[Cerpen] Pepecak Lele

Hujan di akhir Desember turun lagi. Masih seperti tahun-tahun yang lalu, disertai angin dan guntur yang bersahutan. Saat hujan seperti ini, aku selalu mengingat kenangan tentang pepecak lele, manakala kami duduk di atas gelaran tikar pandan, memandang pilu makanan yang tak pernah kami harapkan.  

Sore itu tiba-tiba hujan turun, saat ketiga abangku membawa pulang sejumlah ikan lele hasil tangkapan mereka di sungai. Aku dan Ibu menyambut mereka di ambang pintu dapur. Kendati wajah Ibu dihiasi kerutan, ia tersenyum lalu berujar; “Ibu akan membuat masakan istimewa kesukaan kalian.”

Tiga puluh lima menit kemudian kami duduk melingkar pada tikar pandan yang digelar di lantai tanah. Lele bakar ada di tengah-tengah, mengepulkan asap tipis beraroma jahe dan jeruk nipis–pepecak lele, demikian Ibu menyebutnya. Tetapi aku tak melihat boboko, wadah nasi terbuat dari bambu yang menjadi andalan Ibu. Aku bingung, sepertinya itu pula yang dirasakan ketiga abangku; Ewod, Ugeng dan Bowo.

“Malam ini kita tidak akan makan nasi,” tutur Ibu, seperti paham kebingungan dan pertanyaan yang berjejal di kepala kami. “Kita makan ini saja dulu.”

Melihat kami bergeming, Ibu terdiam, memandangi lontong dan pepecak lele, lantas memerhatikan wajah kami satu persatu. Tiba-tiba keceriaan di wajahnya memudar. Keriput dan tulang pipinya terlihat semakin jelas tergambar. Tangannya yang legam membelai kepalaku, si bungsu yang belum genap enam tahun. Sementara di luar, rinai hujan menderas menghadirkan nuansa yang teramat khas; ngelangut dan pilu. Suara guntur bersahutan, mengantarkan kilat yang menerobos sela-sela dinding papan.

“Ini palencot, lontong yang dIbuat dari ketela parut.” Ibu menjelaskan.

“Ibu nggak sempat masak, ya?” tanya Ugeng, abangku yang nomer dua.

Ibu memandang Ugeng yang usianya terpaut empat tahun di atasku, lalu tersenyum walau terlihat hambar. “Bukan tidak sempat masak, Geng. Ibu memang tidak menanak nasi,” ujarnya dalam bahasa Sunda yang kental. “Maaf, sekarang Ibu harus jujur sama kalian. Tadi pagi, Ibu menanak beras terakhir yang kita punya.”

Dalam sekejap, duniaku yang penuh bunga berwarna-warni berubah menjadi padang gersang dan kerontang. Rasa kecewa yang luar biasa tiba-tiba menyergap dan menyesaki rongga dada. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ketika kulihat wajah Ibu yang semakin sendu, hatiku pilu dan sangat nelangsa. Aku ingin menangis.

Aku ingat, tiga pagi sebelum hari itu, di pagi hari sebelum ketiga abangku berangkat ke sekolah. Ibu menyuguhkan nasi putih yang dicampur biji kedelai dan jagung muda. Rasanya enak dan gurih. Dua hari sebelumnya, berturut-turut Ibu menyampur nasi dan kacang hijau. Lalu satu minggu sebelumnya, kami makan nasi ketan yang dicampur kacang merah. Baru sore itulah aku mengerti. Ternyata Ibu memiliki alasan tersendiri, mengapa ia selalu menyampuri nasi dengan kacang atau jagung. Aku yakin, itu bukan semata-mata menu terbaru hasil kreasi Ibu. Bukan sama sekali! Oh Ibu, aku sangat paham. Ibu memang luar biasa!

Sekali lagi kulihat wajah Ibu yang redup. Genangan bening mengambang di kedua bola matanya yang berpendar tertimpa cahaya sentir di dinding ruangan. Aku merasakan suasana yang sangat asing. Ada sesuatu yang menusuk-nusuk di ulu hati. Dalam waktu bersamaan, aku merasakan perih di perut. Sungguh, aku lapar. Hampir tak sadar aku berbisik pada Ibu: “Imur mau makan, Bu. Tapi makan nasi….”

Ewod memandangiku dan bertukar pandang dengan kedua abangku. Aku benar-benar merasa bersalah dan merasa mereka tengah menghakimiku. Aku menangis dalam diam. Suasana teramat kaku ketika kebisuan tercipta. Yang terdengar hanya suara hujan menimpa atap seng dan guntur yang masih bersahutan.

“Maafkan Ibu. Hanya ini yang bisa Ibu kasih,” ujar Ibu beberapa saat kemudian. “Ibu janji, kalau Minggu besok Bapak pulang, kita akan makan nasi lagi.”

“Sekarang masih Kamis, Bu,” kata Ewod–abang ketiga, seperti mengingatkan.

“Sekarang kita makan yang ada saja dulu.” Suara Ibu bergetar. Ada butiran bening di kedua pipinya. Rasa kecewa di hatiku menjelma rasa haru dan ngenes. Aku terenyuh luar biasa. Dadaku semakin disesaki berbagai rasa yang hadir dalam waktu bersamaan. Kenapa ini terjadi, ya Allah? Apakah Bapak dan Ibu terlalu miskin?

Aku pernah mendengar cerita dari bapak. Belakangan hasil panen padi sawah dan ladang tidak terlalu bagus. Palawija juga tidak memberikan banyak harapan di musim kemarau yang melanda kampung kami hampir dua musim berturut-turut. Tapi… mungkinkah Bapak dan Ibu tak memiliki simpanan? Ah, entahlah.

Ibu menyeka air mata menggunakan ujung jarik yang dikenakannya. Anak rambut yang memutih jatuh di kening dan pipinya. “Allah sedang menguji kita,” ujarnya pelan dan tertahan. “Simpanan kita sudah habis. Ibu sudah mencoba mencari uang tambahan. Bahkan berulang kali pinjam sama tetangga. Tapi… mereka juga sama.”

Aku benar-benar sedih. Tak tega rasanya melihat Ibu menangis. Hatiku teriris-iris. Perih tak berkesudahan. Kalau saja bisa, aku ingin berteriak saat itu juga.

Kembali mata Ibu menyusuri wajah kami. “Ibu sangat berterima kasih jika kalian bisa mengerti dan mau menerima keadaan,” ujarnya terbata di antara isak yang tertahan. “Satu yang harus selalu kalian ingat, cinta Ibu pada kalian melebihi apa pun di dunia ini. Ibu selalu memohon pada Gusti Allah, jika kalian sudah dewasa kelak, jangan sampai mengalami semua ini. Cukup Bapak dan Ibu saja.”

Sejujurnya, aku tak ingin melihat air mata jatuh lebih banyak lagi di pipi Ibu. Ingin rasanya aku memeluk dan menyapu butiran bening yang meleleh di kedua pipinya yang keriput. Aku ingin menunjukan pada perempuan lampai itu bahwa aku sangat mengerti apa yang ia rasakan. Namun … lagi-lagi aku hanya mampu terdiam, terpaku di pangkuannya. Seluruh tulang-tulangku seperti rontok. Tubuhku lunglai.

“Kita harus bisa bersyukur karena Allah masih memberikan ini semua, kita masih bisa makan. Coba lihat di luar sana, masih banyak orang yang tak bisa makan sama sekali. Kita masih beruntung dibandingkan mereka, kan?” Sangat tampak dengan jelas, Ibu berusaha untuk tegar, berusaha menyembunyikan air mata dan nada sumbang. “Kita makan sekarang, ya? Tidak baik membiarkan makanan menjadi dingin.”

Kami masih diam. Hanya bisa menatap pepecak lele yang mulai dingin dan empat lontong ketela pohon itu. Entahlah, rasanya bukan itu makanan yang kami harapkan. Aku tak memiliki kekuatan dan keberanian untuk mengambil makanan di depanku. Bowo, abangku yang nomer satu, Ugeng dan Ewod sepertinya juga merasakan hal yang sama. Baru kemudian kami bereaksi sesaat setelah Ibu membagikan lontong itu pada kami–meskipun kami masih enggan menerima dan menyantapnya.

“Kalian tidak sayang sama Ibu? Semua sudah Ibu siapkan, tapi tak ada yang mau makan.” Ibu merajuk–atau mungkin tengah protes–pada kami. 

Ya, sangat wajar jika Ibu protes. Seharusnya kami berterima kasih padanya, bukan justru mengabaikan dan menolak makanan yang sudah ia buat dengan susah-payah. Itu terlalu kejam! Percayalah, Bu. Bukan itu yang ada di pikiran kami.

“Ayok makan, keburu dingin,” bujuk Ibu lagi, sabar.

Aku tahu Ibu sedang berusaha melupakan kesedihan. Aku yakin, Ibu tak ingin terlihat rapuh. Tetapi sepintar apa pun Ibu berusaha menyembunyikan semua itu, kami bisa membaca sinar matanya. Kami bisa merasakan kesedihan itu.

Kulihat Bowo, abangku yang sudah duduk di kelas satu SMP hanya tertunduk. Aku tahu dia bersedih, aku tahu dia menangis. Jika dia saja bisa meneteskan air mata, bagai mana dengan aku yang lemah ini? Rasanya aku tak akan mampu. Melihat abangku bersikap begitu, sesak di dadaku semakin menjadi. Aku ingin menangis kuat-kuat. Tetapi tetap aku tahan. Aku tak ingin membuat Ibu bertambah sedih.   

Entah karena terlalu lapar atau kami tak ingin melihat Ibu bersedih lagi, beberapa saat kemudian kami menyantap masakannya yang istimewa. Perpaduan pepecak lele yang pedas dan lontong ketela pohon yang gurih, rasanya sungguh nikmat. Aku rasa, itulah makanan paling istimewa yang ada di dunia.

Saat kami mulai makan, aku tak henti mengucap syukur pada Allah, kerena sudah memberikan makanan yang nikmat. Telah memberikan Ibu yang luar biasa untuk kami, Ibu yang aku banggakan dan aku sayangi melebihi apapun di dunia ini. Aku meminta pada Allah untuk memberikannya umur panjang, sebab jika suatu hari aku punya uang, aku berjanji akan membawa Ibu, bapak dan abang-abangku ke restoran termewah, menyilakan memilih makanan terlezat yang mereka sukai.

Aku baru menyadari kalau Ibu hanya memperhatikan kami. Mengapa Ibu tak ikut menikmati masakan yang ia buat dan tak ikut merasakan ikan hasil tangkapan abang-abangku. Saat itu aku berpikir, jangan-jangan benar jika Ibu tak memiliki makanan lain selain empat bungkus lontong yang terbuat dari ketela pohon itu. Jangan-jangan itu makanan terakhir yang Ibu punya. Ya, Allah ….

“Kalian makan saja dulu, Ibu gampang nanti saja. Lagi pula Ibu masih kenyang,” jawab Ibu masih sambil menyuapiku. “Habiskan saja makanan kalian.”

Aku bersyukur, sepertinya abang-abangku tidak terlalu terbawa emosi. Yah, mereka memang masih terlalu kecil. Belum seharusnya paham persoalan orang dewasa. Lalu, apa bedanya dengan aku? Apakah aku sudah layak mengerti kesedihan dan persoalan rumah tangga melebihi mereka hanya karena aku anak perempuan?  Entahlah! Yang aku tahu, aku bersyukur pada Allah karena aku bisa paham, bisa mengerti dan bisa merasakan apa yang Ibu rasakan saat itu, bahkan mungkin lebih dari yang Ibu tahu.

Ibu tersenyum memandangku. “Ini lebih dari cukup untuk kami berdua. Kata Nini, perempuan tidak boleh perutnya buncit. Jelek. Hehe.”

Ya, Allah. Dalam situasi seperti itu, bagaimana mungkin Ibu masih bisa mencoba tertawa dan menyembunyikan kesedihannya. Ibu benar-benar hebat. Luar biasa! Aku bangga dan sekaligus amat terharu melihat semuanya. Ibu tersenyum memerhatikan kami. Sungguh, aku senang Ibu bisa tersenyum lagi dan mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi. Tetapi saat itu aku yakin, hati Ibu masih sedih. Bahkan mungkin lebih dari sekadar sedih.

“Hari ini atau besok, mungkin kita tak punya nasi. Tapi kita masih punya banyak cinta. Ini yang membuat Ibu bahagia dan bangga sama kalian.”

***

Dulu, aku tak pernah paham, mengapa saat itu semua keadaan berubah?  Yang aku tahu, banyak tetangga desa yang tak pergi ke sawah dan ladang seperti dulu lagi. Banyak tanaman kering dan padi puso tak bisa dipanen. Ladang-ladang gersang.

Berbondong-bondong para tetangga mencari pekerjaan lain di suatu tempat yang lebih bisa menghasilkan uang, menjadi buruh perkebunan karet dan kelapa sawit. Tak terkecuali bapak. Sejak sawah kami tidak lagi menghasilakn gabah bagus dan pohon kopi tak lagi menebarkan harum bunganya di pagi hari, sejak itu pula Bapak sudah bekerja menjadi buruh di sebuah perkebunan bernama Tutut. Jaraknya sekitar enam jam perjalanan dari kampung kami, Kuala Tadu, Aceh Barat.

Setiap kali pulang, bapak membawa bahan makanan berupa beras, ikan kaleng, lauk-pauk, susu kental manis dan juga jamur pohon karet yang rasanya gurih dan renyah. Tetapi yang dibawa Bapak tak cukup untuk persediaan selama sebulan ke depan. Buktinya, Ibu sering tak memiliki persediaan makanan di dapur.

Dulu semuanya baik-baik saja. Bapak dan Ibu mempunyai sawah dan ladang yang subur. Juga memiliki sedikit kebun kopi yang bisa dipanen setiap saat. Selain bisa menjadi tambahan uang belanja, bagiku, kebun kopi itu mampu memberikan nuansa indah yang penuh makna ketika menghirup aroma bunganya.

Memang, setelah itu hampir sebagian besar ladang kami sudah ditanami kelapa sawit. Saat kisah sedih itu terjadi, umur kelapa sawit hampir tiga tahun. Kata Bapak, itu untuk tabunganku dan ketiga abangku. Waktu menanam tiga tahun sebelumnya, Ugeng dan Bowo masih duduk di kelas satu dan tiga SD. Dalam usia enam tahun ke depan, kelapa sawit sudah bisa dipetik buahnya dan bisa dijual ke beberapa tauke. Lalu saat mereka duduk di SMP dan SMA, Bapak sudah mempunyai bekal untuk itu.

Semakin lama kami bisa mengerti keadaan, bahkan semakin merasa terbiasa. Setelah kami remaja dan Bapak pergi untuk selamanya, Ibu selalu mengingatkan kami bahwa hidup adalah sebuah perjuangan. Hidup bukan untuk mengharap dan berpangku tangan menunggu keajaiban datang. Hidup tidak akan berubah dengan sendirinya, tanpa niat dan tekad kuat untuk mengubahnya.

Ah, kalimat-kalimat itu begitu bermakna. Kurasakan betapa berguna. Terlebih sekarang, ketika aku sudah berkeluarga. Selalu kuajarkan kepada kedua anakku apa pun yang aku dapat dari Ibu. Sebab bagiku, setiap kata Ibu adalah ajimat yang akan selalu menjadi inspirasi dan motivasi dalam menjalani hidup.

Berkat doa Ibu, meskipun dengan susah-payah aku bisa menyelesaikan sekolah hingga S1. Bekerja sebagai kepala cabang di perusahaan farmasi dan mendapatkan suami yang luar biasa serta dikaruniai dua putri yang manis dan lucu–mereka memiliki mata dan senyum Ibu. Kuntum dan Sekar kuharap kelak bisa seperti Ibu.

Kami hidup bahagia tak kekurangan suatu apa. Lalu, di saat-saat seperti ini, kerap muncul keinginan untuk mengundang Ibu dan ketiga abangku ke rumah atau restoran. Menikmati makanan terlezat, seperti janjiku. Atau… membuatkan mereka pepecak lele dengan resep yang kudapat dari Ibu dahulu. Aku tahu ini tak akan bisa membayar semua yang pernah Ibu berikan padaku, tetapi setidaknya ia bisa menikmati makanan yang dibayar dari hasil jerih payah anak yang ia didik dengan baik.

Di saat-saat hujan seperti ini aku selalu merindukan kehadiran perempuan bermata sayu itu. Aku ingin bersamanya memandang guyuran hujan dan menikmati suara guntur yang kerap datang–mengulang kebersamaan dalam suasana syahdu. Namun, ini tak mungkin!

Kutuliskan kisahku ini saat kunikmati pepecak lele dalam sendiri, kuracik dan kunikmati sendiri, saat rindu pada Ibu terlalu memuncak. Kuntum dan Sekar ada di ibu kota. Kini mereka sudah remaja, sebentar lagi menyandang gelar sarjana seperti yang Ibu inginkan dariku. Ayah mereka, mengemban tugas di luar kota.

Aku ingin Ibu membaca kisah ini, tetapi aku tak tahu harus bagaimana menunjukannya. Atau kukirimkan saja? Kurir atau pegawai pos mungkin bisa membawanya ke pusara Ibu, tetapi tidak pada Ibu. Bagaimana dengan hujan dan guntur, bisakah mereka mengantarkannya? Entahlah! Saat ini aku hanya bisa berdoa, semoga Ibu bahagia di surga sana, menunggu kami datang menemui.*)

Ditulis oleh: Redy Kuswanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *