[Cerpen] Luka Rinda

sumber: pixabay.com

Rinda masih tidak menyangka, tubuhnya membeku, semudah itu dia pergi. Laki-laki yang telah menjadi bagian dari hidupnya, penyemangat di setiap lelah, danpenghibur di kala duka. Malam itu, hubungannya kandas, dengan sebab yang tidak dimengerti oleh perempuan berparas manis itu.
             Semua rencana pernikahan, bulan madu, sampai momongan pun hancur seketika. Taktergambarkan betapa sakithatinya,ketika teringat janji-janji manis yang pernah diucapkan lelaki tersebut.
            “Aku mau kamu Rinda, perempuan yang kelak kulihat disetiapbangun tidurku.”
            Manis, bukan? Masih banyak pujian yang bahkan terlalu manis untuk dirasakan oleh setiap gadis. Sekarang, ketika teringat akan itu semua, hati Rinda bagaikan dihujani ribuan anak panah, “Bullshit semuanya!” maki gadis yang sedang sangat kacau, yang terduduk bersandarkan ranjang.
            Polesan make up luntur karena air mata, juga rambut yang sangat berantakan. Belum ada lima jam, sejak pengakhiran hubungan secara sepihak via SMS, ia langsung menghubungi nomor tersebut berkali-kali tetapi selalu gagal. Bahkan ketika perempuan itu mencoba via BBM, ternyata komunikasi antar pin itu juga terputus. Pergi, menghilang tanpa jejak, bagai tertelan black hole.
Malam yang sangat panjang bagi gadis yang hatinya sedang lebur itu. Jarum jam telah mengarah ke angka dua lewat dua puluh. Rasa kecewa yang berlebih membuatnya terjaga selarut ini. Diraihnya ponsel di atas kasur. Tanpa berpikir panjang. Gadis itu mencoba menghapus semua kenangan yang ada, dari foto sampai semua pesan singkat dari lelaki yang pecundang itu. Setelah itu ia kembali melempar ponsel ke kasur.
Rinda sudah terlalu dalam menyelami cintanya, hingga ia tenggelam.
Malam sudah berlalu. Tapi sayang, matahari hanya bisa mengintip di balik awan tebal yang menghitam. Tidak tahu pasti kapan Rinda mulai terlelap, kini ia tertidur di lantai, dengan puluhan tisu bekas di sekitar tubuh langsingnya.
Bel apartemen berbunyi yang berkali-kali menyadarkan Rinda. Bukan hanya hati, sekarang badannya pun terasa sakit. Dengan malas ia berdiri. Berjalan terhuyung-huyung, “Siapa?”
“Ini aku…, balas seseorang dari luar.
Rinda sudah tidak asing dengan suara lembut itu. Pintu pun terbuka. Tepat di hadapannya ada Intan yang memasang wajah kaget sekaligus miris, melihat keadaan sahabatnya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya perempuan berkacamata itu sembari masuk.
Pintu ditutup kembali.
“Astaga! Ada badai apa semalam,Rin? Kenapa kamu nggak cerita?” Intan semakin miris melihat banyaknya tisu berserakan di lantai. Dia membalikan badan ke arah Rinda dengan ekspresi ingin tahu.
“Kamu benar, Intan…,” ucap Rinda sembari memeluk erat tubuh sahabatnya. Dia menumpahkan semua beban kepada Intan, dan ia pun terisak kembali.
“Aku bingung apa salahku, sampai dia pergi begitu saja.”
Beberapa hari yang lalu, Intan menyarankan untuk segera meninggalkan lelaki itu. Karena menurutnya dia bukan lelaki baik-baik, yang tidak pantas untuk Rinda. Namun, keseriusan cinta gadis itu menepis semua kabar buruk yang berhubungan dengan kekasihnya.
Intan melepaskan pelukan Rinda, dan memegang pundaknya, dia terlihat bingung dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu, “Maksud kamu?”
“Dia tiba-tiba saja mutusin aku, tanpa aku tahu apa salahku.”
“Jadi, dia memutuskanmu sepihak gitu?”
Rinda duduk di kasur, mengusap wajahnnya dengan tisu yang diambil darimeja, lalu mengangguk.
Intan menghampiri, kemudian duduk di sebelahnya, “Kamu cantik Rinda, akan ada banyak cowok pengganti. Dia itu cowok pecundang.” Intan mengusap bahu sahabatnya, mencoba menghibur.
“Tapi, kamu tahu sendiri, aku sangat mencintainya, bahkan sebentar lagi kami akan menikah. Tapi apa yang dia lakukan? Pergi begitu saja tanpa kejelasan!”
“Itu lebih baik Rinda, daripada kamu ditinggalin setelah menikah. Berarti Tuhan masih sayang sama kamu, Rin.”
Penyemangat klasik, tapi Rinda masih belum bisa seikhlas itu setelah dicampakan seperti ini. Senyumnyaterlempar begitu saja, mencoba menghargai usaha Intan.
 Pelukan hangat pun diberikan oleh Intan, bentuk kepedulian yang dalam dari seorang sahabat. Begitulah semestinya.
“Sudah, mulai saat ini, kamu buang jauh-jauh nama dia dari hati kamu.”
Mata yang masih sembab, dan juga badan yang terasa pegal-pegal belum lagi hati yang belum baik membuat Rinda malas beranjak dari kamar. Melihat beberapa bingkai foto mereka saat pacaran,  dengan pelan ia berdiri kemudian terpikirkan untuk membuang itu semua, serta apa pun pemberian dari lelaki yang namanya sudah di-blacklist dari hidupnya.
“Mau bantu aku membuang semua barang-barang ini?” tanya Rinda sambil mengangkat sebuah bingkai.
Intan langsung antusias, semangat membantu seorang sahabat yang berusaha untuk bangkit dari keterpurukan.
“Kamu yakin mau membuang semua ini?” Untuk memastikan kembali, perempuan berkacamata itu berdiri menuju Rinda berada.
Yang ditanya mengangguk mantap, “Buat apa harus bertahan, semuanya sudah jelas, dia yang pergi.” Rinda berlalu ke arah lemari, dengan bantuan kursi ia mengambil kardus besar yang ada di atasnya. Kemudian kembali ke posisi semula, tangannya cekatan memasukkan benda-benda yang telah mengukir sejarah sepanjang hubungannya.
Intan pun turut membantu, ia meninggalkan tasnya di atas ranjang, “Iya sih, tapi kamu tidak mau cari tahu dulu kenapa dia memutuskan hubungan kalian tiba-tiba?”
“Sudah, deh, Intan sayang…, empat tahun bersama, aku rasa hal seperti ini adalah tindakan bodoh.” Rinda yang keras kepala, benar-benar sudah antipati terhadap lelaki itu. Hatinya sudah tidak bisa ditawar lagi.
Sahabat Rinda itu terdiam.Semua keputusan sudah dipilih oleh Rinda.
Semua barang sudah masuk ke dalam kardus, Rinda menghela napas dalam, terlihat jelas rasa kekecewaan yang begitu besar terpancar dari wajahnya.
Rinda berusaha untuk tersenyum, ia mengangkat kardus itu untuk dibawa keluar. Belum sampai pintu, mendadak kepalanya terasa pusing, pandangannya seakan berputar dengan hebat. Tubuh Rinda pun tumbang.
Intan langsung bangkit dari duduknya, panik, dengan cepat menghampiri Rinda. Tangannya menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya. Sia-sia. Perempuan itu tetap tidak sadarkan diri.
Akhirnya Intan keluar, meminta bantuan orang sekitar, untuk mengangkat Rinda ke kasur.
 Kurang istirahat membuat tubuh Rinda benar-benar drop, wajahnya pucat. Setelah hampir satu jam terbaring kini ia mulai sadar, mencoba untuk membuka mata perlahan. Ada Intan yang duduk di sampingnya.
“Kamu kecapean Rinda…, pasti belum makan juga, kan?” Intan sudah menyiapkan makanan, “Ayo, makan, ini ada gado-gado, tadi beli di seberang jalan.”
Rinda berusaha untuk duduk, sedikit dibantu oleh Intan, “Terima kasih, Intan. Kalau tidak ada kamu….”
Ssst…, sudah,” potong Intan, “Sekarang makan dulu nih,” ujarnya sambil memberikan suapan kepada Rinda.
Tidak ada komunikasi yang terjadi selama Rinda makan, “Sudah…, cukup,” ujar Rinda setelah diberi beberapa suapan oleh sahabatnya. Intan kemudian menaruh piring tersebut di samping lampu tidur, dan mengambil segelas air mineral untuk diberikan pada Rinda.
Setidaknya Rinda sudah membaik, matanya menatap ke arah kardus yang belum terbuang, lalu menaruh gelas kosong di meja kecil sebelah ranjang.
“Sudahlah Rinda, nggak usah dipikirin lagi,” ucap Intan sembari mengusap lengan Rinda, “Aku tinggal ke toilet sebentar, ya ….”
Intan berdiri, meninggalkan sahabatnya yang terbaring lemah. Awan yang gelap sudah menumpahkan jutaan bulir-bulir sejuk, membuat suasana menjadi lebih dingin. Rinda menaikan selimut ke tubuhnya, kemudian mematikan AC.
DrrttDrrrtt….
Ponsel milik Intan yang menyembul dari dalam tas bergetar, tanda ada panggilan masuk. Tidak hanya sekali, saking seringnya panggilan itu masuk, membuat Rinda sedikit penasaran. Diambilnya ponsel tersebut.
Pada layar tertulis Deka memanggil. Nama tersebut membuat Rinda mengernyitkan dahi. Dengan tangan bergetar ia memberanikan diri mengangkat panggilan tersebut.
‘Halo, sayang…, masih di tempat Rinda?’ ujar lelaki di ujung telepon,yang suaranya sangat tidak asing di telinga Rinda. Tubuh perempuan itu terpaku, tidak menyangka dengan apa yang didengarnya. Ini Deka yang sama dengan ‘Dekanya’.
Intan datang ketika panggilan masih berlangsung. Wajahnya langsung pucat pasi ketika melihat Rinda yang begitu marah sambil menunjukan layar ponsel ke arah Intan. Tertera nama Deka di sana, lalu ditekan tombol merah pada layar.
Emmmm….” Intan mencoba untuk menjelaskan.
Namun, langsung ditukas oleh Rinda, “Sekarang lebih baik kamu pergi, perempuan busuk!” Rona wajah ramahnya hilang berganti dengan merah padam penuh emosi, lalu melempar ponsel di dekat tas Intan.
 “Pantas saja akhir-akhir ini kamu ngototagar aku mengakhiri hubunganku dengan Deka. Ternyata itu semua tipu daya untuk menutupi hubungan gelap kalian.”
            Intan kemudian mengambil barang-barangnya dan keluar dari apartemen itu, meninggalkan Rinda dengan luka yang semakin dalam.
***
Nurwahiddatur Rohman. Aktif menulis sejak tahun 2014. 
Telah melahirkan karya indie yakni Novel Lysa, 
dan Antalogi Cerita Anak Islami (Pro-U Media). 
Facebook: Nurwahiddatur Rohman | 
Email: rohman.man55@gmail.comMari berteman.

1 thought on “[Cerpen] Luka Rinda”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *