[Cerpen] Orak-arik Kak Nila

“Enak, kok, Ma.  Cuma rasanya beda sama bikinan Kak Nila.”

Aku menyesal memiliki wajah yang terlalu jujur. Seperti yang Kak Nila pernah bilang.  “Mukamu nggak bisa bohong. Kamu sedang senang atau marah, Kakak bisa langsung tahu.”

“Mama yakin, kok, kalau ini enak. Tapi Mama sudah nggak tahu lagi apa yang kurang, karena bumbu orak-arik ya seperti ini. Kan, Mama juga yang ajarin kakakmu. Masa bisa beda.”

Mana aku tahu Ma, apa saja yang dipakai untuk bumbu orak-arik, anakmu ini kan nggak terlalu akrab dengan dapur. Mungkin Kak Nila punya trik rahasia yang Mama nggak tahu.  Tapi hanya dalam hati saja aku berani bilang begitu. Kalau sampai diutarakan, bisa-bisa Mama memberikan uang sakuku tanpa tersenyum.

***

“Kak Nila kapan pulang sih, Ma?”

Mama melepas kacamata lalu memijit-mijit pangkal hidungnya. Mungkin mata Mama pegal karena sedari tadi sibuk dengan jahitannya. Atau mungkin Mama lelah mendengar pertanyaanku yang berulang untuk kesekian kalinya.

Sebenarnya aku juga sudah cukup mengerti dengan jawaban Mama yang tadi-tadi. Baru sebulan yang lalu kakakku itu pulang bersama suaminya. Kak Nila bahkan minta maaf pada Mama karena mungkin tidak bisa sering-sering pulang. “Mungkin dua atau tiga kali setahun ya, Ma,” kata Kak Nila waktu itu, yang sempat kutangkap dari balik pintu kamar mama.

“Bandung – Semarang kan, bukan jarak yang dekat, Wid. Untuk pulang juga butuh ongkos yang nggak sedikit.” Begitu jawab Mama, waktu aku menggugat mengapa Kak Nila akan jarang pulang.

“Lagi pula kakakmu itu kan, harus konsentrasi dengan skripsinya, belum lagi mengurus suami dan urusan rumah tangga lainnya.” Mama mengibaskan tangan di depan wajahku.  “Sekarang kamu belum mengerti, tapi suatu saat kamu akan tahu.”

Pasti Mama bilang begitu karena mukaku terlihat bingung. Sama bingungnya ketika Mama dan Papa mengijinkan Kak Nila menikah tahun lalu. Padahal kuliahnya belum selesai. Kak Nila juga belum setahun kenal dengan Kak Sandi. Dan bulan depan Kak Sandi akan berangkat ke London untuk sekolah lagi. Mungkin karena itu ya, mereka memutuskan untuk segera menikah?

“Kenapa, Wid?  Setahu Mama, kamu itu nggak begitu dekat sama kakakmu. Kok, sekarang nanyain terus?”

Memang, aku dan Kak Nila seperti dua kutub yang berbeda. Kami hampir tidak pernah ngobrol dengan akrab. Kalau Kak Nila menanyakan sesuatu, aku akan menjawab seperlunya.  Tapi seingatku, Kak Nila selalu menerangkan dengan sabar setiap kali aku kebingungan saat mengerjakan tugas-tugas sekolahku.

Selera musik Kak Nila mirip dengan Mama. Lagu-lagu pop yang mendayu-dayu. Dia selalu mengernyitkan muka setiap ada yang baru dari koleksi poster band rock-ku.

“Kamarmu jadi jorok, Dek, kalau penuh tempelan gitu,” katanya suatu kali.

Waktu itu, aku mengomel panjang lebar, karena poster kebanggaanku disebut sebagai ‘tempelan’. Kamar dia sendiri mirip dengan kamar rumah sakit, begitu aku menyebutnya.  Dindingnya putih gading. Hanya ada jam dinding dan kalender yang menempel di situ.  Membosankan sekali.

Pernah satu kali aku mencoba tidur siang di kamarnya. Tiga puluh menit kemudian aku bangun dengan keringat dingin. Belum pernah aku bermimpi seburuk itu.

***

“Wid, kata ibuku, bumbu orak arik memang cuma bawang putih, merica, garam. Mungkin bedanya di penyedap. Ibuku sih, nggak suka pakai penyedap,” kata Rini, sahabatku.

Aku menyimak ucapan Rini, sambil berkutat dengan butiran bakso yang bandel sekali untuk dibelah. Ih, pasti pakai pengenyal nggak jelas, nih!

Sendok dan garpu aku letakkan dengan gemas. Menyerah sajalah. Biar gigiku saja yang beraksi nanti.

“Resep Mama dan Kak Nila juga begitu. Mama juga anti pakai penyedap!”

Rini menawarkan diri untuk memotong butiran bakso di mangkukku. Sebentar saja masing-masing sudah terbelah menjadi empat. Rupanya dia memakai ujung sendok.

“Mungkin karena kamu kangen sama Kak Nila, jadi terbawa tuh, ke sensasi masakannya.”

Bisa, ya, aku kangen sama Kak Nila? Sama kakak satu-satunya yang sama sekali nggak ada mesra-mesranya. Yang nggak pernah asyik jadi teman ngobrol. Bahkan koleksi baju dia nggak mengundang selera untuk kupinjam. Tapi aku memang kangen sayur orak-arik buatan kakakku yang—harus kuakui—memang lebih manis dari aku.

“Kalau sama yang satu itu, kamu kangen nggak?” Dagu Rini terangkat ke arah pintu masuk kantin.

Rupanya anak-anak klub tae kwon do baru selesai latihan. Latihan basketku sendiri sudah selesai sejak 30 menit yang lalu. Ada Johan di antara gerombolan yang berisik itu. Pasti dia yang dimaksud Rini tadi.

“Baru sembuh kok, sudah ikut latihan, sih,” ujarku sambil mencuri-curi pandang.

Rini mengerling menggoda, “Ciee … perhatian banget ….”

Ugh! Buru-buru kulipat wajah sebelum Rini melihat muka salah tingkahku. Tahu gitu, dulu aku nggak curhat ke dia kalau aku suka sama Johan. Tapi sepertinya tanpa curhat pun Rini bakal tahu deh, dari gelagatku yang macam ulat kepanasan kalau ada Johan di radius sekian meter dariku.

“Wid, kamu yakin, yang kamu taksir itu Johan, bukan Rendy?”

Bibirku maju satu senti. “Emang kenapa? Karena Johan nggak ganteng-ganteng amat?”

“Lagian terlalu mainstream kalau aku sampai suka sama Rendy juga. Cowok idola sejuta cewek!”

Rini terkekeh sambil menoyor kepalaku. “Alaaa … bilang aja kamu nggak pede karena kalah cakep sama fansnya Rendy.  Huuu….”

Aku ikut tertawa saja. Sudah terlalu sore untuk berdebat, sudah capek. Lagi pula ada satu kisah tentang Johan yang Rini belum tahu. Atau mungkin, tak kan aku ceritakan sama sekali. Biar menjadi rahasia aku dan Johan saja.

***

“Sini, coba sesekali kamu bantu Mama masak.” Mama setengah menyeretku yang masih ingin bermalas-malas di hari Minggu pagi itu.

“Nggak selamanya kamu akan tinggal sama Mama. Katanya besok mau kuliah di Jogja.  Kudu bisa masak dikit-dikit, lah!”

Aku bergaya manja, pura-pura masih mengantuk dengan memeluk Mama dari belakang dan menyenderkan kepala di bahu Mama yang empuk.

“Minimal kamu bisa bikin masakan yang kamu suka. Seperti orak-arik. Ini, Mama sudah siapin bahan-bahannya. Kamu tinggal sreng-sreng aja.”

Mendengar kata orak-arik aku jadi tertarik. Waktu masih ada Kak Nila di rumah, aku tinggal menikmati saja sayur yang sederhana itu. Sekarang, karena urusan lidah yang sulit untuk dijelaskan, aku jadi penasaran untuk kenal lebih dekat dengan si orak-arik ini.

Di depanku ada bawang putih yang sudah diserut, merica bubuk dan garam. Sayurannya sudah dicuci bersih dan dipotong-potong. Ah, Mama, dipikirnya aku separah itu di dapur?  Sampai-sampai tidak ada lagi bagian yang bisa aku kerjakan selain mengaduk jadi satu bahan-bahan itu di wajan? Sebentar, memangnya hanya tinggal diaduk? Oh, mamaku benar, aku memang tidak tahu apa-apa.

Aku benar-benar mengikuti petunjuk perempuan yang sekarang sedang sibuk mengangkat jemuran itu. Mulai dari menumis bawang putih hingga harum sampai memasukkan sayurannya satu persatu. Aku baru tahu, kalau buncis dan wortel harus dimasukkan lebih dulu karena mereka lebih lambat matangnya, sebaliknya kubis dimasukkan belakangan karena sifatnya yang cepat layu.

Matang sudah. Rasanya enak. Aku jadi bisa sedikit berbangga. Tapi, tetap saja ada yang beda dengan orak-arik bikinan Kak Nila. Untung saja, karena sedang senang, aku tidak mau mengecewakan Mama kali ini. Wajahku penuh dengan senyum.

***

“Gimana?”

“Sama seperti yang aku bikin kemarin.”

Hari itu bekal makan siang Rini berisi menu khusus permintaanku. Apalagi kalau bukan orak-arik. Aku mencicipinya sedikit tadi.  Bekalku sendiri standard, bakmi goreng.

“Memangnya kamu kenyang cuma makan bakmi?” Rini lagi-lagi mengulang pertanyaanya setiap kali aku membawa bakmi.

“Bakmi kan, sama kaya nasi, karbohidrat juga,” jawabanku juga masih sama. Sama ngototnya juga.

“Tapi bakmi lebih lambat dicerna di lambung daripada nasi.”

Tiba-tiba ada seloroh yang menimpali perkataanku. Johan!

“Tapi paling nggak bukan mie instan, kan? Lagian masakan rumah pasti lebih sehat.  Jangan kebanyakan jajan kaya aku, nanti kena tipes!” lanjutnya lagi.

Johan yang mengambil kursi di seberang meja, menyempatkan untuk sedetik menatap wajahku yang menyemu. Karena aku mendadak jadi pendiam, untuk beberapa saat aku hanya mendengarkan obrolan antara Johan dan Rini. Kebanyakan tentang ulangan paralel fisika hari ini, yang diadakan mendadak dan bersamaan untuk seluruh kelas 10. Aku sendiri masih merasa terguncang karena fisika bagiku semacam kuntilanak berwajah sudako.

Tak lama Johan permisi setelah sebelumnya memberiku kode untuk melihat ke arah mejaku. Dari tempatku duduk di bangku Rini, terlihat sesuatu berbentuk tabung yang dibungkus kertas koran.  Aku menyimpan senyum. Aku tahu benda apa itu.

***

“Widi! Ini kakakmu mau ngomong!”

Malas-malasan aku mendekat. Sebenarnya ini sudah panggilan yang kedua kalinya.

“Apa sih, Ma. Aku lagi sibuk,” ujarku dengan muka kesal yang sengaja tak kututupi.  Wajah Mama juga tak kalah kesalnya.

“Adikmu ini sibuk nempelin poster. Iya… poster baru lagi, segede bagong!”  Mama masih saja mengoceh meski aku sudah berdiri di sampingnya. Tanganku terulur meminta gagang telepon.

“Kata Mama, kamu penasaran sama orak-arik Kakak?”

“Nggak, tuh, biasa aja.” Gengsi banget dibilang nge-fans masakan kakak. Walaupun memang iya.

“Mau tahu apa yang bikin beda?”

Aku pura-pura mendesah bosan.

“Kak, kalau mau kasih tahu tinggal bilang aja, sih.”

Di Bandung sana Kak Nila terdengar tertawa pelan.

“Bawang putihnya, Dek. Kalau mama diserut, kalau Kakak cuma digeprek, sebagian dicincang, sebagian lagi dibiarkan separuh utuh. Pokoknya digeprek!”

Jadi ternyata bawang putih yang dimasak utuhan gitu bisa memberi cita rasa yang berbeda, ya?  Kakakku memang hebat!

“Haloo…,” tegur Kak Nila ketika aku masih tak bersuara.

“Oke, makasih ya, Kak.”

“Hei, salam ya … buat Johan.”

Hah? Aku seolah bisa melihat Kak Nila sedang menyeringai di ujung sana.

“Apa sih, Kak!”

“Poster-poster di kamar kamu itu dari Johan, kan? Kalian saling tukar poster, kan?”

“Kok, tahu sih, Kak?  Jangan bilang Mama, yah!” Kali ini aku harus memelankan suaraku.

“Kakak kan, suka iseng lihat-lihat tempelan, eh, poster di kamarmu. Ada ucapan tertanda Johan di tiap-tiap ujungnya. Romantis juga ya, kalian.”

Tak sadar aku mengulum senyum lega. Sepertinya tak apa kalau Kak Nila harus tahu rahasiaku dan Johan. Toh, aku juga sudah tahu rahasia di balik orak-ariknya Kak Nila. *)

*****

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Reviewer: Rohman

1 thought on “[Cerpen] Orak-arik Kak Nila”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *