[Cerpen] Mencintai Rere

Rere bukan Morin, yang langganan jadi model sampul majalah remaja lokal.  Tidak juga seperti Netha, yang kaya raya luar biasa karena bapaknya yang pengusaha batik. Dan jauh dari sosok semacam Lupi, yang IPK-nya selalu nangkring di urutan pertama setiap akhir semester. 

Rere hanya mahasiswi rata-rata, dengan beberapa teman akrab yang memilih duduk tanpa polah di barisan tengah, dan kadang harus bersusah payah menyimak penjelasan dosen karena dia serba lambat. Lambat dalam mencatat sekaligus lambat memahami.  Tapi wajahnya selalu  terlihat tenang dan damai.

Wajah yang menurut Bowo terasa sejuk untuk terus dan terus dipandangi. Tak peduli lehernya terasa pegal karena sedari tadi selalu menoleh ke kiri.

“Udah dong noleh-nolehnya, dosennya tuh, di depan. Bukan di sebelah Rere,” ujar Toni di samping kanannya.

“Iya nih, pipi gue sampe panas,” tukas Erdi yang duduk di samping kiri Bowo.

Bowo lalu menghadap ke depan dan menyandarkan punggungnya.

“Nggak usah ngerasa-rasa gitu deh, Di.”

Erdi mengeluarkan sapu tangan dari kantung celananya kemudian menyapu pipi kanannya.

“Bukannya merasa-merasa gimana, napas lo, tuh! Berhembus-hembus ke muka gue!”

Toni spontan menutup mulutnya, tapi tak urung tawanya yang terkikik-kikik terdengar juga sampai ke depan.  Pak Dosen yang sedang berdiri menghadap whiteboard pun berbalik dan menunjuk kepada mereka bertiga.

“Kalian bertiga di situ!  Sekali lagi bikin ribut, saya suruh keluar!”

Erdi, Bowo dan Toni seketika merunduk.  Tapi Bowo masih sempat melirik sekali lagi ke arah Rere.  Usahanya berbuah senyum dan lambaian jemari dari si dia.

***

“Gue ikut menderita ngeliat lo nestapa dalam cinta gitu, Wok.”

“Bahasa lo, Di.”

Dosen mereka sudah sejak tadi keluar ruangan. Hanya tinggal beberapa mahasiswa yang ada dalam kelas. Rere juga sudah beranjak sambil memberi kode kalau dia akan menuju ke perpustakaan.

“Hahaa…, gimana, Wok? Buruan aja lo bilang ke Rere. Keburu kena asma loh, keseringan nahan napas kalau lagi deket Rere.”

Bowo menghentakkan kaki kesal. “Nggak enak gue, dia kan, berteman deket sama kita selama ini.  Kalau nanti gue ditolak trus kita jadi nggak asik lagi, gimana?”

“Lagian dia kayanya biasa banget ke gue,” kata Bowo lagi.

Tiba-tiba Erdi terkekeh. “Iya ya, ingat nggak tempo hari, dia kasih nomor hape Sita ke elo?  Sambil bilang, ‘jangan lupa traktirannya ya, kalau kalian jadian.’ Hahahahaaa….”

Toni memandangi kawan akrabnya itu dengan prihatin.

“Tapi minimal lo bisa agak legaan. Misal hubungan kita semua jadi aneh, bisa dibenerin sambil jalan.”

Bowo mengangguk-angguk berulang kali, seolah dengan begitu dia bisa memantapkan hati.  Air mukanya tampak meneguh.

Lengan Erdi bergerak merangkul bahu Bowo.  “Yang penting makan dulu nih kita. Ke mana? Ke mana?  Jam kuliah berikutnya masih dua jam lagi.”

***

Tiga cangkir mungil dari bahan tembikar baru saja dihidangkan, ketika ada motor berhenti tepat di samping mereka duduk lesehan.

“Hai!  Bener ternyata info dari anak-anak tadi.  Kalian kalau nongkrong di sini,” sapa si penunggang motor tadi.

Cowok yang baru datang tadi langsung duduk di antara mereka.  Erdi, Bowo dan Toni saling berpandangan.  Ada urusan apa nih, tahu-tahu bergabung dengan mereka, bahkan dengan jumawa meminta cangkir tambahan untuk dia sendiri.

“Bos, kuliah di Duta juga?”  Erdi mulai membuka percakapan.

“Eh, iya.  Sorry, aku Rasta!”  tangannya terulur dan berganti disambut oleh tiga sekawan itu.

“Aku udah tahu kalian. Yang kena tegur Pak Asril tadi kan?” ujar Rasta lagi.

Telunjuknya terangkat. “Bowo, Erdi, Toni.”

“Kamu anak baru?”  Bowo berusaha mengingat di mana dia pernah melihat cowok ini sebelumnya.  Kalau lihat dari pakaiannya yang branded, motor modifikasi yang dinaikinya, sampai pada kulitnya yang bersih terawat, sepertinya dia bukan dari golongan mahasiswa menengah macam mereka bertiga ini.

“Iya, baru, pindahan dari kelas pagi.”

“Udah dari awal semester kemarin dong, ya?  Kok, kita nggak pernah liat?”

Rasta terkekeh.  “Aku memang masih menyesuaikan jadwal antara kuliah sama jam kerja, masih bolong-bolong absensinya.”

Toni sedari tadi hanya diam, tapi dia mengamati bahasa tubuh Rasta yang menurutnya canggung dan salah tingkah.  Kerja?  Wuihhh…! Keren juga.

“Ada apa nyariin kami, Ta?”  Toni tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.

Rasta memperbaiki sikap duduk bersilanya, merapikan lipatan kaki dan menegakkan punggungnya. “Nah, itu dia, aku mau nanya, di antara kalian bertiga, siapa yang pacarnya Rere?”

Mendengar nama Rere disebut, Bowo mendadak sesak napas.  Firasatnya mendadak kurang enak.

“Nggak ada, Ta.  Kami hanya teman-teman dekatnya aja,” Toni mengambil inisiatif untuk memecahkan sepi yang datang tiba-tiba seperti ada setan lewat.

“Beneran, nih?”  Rasta seperti ingin memastikan sekali lagi.

Meski kedua temannya mengangguk meyakinkan, Bowo memilih tidak bereaksi.  Dia masih belum paham ke mana tujuan pertanyaan Rasta.

Dan yang kemudian terjadi adalah, Rasta mengeluarkan dompetnya, menarik satu lembaran biru dan meletakkannya di tengah mereka.

“Aku traktir kalian deh, makasih ya!”

Rasta bergegas bangkit dan menaiki motor gedenya, meninggalkan tiga sekawan yang masih bingung dengan kelakuan cowok yang datang tak diundang pulang tak diantar itu. 

“Orang itu, maksudnya apa sih?!” Erdi bersungut kesal.

Toni mengambil lembaran uang yang ditinggalkan Rasta. “Tapi lumayan juga nih, kembaliannya bisa buat makan malam, euy…!”

Hanya Bowo yang masih bungkam. Dia sibuk berpikir. Jangan-jangan Rasta mau nembak Rere, batin Bowo. Namun buru-buru ditepisnya bayangan yang meresahkan itu.

***

Ruang kuliah mereka masih terdengar riuh dari luar. Tandanya dosen belum datang meski jam kuliah sudah terlewat sepuluh menit.

“Dang, rame amat, dosennya nggak masuk, ya?” Erdi bertanya pada Dadang yang sedang berjongkok di depan pintu kelas, menghabiskan rokok hingga hisapan terakhir.

Dadang terbahak. “Barusan ada adegan ‘katakan cinta’.  Rasta nembak Rere.”

Toni melirik Bowo yang seketika memucat, mukanya seperti dihisap habis kebahagiaannya oleh Dementor.

“Terus?” Toni mewakili Bowo yang kelihatan ingin tahu tapi takut menghadapi kenyataan.

“Ditolak!” Dadang terbahak sampai matanya basah.

Erdi menepuk-nepuk bahu Bowo. “Tenang Wok, lo masih punya harapan,” ujarnya sambil berbisik. Wajah Bowo kembali berwarna. Kalau begitu, apa lagi yang dia tunggu?  Keburu ada Rasta-Rasta lain yang menyalipnya di tikungan.

Dadang yang mendengar ucapan Erdi kembali terbahak. “Sudah nggak ada harapan Wok, kecuali datang keajaiban. Rere malah udah punya tunangan. ‘Aku sudah dikhitbah’, gitu katanya tadi.”

Dada Bowo tiba-tiba terasa bolong. Tapi mungkin kecewa yang dirasakannya tidak seberapa dibandingkan derita Rasta, yang baru saja keluar dari kelas dengan setengah berlari.  ‘Selamat datang di barisan patah hati,’ ujar Bowo dalam hati.

*****

 Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Reviewer: Rohman

One thought on “[Cerpen] Mencintai Rere

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *