[Cerpen] PULUNG GANTUNG

Fanti bunuh diri, begitu kabar yang menyebar dari berbagai media sosial. Widi tidak begitu saja percaya, berkali-kali ia menelpon Fanti. Tapi, tidak ada yang mengangkat. Segala pesan lewat BlackBerry Messenger atau pun WhatsApp juga tak ada yang membaca, padahal jelas-jelas terkirim. Ia jadi was-was jika ternyata Fanti memang benar-benar bunuh diri. Kemarin, pernikahannya gagal. Mempelai laki-laki yang berasal dari Kebumen—kota yang terkenal dengan penghasil genting itu tidak datang. Padahal, seluruh tamu yang hanya berasal dari keluarga, kerabat, dan tetangga dekat sudah berkumpul sedari pagi.

Widi berjalan mondar-mandir di balkon rumah. Berita yang menyebar semakin konyol saja. Fanti terkena pulung, begitu yang mereka tulis di group WhatsApp arisan. Bola api yang berekor dengan warna merah kekuningan jatuh ke atas rumah Fanti di malam hari. Dan benar, seseorang baru saja membalas pesannya, mengabarkan bahwa Fanti meninggal dengan cara menjerat lehernya sendiri. Terburu-buru, Widi menuruni anak tangga menuju parkiran di halaman depan. Hatinya pedih, penuh gejolak, dan perasaannya yang campur aduk begitu saja mencipta panas di kelopak mata. Sulit dia menerima bahwa sahabat baiknya sejak sekolah menengah atas telah tiada.

Kasihan Fanti. Dia pasti depresi mendengar omongan-omongan tetangga perihal kegagalan pernikahannya yang tak kunjung mereda. Semoga almarhumah tenang dan diterima di sisi-Nya.

Widi membanting pintu mobil saat membaca sebuah komentar di grup yang sama. Masih tidak percaya, delapan hari yang lalu dia masih memeluk tubuh Fanti yang terduduk lemas dengan wajah coreng-moreng karena make up yang luntur dibasahi air mata. Menahan rasa malu dengan pembatalan pernikahan yang mau tidak mau harus dilakukan. Cemooh juga bisik-bisik begitu saja keluar dari mulut-mulut beberapa tamu undangan.

***

”Aku menopause, Wid.” Fanti tergugu.

Tubuh wanita berkebaya warna pink itu bergetar. Tahun ini umurnya menginjak empat puluh enam. Namun, Fanti masih terlihat muda beberapa tahun di bawah umur aslinya. Widi tak mengira jika dia telah sampai pada masa menopause. Begitu juga mungkin Welang, calon suaminya yang tiga tahun lebih muda dari Fanti

“Dia batal menikahimu karena hal itu?” Widi menatap mata cokelat Fanti yang terlihat kemerahan dan sembab.

Fanti mengangguk, kembali menangis sesenggukan. Hanya ada mereka berdua di dalam kamar yang telah disulap menjadi kamar pengantin dengan berbagai hiasan. Para tamu telah membubarkan diri, meninggalkan jejak kesedihan mendalam untuk keluarga besar Fanti. Widi menarik napas dalam, kehilangan kata-kata.

“Aku bahkan malu menceritakannya padamu, Wid. Ini alasan sebenarnya aku menolak dikenalkan dengan teman-teman lelaki suamimu yang juga masih lajang. Aku tidak akan pernah bisa memberikan mereka keturunan. Karena itu, aku memilih Welang, lelaki dengan tiga anak yang istrinya telah meninggal. Aku pikir, bagi Welang, mempunyai anak bukanlah tujuannya menikahiku. Aku kira, dia sama denganku yang sedang mencari seseorang untuk menemani  sisa-sisa umur kami Bersama-sama membesarkan tiga orang anak remajanya hingga mereka dewasa dan bisa mandiri.”

Widi menggigit bibir. Ingin marah, karena dia bahkan tidak pernah tahu persoalan pelik yang dihadapi sahabatnya selama ini. Fanti pernah gagal menikah, ini kegagalannya yang kedua. Lama Fanti memutuskan untuk sendiri, menutup segala pintu perjodohan. Hingga akhirnya bapak ibunya meninggal. Dan kemudian, dia merasa kesepian.

“Tapi aku salah. Setiap orang menginginkan pasangan yang sempurna. Setelah lama aku menutup-nutupi diriku yang menopause ini, akhirnya aku mengaku. Dua hari sebelum hari H kami bertemu, Wid. Aku memaksanya datang ke Yogya. Karena tiba-tiba aku ketakutan, jika nanti persoalan menopause ini akan menjadi permasalahan pelik dalam rumah tangga kami.” Fanti mengusap air mata di pipinya dengan punggung tangan. Widi buru-buru meraih sekotak tisu di atas meja. Lantas, memberikan beberapa lembar tisu tersebut pada Fanti.

“Dia marah, merasa dibohongi. Mengatakan bahwa pernikahan ini batal. Aku tidak bisa melakukan apapun. Dan pagi tadi aku tidak bisa menolak untuk dirias pengantin semacam ini. Aku tidak bisa mengatakan pada siapapun jika pernikahan ini gagal, bahkan diriku sendiri masih berharap Welang hanya berbohong. Dan dengan sangat mengejutkan, dia datang pagi ini. Karena undangan telah tersebar, dan segala persiapan telah beres. Tapi, nyatanya….” Widi kembali memeluk tubuh Fanti. Menepuk-nepuk punggungnya. Hanya itu yang mampu Widi lakukan.

***

Widi mengira Fanti dapat mengatasi kegagalan pernikahan keduanya sebab di usia dua puluh dua tahun dia pernah mengalami hal yang sama. Namun, siang itu Fanti datang seorang diri dengan tatapan yang seringkali nampak kosong. Kemudian, pada Widi Fanti mengaku baru saja mengundurkan diri dari tempat kerja.

“Untuk apa lagi aku bekerja, Wid? Hidup ini sudah tiada guna. Percuma. Tak ada harapan bagi seorang sebatang kara sepertiku.”

Widi mendengar suara Fanti dari dapur, tangannya sibuk mengaduk secangkir kopi. Harum bunga melati menguar dari sana. Aroma yang seharusnya menenangkan.

“Siapa bilang kamu sebatang kara, Fan? Kamu masih punya aku, sahabatmu. Kamu masih punya Mbak Endang, dan kemenakan-kemenakan.” Widi berujar sambil berjalan ke ruang tamu.

Secangkir kopi Widi letakan di hadapan Fanti. Kemudian pada bangku kosong di samping Fanti dia duduk. Diseruputnya kopi dalam cangkir yang telah dia genggam. Seketika, aroma melati menyusup ke segala sela-sela lidah.

“Mereka hanya datang ketika liburan panjang, Wid. Itu pun paling lama satu minggu,” ujar Fanti. “ Empat hari lagi mereka balik ke Jakarta. Rumah kembali sepi, mirip kuburan,” tambahnya.

Fanti mendesah, matanya menerawang jauh ke langit-langit ruangan. Tiba-tiba, Widi teringat Welang, lelaki itu bertubuh tinggi besar dengan kulit coklat yang cukup terang. Bibirnya melengkung jenaka saat tertawa. Entah di pertemuan keberapa, Widi sempat menanyakan alasan-alasan Welang ingin menikahi Fanti. Tentu, dia mengatakannya sambil bercanda, tapi jawaban Welang terdengar serius, “Sederhana, Fanti mau menerima ketiga anakku. Mereka pernah tiga kali bertemu. Perihal anak-anak, mereka jelas memerlukan penyesuaian diri dengan ibu baru.”

Pipi Fanti merona merah saat itu, kebahagiaan tampak sekali di wajahnya. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Fanti yang sebelumnya hanya kesepian kini sampai pada titik kehilangan minat menjalani hidup selepas pernikahannya yang gagal.

“Sia-sia aku hidup, Wid. Jika boleh memilih, aku lebih baik mati.”

Kalimat itu meluncur ringan dari mulut Fanti, seringan saat dia mengikatkan tali pada leher hingga tubuhnya menggantung di bawah jendela.

***

Widi turun dari mobil dengan tubuh lemas. Sepanjang perjalanan dari rumah, dia terus mengikuti perkembangan berita tentang Fanti lewat WhatsApp. Seseorang mengabarkan penemuan terbaru yang bertentangan dengan keyakinan masyarakat bahwa Fanti terkena pulung. Kakak perempuan Fanti, Endang yang bersikukuh menganggap pulung sebagai mitos telah membuktikannya dengan menggali bawah tanah tempat Fanti bunuh diri.  Bukan menjadi rahasia lagi, jika ada seseorang yang gantung diri maka di bawah tanah tempatnya gantung diri tersebut akan ditemukan tiga buah bola yang terbentuk dari tanah. Dan tak ada seorang pun yang bisa menjelaskan apa artinya. Namun, tak Endang temukan apa pun di sana.

Widi melangkah dengan hati-hati. Sebelumnya sempat turun rintik gerimis yang membuat tanah sedikit basah. Dingin dan merinding menyelusup kulit. Dia mengendarkan pandangan pada sekitar rumah Fanti, lantas seluruh perhatiannya terhenti pada sebuah jendela yang terbuka di lantai dua. Dia begidik, di sana, tubuh Fanti ditemukan menggantung kaku sekitar pukul lima dini hari. Begitulah kata orang-orang. Tangannya mengusap tengkuk leher, bulu kuduknya berdiri. Dan ia kembali menangis, membuat dadanya terasa menyempit.

“Widi! Kamu percaya dengan pulung gantung?” Seseorang yang sangat ia kenal menarik tangannya, menjauh dari kerumunan pelayat.

Widi menggeleng. Dia kesulitan mengeluarkan argumentasi, “Itu hanyalah mitos,” ujarnya setengah berbisik.

Widi ingat, barangkali baru dua bulan yang lalu, almarhum Pak Danarto—tetangganya yang sudah tua dan telah putih seluruh rambutnya—juga dinyatakan terkena pulung selepas bunuh diri dengan cara menjerat lehernya dengan tali di bawah pohon nangka belakang rumah. Namun, bagi Widi, Pak Danarto memutuskan untuk mengakhiri hidupnya akibat depresi dengan banyaknya hutang yang harus dia tanggung. Dalam seminggu, ada sekitar lima renternir yang datang ke rumahnya, sedang dia sudah tiga minggu tak bekerja. Dokter mengatakan, kanker paru-paru menggerogoti tubuhnya.

“Tapi, semua orang mempercayai mitos itu, Wid. Tetua melarang aku memandikan jenazah adikku sendiri, tidak akan ada orang yang mau menyalatkan, jenazah tidak akan dikafani, tidak juga didoakan. Fanti hanya dikubur begitu saja.”

Endang mengusap air matanya. Menunggu reaksi Widi yang masih mematung. Widi sendiri tak tahu apa yang harus dia lakukan. Memprotes para tetua? Itu mustahil, banyak masyarakat yang mempercayai mitos itu. Tapi tidak dengan Widi, pernah dia membaca sebuah esai bahwa angka   bunuh diri di Gunung Kidul yang jumlahnya puluhan sepanjang tahun bukan karena pulung, tetapi tersebab putus asa dengan adanya kemiskinan yang melanda, belum lagi kemarau berkepanjangan membuat desa menjadi kering dan kekurangan air.

“Kenapa dilarang dimandikan?” tanya Widi. Dia masih bingung, tidak  mengerti dengan kekejaman mitos pulung gantung.

“Masyarakat percaya jika dimandikan maka energi negatif yang bersemayam di dalam tubuh Fanti akan berpindah ke orang lain.”

Widi menelan ludah. Dia berjalan melewati para pelayat dan Endang mengikuti di belakangnya. Mereka mendekati keranda mayat, mendekati tubuh Fanti yang terbujur kaku di dalamnya. Perlahan, Widi membuka kain penutup. Dia tersentak, menemukan kedua bola mata Fanti ke luar, melotot tajam menatapnya.  Lidah Fanti menjulur panjang, Widi terisak. Sahabatnya telah tiada, mengakhiri kepedihan dengan caranya.

Awan mengarak hitam, gerimis kembali turun. Geluduk datang menggelegar, petir menyala seakan ingin menyambar. Widi yakin Fanti tidak terkena pulung gantung. Fanti hanya putus asa menanggung beban, malu, dan kecewa. Dengan cekatan, dia meminta agar mayat Fanti segera dikuburkan. Kalimat Endang beberapa menit yang lalu masih terngiang di telinganya, “Kita tunggu pemakaman, Wid. Setelah semua orang pergi, kita keluarkan jenazah Fanti dari kuburnya. Kita ulang ritual kematian untuknya. Kita hapus fitnah pulung gantung dari catatan kematian Fanti. Aku tidak ingin Fanti dikubur selayaknya seekor anjing mati.”

*****

Ditulis oleh: Nunuk Priyati

Reviewer: Oky E. Noorsari

Baca Juga:   MAKANAN NAIK KELAS, BISAKAH? MENGAPA?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *