tahu dari arah mana ia datang, tiba-tiba saja ada di sana. Tanpa kata, ia berdiri memayungiku beberapa lama hingga kutemukan apa yang kucari.

Hanya kata ‘terima kasih’ yang mampu kuucapkan ketika tak sengaja mata kami bertumbukan. Aku yakin Jay menangkap gugup di wajahku. Bibirnya yang tercetak sempurna melukis segaris senyum. Aku bergetar. Sayang aku sedang bergegas, terpaksa meninggalkannya di tengah hujan–saat ia masih berdiri seteguh batu gunung.

Seminggu berselang, kami bertemu kembali di kantin fakultas pasca sarjana. Sekali lagi, Jay hadir tanpa kusadari dari arah mana ia muncul. Jay benar-benar seperti siluman. Ah, bukan. Tepatnya, seperti malaikat yang diturunkan Tuhan.
Kulihat sekeliling, masih ada beberapa kursi yang kosong. Aku yakin Jay juga tahu. Tak ingin memberikan kesan tak beretika, kupersilakan ia duduk di depanku. Kami tak peduli suasana hingar di sekitar. Kekakuan yang tercipta kami tingkahi dengan menyesap Thai green tea shake perlahan-lahan.

Keheningan tercipta cukup lama di antara kami. Hingga akhirnya Jay mengulang senyum serupa waktu itu; manis dan membuatku bergetar. Lantas ia menyodorkan tangan yang kokoh seraya berujar, “Aku Jay … Jaya Sancawikrana.”
Namanya terdengar agak aneh di telinga, seperti nama raja-raja Nusantara yang diambil dari bahasa Sansekerta. Atau … ia memang titisan salah satu di antara mereka?

“Aku Mel … Mel Ara,” ujarku agak kaku.

Matanya menelusuk ke dalam bola mataku. “Kamu terbaru-buru waktu itu, Mel. Bahkan aku tak sempat menanyakan namamu. Beruntung kita bertemu lagi di sini.”

Sekali lagi aku mencoba tersenyum, sekadar menghilangkan rasa gugup yang masih menjerat. “Iya, maaf. Waktu itu aku sedang ada masalah dengan Adam, pacarku. Maksudku … mantan pacar.” Tanpa ditanya aku menjelaskan. “Adam adalah calon suamiku yang dipilih Mama. Kami dijodohkan. Tapi … sekarang sudah bubar.”

“Kamu mencintainya?”

“Awalnya … aku coba untuk menyukai dia. Setelah aku tahu siapa dia yang sebenarnya, rasa itu hilang. Adam terlalu arogan, terlalu bangga dengan kekayaan orang tua dan ketampanan wajahnya. Dua modal itu yang membuat dia bangga menjadi play boy sejati. Aku senang dia memutuskanku, tanpa harus aku yang melakukannya.”

Aku tak tahu, kekuatan apa yang menarikku untuk bercerita tentang Adam. Tak kupungkiri, sudah sejak lama aku ingin bercerita, sejak kurasakan perubahan pada Adam yang semakin kentara; terlalu egois. Aku bosan! Aku ingin berbagi, tetapi entah dengan siapa. Dan, siapa nyana jika ternyata Jay bisa menjadi pendengar yang baik.

Aku merasa nyaman berbagi cerita dengan Jay yang usianya setahun di atasku. Hingga aku menyadari, Jay dan aku seirama, senada dalam perjalanan kisah cinta yang tak mulus. Keyzia, pacarnya yang ternyata sefakultas denganku, meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Jay jatuh dan kehilangan arah. Ia mengakui dirinya rapuh. Kehilangan membuatnya terluka. Tetapi aku menilai lain; ia lelaki romantis yang tak bisa dengan mudah melupakan kenangan.

Empat bulan setelah perkenalan, pada ulang tahunku yang ke-30, Jay mengundang dinner dan memberi kado seikat mawar kuning. Hadiah yang tak biasa. Aku bahkan tak paham maknanya. Tetapi menurut Jay, mawar kuning adalah simbol persahabatan sejati, ucapan selamat datang, suatu awal yang baru dari sesuatu dan kenangan indah yang tak terlupakan.

“Jadi, kita hanya bersahabat?” Aku sengaja memancing reaksinya.

Jay tersenyum simpul. Matanya mengerjap jenaka. “Kamu sahabatku yang paling baik, Mel. Aku senang bisa bersahabat dengan cewek secantik Yuna Ito ….”

“Kamu bandingin aku sama artis Jepang itu?”

“Bukan membandingkan. Aku hanya bilang mirip,” Jay meyakinkanku. “Kalau diperhatikan, kamu memang banyak kesamaan sama dia. Tentu saja kamu lebih cantik.”

“Kamu tidak sedang merayuku, kan, Jay?”

Jay tertawa lirih, menampakkan gigi putihnya yang berderet rapi. Tanpa jawaban, ia kembali menikmati lasagna yang tinggal separuh. Kendatipun Jay tak menjawab pertanyaanku, tetapi aku cukup bungah. Aku bahagia Jay bisa menghabiskan waktunya di hari istimewaku. Terlebih, aku melihat bahagia di matanya. Jay mulai bisa melupakan kesedihan dan menata kembali hidupnya.

Pada hari kasih sayang, Jay membawaku ke sebuah bukit di sebuah desa kecil di batas kota hujan. Di bawah pohon angsana tua di puncak bukit, ia memberiku seikat mawar merah muda. Sangat menggemaskan dan menggoda. Aku tersipu menerimanya.

“Mawar merah muda melambangkan penghargaan, kebahagiaan, kekaguman, kelembutan, kasih sayang dan ucapan terima kasih sebagai sahabat dekat,” tuturnya lugas, membuatku tak mampu berkata-kata. “Kamu sahabat dekatku.”

Di hamparan rumput yang menghijau aku memandang Jay. Untuk kesekian kalinya aku merasakan getaran aneh menjalari naluri. Aku suka berada di dekat lelaki berahang kukuh itu. Ada rasa bahagia menelusup ke relung jiwa.

“Minggu depan ke Yogya, yok, Mel. Pengin keluar dari Jakarta untuk beberapa waktu. Kita bisa berkunjung ke desa wisata dan tempat-tempat eksotik lainnya,” Jay memainkan bola matanya yang berbinar. “Kita rayakan ulang tahunmu dan setahun kebersamaan kita di sana. Kayaknya seru, kan?”

Aku sangat ingin menyambut ajakan Jay yang tiba-tiba dan tak terencana itu, namun segera kuurungkan saat membayangkan wajah mama, papa dan Adam. Tentu Jay tak paham isi hatiku saat itu, tetapi aku tak mau membiarkan Jay menunggu jawaban. Aku memandangnya beberapa saat. Mengangguk dan tersenyum mewakili kata ‘ya’ yang seakan tak mampu aku lontarkan.

Sebelas bulan lebih kami bersama. Ah, waktu berlalu tanpa terasa. Meskipun Jay tak pernah menyatakan cinta padaku, aku yakin ia menyimpan rasa itu untukku. Jay terlalu baik, aku tak pernah meragukan ketulusannya. Atas pertimbangan itu pula, aku pergi tanpa seizin mama dan papa. Aku sadar ini salah. Namun, kesempatan itu mungkin tak akan pernah terulang. Kebulatan tekadku, merupakan bagian dari awal bencana.

***

Kuhampiri Jay. Jarak kami kurang dari satu jangkauan tangan saja. Aroma tubuhnya menebar lembut. Betapa aku merindukan hangat pelukannya. Tuhan, aku merindukan kebersamaan itu.

Andai saja saat itu aku bisa bersikap lebih dewasa, aku yakin Jay dan aku masih bisa bersama, menikmati segala keindahan yang ada. Andai saja ketika itu aku percaya dan mau mendengar perkataannya, derita berkepanjangan ini tak akan pernah terjadi. Entahlah, setelah sekian lama, tiba-tiba wajah mama berkelebat di pelupuk mata.

“Apa yang telah kamu lakukan, Mel?!” hardik mama ketika akhirnya ia tahu aku berlibur bersama Jay. “Kamu sudah mempermalukan Papa dan Mama … menjatuhkan harga diri Papa dan Mama di depan keluarga Adam!”

“Saya sudah dewasa, Mah. Tolong mengerti sedikit.” Aku menantang tatapan mama. Air mataku luruh juga meski aku sudah berusaha menahannya. “Selama ini saya menuruti kemauan Papa dan Mama, hanya karena menghargai kalian sebagai orangtua. Saya ingin berbakti, ingin membahagiakan Papa dan Mama. Sungguh! Tapi, ternyata semua ini sangat menyiksa. Saya tahu, Papa dan Mama melakukan ini demi harga diri, sama sekali bukan untuk saya! Mama, saya tak akan bahagia bersama Adam.”

“Kamu meninggalkan Adam demi Jaya yang sama sekali tidak punya masa depan! Sadar, Mel. Hidup hanya bermodalkan cinta itu bull shit! Katakan sama Mama, apa yang akan dia berikan ke kamu ha? Ya, Tuhaaan! Bencana apa lagi ini?”

“Cukup, Mah! Jangan pernah menyebut nama Tuhan. Bahkan Mama tak pernah percaya kalau Tuhan itu ada. Mama lebih memilih harta dan harga diri sebagai tuhan!”

“Kamu makin berani sama mamamu. Durhaka kamu, Mel!” Mata Mama yang bermaskara tebal berkilat menyeramkan. “Sekarang pergi dari rumah sebelum kesabaran Mama habis! Dan … jangan pernah kembali sebelum kamu baikan sama Adam!”

“Mama, jangan lakukan ini sama Mel, please ….” Aku memohon di kaki Mama. “Sadar, Mah. Mel anak Mama. Mel sayang sama Papa dan Mama.”

Mama tak pernah sudi mendengar rintihanku dan mau menyadari kekeliruannya. Aku tak tahan lagi. Aku ingin bercerita dan mengadu pada Jay. Ingin kutumpahkan kalutku padanya. Laiknya perempuan gila, kupacu mobil ke rumahnya.

Tapi …, Jay satu-satunya orang yang kuharapkan bisa mendengar dan menenangkanku, justru saat itu tengah berdua dengan Keyzia. Aku patah arang. Kecewa teramat dalam! Rasanya tak ada yang pernah berpihak padaku. Bahkan Tuhan pun tak mau mendengar tangisku. Dia tak pernah menghapus kepedihanku. Sungguh! Aku ingin pergi meninggalkan papa dan mama, Meninggalkan Jay dan semua keindahan yang pernah tercipta. Aku benci mereka! Benci!

Mel, tolong jangan kayak anak kecil. Kembali, Mel. Kita bisa bicara baik-baik. Keyzia datang hanya untuk minta maaf. Tolong hentikan mobilmu sekarang juga. Aku di belakangmu. Kita bicara ya? Aku sayang kamu, Mel!” WA yang dikirim Jay tak pernah kugubris. Bahkan beberapa panggilan dari nomernya tak pernah kuhiraukan. Aku hanya ingin sendiri. Aku tak mau mendengar siapa pun lagi.

Perih dan sesak di dada kian meraja. Kupacu mobilku semakin kencang, melesat ke pinggiran kota hujan. Aku ingin mengadu pada pohon angsana tua di atas bukit dan menumpahkan pedihku di sana. Hujan turun membasahi sepanjang jalan berkelok yang kulalui. Tiba-tiba aku ingat dan takut kematian. Tuhan, aku tak ingin mati!

Aku berniat memperlambat laju mobil. Tetapi terlambat. Aku tak mampu mengontrol keadaan. Di belokan terakhir sebelum tiba di kaki bukit, mendadak muncul truk bermuatan entah apa. Kuinjak pedal rem secara mendadak. Ban mobilku berdecit nyaring lalu oleng dan bertubrukan. Gelap seketika. Bau anyir darah meruap dan menyergap penciumanku. Lalu hening.

Sesaat kemudian kudengar suara Jay histeris. Menyayat. Melolong panjang memecah keheningan. Aku masih merasakan tangan kekarnya merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. “Mel, tolong lihat mataku … lihat mataku! Aku cintai kamu. Kembali, Meeelll!”

Aku bingung dan panik menatap Jay dan tubuhku yang bersimbah darah dalam dekapannya. Aku berteriak, tetapi suaraku tak terdengar. Lalu, ketika cahaya putih menerpa wajahku, segalanya lenyap dalam sekejap.

***

Kini tepat setahun setelah kejadian itu. Meskipun aku tak lagi berada di sisi Jay, kendatipun jasadku terkubur di sini, tetapi aku dan Jay masih menyimpan rasa yang sama. Kami masih terjalin dalam satu ikatan cinta yang amat dahsyat. Jay tak bisa melupakanku, begitu pun sebaliknya.

Jay bersimpuh di samping pusara. Air matanya jatuh satu-satu. Serangkum mawar jingga ia sandarkan di nisanku. “Aku menginginkanmu, Mel. Kamulah yang terindah di hidupku ….”

Saat ini, aku ingin memeluknya erat; menikmati degup jantungnya yang berirama menyejukkan, menghirup aroma tubuhnya yang membuatku damai dan menghentikan air matanya yang meluruh.

Izinkan aku, ya Tuhan ….

***
Ditulis oleh: Redy Kuswanto

One thought on “[Cerpen] Yang Terindah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *