[Cerpen] Pesan Terakhir

Cerobong asap itu tiba-tiba semakin tak terlihat. Aku yang tadinya ada di dekat bangunan tua yang tak berpenghuni, tanpa aku sadari aku berada di dalamnya. Aku melihat wanita cantik berambut panjang dengan kaus dan celemeknya. Dia berlari kemudian menghampiri segerombolan orang yang tangannya terlihat tidak berhenti berputar. Aku mendekatinya, adonan roti itu terus mereka bentuk bulat dengan kedua tangan secara bersamaan. Batinku, terampil sekali mereka.

“Mbak, silakan kalau mau mencoba,” kata seseorang yang ada di sana. Orang itu yang tadi berlari dan kemudian melesat dengan cepat di antara gerombolan pembentuk adonan.

“Baiklah,” tanganku langsung mengambil adonan yang dia berikan. Kemudian tanganku mulai mencoba membentuknya meski sangatlah susah. Adonan pertama yang aku buat, tidak sebulat seperti punya mereka.

“Mbak, anak baru, ya?”

“Iya, tapi aku hari ini belum masuk. Hari ini, aku hanya melihat-lihat pabrik.” Jawabku.

“Oh, begitu. Ini proses mencetak adonan, Mbak. Nah, setelah ini nanti adonan yang sudah tertata rapi di loyang kemudian dimasukkan ruang steaman. Baru setelah mengembang, roti akan “di oven”. Tiba-tiba dia menceritakan prosesnya tanpa aku memintanya. Karena aku memang baru tahu soal ini, aku hanya menjawabnya dengan anggukan.

“Eh, maaf, kita belum kenalan. Mbak, namanya siapa? Aku Tia.”

“Aku, Nay,” jawabku sambil tersenyum.

*****

Tiba-tiba ada tangan yang menggeretku pergi dari tempat itu. Aku masuk di sebuah gudang penyimpanan terigu. Di sana aku melihat Tia.

“Tia, kamu sedang apa?”

“Nay, resepnya lebih satu. Ini adonannya tidak mau mengembang?” terlihat mimik muka Tia seperti marah. Dia yang selalu tersenyum kepadaku, hari itu berubah sangat garang.

Aku hanya terheran, mataku hanya tertuju kepadanya tanpa berkedip. Rasanya tidak mungkin keliru anak gudang menyiapkan segala kebutuhan untuk anak produksi. Sebelum barang keluar dari gudang, semua sudah aku cek. Batinku, tetap percaya kalau ini pasti kesalahan tukang adonannya.

“Maaf, Nay. Ini sepertinya kesalahan anak aduknya. Aku hanya jengkel, bingung mau bilang sama orang kantor. Nay, tapi aku minta disiapin satu bahan adonan, ya. Siapa tahu boleh nambah ngaduk lagi.”

Baca Juga:   [Cerpen] Jodoh dari Dewi

Aku mulai lega. Kemudian aku menyuruh kepada anak gudang untuk menyiapkan bahan tersebut.

*****

“Nay,” Tia mengagetkanku.

“Sudah lanjutkan saja mengiris pisangnya.”

Tia yang selalu datang tanpa aku tahu. Dari pagi, aku memang belum bertemu dengannya. Kita sibuk dengan kerjaan masing-masing.

“Bantuin, dong,” rengekku kepada Tia.

“Enggak mau, adonanku masih banyak.”

“Lho, ngapain kamu ke sini kalau kerjaanmu masih banyak?”

“Kangen sama kamulah. Hahaha… Eh, enggak, enggak. Aku mau ambil minum. Haus.”

Anak itu, cepat sekali perginya, baru aku tinggal mengambil pisang di sampingku, kok sudah menghilang begitu saja.

Brukkk…

Aku mendengar suara seperti barang besar jatuh di ruang depan lobi. Dan, ada suara teriakan. Aku pun kemudian melesat ke depan menuju ke suara itu.

“Astagfirullah, Tia kamu kenapa?”

Tia sang wanita tangguh itu, aku melihatnya sudah terjatuh. Tubuhnya terlentang seperti tak berdaya, padahal barusan dia meledekku. Beberapa teman pun menghampirinya. Semua orang hanya terdiam di situ. Aku teriak meminta tolong, “Sahabatku pingsan, tolong dia!” Tapi, tak ada sahutan pun dari mereka. Mereka hanya berdiri, aku merasa bingung dengan keadaan ini. Aku terus menarik tubuh orang-orang yang menghampiri sahabatku itu. Tidak ada respon sama sekali, mereka hanya berdiri. Aku mencoba membangunkan sahabatku sendirian, meski banyak mata di sekitarku hanya melihatku.

“Alhamdulillah, kamu bangun, Tia.” Aku bersyukur Tia bangun setelah aku oleskan minyak angin di hidungnya.

“Aku kenapa?” Tia bangun dengan wajah yang sangat bingung.

“Kamu pingsan.”

“Nay, maafkan aku.” Tia lalu berlari ke ruangan produksi. Aku heran dengan anak itu mengapa seperti tidak ada sesuatu, padahal kan habis pingsan. Dia pergi berlalu seperti orang sehat.

*****

Tia tersenyum kepadaku, binar matanya juga terlihat cerah. Kali ini, kita makan berempat, bersama Tere dan Noe. Keduanya adalah teman satu pabrik. Mereka ada dibagian kantor. Meski ibaratnya mereka adalah atasanku, tapi kami berempat sudah sangat akrab bahkan kita sudah seperti saudara.

Baca Juga:   Bekal Nasi Goreng Buatan Ibu

“Nay, kamu mau makan apa?” Tangan Tia mengulurkan sebuah menu makanan kepadaku.

“Ayam lada hitam kayanya enak, ya?” Aku tahu itu menu andalan Tia.

“Cie, kok samaan, sih?” Tia memonyongkan bibirnya. Aku tidak tahu mengapa aku ingin memesan menu yang sama dengan Tia.

“Tere, Noe, kalian pesen apa?” Suara Tia memang sangat keras, maklum dia terbiasa teriak-teriak di meja produksi. Sampai-sampai suara Tia itu membuat Tere dan Noe kaget bukan main.

“Aku ikut sajalah, biar enak ikut saja.” Akhirnya, kita berempat pesan menu yang sama. Ini mungkin juga tidak seperti biasanya, biasanya kita selalu memesan menu yang berbeda. Kelakuan konyol kami kalau memesan menu yang berbeda, agar bisa mencoba semua menu di sini. Tapi kali ini, menu kita sama dengan Tia.

“Minumnya juga sama, ya? Biar aku tidak ribet nyatatnya. Hahaha…” Terdengar suara Tia kali ini terkekek-kekek.

Tidak berselang lama, semua menu makanan yang kami pesan tiba.

“Hore, makanannya sudah datang!” Tia terlihat begitu bahagia. Aku melihat Tia waktu itu, wajahnya tampak bahagia sekali. Tia selalu tersenyum dan tertawa.

“Aku harus makan banyak, biar nanti kalau aku pergi jauh. Aku tidak kelaparan.”

“Tia kamu ngomong apa, sih?” Kali ini aku menegurnya dengan keras.

Pyaarrr.. Tiba-tiba gelas yang Tia pegang jatuh diantara aku dan dia.

“Nay, maafkan aku.”

Setelah kata-kata itu, Tia mulai pergi. Dia menghilang lenyap. Meski dia sempat tersenyum kepadaku. Tubuhku tiba-tiba bergetar sangat kencang. Sayup aku dengar.

“Nay, Nay, Nay, bangun!”

“Astagfirullah, semua ini hanya mimpi.” Aku mengedipkan mataku yang masih terasa berat untuk bangun. Aku melihat, Ibu sudah ada di sampingku. Beliau terlihat cemas.

“Kamu, mimpi apa? Kok, teriak-teriak kaya gitu?”

“Aku mimpi, Tia, Bu. Dia, terlihat sehat. Aku mimpi saat waktu kita sama-sama dalam satu atap di pabrik. Semua terlihat sangat nyata, dia tersenyum kepadaku.”

Baca Juga:   [CERNAK] Penulis Cilik

“Ya, Allah. Padahal kemarin, kamu habis menengok dia, kan?”

“Iya, dia hanya berbaring. Menyebut namaku saja, terbata-bata.”

Gawaiku bergetar, aku cepat-cepat membukanya. Pesan dari Noe. ‘Nay, teman kita,’

Aku cepat-cepat menelepon Noe.

“Noe, maksudnya apa?”

“Nay, Tia meninggal. Sekarang, jenazah masih di Rumah Sakit.”

“Innalillahi wa’innailaihi roji’un.” Aku langsung lemah tak berdaya, seperti ini mimpi yang ada di hidupku.

“Kamu tidak sedang berbohong, kan?” Aku memastikan berita ini lagi kepada Noe.

“Tidak, sahabat kita sudah berpulang, Sayang.” Suara Noe yang terdengar seperti menangis.

“Noe, pastikan lagi. Beritanya salah atau tidak? Mungkin Tia baru di bawa ke Rumah Sakit karena lagi kontrol.”

“Nay,,,” Tanpa berpamitan aku mematikan telepon Noe. Kemudian aku langsung mencari jilbab, dan tanpa mencuci muka, aku melesat ke Rumah Sakit. Aku ingin memastikan berita ini.

Tidak sampai 10 menit aku sudah sampai Rumah Sakit. Aku menuju ruang jenazah. Kalau belum sampai dua jam jenazah pasti masih di sana. Aku melihat di depan koridor ruang jenazah, suami Tia tampak tidak berdaya. Di dekatnya aku melihat Ibu Tia yang menangis tanpa henti. Aku langsung memeluknya.

“Maafkan semua kesalahan, Tia. Tia sudah tenang di sana.” Ucapan kata permohonan maaf dari seorang Ibu kepada teman dari anaknya. Aku pun hanya mampu mengangguk, karena memang bibirku tidak mampu berkata apa-apa. Suasana duka ini telah melarutkanku dengan tangisan kehilangan.

Tia, ternyata mimpiku siang bolong ini adalah caramu berpamitan kepadaku. Semoga kamu bahagia di sana Tia, setelah perjuanganmu melawan penyakit ini selama bertahun-tahun. Aku sudah memaafkanmu, karena kata maafkan aku adalah pesan terakhirmu yang sering kamu ungkapkan di dalam mimpi. Selamat jalan. *)

Ditulis oleh: Sifa Dila

Reviewer: Jack Sulistya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *