[Cerpen] Yang Hilang dan Kembali

Satu jam berlalu sejak mobil kami meninggalkan rumah. Namun di antara kami belum ada yang ingin memulai percakapan. Hanya sekali Papa terlihat melirik kakiku yang bergerak mengikuti irama absurd yang ada di kepalaku. Dia terganggu, maka kuhentikan keasyikanku.

“Tumben, kamu mau pergi sama Papa.”

Akhirnya Papa yang mulai bicara, setelah dia berdeham cukup keras, dan membuat bahuku sedikit menjengit.

“Tumben juga Papa ngajak aku pergi.”

Sepertinya aku bisa membaca arti helaan napas panjang dari Papa. Mungkin dalam hati, Papa lelah dengan hawa percakapan di antara kami yang selalu berujung pada selisih paham.

Jawaban Papa sesudahnya membuat aku diam, dan melempar pandangan jauh ke luar jendela.

“Papa rindu anak laki-laki Papa.”

***

“Nge-band?” Alis Papa naik bersamaan dengan intonasi suaranya.

Di telingaku tidak terdengar seperti kalimat tanya, tapi dakwaan. Seketika aku mengambil kesimpulan kalau permintaanku akan ditolak.

“Kegiatan ekstramu sudah banyak. Basket, pencinta alam, bela diri. Sekarang mau nambah lagi?”

Tiba-tiba aku ingin Papa menjadi papa yang biasanya. Yang acuh, yang hampir tidak pernah bertemu denganku di rumah, yang menganggap aku tak ada.

Aku pun beringsut menuju kamar. Dalam diam, tanpa pembelaan. Kami sudah terbiasa saling bicara dengan bahasa tubuh. Kuharap kali ini Papa mengartikan aksiku sebagai ‘ya sudah, terserah’. Aku sudah paham betul dengan pepatah ‘tidak semua keinginan bisa kamu dapatkan’.

Tapi rupanya skenario burukku tidak berjalan. Pagi harinya Mbok Min mengulurkan sebuah amplop putih. “Dari Bapak,” katanya.

Pandanganku berganti dari pintu kamar Papa yang terbuka lebar—tanda kalau penghuninya sudah tidak ada—dan ke pintu yang mengarah ke garasi. Mobil Papa masih ada, berarti seharusnya dia masih ada di rumah.

Seperti paham dengan apa yang aku pikirkan, Mbok Min menjawab pertanyaan di kepalaku, “Bapak sudah berangkat dinas luar kota. Di jemput mobil kantor.”

Di dalam amplop putih itu, ada uang patungan sewa studio yang aku minta semalam.  Kali ini apa yang aku inginkan bisa aku dapatkan. Tapi mengapa aku tidak terlalu senang? Apa karena aku jadi tidak punya alasan untuk ribut dengan Papa?

***

“Bagaimana latihan band-mu? Lancar?”

“Lumayan.”

“Basketmu?”

“Biasa aja.”

Menyadari usahanya untuk melaraskan harmoni di antara kami sepertinya tidak terlalu mulus, Papa pun beraksi memainkan tombol radio. Untuk sementara biarkan saja sang penyiar yang berbicara pada kami berdua.

***

Sudah lewat waktu Magrib. Tapi tidak aku rasakan hawa keberadaan Papa di rumah.  Mbok Min melintas, menanyakan apa aku akan keluar rumah lagi. Aku menggeleng.

Kata pengasuhku sejak balita itu, Papa tidak akan pulang malam ini, jadi pagarnya akan dia gembok saja.

Papa tidak pulang? Pekerjaan sepenting apa yang harus dikerjakan di Sabtu malam seperti sekarang ini?

Bayangan kalau Papa punya pacar lagi buru-buru aku tepis, dan aku terheran-heran sendiri. Mungkin rasa sayangku untuk Papa masih ada. Meski kian hari kami semakin mirip dua orang asing.

Esok paginya, aku dapati Papa di tempat biasa dia memulai hari di Minggu pagi. Duduk bersantai di teras samping, berteman surat kabar dan secangkir teh.

Kepalanya sedikit menoleh saat merasakan kehadiranku. Lalu kembali acuh.

Aku yang tadinya berniat menanyakan sesuatu pun urung, kakiku bergerak ke arah yang berlawanan.

“Go, Sabtu depan jangan kemana-mana, ya….  Pulang sekolah kamu ikut Papa.”

Sensasinya seperti mendapat kerlingan dari Maudy, kembangnya sekolahku. Saking terkejutnya, aku hanya bisa menjawab, “Ya, Pa….”

***

Lalu di sinilah aku. Berusaha mengabaikan lagu-lagu pilihan Papa dan mengalihkan perhatianku pada interior mobil yang entah sudah berapa lama tidak aku tumpangi. Sepertinya Papa mengganti lapisan jok mobil ini. Aku baru sadar saat meraba kursi tempatku duduk. Tidak ada lagi kelembutan suede yang dikombinasi dengan kulit sintetis. Warnanya pun coklat, lebih gelap dari krem, warna sebelumnya.

Pengharum udara di dalam mobil juga bukan lagi yang dulu biasa aku hirup. Wangi lavender berganti aroma sandal wood. Lapisan kursi yang diganti, lalu pengharum udara pun berbeda wanginya? Mungkin Papa benar-benar ingin menghapus jejak Mama di dalam mobil ini.

Pandanganku beralih ke depan, jalan yang kami lalui mengarah ke sederetan pantai di wilayah Gunung Kidul. Tapi, sebenarnya Papa mau ke mana?

Tepat setelah pertanyaanku terlontar di dalam kepala, Papa membelokkan mobilnya memasuki jalan sempit berbatu. Sisi kanan adalah tembok batu padas, sedangkan di sisi kiri ada parit yang lumayan lebarnya. Papa terlihat tegang mengendalikan laju mobil karena cahaya matahari tidak terlalu membantu saat itu. Rupanya sudah waktunya senja bergulir.

“Bagaimana, Go?” Papa menyusul dari parkiran mobil dan mengambil tempat duduk di sampingku.

“Bagus, Pa. Cantik sekali.”

Aku melirik Papa. Ya Tuhan, entah kapan terakhir kali aku melihat tatapan mata yang tampak hidup seperti itu. Bahkan ada senyum yang terulas di wajah Papa.

“Minggu lalu Papa mencari tempat yang cocok untuk pergi dengan kamu, Go. Papa rasa pantai ini lumayan.”

Memang. Tempat ini relatif masih sepi. Mungkin karena lokasinya yang tersembunyi di balik bukit dan jalan masuknya yang masih berbatu.

“Sekarang bantu Papa turunkan barang-barang dari mobil. Kita dirikan tenda sebelum gelap!”

***

Aku mengusap cangkir logam yang belum lama tadi kuseduhkan teh di dalamnya. Berharap panasnya bisa menghangatkan buku-buku jariku. Papa masih bergelung dalam kantong tidurnya. Padahal semalam dia menjanjikan akan mengajakku ke sudut pantai yang berpanorama sangat indah.

Biarlah. Dengan perasaan hangat yang ada sekarang ini saja sudah cukup.

***

“Sudah lama Papa ingin mengajak kamu bepergian seperti ini. Tapi sepertinya kamu tidak ada waktu.”

Kalau pada situasi normal, mungkin aku akan seketika membalikkan kalimat Papa dengan tudingan bahwa kesibukan papa-lah yang membuatku mencari-cari kegiatan di luar rumah.

Tapi kelembutan dalam suara Papa memaksaku untuk menyimaknya baik-baik, sementara tanganku membolak-balik batang-batang jagung di atas bara arang.

“Papa larut dalam kekecewaan Papa sendiri, sampai ketika Papa sadar, kamu sudah begitu besar, begitu dewasa, begitu jauh untuk Papa peluk.”

Sial! Kenapa mataku membayang? Kusapukan lengan kausku untuk menyeka hidung yang mulai basah. Aku tahu Papa sedang menatapku lekat, dari pipiku yang terasa hangat. Rasanya ingin segera mendekat, berada di samping Papa, menemaninya dalam senyap. Tapi seperti katanya tadi, jarak di antara kami tak bisa aku lampaui dalam sekali lompat.

“Waktu Mama pergi, kenapa tidak Papa tahan?” tanyaku dengan suara tertahan. Sebetulnya pertanyaan itu sudah tertahan menahun.

“Papa menahan mamamu dalam pertengkaran-pertengkaran kami yang tidak pernah kamu lihat, Go.”

Sependek ingatanku, Mama memang berwatak keras. Jika kemauannya sudah bulat, tidak ada yang bisa mencegahnya untuk bergulir. Tidak juga aku, anak satu-satunya.

“Papa masih mencintai Mama?”

Pandangan kami bertemu.

“Masih, sangat. Itu sebabnya Papa merelakan dia menjalani kehidupan yang diidamkan, menjelajahi belahan dunia.”

“Papa juga menolak saat Mama ingin membawa kamu, Go. Karena ada dia di dalam dirimu, sebagai obat rindu Papa.”

Papa menengadahkan wajah. Di atas sana langit pekat seolah memantulkan cahaya yang menggeliat dari api unggun kami. Seperti spotlight konser musik yang berlarian kian kemari.

“Papa minta maaf, Go, harus memisahkanmu dari Mama.”

Waktu itu aku pikir Mama pamit untuk liputan di luar kota atau di luar pulau, seperti biasa. Dia akan pulang dua atau tiga hari kemudian. Waktu itu aku belum bisa  menduga, bahwa pelukan panjang dan ciuman dalam yang diberikan Mama adalah yang terakhir kalinya. Ya, meski seingatku koper yang Mama bawa lebih besar dari biasanya dan Mbok Min menangis tak ada hentinya.

***

“Sekarang bagaimana menurutmu?” Papa bertanya dengan wajah penuh kepuasan.

Manusia memang perlu melihat kehidupan dari berbagai sisi. Pantai berkarang yang indah saat aku melihatnya dalam posisi sejajar, tampak semakin menakjubkan jika dilihat dari ketinggian di atas bukit karang, tempatku berdiri sekarang.

“Menakjubkan, Pa.”

Saat mendaki tadi, Papa yang berjalan di depanku sempat mengulurkan tangan untuk membantuku naik. Aku menyambutnya tanpa ragu. Ya, aku sudah menemukan kembali sosok Papa. Lengannya melingkar di bahuku, buku-buku tangannya meremas pundakku dengan lembut. 

Selama ini aku menjauh karena mengira papa-lah penyebab Mama pergi dan Papa terlalu lemah untuk mempertahankan Mama agar tetap bersama kami. Tapi sekarang aku justru melihat Papa yang berusaha menjadi kuat dengan adanya aku bersamanya.

“Kita tunggu Mama pulang ya, Pa?”

Di depan kami barisan ombak menghantam karang dan pecah beriak. *)

***

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Reviewer: Seno NS.

Baca Juga:   Coki, Sahabat yang Hilang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *