[Cerpen] Ri(s)a

Melihat Risa memilih-milih baju lalu mematut diri di depan cermin bukan pemandangan asing lagi buatku. Apalagi di sabtu sore seperti ini. Padahal pacar sialannya itu baru akan menjemputnya nanti, jam lima sore, itu artinya masih dua jam lagi. Tapi gadis ayu lagi jelita itu sudah selesai mandi dan hmmm…, aroma Lovely dari Sarah Jessica Parker-nya sudah tercium hingga ke kamarku, yang tepat berseberangan dengan kamarnya. 

Jangan tanya deh, bagaimana aku bisa hapal rupa-rupa aroma parfum import itu. Tanyakan saja pada Mama yang rajin menyeretku menyambangi outlet-outlet resmi branded parfume dan memanfaatkan aku sebagai objek tester.

***

“Ini rumah Ibu Ratna?”

“Iya, Mbak.”

“Masih ada kamar kosong?”

“Kayanya ada, sebentar ya, aku panggilkan Mama.”

Itulah percakapan pertamaku dengan gadis itu setahun yang lalu.

Hari berikutnya kamar kosong di seberang kamarku resmi berpenghuni lagi. Namanya Marisa. Mahasiswi tingkat akhir di sebuah kampus swasta. Dia mengingatkan aku pada seorang artis yang juga seorang penari, luwes dan anggun. Sedikit mirip dengan Ria, yang aku taksir mati-matian sejak kelas 2 SD. Sayangnya sampai sekarang Ria masih tidak berminat sedikit pun padaku.

Aku masih ingat sakit hati yang aku rasakan ketika Ria menolak aku boncengkan pulang.  Dia memilih untuk naik ke boncengan seorang cowok yang lebih dewasa dari kami. Meski belakangan aku tahu cowok itu adalah Kang Jojo, anak Bik Uni yang membantu di rumah Ria, tapi tetap saja aku merasa nelangsa.

Kini dengan adanya Marisa, Mama seperti menemukan anak perempuan yang tidak  dimilikinya, juga sparing partner yang sepadan untuk hobi jalan-jalannya. Pantesan skripsinya belum selesai juga. Yang aku dengar sudah diperpanjang dua semester.

Marisa cukup tangguh berjam-jam keliling dari mall ke mall. Maka, tugasku menemani Mama—menyatroni pusat-pusat perbelanjaan setiap akhir minggu—dengan senang hati kulimpahkan pada Risa. Mama dan Risa bagaikan Upin dan Ipin. Bahkan saking akrabnya, Risa tidak lagi memanggil ‘ibu’ pada Mama, melainkan ‘sis’. Di kupingku kedengarannya aneh, karena anak kost lainnya selalu memanggil ‘ibu’ atau ‘bunda’.

Ngomong-ngomong, Risa dan Ria punya hobi yang sama. Tanam menanam. Waktu SD dulu, Ria selalu membawa kelas kami menjadi juara lomba taman antar kelas. Kalau kelas lain hanya memenuhi lahannya dengan aneka rumput, maka Ria bisa menumbuhkan bunga warna-warni dalam taman kami. Dan hanya dia yang tahu nama-nama tanaman yang ditanamnya.

Begitupun Risa, berawal dari beberapa pot bunga di serambi kamarnya, lalu bergeser ke sepetak tanah di samping kamarku. Di lahan seupil yang selama ini hanya dipenuhi tanaman lidah mertua itu tiba-tiba tersembul beberapa kuntum bunga matahari di antaranya. Aku memang tidak suka bunga, tapi sepertinya aku menyukai perempuan-perempuan yang suka pada bunga.

***

“Mau keluar sama Andre lagi, ya?”

Risa menoleh lalu memamerkan gigi mutiaranya dalam sebuah senyum lebar. Aku bisa melihat dia sedang duduk mencangkung di atas kasurnya. Dia suka membiarkan pintu kamarnya terbuka, supaya banyak angin yang masuk, karena kaca nako pada jendelanya sudah lama macet.

“Iya, Dith.”

Risa pindah duduk di bangku depan jendela kamarnya, sedang aku tetap rebah tengkurap di depan monitor PC-ku. Game Virtua Fighter yang kumainkan sudah masuk level yang seru, sayang banget kalau harus dimatikan sekarang.

Heran, kenapa dia masih mau pacaran dengan Andre? Tempo hari aku memergoki mereka bertengkar hebat yang berakhir dengan sebuah tamparan di wajah lembut Risa. Dia tidak pernah tahu kalau aku melihat kejadian itu. Untuk menjelaskan lebam biru di mukanya, Risa mengaku pada Mama kalau dia pusing, limbung lalu membentur kusen pintu. Huh! Macam di sinetron-sinetron saja.

Kalau aku jadi Risa, sudah kulaporkan cowok tukang pukul itu ke polisi atau ke satpam yang berjaga di pintu gerbang kompleks. Biar dihajar ramai-ramai. Ganjaran setimpal untuk ketidak jantanannya. Kalau perlu aku akan menyumbangkan tinjuku untuk ikut menghajar cowok sok ganteng itu.

Sesekali aku mencuri pandang pada Risa yang mulai mengetuk-ketukkan tumitnya.   Tandanya dia mulai gelisah. 

“Kok belum datang, ya….”

Busyet, baru juga jam empat.

Sudah waktunya aku duduk sekarang. Dadaku juga sudah mulai ngilu tertekan kerasnya lantai keramik. Lagipula ada yang ingin aku katakan pada Risa.

“Risa, kamu sudah lama jalan sama Andre?”

Senyum tipis terulas di wajah Risa. “Belum lama, kenapa, Dith?”

Ngomong nggak, ya? Bagaimana kalau Risa tidak berkenan?  Eh, tapi aku tidak boleh takut, takut hanya milik si bersalah bukan?  Sedangkan aku hanya seorang pejuang cinta.

“Belum lama tapi sudah berani main pukul?”

“Hush!” Mata Risa spontan melebar lalu bibirnya merengut seketika. Makin mirip saja dengan Ria.

Aku tertawa puas melihat Risa yang terlihat gusar.

“Jangan bilang-bilang sama Sis Ratna, ya!  Awas!”

Aku melambaikan lambang victory dengan kedua jariku. I swear.

Risa bersandar, tungkai kakinya yang saling menopang dia ayunkan dengan irama tertentu.

Aku kelihatannya saja diam, tapi sebenarnya sedang menimbang-nimbang, apa sebaiknya sekarang saja aku utarakan perasaanku pada Marisa. Lupakan saja Ria yang tidak pernah menggubris sinyal-sinyal suka yang rajin aku luncurkan setiap saat.

“Risa….”

“Radith!”

Tiba-tiba Mama sudah berdiri di depan pintu kamarku.

“Mama kan, sudah bilang, jangan panggil Risa saja. Tante Risa!  Nggak sopan!”

“Kakak juga boleh loh, Dith,” Risa menyahut dari seberang sana. Aku bisa mendengarnya terkekeh, mentertawakan kekagetanku karena tertangkap basah oleh Mama.

“Sudah, ke depan sana. Itu  Ria sudah nungguin dari tadi.  Katanya kalian mau bikin tugas sama-sama.” 

Mama bergerak masuk ke kamarku, mematikan tombol power pada monitor.

“Main game terus! Memangnya kamu mau, nggak lulus, terus mengulang lagi kelas 9?”

Bukan ancaman Mama yang membuat langkahku bergegas, tapi nama yang disebut belakangan. 

Akhirnya, tiba juga waktuku menghabiskan sabtu sore bersama Ria. Lupakan saja Risa.  Toh, Mama juga tidak akan merestui hubungan kami nantinya. (Ditulis oleh: Oky E. Noorsari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *