[Cerpen] Sisa Kenangan

~Ini tentang dia dan rumah pohon. Ia seorang teman yang begitu perhatian dan baik, sampai aku sendiri merasa telah bersalah karena menyebabkan ia pergi dari kehidupanku. Tentang dia yang sering memberikan warna di hari-hariku semasa kecil. Tentang dia yang selalu melindungi dan menolongku, dan tentang dia yang selalu ada di saat aku kesepian. Dia yang hanya seorang teman .

Apakah karena itu… Tetangga baru yang sering main ke rumah. Seharusnya itu bukan salahku-kan? Tetanggaku itu juga butuh teman karena dia orang baru dilingkungan kami. Aku tidak mungkin tega meninggalkannya. Seiap pulang sekolah ia selalu datang ke rumah, mengajakku bermain.

Kenapa dia jadi menjauhiku? Kalau pun dia mau, dia bisa saja bergabung denganku. Dia tidak bisa saja seenaknya mengacuhkanku. Aku yang merasa di tinggalkan, aku yang merasa di acuhkan. Makanya, beberapa tahun berikutnya… Dia tidak pernah datang lagi, pun saat berpapasan di jalan, dia selalu cuek padaku. Dan untuk tahun berikutnya, aku selalu bermain bersama si tetangga baru. Dia yang selalu baik dan perhatian, meski sebenarnya aku merindukan teman kecilku yang pertama itu. ~

“Tarisa…,” panggil seseorang yang membuatku tersentak dan langsung keluar rumah. Randi, dia sudah berdiri di depan rumah, waktu itu kami baru menginjak sembilan tahun. Pria setia yang sepanjang waktu selalu bersamaku. Rumah kami bersebelahan. Dari kami berumur lima belas bulan, keluargaku dan keluarganya mulai dekat. Waktu kecil, kami sering bermain bersama sampai aku pindah ke rumah baruku yang sekarang. Setiap hari Minggu, dia pasti datang ke rumah dan mengajakku pergi bermain di sebuah rumah pohon yang dibuatkan oleh kakeknya –sekaligus menjadi tempat persembunyian kami.

Kami berlarian melintasi gerbang rumahku sambil tertawa, ia berada di belakangku, mengikutiku, selalu saja seperti itu.

Biasanya setelah kami sampai di rumah pohon, kami akan duduk-duduk ataupun bercerita. Aku senang mendengarkan ia bercerita kisah-kisah lucu dan tentang kakak tirinya yang selalu baik terhadapnya. Serta, Toni temannya yang sering ia bohongi.

“Toni tidak pernah marah.” Dia berujar membela diri saat kukatakan bahwa ‘berbohong’ itu tindakan buruk.

“Toni tidak mau lagi temenan sama kamu, kalau kamu sering bohongin dia”

“Kan, masih ada kamu, Cha. Aku nggak apa-apa dijauhin sama yang lain asal bukan kamu yang jauhin aku.” Aku terkekeh saat mendengar gurauannya. Kuakui, dia memang seorang teman yang baik dan setia.

Pernah, suatu hari di sekolah pada saat jam olahraga. Waktu itu, aku dan dia beda kelas tapi kelasku dan kelasnya sering olahraga bareng. Dan saat itu ada lomba lari dari ujung ke ujung. Pernah suatu hari di sekolah, jam olahraga kami bersamaan meski kami berbeda kelas. Saat itu ada lomba lari, dari tepi lapangan menuju tepi lainnya.

Baca Juga:   [Cerpen] Fate

“Semangat Cha!” ujarnya.

Aku mengangguk. Pak guru memberikan aba-aba dan langsung start. Aku berlari   secepat yang kubisa, mendahului lawan hingga sebentar lagi mencapai garis finish. Kesialan memang tidak bisa dicegah. Mungkin aku yang tidak mengerti dengan keadaan saat itu, dan… bruk! aku terpental jatuh ke depan karena sebuah batu besar menyandung kakiku. Aku duduk dengan perlahan dan sedikit meringis. Teman-teman mengerubungku dan juga Randi, yang berada di sebelahku. Wajahnya tampak khawatir.

“Cha, kamu nggak papa?” tanyanya getir. Ngilu yang teramat kurasakan pada siku kiriku.

“Ahh..,” Mila salah seorang dari kelas sebelah menunjuk ke arah sikuku.

Aku memegang tanganku, merasakan sakit. Guru membawaku ke ruang UKS diikuti oleh Randi. Seorang guru penjaga uks mengobati lukaku. Randi menemaniku.

“Kamu, olahraga saja sana!”suruhku-

“Entar nggak ada yang nemenin.”

“Bu Indah yang nemenin aku. Nanti kamu nggak dapet nilai. Sana balik, ikut olahraga,” tegasku.

“Aku balik nanti,” ujarnya, lalu meninggalkanku bersama Bu Indah. Perlahan ia membersihkan lukaku dengan revanol agak sedikit terasa ringan dan dingin, kemudian dicelupkan perlahan betadine, pada saat itulah aku mengeluh, air mataku keluar sedikit. Aku disuruh untuk istirahat di ruang uks, dan saat itulah aku terlelap.

Saat aku bangun, kulihat Randi berada disisiku. Ia tersenyum, tasku berada di tangan kirinya.

“Kita pulang,” katanya dan aku perlahan berdiri. Selama perjalanan pulang ia selalu menjagaku, menuntun dan menemaniku. Kalau ada dia, aku pasti tenang seperti ‘segala sesuatu akan baik-baik saja’.

Sesampai di depan rumahku, sempat ia berbisik “Nanti sore kita nggak usah ke rumah pohon, ya.” Tentu saja aku menolak, menggeleng. Ini hanya luka ringan, dia terlalu khawatir.

“Kamu harus istirahat. Besok kalau udah sembuh baru kita ke sana lagi. Nanti Ibu kamu marah sama aku, dikira maksa kamu main sama aku,” ujarnya lagi. Aku merunduk, ia mengetuk pintu rumahku pelan. Seorang perempuan paruh baya muncul membukakan pintu sekaligus kaget melihat putrinya pulang sekolah dalam keadaan luka.

“Kalau dia nggak jatuh, dia yang menang, Tante.” ujarnya berbohong pada ibuku, aku terkekeh sejenak.

“Makasih, ya. Kamu mau mampir dulu?” ujar ibuku padanya.

Randi menolak tawaran ibuku dengan alasan lelah dan supaya aku bisa istirahat. Tak lama dia pun pergi. Aku melihat punggungnya yang menghilang saat keluar dari gerbang rumahku. Ibu menuntunku masuk ke dalam rumah dan menyuruh tidur siang.

Baca Juga:   [Cerpen] Lara Sendiri

***

Benar, sore itu Randi tidak datang ke rumah. Dan kupikir esok harinya pun begitu. Di sekolah kami tidak terlalu akrab karena biasanya ia bermain dengan teman sekelasnya. Meskipun begitu, kadang ia menyempatkan diri lewat di depan kelasku walau hanya mengintip sebentar setelah itu ia berlalu bersama teman-temannya.

Tapi bukan hanya hari ini, esok, esoknya lagi dan hari-hari selanjutnya pun begitu. Dia berhenti datang ke rumah dan mengajakku main ke rumah pohon, padahal lukaku sudah sembuh. Akhirnya kusambangi ia kerumahnya, tetapi tidak ada siapapun. Rumahnya sepi dan aku pulang ke rumah. Aku kecewa, karena ia tidak mengatakan apapun sebelumnya padaku.

Aku ke rumah pohon menunggui senja. Membawa beberapa cemilan dan kusantap sendirian. Melihat diriku yang sendirian tanpa Randi membuat mata ini perih dan aku terisak. Belum lagi pikiran macam-macam, mungkin saja Randi tidak mau bermain denganku lagi.

***

 “Kamu ingat dia nggak?” Wanita muda itu berujar saat beberapa menit yang lalu tiba di rumahku. Aku memperhatikan bocah laki-laki yang seumuran denganku bergelayut manja di tangannya. Suaminya berada di sisinya. Ibuku mempersilahkan mereka masuk.

“Kalian pernah satu kelas dulu di taman kanak-kanak,” lanjutnya. Aku memang pernah bertemu dengan wanita muda itu. Ia sempat menyapaku saat aku sedang menunggu antrean es krim di depan sekolah tk dulu.

“Namanya Doni,” ujarnya. Bocah kecil itu mengulurkan tangan padaku lalu kusambut. Dia tetangga baru yang kemarin pindahan. Rumahnya berada di antara rumahku dan Randi.

“Tarisa,” balasku.

Setelah kedatangan Doni, si tetangga baru aku tidak kesepian lagi. Dia sering datang ke rumah membawakan makanan. Aku kenyang dibuatnya. Setiap pulang sekolah, aku selalu main ke rumahnya. Dia memiliki banyak sekali mainan, keluarganya pun ramah padaku.

***

Saat bel istirahat berbunyi, teman-temanku berhamburan keluar kelas. Aku menunggui Lidia, teman dudukku. Kami berencana untuk pergi ke kantin bersama, aku melorot di atas meja menunggu ia menyelesaikan catatan IPS. Aku sempat melihat Randi lewat di depan kelasku, aku hendak memanggil tetapi ia sudah pergi.

“Yuk…,” ajak Lidia. Kami bergegas ke kantin untuk mengisi perut yang sudah keroncongan sejak beberapa menit yang lalu. Di kantin aku bertemu lagi dengannya, lalu kuhampiri ia.

“Kamu kemana aja?” tanyaku saat ia menyantap nasi yang baru saja dipesan pada ibu kantin.

“Aku di rumah.” Suaranya terdengar acuh.

“Tapi kamu nggak pernah ke rumahku.”

“Aku ada kerjaan.”

“Apa? Kamu sibuk banget, ya?” tanyaku.

“Tarisa, aku udah nggak mau lagi main sama kamu. Aku udah punya temen baru,” ujarnya, lalu berpindah tempat. Dadaku sesak, rasanya aku ingin menangis. Buliran bening itu tiba-tiba merembes lewat mataku, ia sempat menoleh. Randi menaruh mangkuk nasinya dan meraih tanganku, mengajakku pergi dari kantin dan tidak menghiraukan panggilan teman-temannya.

Baca Juga:   Mendidik Anak Bukan Hanya Tugas Orang Tua

Tangannya masih memegang erat pergelangan tanganku, aku berada di belakangnya, memperhatikan punggungnya. Kuharap ia tidak berniat mengatakan hal itu, karena ia masih peduli terhadapku. Kami berhenti di belakang sekolah, hanya satu dua orang yang lalu-lalang. Kami berhadapan, ia menarik nafas berat mengusap air mataku lembut.

“Jangan nangis,” dia berujar. Aku sesenggukkan menghentikan tangisanku.

“Kamu bilang udah nggak mau temenan lagi sama aku,” kataku dengan polos.

“Tapi kamu nggak perlu nangis” katanya. “Aku bercanda. Jadi berhenti nangis,” lanjutnya. Aku kembali sumringah mendengar ucapannya,

“Berarti nanti kita main di rumah pohon, ya,” ajakku. Ia mengangguk. Lama kami terdiam, aku menimbang-nimbang. Apa aku perlu mengajak Doni? Tapi kuurungkan bertanya padanya. Jujur saja, aku sudah merindukan sahabatku ini karena keacuhannya dari minggu-minggu sebelumnya.

Sepulang sekolah, aku langsung mengganti pakaian dan menuju rumah pohon. Muncul hal konyol di kepalaku. Aku ingin mengerjai Randi saat ia tiba di rumah pohon nanti. Aku mengambil kain panjang yang pernah ia gunakan menyelimutiku saat turun hujan dan kami terjebak di rumah pohon. Saat itu aku merasa tenang bersamanya. Beruntung saat menjelang magrib hujan mereda dan ia mengantarku pulang ke rumah. Keluarga kami bingung mencari karena takut ada yang menculik, dan kebetulan pada saat itu sedang musim penculikan anak kecil.

Aku menutup kepalaku menggunakan kain itu. Sebentar-bentar mengintip ke bawah tapi dia belum juga datang. Mungkin dia makan siang baru datang ke sini. Aku melihat bola bekel yang biasa ia bawa ke rumah dan kami mainkan diteras, dan mainan kitiran yang terbuat dari kertas bekas.

Sampai menjelang asar, Randi belum juga datang dan kuputuskan untuk pulang.

Kini aku sadar hari itu adalah hari terakhir aku berbicara dengan Randi. Kami pun tak pernah lagi saling menyapa. Setelah lulus pun begitu, ia tampak acuh meski kami berpapasan di tengah jalan. Dia tidak pernah tersenyum lembut padaku, dia seperti orang asing. Tiap kali kami bertemu, wajahnya selalu sendu dan ia tetap memandang kebawah dan cuek padaku. Aku ingin menyapa, tapi kuurungkan.

Saat menginjak SMA pun begitu. Aku tidak mengenal Randi yang lembut, ramah dan baik seperti dulu lagi.*)

Ditulis oleh: Zahnur Hapni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *