[Cerpen] Sobat Ustad Rohmat

“Pak, katanya… si Anjar mobilnya baru lagi, ya?”

Rohimah tak bergeser dari samping Ustad Rohmat, meski suaminya sudah mengeluarkan dengusan, tanda dia tak menyukai pertanyaan istrinya.

“Dia, kan, teman akrabmu sejak kecil. Apa-apa pasti cerita sama kamu. Iya, kan?”

Rohmat yang sehari-hari sibuk antara berjualan di pasar, berburu pelepah pisang dan mengajar TPA, pastilah belum pernah membaca artikel tentang perempuan yang konon sanggup memuntahkan 250 kata dalam satu menit, sedangkan pria hanya mampu separuhnya saja. Jadi dia hanya bisa memperbanyak istighfar.

“Bu’e pasti dengar dari orang yang belanja ke warung, kan? Nggak usah ikut mbahas, lah, Buk….”

Rohimah melirik sekilas keranjang rotan yang baru saja diturunkan suaminya. Matanya bergerak menghitung. Senyum puasnya tersungging. Dari delapan bungkus peyek tumpuk yang dia bawakan tadi pagi, hanya bersisa tiga.

“Tumben, Pak, peyeknya tinggal tiga. Ada yang borong? Siapa?”

“Ya! Diborong sama Anjar! Kalau nggak ada dia, mungkin peyekmu masih utuh seperti kemarin-kemarin.”

Rohimah salah tingkah mendengar jawaban suaminya. Dia tak berminat mengikuti langkah suaminya yang terdengar melintasi ruang makan menuju dapur. Tadi dia menaruh kopi di lincak, di dekat pintu belakang. Di situ tempat paling enak buat minum kopi, kata Ustad Rohmat. Hanya ada sekawanan ayam kampung yang diumbar, yang sesekali akan mematuk di sekitar kakinya. Dia tak perlu mengangguk, melempar senyum, atau membalas sapaan orang-orang yang lalu lalang.

Ucapan istrinya masih mengganjal di telinga Ustad. Mengurangi nikmat seruputan kopinya. Anjar baginya bukan sekedar karib, tapi juga saudara. Meskipun kabar yang didengar istrinya itu benar, Ustad Rohmat merasa tidak pantas untuk membicarakannya. Meski dengan teman tidurnya sekalipun.

Tujuh hari yang lalu, saat Rohimah sedang mengajar tahsin di masjid, Anjar datang membawa kabar itu. Dia akan menikahi anak perawan Kades Mulyojoyo. Anjar memintanya menjadi saksi.

“Gunanti bagaimana? Dia ikhlas?”

Anjar memiringkan tubuhnya. Gaya khasnya kalau ingin berbicara dengan nada mencemooh. Ustad Rohmat hafal betul. Jadi dia harus siap ketika kalimat yang keluar dari bibir menghitam milik Anjar nantinya bagai paku yang menancap di dadanya.

“Ya… harus ikhlas! Wong, dia nggak bisa ngasih aku anak!”

Lalu jarinya yang menjepit sebatang rokok mengacung ke muka Ustad Rohmat.

“Kamu juga seharusnya kawin lagi. Istrimu juga gabug, kan?”

Ustad Rohmat menggeleng. Pada sahabatnya dia hanya bisa memberikan senyuman.

“Sunnah, Mat. Sunnah ….” Anjar menyudahi nyinyirnya dengan tawa bercampur batuk. Asap sigaretnya terlambat dia keluarkan. Gas beracun itu berbungkil-bungkil berdesakan keluar dari lubang hidungnya.

Dalam bungkus candaan, Anjar bilang dia sanggup mencarikan calon istri, kalau Ustad Rohmat mau.

“Sebagai penebus rasa bersalahku karena Rohimah tak bisa memberimu keturunan,” kata Anjar lagi. Memang Anjar yang mengenalkan Ustad Rohmat pada Rohimah dulu.

Ustad berjenggot tipis itu mengelakkan tepukan Anjar di bahunya.

“Belum habis terimakasihku padamu, Njar. Buatku, Rohimah sudah lebih dari cukup.”

Sebelum pergi Anjar mengangsurkan sebuah amplop di atas meja.

“Sumbangan warga baru. Tanda tangan kwitansinya, ya, seperti biasa.”

“Alhamdulillah….” Namun Ustad Rohmat tercenung membaca jumlah yang tertulis pada kuitansi.

Anjar terkekeh. “Seperti biasa juga, Mat …, buat beli rokok ….”

Ustad Rohmat menggoreskan tandatangan dengan iringan istighfar dalam hati. Dia terlalu mengerti siapa Anjar.

Mereka berteman sejak bertemu di sunatan masal yang diadakan oleh salah satu partai besar, di tahun 1981. Rohmat dan Anjar kecil duduk bersampingan, sama-sama menangis. Bedanya, Rohmat punya ayah ibu yang menenangkan tangisnya, sedangkan Anjar tidak. Anak laki-laki yang lebih tua satu tahun dari Rohmat itu hanya diantar oleh kakeknya. Itupun si kakek lebih sibuk menggulung tembakau dengan jari-jariya yang gemetar, daripada memperhatikan cucunya. Rohmat sudah menyayangi Anjar sejak hari mereka disunat.

@@

“Pak, ada tamu.”

Rohimah menatap melas pada suaminya. Dia bisa mengenali raga lelah laki-laki yang telah menikahinya selama dua puluh tahun itu dari bahunya yang luruh.

Sore tadi Ustad Rohmat baru selesai memasang keramik di ruang wudu masjid yang sebelumnya hanya berlantaikan plester. Hanya dia dan Mundi Marbot saja yang mengerjakannya, tanpa tukang profesional. “Biar irit biaya,” begitu kata Ustad Rohmat.

Ustad Rohmat meminta istrinya membuatkan minum sambil menerima uluran kopiah dari Rohimah.

Ustad Rohmat merasa belum pernah bertemu dengan kedua orang tamunya. Dua laki-laki itu mengaku sebagai warga baru di Dusun Kemulyan. Sebelumnya mereka tinggal di kota.

Satu orang terlihat mengitarkan pandangan dari dinding rumah yang masih berupa bata meringis hingga langit-langit yang baru sebagian tertutup plafon.

“Sedang renovasi, Tad?”

Ustad Rohmat jengah dengan pertanyaan dari salah satu tamunya yang berperawakan lebih besar.

Diawali dengan tawa kecil yang terdengar pahit, Ustad Rohmat menjawab, “Bukan renovasi, rumah ini memang belum selesai sejak dibangunnya tiga tahun yang lalu,” napas berat terhela, “belum tahu kapan bisa meneruskannya lagi.”

Kedua tamunya berpandangan. Diawali dengan kata maaf, tamu yang tadi menanyakan soal uang yang mereka berikan pada Kadus Anjar, sebagai setoran warga baru. Menurut Kadus Anjar, sebagian untuk menambah dan memelihara inventaris dusun. Sebagian lagi untuk sumbangan masjid.

“Apa betul, Pak Ustad sudah menerima uangnya?”

Keringat dingin membuat telapak tangan Ustad Rohmat menjadi gatal. Dia menahan diri untuk tidak menggosok-gosokkan kedua tangannya karena tidak ingin terlihat gugup. Meskipun sebenarnya dia tidak punya alasan untuk gugup.

“Oh, ya, sudah saya terima. Malah sebagian sudah saya belanjakan keramik. Sudah saya pasang juga untuk mengganti lantai ruang wudu. Sebagian lagi rencananya akan saya belikan karpet. Menambah dan mengganti yang sudah tidak layak pakai.”

Dalam hati Ustad Rohmat mengutuk Anjar. Baru kali ini dia direpotkan langsung oleh kebiasaan buruk Anjar yang suka menarik pungutan tak jelas pada warganya.

Tamu yang satu lagi memajukan duduknya dan sedikit membungkukkan badan. Pembawaannya lebih santun dan terkesan berhati-hati. Belum keluar bicaranya saja sudah membawa sedikit ketenangan bagi Ustad Rohmat.

“Kami ini baru satu bulan menempati rumah yang kebetulan bersebelahan, Pak Ustad.” Kedua tangan tamu yang berperawakan tipis itu menangkup dengan kedua siku bertumpu pada masing-masing lututnya. Dia melanjutkan,”Belum lama kemarin, kira-kira dua minggu yang lalu, ada utusan Pak Kadus yang datang dan meminta kami melapor sebagai warga baru.”

Ustad Rohmat sudah hafal cerita selanjutnya. Anjar akan menyampaikan minimal jumlah ‘iuran’ warga dengan penjelasan yang dari dulu masih itu-itu saja. Untuk inventaris dan sumbangan masjid. Permintaan sejumlah uang itu dibumbui dengan ancaman halus – tidak ada iuran maka tak ada surat pengantar dari Dukuh kalau sewaktu-waktu warga tersebut butuh untuk mengurus administrasi kependudukan. Selesai.

Beberapa kali memang Ustad Rohmat menerima uang dari Anjar, tapi dia tidak pernah tahu jumlah aslinya karena yang dia terima kadang tak sampai separuhnya dari jumlah yang tertera pada lembar kwitansi.

Yang membuat Ustad Rohmat mendadak gerah karena baru kali ini ada warga baru yang berani menanyakan langsung kepadanya. Ustad Rohmat menghargai tekad kedua tamunya itu, tapi dia juga sekaligus cemas. Kecemasan yang belum dia dapatkan alasannya karena dia yakin, tak seperak pun yang dia makan dari uang-uang tersebut.

Ustad Rohmat menutup perbincangan dengan tamunya malam itu dengan pernyataan, “Saya tidak tahu-menahu tentang kas Dukuh dan inventarisnya. Mungkin bisa ditanyakan langsung pada Pak Dukuh.”

Meski pembawaan kedua tamunya tetap tenang, bulu-bulu halus di lengan Ustad Rohmat justru meremang. Pertanda batinnya belum tenang.

@@

Sejak bertemu di hari sunatan massal 35 tahun yang lalu itu, Rohmat dan Anjar menjadi teman sepermainan. Anjar kecil termasuk bengal untuk ukuran kenakalan anak-anak di kampung mereka. Kakeknya yang kewalahan dengan kelakuannya memohon pada orang tua Rohmat untuk memasukkan Anjar ke pondok juga, bersama dengan Rohmat.

Namun Anjar adalah Anjar. Dia hanya bertahan hingga tahun ke-3, lalu memaksa drop out meski nilai-nilai akademisnya cemerlang. Ketika Rohmat lulus dan melanjutkan ke perguruan tinggi, Anjar berkisah tentang satu padepokan yang sudah menjadi rumah baginya setelah kakeknya meninggal.

Setelah lulus dari Fakultas Dakwah, Rohmat diserahi masjid pedukuhan untuk dia urus. Bagi orangtua Rohmat, menjadi imam masjid sudah sangatlah membanggakan. Rohmat telah menaikkan derajat keluarga mereka. Maka berhentilah langkah Rohmat setelah menyandang gelar Ustad. Anjar pun mencapai posisi yang tak kalah bergengsi, sebagai centeng andalan Dukuh Waluyo. Siapa sangka di kemudian hari Anjar yang akan menggantikan jabatan junjungannya itu.

@@

Mobil pabrikan Jepang itu terlihat pongah saat diparkir di depan rumah bata meringis Ustad Rohmat. Pemiliknya, Dukuh Anjar, tengah ngopi ditemani sang pemilik rumah, di serambi, yang bersebelahan dengan warung Rohimah.

Rohimah sebal kalau pagi-pagi sudah ada yang bertamu dan lama pula. Pagi hari adalah waktu buat suaminya berjualan di pasar. Kesiangan sedikit pasar sudah sepi. Dia sengaja keluar masuk pintu warung untuk memancing suaminya agar menyudahi kunjungan tamunya.

“Sebentar lagi saya pulang, Mbak Imah…. Pak Ustad jangan dicemberutin begitu, lah….”

Ustad Rohmat hanya mesem, sementara wajah istrinya makin kaku.

“Oya, Mat. Aku minta tandatanganmu.”

Mata Ustad Rohmat melotot hingga pedih saat menghitung jumlah digit angka yang tertera di lembar kwitansi warna merah jambu itu.

“Tinggal tandatangan saja. Uangnya aku bawa buat bayar pembicara kondang untuk acara Muludan bulan depan.”

Ada yang berdenyir di dada Ustad Rohmat, tapi dia menekannya kuat-kuat.

“Tapi darimana asal uang tadi, Njar?”

Anjar tersenyum sambil melipat kwitansi tadi dan memasukkan ke dalam saku kemejanya. ”Dari supermarket di pinggir jalan itu,” katanya.

Anjar menambahkan dengan raut jumawa, “Toko itu kan, masih masuk pedukuhanku. Yang punya orang alim. Kalau diminta sumbangan untuk acara masjid, pasti langsung keluar duitnya.” Dia berdiri sambil membetulkan celananya, “Kau sebar saja pengumumannya. Siapkan panitianya. Bersihkan masjidnya. Urusan pembicara dan makanan, biar aku yang tangani. Kalau sudah ada kepastian nanti aku beri tahu nama ustadnya.”

Ustad Rohmat manut. Yang dia tahu hanya urusan masjid, pasar dan menjaga agar pelepah-pelepah pisangnya mendapat sinar matahari yang cukup dan kering sempurna. Belum lama ini pengepul pelepah keringnya meneruskan keluhan dari pengrajin tas langganannya. Pelepahnya masih sedikit basah dan banyak terbuang karena tak lolos quality control. Ustad Rohmat yang tak paham urusan teknis hanya manggut-manggut. Itu artinya jangan sampai satu tetes pun air jatuh di atas jemuran pelepah-pelepahnya.

@@

“Pak, kamu itu terlalu dekat dengan Anjar. Lama-lama aku nggak tenang ….”

Sama. Ustad Rohmat pun merasa gusar. Tapi bukankah dari mulutnya seharusnya hanya kalimat-kalimat baik saja yang terucapkan?

“Ingat, Bu’, jangan suka su’udzon ….”

Rohimah mengikat erat gulungan pelepah pisang. Ada sepuluh lembar di tiap gulungnya. Gurat cemas tercetak di dahinya yang sewarna gading.

“Istrinya Burhan, ketua Karang Taruna, yang cerita. Kamu tahu gudang yang di pinggir jalan besar itu? Ternyata itu pabrik saus sambal abal-abal dari bahan-bahan yang nggak karuan, Pak. Bahan-bahan berbahaya, bahkan limbah. Tapi aman saja dari grebegan polisi.”

“Katanya yang punya sudah setor ke Anjar. Jadi pabrik itu dijaga sama anak buah Anjar.”

Ustad Rohmat meletakkan bacaannya. Buku Fiqih Rumah Tangga tidak bisa disimak dengan tenang selama perhatiannya terpecah pada Rohimah.

“Itu, kan, baru katanya, Bu’. Mbok sudah …. Kita pikirkan urusan kita sendiri.”

Ustad Rohmat tak pernah tahu, kecemasan istrinya telah naik melewati batas dan luruh dalam tangisan tanpa suara. Rasa yang mengusik demikian mengganggunya itu tak bisa Rohimah jelaskan. Dia bahkan tak mengira kalau itu adalah sebuah firasat.

@@

“Tad, sudah ada kabar dari Ustad Yusach Muchtar?” Marbot Mundi dan satu orang kawannya hati-hati bertanya pada Ustad Rohmat.

Yang ditanya tak berani menengok. Menyesal sudah terlambat. Jama’ah yang resah mulai onar dengan memanggil tukang jajanan memasuki halaman masjid. Melarang mereka hanya akan menyulut keributan yang lebih gila lagi, karena konsumsi yang dijanjikan Anjar belum juga datang. Ustad Rohmat melihat istrinya juga mulai kalut, dikerubung ibu-ibu yang menanyakan kapan ustad ganteng yang sedang kondang se-Kabupaten itu datang.

Seorang laki-laki mendekati Ustad Rohmat dengan wajah seolah ingin menelannya hidup-hidup.

“Ustad, bagaimana ini tanggungjawabnya? Sebenarnya uang saya dipakai untuk acara ini, atau bukan?”

Ini pasti pemilik supermarket itu, yang memberikan sumbangan sepuluh juta rupiah, pikir Ustad Rohmat.

“Ini tandatangan njenengan, ‘kan?” Laki-laki itu mengacungkan lembaran kwitansi yang semula dia lipat rapi di dalam dompetnya.

“Iya, tapi saya tidak pernah terima uangnya, Pak. Sungguh!”

Ustad Rohmat berlindung pada logika sederhana, bahwa tak mungkin dia masih berada di sini kalau memang berniat membawa lari uang itu.

Tiba-tiba saja satu kilatan cahaya menyambar. Ustad Rohmat mengira itu adalah pertolongan Allah yang akan mencabut nyawanya saat itu juga dengan menyambitkan petir. Namun kakinya masih menjejak bumi dan kilatan lain menyusul bersamaan dengan beberapa orang yang merangsek mendekat padanya.

“Ustad Rohmat, benar anda meminta sumbangan pada warga baru di pedukuhan ini dengan dalih untuk membangun masjid dan mengadakan acara-acara keagamaan?” tanya sebuah suara tanpa rupa yang menyodorkan telepon genggam dari balik bahu Ustad Rohmat.

“Ustad, ini ada bukti kwitansi-kwitansi yang Anda tandatangani. Apakah Anda akan mengakui pungutan-pungutan ilegal ini?” Kali ini pertanyaan datang dari depan, dari seorang laki-laki berkacamata dengan kamera di tangannya.

“Ustad, sekarang ini, warga yang merasa dirugikan berencana hendak melaporkan tentang pungutan liar ini ke pihak berwajib. Apa tanggapan Ustad?” Kali ini si penanya adalah seorang gadis berhijab yang level kecantikannya belum pernah Ustad Rohmat lihat.

Pandangan Ustad Rohmat berputar. Saking gugupnya akan bertemu dengan seorang ustad kondang sampai lupa makan sejak pagi tadi. Marbot Mundi dan seorang kawannya sigap menyangga kedua sisi punggung Ustad Rohmat.

Bibir Ustad Rohmat komat-kamit, yang disebutnya berulang-ulang tak lain dan tak bukan adalah nama sahabat karibnya, temannya nyantri dulu. Anjar… Anjar….

*****

Baca Juga:   [Cerpen] Fate

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Reviewer: Kayla Mubara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *