[Cerpen} Permintaan Terakhir

“Siapa suruh kamu tidak menuruti ibumu?”

Pisau yang kupegang kugerakkan lebih cepat. Bunyi tuk tak tuk pisau yang berhasil mencacah-cacah bawang merah beradu dengan talenan kayu berusia sepuluh tahun. Mulutku sengaja kukunci rapat-rapat. Jika tidak begitu, dapur akan menjadi arena perang mulut sebentar lagi.

“Bawang merahnya mau seberapa banyak?” Cepat-cepat, arah pembicaraan pagi ini kualihkan.

“Kalau kau dulu percaya apa kata Ibu, pasti sekarang kamu sudah punya pekerjaan tetap, gaji tiap bulan, dan bisa belikan Ibu macam-macam barang.” Rupanya pengalih perhatian yang terlontar dari mulutku tak menampakkan hasil.

Emosiku mulai melesak-lesak. Kepalaku rasanya ingin menumpahkan kalimat balasan lebih panjang, dan lebih menyerang. Tapi tidak, aku pilih diam saja. Diam terkadang menyelamatkan. Meski tampak di luar sebagai sebuah kekalahan, diam tetap lebih baik daripada perang. Apalagi, perang dengan ibumu sendiri. Kualat kau nanti! Mungkin bakal kena damprat malaikat di pintu surga. Jika kaki ibumu saja tak kau dapatkan, bagaimana bisa pintu surga yang itu dibukakan lebar-lebar oleh malaikat?

Kucing-kucing mengeong-ngeong di kakiku. Bibirku sedikit menyunggingkan senyum, sebagai sebuah tanda terima kasih untuk kucing-kucing penyelamatku pagi ini. Setidaknya, mereka bisa menjadi sebuah alasan untuk meninggalkan dapur.

“Pus, mau makan? Ayo keluar….”

Tiga ekor kucing mengikutiku di belakang. Ibu mengomel karena kutinggalkan, tapi tidak kudengarkan.

***

Aku tidak benar-benar memberi makan kucing di luar pintu rumah. Aku memang memberi mereka makan di luar. Lebih tepatnya, jauh dari rumah. Saat kelaparan, kucing-kucing akan mengikutimu ke mana pun kau pergi membawa makanan untuk mereka. Kecuali, mereka telah mendapatkan makanan yang lain di tengah jalan.

Kau tahu ke mana aku membawa pergi kucing-kucingku?

Di belakang rumahku ada sebuah kebun pisang. Tapi tidak, aku tidak memberi makan kucing-kucingku di sana. Kebun pisang bukan tempat favorit kucing-kucing untuk makan. Di sana tempat menyenangkan buat kucing untuk buang hajat, bukan untuk makan. Di belakang kebun pisang, ada sebuah musala kecil yang muat untuk menampung jemaah salat penduduk satu RT. Lagi-lagi, jika kau menganggap aku hendak memberi makan kucing-kucingku di sana, kau juga salah. Mengotori musala dengan makanan kucing adalah perbuatan tidak terpuji. Takmir musala yang galak akan memarahi dan menyuruh mengepel lantai.

Satu tempat di belakang musala, adalah satu-satunya tempat yang kupilih untuk memberi makan kucing-kucingku. Sebuah kompleks tanah pekuburan cukup luas. Tidak, tidak. Aku tidak membawa kucing-kucingku masuk. Cukup kuletakkan makanan di atas daun pisang kering yang tadi kutemukan di kebun pisang. Kuletakkan di dekat pintu gerbang pekuburan. Kucing-kucingku dengan senang hati kutinggalkan di sana menghabiskan makanan. Sementara aku? Aku masuk ke dalam.

Di sana, di salah satu sudutnya, lima tahun lalu, seorang yang kusayangi telah menyatu bersama tanah. Bersama bumi.

Lima tahun berlalu dengan cukup emosional bagiku, juga bagi ibuku. Dua orang wanita yang usianya terpaut jauh, dengan sudut pandang pemikiran benar-benar sama jauhnya, sama-sama keras, dan tak pernah akur, mencoba hidup bersama dengan tenang. Kadang berhasil. Lebih sering, gagal.  Pertengkaran lebih sering ditemui di rumah yang seharusnya tenang. Kalau kau ingin membuktikan betapa rumitnya makhluk bernama wanita, hiduplah bersamaku dan ibuku. Hal-hal sepele macam bagaimana seharusnya meletakkan pot bunga, di sini atau di situ, bisa membuat kami saling diam seminggu lamanya.

Sebelum lima tahun terakhir, selalu ada wasit di antara kami. Sekarang tubuhnya sudah tak ada di permukaan bumi. Jiwanya sudah tak bisa kuajak bicara. Hanya rindu yang mampu aku temui.

“Kakek….” Kuhela napas panjang-panjang.

Aku ke sini bukan untuk menangisinya. Bukan pula untuk memintanya kembali lagi bersama kami. Juga bukan mengadukan apa yang tadi dikatakan Ibu kepadaku.

Setidaknya, mendatangi makam Kakek membuatku mengenang kata-kata baik yang pernah dilontarkan Kakek selama hidupnya. Setidaknya, area pekuburan membuatku merasa tak ingin minta macam-macam selama hidup di bumi. Setidaknya juga, area pekuburan ini sepi, membuat pikiran jernih cepat kembali pulang ke peraduannya.

***

“Mengapa begitu?” Kakek berdiri di depan pintu kamar. Tangan kanannya memegang kusen pintu, tangan kirinya berkacak pinggang.

“Aku benci Ibu!” Tubuhku meringkuk di pojok kamar, sesenggukan di atas kasur.

“Mengapa begitu?” Kakek selalu mengulang-ulang pertanyaan, selama pertanyaannya belum dijawab.

“Mengapa aku harus jadi anak Ibu?” bukan jawaban, itu kalimat gugatan.

“Mengapa begitu?”

Ah! Kakek benar-benar teguh pendirian.

“Tadi Ibu bilang aku bukan anak diuntung,” makin terisak aku rasanya, “memangnya aku juga untung jadi anak Ibu?”

“Lalu, kau bilang apa pada ibumu?” tetap tenang, Kakek tak terbawa suasana.

“Aku bilang, Ibu lebih tak diuntung!” Kesal sekali aku rasanya.

Kakek meletakkan kepalan tangan kirinya di atas kening. Tangan kanannya masih menyangga di kusen pintu. Tak lama, Kakek menghampiriku.

Sambil mengelus kepalaku, Kakek berkata, “Tak seharusnya kau bilang seperti itu pada ibumu sendiri.”

“Kek, aku hanya membela diri. Aku pulang malam bukan pacaran, bukan pula tidur dengan teman lelakiku. Aku hanya pergi ke kafe di sudut kota, menulis. Salah, ya?” isakanku makin berkurang sekarang. Berganti menjadi nada-nada bicara penuh emosi.

“Bagaimanapun ibumu, ibu tetaplah ibu. Mau dia baik atau jahat menurutmu, atau bahkan menurut orang-orang, dia tetap ibumu, kan?”

Kakek tak pernah berbicara menghentak-hentak, baik kepadaku maupun kepada Ibu, anaknya sendiri. Kakek selalu menanggapi segala sesuatu dengan tenang, setenang seekor penyu yang berenang melengang di lautan.

“Nak, sebelumnya kita tak pernah tahu akan hidup sebagai siapa, menjadi anak siapa, berada di keluarga seperti apa. Iya, kan?” Kakek berhenti di situ, menungguku mengangguk. Menunggu isakanku semakin berkurang.

“Apakah aku memang bukan anak diuntung?” pikiran burukku menghampiri lagi.

Kali ini, Kakek malah tertawa. “Haha, kalau kau anak tak diuntung, Kakek bukan orang bahagia. Nyatanya Kakek bahagia, setiap hari bisa bertemu denganmu, mengobrol banyak hal denganmu, berkelakar denganmu setiap waktu.”

Kata-kata yang meluncur dari mulut Kakek, selalu berakhir dengan kelegaan di dalam dada.

***

Pohon kamboja tinggi-tinggi meneduhkan hari yang semakin terik. Lambang sebuah kehidupan baru bagi mereka yang sudah meninggal. Apakah kehidupan baru Kakek di bawah permukaan bumi lebih baik daripada kehidupan Kakek di atas bumi?

Aku tak ingin menebak-nebak bagaimana rasanya jadi Kakek selama hidupnya. Kakek bukan orang kaya, bukan orang berpengaruh, tapi dia orang baik. Aku tahu pasti itu. Meski Kakek bilang, dia dulu bukan orang baik.

Aku tak pernah berandai-andai Kakek kembali lagi bersamaku. Aku memang berharap Kakek hidup kembali dengan baik, tapi tidak sekarang. Nanti saja, kalau seluruh dunia telah berakhir. Aku pun ingin hidup bersama dengan Kakek nanti.

Kakek bilang, aku tak boleh berandai-andai. Karena apa yang kuandaikan, itu bukan milikku. Milikku, bisa saja adalah sesuatu yang diandaikan oleh orang lain. Dan aku tak pernah tahu itu.

Kakek bilang, aku tak bisa memilih lahir dari rahim siapa. Aku tak bisa memilih, harus lahir dengan cara seperti apa.

Kakek bilang, setiap orang yang kubilang jahat, selalu punya sisi baik. Setiap orang baik, punya sisi buruknya masing-masing. Tak ada yang putih bersih, tak ada yang hitam kelam. Tiap manusia selalu punya bercak-bercak dengan warna sebaliknya.

“Ah, aku bahkan masih mengingat setiap detail kata-kata yang pernah kau lontarkan kepadaku, Kek….”

Aku masih berada di makam. Sampai, seekor kucingku mengeong di kakiku. Tanda bahwa dia sudah kenyang dan ingin pulang, namun tak ingin pulang tanpa majikannya.

Kucing kembang telon itu menggoyangkan ekornya, berjalan meninggalkanku. Sekarang, gantian aku yang  mengekornya pulang ke rumah.

***

“Habis dari mana, kamu?” Ibuku sudah berpakaian rapi. Sekarang dia tengah memoleskan bedak di wajahnya.

Kuakui, meski telah masuk usia kepala empat, Ibu benar-benar wanita yang menarik. Wajahnya oval, hidungnya mancung, dagunya terbelah. Itu semua tanpa operasi plastik. Tubuhnya pun, masih langsing dan semampai.

“Dari tempat Kakek.” Ibu seketika diam mendengar jawaban yang terlontar dari mulutku. Tak ada komentar apapun keluar dari mulutnya.

Tiin! Tiin! Tiin!

Sebuah mobil BMW silver berhenti di depan pagar. Ibu buru-buru memoleskan lipstik, kemudian bergegas keluar tanpa berpamitan padaku. Aku diam saja, menghela napas panjang-panjang. Hendak marah, tapi aku lelah marah-marah.

Aku tidak tahu lelaki mana lagi yang mengajak Ibu keluar. Sudah puluhan, bahkan ratusan lelaki telah menidurinya. Bahkan dia tidak tahu, aku anak dari lelaki yang mana. Katanya, mungkin aku anak dari seorang pengusaha Arab yang suatu waktu, ketika puluhan tahun lalu, menidurinya.

Suatu ketika, Ibu pernah menawarkanku kepada seorang lelaki yang pernah menidurinya,untuk dipekerjakan di kantornya. Aku menolak mentah-mentah. Aku memang tak dilahirkan dari sebuah hubungan yang suci. Namun aku masih punya harga diri.

Ah, kalau bukan karena Kakek, aku pasti sudah kabur jauh dari rumah ini.

Sebuah pertanyaan pernah terlontar pada Kakek ketika ibu berulah menganggu suami tetangga. “Mengapa kakek tak mengusir Ibu dari rumah?” tanyaku.

Kakek terdiam lama sebelum menjawab, “Kalau ibumu Kakek usir dari rumah, apa untungnya buat Kakek?”

“Setidaknya Kakek bisa hidup dengan tenang, bukan?” pikirku.

“Ibumu, dan juga kamu, adalah tanggungjawab Kakek. Biar bagaimana pun, Kakek tak akan mengusir kalian dari sini.”

“Ibu hanyalah benalu, Kek!” mataku mulai berkaca-kaca.

“Meski begitu, dia adalah ibumu. Dan ibumu adalah anak Kakek, bukan?”

Aku terdiam, tak bisa berkata-kata lagi. Sudah habis usaha Kakek untuk membuat Ibu menyadari kesalahan-kesalahannya. Aku tahu, Ibu memang sudah terlanjur keras seperti tebing batu karang. Hanya goncangan teramat kuat yang mampu meruntuhkannya habis. Dan sampai sekarang, goncangan itu belum muncul juga. Bahkan, kematian Kakek tak sedikitpun mampu menggoncangkan hati Ibu.

“Berjanjilah kepada Kakek,” Kakek melanjutkan kalimatnya.

“Janji apa, Kek?”

“Jika nanti Kakek meninggal, dan kamu belum punya keluarga, jangan pernah kabur dari rumah. Perlakukan ibumu dengan baik. Doakan dia setiap hari.”

Dan permintaan Kakek itu, adalah satu-satunya hal yang membuatku bertahan di sini sampai sekarang. Tak peduli sesakit apa perlakuan Ibu terhadapku. [Selesai]

Ditulis oleh: Putri Marulia

Reviewer: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *