[Cerpen] Pulang dengan Tenang

Cuaca hari ini cerah sebenarnya, tetapi, ketika Ibu mulai membicarakan soal Bapak, seakan-akan aku kehilangan segarnya udara pagi.

            “Pergilah, Nak, ndak papa,” ucap Ibu untuk kesekian kali.

Aku hanya menghela napas. Masih terlalu fajar untuk membahas semua ini. Dengan tangan yang  tetap sibuk, serta mondar-mandir, bahkan Ibu sempat-sempatnya memberi ruang di pikirannya akan hal yang teramat pahit untuk kubayangkan. Entah, aku masih begitu sulit untuk berdamai, bahkan potongan kelam itu masih begitu lekat di ingatan.

***

“Itu siapa, Pak?!” tanyaku penuh amarah begitu melihat seorang perempuan keluar dari kamar, bertepatan di saat aku memasuki ruang tamu karena pulang lebih awal. Pandangan kami sempat bertemu, sebelum wanita itu tertunduk meninggalkan rumah. “Jawab, Pak!”

“Kamu anak kecil nggak usah ikut campur!”

Bukan sebuah jawaban yang kudapatkan, melainkan kalimat yang justru membuatku semakin murka, “Ibu bekerja di pasar! Dan Bapak malah enak-enakan main dengan perempuan lain! Dasar gila!”

“Anak kurang ajar!” Kalimat tersebut terlontar bersamaan dengan lemparan guci kecil yang diambilnya dari meja.

Guci itu tepat mengenai sisi kanan kepalaku. Rasa nyeri membuatku sedikit merintih. Aku masih terdiam, terasa benda cair mengalir, “Dasar manusia bejat!” Aku pergi dari rumah membiarkan darah mengucur. Beberapa pasang mata memandang penuh tanya, ingin tahu apa yang terjadi. Namun, dengan cepat mereka memalingkan muka, saat aku keluar.

Sepuluh tahun, bukan waktu yang lama untuk menghapus semua itu. Aku juga yakin, luka itu bahkan masih basah di hati Ibu. Meskipun dia terlihat begitu tegar. Senyumnya tidak pernah hilang yang seakan-akan semuanya baik-baik saja.

“Astaghfirullah, Rauf. Kepalamu kenapa?” Ibu kaget melihat ada perban di pelipis kananku. Aku pun meceritakan apa yang terjadi. Keburukan tetaplah buruk, tidak mungkin aku menyembunyikan apa yang kulihat hanya untuk menjaga perasaan ibu. Itu sama halnya aku mendukung apa yang telah dilakukan laki-laki itu.

Ibu hanya mematung, matanya menatap nanar jauh ke jalanan. Tidak lama kemudian setitik air mata jatuh. Aku tahu, ini pasti sangat menyakitkan. Kudekap tubuh wanita di hadapanku, erat.

“Bantu Ibu beres-beres, ya,” ucapnya berbisik, suaranya terdengar berat.

“Iya, Bu. Tapi, Ibu yakin mau pulang sekarang?” Tanganku mulai membantu memasuki dagangan ke kardus.

“Tidak pulang ke rumah, tapi ke tempat Mbahmu dulu.” Getar suara wanita itu terdengar menyakitkan.

Selama di perjalanan aku sengaja diam. Begitu pun sampai di rumah Nenek, Ibu langsung tersungkur dalam pelukan ibunya. Aku memilih pergi, membiarkan Ibu melepaskan semua rasa sakitnya.

Berpisah memang pilihan terbaik. Aku dan Ibu memilih tinggal di rumah Nenek, yang kebetulan tinggal sendirian. Rumah yang biasa kami tempati, sudah dijual. Kabar terakhir yang kutahu, laki-laki itu masih tinggal di kota ini bersama perempuannya.

***

“Tapi, Bu… Dia yang sudah bikin semuanya berantakan?” ucapku terbawa emosi ketika teringat kejadian itu.

Ibu mendekat, membawa secangkir teh dan sepiring pisang goreng yang masih hangat dari meja makan. “Bagaimanapun dia itu Bapakmu, Rauf.”

“Rauf nggak sudi punya bapak seperti dia, Bu.”

“Nih, diminum dulu.” Ibu memberikan teh hangat padaku, “Tidak baik ngomong seperti itu.”

Setelah menerima minuman hangat tersebut, aku pun menyesapnya pelan, membiarkan rasa khas teh hijau berkumpul di mulut.

“Biarkan masalah ini cukup memutuskan hubungan kami sebagai istri dan suami. Karena bagaimanapun, darahnya tetap mengalir di dirimu, Nak. Maka pergilah untuk Ibu, atas perintah ibumu, bukan bapakmu.”

Aku hanya diam. Kali ini kenikmatan pisang goreng telah memenuhi mulutku. Tiba-tiba ada gejolak di dada ini untuk pergi, “Nantilah, Bu, Rauf pikirkan.” Aku berdiri sambil mengambil dua buah pisang goreng lalu menuju kamar.

***

Setelah menimbang-nimbang di dalam kamar. Aku memutuskan untuk pergi. Berangkat memenuhi panggilan laki-laki itu karena tidak ingin mengecewakan Ibu, itu saja. Karena hanya dia satu-satunya yang kumiliki. Sebelum berpamitan, aku meminta alamat tempat tinggal mantan suaminya. Setelah melihat kertas yang diberikan Ibu, ternyata sekarang laki-laki itu tinggal di pinggiran kota.

Kurang lebih 60 km dari rumah, jarak yang bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 90 menit. Aku pun segera mengeluarkan motor, terdengar ucapan Ibu untuk membawa oleh-oleh. Aku tak sudi membawakan apa pun untuk lelaki itu! Segera kunyalakan mesin motor lalu menarik gas sepeda motor ke luar dari halaman rumah.

Langit sangat cerah, cuaca seakan mendukung pertemuan ini. Ada perasaan canggung bercampur sedikit amarah yang kurasakan saat ini. Sebab, kira-kira sudah sepuluh tahun aku tidak bertemu dengan laki-laki itu, terakhir kali di sidang perceraian mereka.

Kularikan motor ngebut, karena aku berharap hal ini segera berlalu, cepat sampai dan cepat juga pulang. Satu-dua truk bahkan bis tersalip, aku pun memilih melewati gang-gang kecil guna memotong jalan, menjadikan jarak tempuh lebih dekat.

Tidak terasa aku memasuki desa tujuan, segeraku mematikan mesin motor. Pada seorang bapak yang sedang menggiring itik di pinggir jalan, aku menanyakan kepastian alamat. Sudah cukup jelas keteranganya, aku melanjutkan perjalanan kembali. Hamparan sawah nan hijau menyambutku, dan beberapa hewan ternak pun terlihat sedang merumput. Memberikan kesegaran mata ini.

***

Sampai di sebuah rumah yang sesuai dengan alamat yang dimaksud. Aku turun dari motor, entah kenapa hati ini berdebar begitu kuat. Kuketuk pintu, masih hening, setelah beberapa saat hening, kucoba mengetuk lagi. Akhirnya ada suara perempuan dari dalam.

Potongan memori kelam beberapa tahun silam, secara otomatis tayang di benak ini. Aku sebisa mungkin berusaha untuk tetap tenang. Pintu pun terbuka, kami saling tatap beberapa saat.

“Rauf, terima kasih sudah mau datang, silakan masuk,” ucapnya dengan suara bergetar.

Aku memasuki rumah yang bisa dibilang sederhana, di ruang tamu hanya beralaskan tikar pandan. Melihat keadaan sekeliling ada sedikit kebahagiaan di hati ini. Perempuan tersebut justru mengajakku ke dalam. Secara pelan aku membuka tirai yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah.

Terlihat seorang pria terbaring lemah di atas ranjang, “Rauf,” ucapnya lirih.

Aku masih berdiri di ambang pintu.

“Bapakmu lumpuh dua tahun ini,” jelas perempuan yang kini menjadi istrinya.

Sorot mata laki-laki itu, sedikit pun tidak membuatku iba. Hukuman ini pantas dia dapatkan, atas apa yang telah dia lakukan.

“Maafkan, Bapak,” ucapnya sangat pelan.

Aku sengaja diam, membiarkan kata maaf menguap begitu saja. Namun, kata yang sama terucap kembali. Tapi percuma, hal tersebut tidak akan menjadikan keadaan kembali seperti semula. Tapi, melihat keadaannya saat ini yang begitu memprihatinkan membuat hatiku lebih bisa berdamai.

“Ya,” ucapku kemudian meninggalkan ruangan itu.

“Rauf,” panggil istrinya kemudian menyusulku, “Apa kamu tega membiarkan bapakmu seperti itu?”

“Tega? Kamu bicara soal tega? Sudahlah, setidaknya aku mau memaafkannya. Maaf, waktuku terbatas dan harus kembali ke kota.” Aku meninggalkan rumah itu dengan hati tenang dan puas. “Semoga hari-hari kalian bahagia.” *) Ditulis oleh: Nurwahiddatur Rohman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *