[Cerpen] Ritual Laknat!

Tasya nggak suka cowok kurus. Begitu yang aku dengar dari teman-teman tentang cewek idola di kelas IXA itu. Dan inilah salah satu alasan kenapa aku ingin menjadi gemuk. Aku menyukai cewek berwajah oriental itu. Satu-satunya modal yang aku nggak punya adalah, tubuh berisi dan cenderung chubby seperti yang Tasya inginkan.  

Tubuhku memang kurus sejak  kecil. Banget bahkan! Kalau aku buat siluet dari samping, mirip banget dengan monyet hamil yang kurang makan. Aku cacingan. Begitu kata Bapak suatu ketika. Ha, cacingan?! Lha, aku nggak pernah punya hobi makan cacing, kok. Kalau Bapak mungkin. Dia, kan, makan jengkol saja sering jengkolen. Eh, tapi jujur, nih. Terkadang porsi makanku bisa dua kali lebih banyak dari Bapak. Terus, ke mana larinya semua makanan itu? Jangan-jangan Bapak benar, aku memang cacingan!

Badanku yang ceking tampak semakin kurus karena rambut gondrong yang kering dan bercabang. Bukan pirang bawaan, tapi karena terlalu sering terkena sinar matahari musim kemarau. Potongan batok mirip salah satu personel ‘The Cangcut Band’ adalah gaya rambutku–meskipun teman-teman di kelas IX nggak suka. Kapster andalanku adalah Ibu. Ya, aku merasa hanya Ibu yang bisa mengerti apa keinginanku. Pernah juga, sih, aku mencoba tukang cukur lain. Tapi selalu saja nggak pas, nggak cocok! Terlalu pendeklah, terlalu tipislah, terlalu inilah terlalu itulah, yang pasti aku nggak pernah merasa sreg. Di kemudian hari aku jadi paham, sama sekali bukan tukang cukurnya yang salah. Model apa pun potongan rambutnya, memang nggak akan pernah pas dengan body-ku. Permasalahan terbesarku sekali lagi adalah badan kurusku.

Selain karena alasan Tasya, aku terkadang malu juga pada teman-teman. Mereka sering mengolok-olok bahwa aku mirip jerangkong hidup. Sedih banget rasanya punya body yang beda dengan mereka, terlebih jika harus dijauhi cewek pula. Setelah gagal mengikuti program weight gain, aku pernah tanya pada Ibu dan setengah protes pada Tuhan, kenapa aku nggak bisa gemuk? Menerima protesku, Ibu pasrah. Sebab sudah berbagai usaha dicobanya. Obat dokter sampai obat tradisional pernah kutelan, tetap saja tubuhku nggak berubah. Lama-lama aku kasian juga pada Ibu. Dia melakukan semua usaha semata-mata karena kasian melihat keadaanku. Ibu pasti akan lebih bahagia dan bangga kalau tubuhku tumbuh subur seperti kedua kakakku dan teman-teman. Hingga suatu malam, nggak sengaja aku mendengar percakapan antara Bapak dan Ibu.

“Aku yakin Ugeng memang cacingan, Bu. Besok pagi-pagi biar kubawa ke sungai saja.”

“Ke sungai? Apa anak kita akan dibuang di sana?! Kok tega….”

“Dengar dulu penjelasanku, Bu.” Bapak mengingatkan ibu yang punya kebiasaan nggak sabaran. “Aku ingat pesan Kakek dulu, kalau anak cacingan bisa disembuhkan dengan air kencing….”

“Air kencing?!” sahut ibu setengah berteriak “Air kencing apa?”

“Air kencingku, bapaknya. Masa iya, air kencing kuda.”

“Apa hubungannya dengan sungai? Terus pipisnya diminum? Jangan!” Ibu mendadak panik. “Biarpun anak kita jelek, pendek dan rebek, saya nggak tega kalau dia harus minum air kencing. Apalagi air kencing bapaknya sendiri….”

“Bu, dengarkan aku. Please.

“Kalau nanti kisah Dayang Sumbi terulang, siapa yang akan bertanggung jawab, Pak?”

“Ibuuu! Kenapa jadi mendadak lebay, sih? Mana ada cowok hamil.”

“Oh, maaf.” Ibu akhirnya mengalah. “Ya, sudah. Gimana rencananya?”

“Besok pagi-pagi Ugeng akan kubawa ke hulu sungai untuk menjalankan ritual. Karena Kakek bilang, harus dilakukan di hulu sungai ketika hari masih berembun. Tenang saja, Bu. Anak kita nggak akan minum pipis, hanya akan dikencingi kepalanya doang!”

GLEK!  Aku menelan ludah, tiba-tiba terasa seret di kerongkongan. Seketika kupingku menjadi budek. Tapi kata-kata D-I-K-E-N-C-I-N-G-I bergema berulang-ulang di gendang telinga. Berkali-kali kueja kata itu, meyakinkan pendengaran yang mendadak error. Aku yakin  seyakin-yakinnya, kalau aku nggak salah dengar kali ini!

Tuhan, kenapa aku harus dikencingi segala? Bagaimana mungkin seorang Bapak tega mengencingi anaknya? Tapi ketika aku protes, Ibu menjelaskan efek pipis bapak dengan panjang lebar. Aku tahu, meskipun penjelasan Ibu sama sekali nggak logis, namun akhirnya aku pasrah. Saat itu aku hanya berpikir, kalau memang ini satu-satunya jalan demi kesembuhan, aku akan lakukan dengan rela. Aku nggak akan mengadukan Bapak dan Ibu ke Komnas PA karena pelecehan yang semena-mena ini. Pipislah sepuasnya di kepala anakmu ini, Pak. Pipislah….

***

Esoknya, pagi-pagi buta Bapak membawaku ke hulu sungai. Rasanya, aku bener-bener seperti tengah menjalankan sebuah ritual suku pedalaman. Walaupun terasa aneh, tapi aku nggak protes. Masih dalam keadaan mengantuk, aku mengikuti langkah Bapak yang bebas dan merdeka. Setiba di hulu sungai, Bapak memintaku membuka pakaian lalu berjongkok. Sekali lagi aku nggak protes. Yang ada di kepalaku; aku bakal bebas dari cacingan, tubuhku akan tumbuh subur. Nggak akan ada lagi bully-an, dan pasti Tasya nggak akan menolak jika aku menembaknya. Tiba-tiba dunia terasa indaaahh banget. Semua yang aku lihat menjadi berwarna-warni. Mereka menari-nari menyemangatiku. Aku senyum-senyum sendiri dengan sejuta harapan di dada.

Bapak mengingatkan. “Jangan tegakkan kepala sebelum rampung!”

“Kapan rampungnya, Pak?”

“Saat tetes terakhir di kepala. Sekarang siap?”

“Siap, sesiap-siapnya, Pak. Pipislah!”

CUURRR!!

Hampir aja aku berteriak dan melonjak kaget ketika tiba-tiba air panas mengguyur kepalaku dengan ganas, brutal dan binal. Tapi dengan tenang Bapak meminta aku tetap diam, seolah nggak terjadi apa pun. Dan untuk kesekian kalinya, aku nggak punya kekuatan untuk protes. Aku terus menahan napas, menghindari masuknya aroma yang nggak diinginkan. Namun tetep saja, bebauan asing itu menguar dan nyentuh ujung hidungku.

“Bapak habis minum jamu, ya?” tanyaku menebak.

“Ohh, Bapak lupa bilang, kemaren makan jengkol muda untuk lalapan.”

Argghh, tidaaaak!! Pagi-pagi begini sudah dapat terapi pipis sari jengkol. Duh Gusti, apa salah dan dosaku?

“Besok kita ulang,” ujar bapak setelah kami pulang.

Nggaaakk! Nggak akan! Aku tahu ritual laknat itu nggak berguna! Nyatanya, setelah sekian waktu berlalu, aku tetap saja kurus. Sampai akhirnya, aku pasrah dan berusaha berkompromi dengan keadaan. Ibu sudah lelah dengan usahanya. Dan… tampaknya Bapak juga jengah kalau harus terus-terusan pipis di kepalaku. Lalu Tasya? Biarlah aku mendekatinya dengan cara yang lebih gentle.

***

Baca Juga:   RESIGN DAN HARI-HARI SETELAH ITU

Ditulis oleh: Redy Kuswanto

2 thoughts on “[Cerpen] Ritual Laknat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *