[Cerpen] Resep Rahasia

 

Patar uring-uringan. Sejak pagi hingga sesiang ini, mulutnya belum juga reda melontarkan berbagai bentuk makian. Ia mengamuk di dapur dan ruang tamu yang tidak seberapa lebar. Dilemparnya beberapa perabotan dapur dan alat makan ke luar jendela. Tak ubah sebuah perayaan yang menghadirkan berbagai tetabuhan tanpa kesesuaian nada. Sungguh gaduh. Ia sama sekali tak peduli jika ulahnya menyebabkan beberapa tetangga meradang. Tentu saja, para tetangga mengenal betul perangai lelaki pengangguran itu. Mereka memlilih bungkam dan menyimpan segala bentuk kesah. Sebab tak ingin menjadi sasaran yang salah.

“Istri macam apa kau, Nonoh?” Lelaki gempal berkepala botak itu menggebrak daun pintu. Matanya yang memerah nyalang menyapu sekitar. “Berani-beraninya kau menyuguhkan makanan busuk! Gara-gara makanan setan ini, suami kau dicaci dan diolok-olok orang! Aku jagoan Medan ini, jangan macam-macam kau. Kucacah tubuh kau biar tahu rasa!”

Entah berapa lama lelaki berkulit gelap itu berdiri di sisi pintu. Kemudian ia menyadari, kemarahannya hanyalah kesia-siaan belaka. Sebab Nonoh, yang seharusnya menjadi limpahan kekesalannya, telah pergi sejak pagi buta. Patar hampir saban hari pulang menjelang Subuh. Dan setiap kali itu pula, ia tidak mendapati istri yang ia nikahi belum genap dua purnama. Perempuan kampung berhati lembut itu selalu pergi sebelum suaminya datang dan mendobrak pintu. Ia berada di tengah pasar ketika cecar kata dari mulut berbau busuk milik suaminya terhambur. Ia tengah berjibaku dengan berbagai barang belanjaan milik orang-orang, manakala suaminya pulas mendengkur dengan mulut yang menganga. Perempuan lampai nan perkasa itu sudah berulang kali menyeka keringat saat suaminya melahap semua masakan yang ia hidangkan. Ya, Nonoh telah bertahun mengais rupiah sebagai buruh gendong di sebuah pasar induk.

Patar menemukan Nonoh tanpa sengaja. Ia tengah berada di sebuah kedai aneka rempah dan jamu tradisional ketika Nonoh mengajaknya bicara. Bukan. Bukan usaha perempuan lajang itu untuk mencari perhatian Patar, terlebih sebuah rayuan. Perempuan berkulit cokelat itu hanya menawarkan jasa jika Patar memerlukan tenaganya untuk mengangkut barang. Nonoh terkikik pelan manakala menyadari manalah mungkin lelaki perkasa itu membutuhkan dirinya. Tentu, lelaki itu akan mampu memanggul segerobak bawaan tanpa merasa kewalahan.

“Maafkan saya,” ujar Nonoh berbasa-basi, lantas berlalu begitu saja.

Namun tidak demikian dengan Patar. Lelaki empat puluh tahun itu justru merasa terpikat oleh Nonoh. Betapa ia penasaran ketika menyaksikan perawan Sunda itu tersipu malu menghindari tatapan–Patar merasa Nonoh menertawakan dirinya. Patar ingin tahu, apakah Nonoh paham mengapa dirinya ada di kedai rempah itu. Barangkali, sapaannya sekadar akal-akalan untuk menarik perhatian, begitu yang Patar pikirkan. Sebab ia tahu, selama ini memang banyak perempuan yang ia temui lantas mengajaknya berkencan secara gampang. Patar sadar, pesona dirinya masih begitu besar, bahkan bagi beberapa perempuan bukan dari kelasnya.

“Apa yang kau tertawakan dariku?” Pertanyaan Patar yang tak lebih sebagai tuduhan, telah membuat Nonoh tertegun sejenak. “Apakah kau pikir aku sudah tidak memiliki kemampuan selayaknya lelaki, sehingga harus menegak jejamuan untuk pendongkrak?”

“Saya tidak pernah mentertawakan orang lain.” Nonoh berkata jujur kala itu. “Terlebih mentertawakan lelaki gagah yang sama sekali tidak saya kenal.”

Patar tertawa lebar. Entah mengapa ia merasa melambung ke awang-awang mendengar perkataan Nonoh yang terkesan lugu. Seumpama remaja yang pertama jatuh cinta, Patar tidak bisa melupakan senyum Nonoh setelah pertemuan siang itu. Sebuah roman picisan yang ia anggap agung pun bermula. Maka, tidak peduli Nonoh akan mentertawakannya, ia hampir saban hari datang ke tempat yang sama. Tidak untuk berbelanja, sebab ia mendadak lupa tujuan awal mendatangi kedai aneka rempah tradisional itu. Tidak dipungkiri, pada mulanya Patar membutuhkan ramuan yang bisa mendongkrak kelelakiannya demi mempertahankan nafsu yang ia jadikan alat untuk sebuah pekerjaan. Namun, kehadiran Nonoh seumpama jampi-iampi paling mujarab dari apa pun. Perempuan itu telah menjadi pembangkit gairahnya.

“Maukah kau menemani hari tuaku, Nonoh?” Itulah kalimat yang bisa ia lontarkan di hadapan perempuan bermata cerlang. Ia kehabisan kalimat-kalimat romantis. “Tiga puluh lima. Kurasa, sudah cukup matang untuk menjadi istri lelaki tua dan kesepian ini sepertiku.”

Nonoh bahkan tidak tahu siapa lelaki itu. Ia hanya mendengar selentingan, Patar yang asli Sumatra dan telah lama tinggal di Tanah Jawa begitu disegani orang-orang sekitar. Patar juga ditakuti oleh semua kelompok berandalan pasar, tempat-tempat hiburan kaum kelas bawah dan kedai remang-remang. Ia bisa melindungiku, begitu batin Nonoh yang memang kerap mendapat perlakuan tak senonoh dari para lelaki iseng. Tanpa mempertimbangkan bibit, bebet dan bobot yang sering dinasihatkan kedua orangtuanya semasa hidup, perempuan itu menerima tawaran Patar. Tanpa perayaan. Tanpa pesta-pesta. Mereka resmi menjadi sepasang suami-istri, meskipun sejujurnya mereka belum tahu entah untuk apa.

***

“Jadi apa masalahnya, Kang?” Nonoh yang disuguhi pemandangan tak nyaman di rumahnya, tidak juga menampakkan kemarahan ketika Patar mendakwa ia meracuni dirinya dengan makanan. “Nonoh tidak pernah tahu Akang memiliki pantangan makanan.”

Patar mengisap rokok putih di tangannya. “Kau tidak punya makanan yang lebih baik?”

“Tentu Akang tahu berapalah receh yang Nonoh kumpulkan setiap hari?” Pandangan Nonoh menikam bola mata lelaki di hadapannya. “Nonoh menyuguhkan makanan yang mampu Nonoh buat. Makanan itu bukanlah racun, Kang. Ibu mewariskan rahasia pembuatannya, dan kemarin adalah hari yang sakral untuk mencoba resep rahasia turun temurun yang agung….”

“Bodat[1]kau ini!” Patar mengembuskan asap rokok dari mulutnya, lalu berteriak. Tangannya mengepal dan siap ia hunjamkan ke wajah Nonoh. “Kau paham apa yang kudapatkan semalam? Tidak ada perempuan yang mendekatiku, hanya karena mulut aku berbau busuk. Aku bahkan dimaki-maki si Mami Juragan hanya karena kamar mandinya aku kencingi!”

“Kang, seharusnya Akang cuci mulut,” ujar Nonoh tidak juga menampakkan roman ketakutan. “Akang juga seharusnya tidak kencing sembarangan. Makanan itu, memang bisa membuat air seni dan mulut beraroma tidak sedap, Kang….”

“Kenapa pula kau tidak mengatakannya? Kimak[2] kali kau ini!”

“Kang….” Nonoh menuntun lengan lelaki berbibir tebal itu, mengajaknya duduk di sampingnya. “Bagaimana Nonoh bisa bicara dengan Akang? Kita tidak pernah bertemu muka. Coba Akang ingat-ingat, sejak perkawinan kita, berapa kali kita tidur bersama? Berapa kali kita duduk di meja makan dan bercakap? Akang pergi, Nonoh pulang. Begitu sebaliknya. Jadi, jangan salahkan Nonoh kalau Akang mendapatkan sial tadi malam….”

“Bukan hanya tadi malam!” Patar mengentakkan tangan Nonoh dari lengannya. “Sekarang pun kencingku masih bau comberan. Kau mau tahu, ciumlah mulutku ini!”

Laiknya seorang bocah yang tengah diajari ini-itu, Nonoh berdiri di hadapan Patar dan benar-benar mendekatkan hidungnya ke wajah lelaki itu. Agak lama perempuan itu mengendus-endus mulut Patar yang masih mengepulkan asap tipis beraroma menyengat. Ia memejam dan menghirup segala aroma yang ada manakala ujung hidungnya menyentuh bibir kasar lelaki itu.

“Hmm, tidak ada aroma yang terlalu aneh, Kang.”

“Kepala otak kaulah. Bebal kali kau kutengok!” Patar ingin mengalihkan wajahnya dari perempuan itu jika saja bibirnya yang kasar tidak berada dalam lumatan bibir Nonoh yang halus dan memerah alami. “Hmm, jadi kau tidak merasa jijik dengan bau busuk di mulutku?”

“Tentu saja tidak, Kang.” Nonoh melingkarkan kedua tangannya di leher lelaki itu. “Bukankah Akang sudah mendengar sumpah janji Nonoh dulu? Nonoh akan menerima segala kekurangan dan kelebihan di diri Akang.,,.”

“Kalau kau cinta pada suami kau ini, mengapa pula kau hidangkan makanan busuk itu untuk aku?” Patar memandangi mata Nonoh yang sejengkal dari wajahnya. “Katakan!”

“Karena Nonoh cinta Akang Patar.”

Patar tak bisa menghindar ketika Nonoh merapatkan tubuh di dekapannya. Meskipun rikuh, lengannya yang kekar mendekap halus punggung istrinya. Betapa ia merindukan aroma tubuh perempuan itu. Betapa kedekatan seperti ini tidak pernah ia dapatkan di luar sana. Jika semua perempuan di sana tak menginginkan dirinya, Nonoh tulus menginginkannya. Nonoh yang manja. Nonoh yang lugu dan sederhana. Mengapa ia abai dengan semua itu?

“Kau tahulah kenapa perempuan-perempuan itu tidak mau mendekatiku?”

Nonoh tidak juga melepaskan pelukan. Ia berbisik, “Mungkin mereka hanya ingin segala yang indah dari Akang, tetapi tidak yang buruk. Nonoh pikir, apa yang mereka berikan tidak tulus, Kang. Sebab tidak ada cinta di dalamnya. Lihatlah Nonoh, hihi….”

“Ah, pintar juga kau ini.” Pilar menjentik halus ujung hidup perempuan di dekapnya. “Kau beri tahulah suami kau ini, makanan apa yang kau suguhkan kemarin malam itu?”

“Hmm….”

“Bentuknya seperti rendang daging saja. Banyak rempah kurasa.” Patar mengendurkan pelukan, memandangi wajah istrinya yang merona. “Tapi… kencingku bau kali bah! Jangan bilang kau membuat resep masakan ibu kau dari jengkol! Hey, tunggu! Itu benar jengkol?”

Nonoh tidak menjawab. Tak ada yang perlu dijawab memang, sebab yang terpenting adalah, resep rahasia itu telah membawa suaminya pulang. Resep itu telah menjadikan suaminya seperti yang ia impikan. Ya, setidaknya hari ini. Esok? Biarlah kucari resep lainnya saja, batin Nonoh, berjanji pada dirinya sendiri. Sebagai perempuan dewasa, rasanya tidak perlu kehabisan akal bagaimana cara mengikat kekasih hatinya dengan benar.

“Kau tidak mau katakan rahasia itu?” Nada kasar  yang acap terlontar, kali ini terdengar lembut di telinga Nonoh. “Yakin, kau tak ingin mengatakan sesuatu pada suami kau ini?”

Nonoh menggeleng di antara derap napas Patar yang berbau khas dan kian memburu. Perempuan berambut lurus itu luruh dalam pelukan lelaki gempal yang telah menambat hatinya sejak awal bertemu. Kini ia hanya bisa pasrah dan menyerah.   

***

Baca Juga:   Karyawan: Duh, Dikerjain Senior

Ditulis oleh: Redy Kuswanto

Reviewer : Oky E.Noorsari

[1] Anak monyet

[2] ‘Kimak’ atau ‘pukimak’ adalah ngkapan kemarahan khas orang Sumatera, terutama Aceh dan Medan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *