[Cerpen] Lelaki Lain di Malam Pengantin Sri

Tubuh Sri menggigil. Terbungkus selimut, di ranjang. Suaminya pulas, bagai mayat tercekik. Menyisakan dengkur yang merusak hening, di sisa malam pengantin. Sri terjaga, terbelalak menembus remang kamar tanpa pelita. Hanya pendar rembulan yang menerobos jendela, menerpa separuh wajah lelaki lain di kamar itu. Berdiri di dekat jendela menatap ke arah Sri. Tentu saja Sri ketakutan melebihi pada kengerian penampakan setan. Dia menarik selimut, membalikkan badan menghadap suaminya. Sri merapatkan tubuhnya pada tubuh lelaki yang terpaksa dia cintai itu. Sri pasrah pada apapun yang akan terjadi. Dia berharap kehadiran lelaki lain di malam pengantinya itu hanya mimpi.

“Seharusnya malam ini milik kita, Sri …,” bisik lelaki itu lirih menembus selimut menusuk lubang telinga Sri.

Tubuh Sri bergetar semakin hebat. Gemeretak giginya tak tertahan. Degup jantungnya semakin kencang, berkejaran dengan bulu kuduk yang serentak berdiri, merambatkan hawa dingin ke leher belakang. Sekuat tenaga Sri mencoba menahan napas. Mengumpulkan tenaga, emosi, dan keberanian untuk melawan.

Sri kemudian menyibak selimut dengan cepat. Berharap lengan yang dia ayunkan bisa mengenai lelaki itu. Namun, lengan itu tidak mengenai siapapun. Terengah-engah Sri bangkit. Napasnya terasa semakin berat. Matanya memburu setiap sudut kamar mencari sosok lelaki itu. Di dekat jendela, di samping almari, lalu dia mengamati pintu kamarnya. Indera penglihatan Sri tidak menemukan siapa-siapa.

Sri bangkit dari ranjang, meninggalkan suaminya yang masih terkapar. Dia bungkus tubuhnya dengan selimut. Sedikitpun tak sempat berpikir mencari pakaian dalam yang tercecer entah di mana. Apalagi mengenakan pakaian pengantin yang tiga jam lalu masih dia pakai. Apa yang tengah membalut tubuhnya, itulah yang dia bebatkan untuk menutupi auratnya.

Sri meraih saklar di dekat pintu. Dinyalakannya bohlam yang tergantung di langit-langit kamar, tepat di atas ranjang. Sehingga menyorot jelas tubuh lelaki tambun di ranjang yang mirip babi lelah berenang. Sri masih memburu sosok lelaki yang sangat dikenalnya. Lelaki yang datang di kamar pengantin Sri, tenggelam dalam gelap. Namun, Sri tidak menemukan siapapun di kamar itu, selain suaminya yang tergeletak lelah tanpa busana.

“Sri …,” suara lelaki tambun yang terbaring di ranjang memanggil.

Dengan gagap, Sri menjawab. “I … iya, Mas. Aku mau mandi sebentar.”

Sri sejenak memastikan gerendel pintu kamarnya terkunci rapat. Lalu memeriksa kunci yang tertancap dengan memuntirnya, memastikan pengaitnya bekerja sempurna. Sesekali dia melempar pandangan ke arah jendela, lalu meneruskannya ke kolong meja rias, hingga kolong ranjang. Sampai detik ini, dia belum bisa merasa aman. Bisa saja lelaki yang dia lihat dalam gelap itu berniat menghabisi dia dan suaminya. Seperti janji yang pernah diucapkan saat pertemuan terakhir mereka.

-o0Oo

Kubiarkan air membasuh sekujur tubuh. Bagai hujan yang sebulan lalu kurasakan bersama Jack di Titik Nol kota Yogyakarta. Hanya saja kali ini tanpa ada gemuruh langit dan petir. Tanpa bising deru mesin, pun tanpa pijar lampu yang mengelilingi, saat aku menangis di pelukan Jack, malam itu. 

“Tolong, Jack. Lakukan demi kakakku,” pintaku untuk terakhir kali.

“Aku tidak cinta dia, Sri! Aku hanya cinta sama kamu. Bagaimana mungkin aku berpura-pura mencintai kakakmu?”

Aku tak sanggup menahan keluarnya air mata, tapi aku mencoba kuat. Andai aku tahu sejak awal dia mencintai Jack, mungkin aku bisa mencegah perasaan ini. Namun, semua sudah terlanjur. Orang yang telah memberikan segalanya, meminta separuh kebahagiaan dalam hidupku. Dialah kakak, sekaligus menggantikan peran seorang ibu bagiku. Aku tak sanggup menolaknya.

“Kakakku hamil, Jack. Bagaimana mungkin kamu tak mengakuinya?” Aku terisak semakin parah. Bersama itu, gerimis jatuh mengguyur kota Yogyakarta. Kami masih bergeming di bangku taman. Rimbunan daun pohon beringin memayungi, menahan tumpahan gerimis ke tubuh kami. Beberapa orang terlihat beranjak mencari tempat berteduh. Berlari-lari kecil sambil memasang telapak tangan melindungi wajahnya dari air hujan. Aku tak peduli.

“Hamil?” Jack menatapku, mengernyitkan keningnya. “Bagaimana kamu bisa percaya kalau itu akibat perbuatanku?”

“Jack! Dia kakakku. Aku lebih tahu dia daripada kamu. Dia … dia bilang mencintaimu sejak sebelum kita kenalan.”

Dedaunan tak sanggup lagi mencegah gerimis menyentuh ubun-ubunku. Rasa dingin itu merasuk, turut membekukan syaraf di sekujur tubuhku. Seperti mati rasa, hanya menyisakan penyesalan dan kemarahan di dada.

“Memang benar aku mengenalnya lebih dulu, tapi kehamilan itu bukan ulahku.”

“Tega kamu, Jack! Aku tak menyangka kamu lelaki yang tak bertanggung jawab.”

“Sri, aku ….”

Plak! Aku tak bisa menahan tanganku untuk menamparnya. Entah setan apa yang tengah merasukiku. Tiba-tiba saja aku sangat membenci Jack. Setahun menjalin cinta terasa sia-sia. Aku ternyata telah menjadi duri bagi hubungan kakak dengan Jack.

“Cukup, Jack. Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi.”

“Sri, tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan kebenaran semua ini.”

“Tidak, Jack. Aku sudah memutuskan untuk menjalani hidupku sendiri.” Aku bangkit dari bangku taman yang semakin basah. Hujan dan air mata tumpah meluberkan kepedihan. Aku melangkah pergi meninggalkan Jack sendirian. Mengabaikan semua yang akan terjadi, seperti ketidakpedulianku pada hujan malam itu. Tiba-tiba tangan Jack meraih pergelangan tanganku dengan cepat. Menggenggamnya erat. Entahlah, aku merasa tidak ingin kehilangan dia.

“Sri, jangan tinggalkan aku.” Jack memohon. Aku tak sanggup untuk menatapnya lagi. Aku diam, semakin membenamkan wajah dan air mata dalam hujan. Aku merintih dalam hati. Mematung, berharap lenyap dari kehidupan.

Dia menarik tubuhku hingga terhempas dan menumbuk tubuhnya. Lelaki bermata sayu itu melingkarkan kedua lengannya. Memelukku erat di tengah gerimis yang perlahan menjadi hujan. Aku tak bisa berkata-kata, atau berontak melepaskan. Antara ketidakrelaan, rasa benci, dan harapan bercampur aduk jadi satu. Kubiarkan saja waktu mengukir kenangan untuk terakhir kali di pelukan Jack.

“Aku tidak akan bisa jauh darimu, Sri. Sampai kapanpun aku tetap mencintaimu.” Jack membisikkan janjinya. “Ingatlah, aku akan membunuh siapapun yang coba merampas cinta darimu.”

Hujan semakin lebat. Gemuruh langit dan petir semakin menjadi. Aku seperti mayat yang tak peduli lagi arti cinta. Jack adalah satu-satunya lelaki yang kucintai, tapi kebahagiaan hidup kakak tak bisa kurusak. Aku tak bisa mengingkari janji yang pernah kukatakan kepada Ibu. Aku akan membahagiakan kakak bagaimanapun caranya. Karena hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini. Tapi aku juga tak bisa melenyapkan cinta untuk Jack di dalam hatiku.

-o0Oo

Brak! Kudobrak pintu kamar mandi. Aku khawatir terjadi sesuatu dengan Sri. Kupanggil dan kuketuk tiga kali, tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Kutabrakkan tubuh seberat 80 kilo ini ke pintu kamar mandi. Satu kali bergeming, dua kali hanya tergetar, dan tiga kali akhirnya pengait kunci rontok dari tempatnya.

“Sri!” Aku melihat Sri seperti sedang melihat setan. Matanya membelalak, bibirnya bergetar, dan dia mengacungkan pecahan kaca ke arahku. “Ada apa denganmu, Sri?”

“Jangan mendekat. Pergi dari sini!”

“Sri! Tenangkan dirimu.” Kucoba mendekat. Perlahan melangkah menghindari remukan kaca yang berhamburan di lantai. Sebuah vas bunga dari botol kaca tergeletak di bawah wastafel. Sepertinya Sri menggunakan vas itu untuk memecah cermin.

“Tolong biarkan aku menjalani hidupku, Jack! Jangan kau ganggu aku lagi.”

“Jack?” Aku tak bisa gegabah. “Ini aku, Sri. Tedjo, suamimu.”

Di dekat vas yang tergeletak itu berceceran butiran sebiji jagung berwarna putih. Itu … Jangan-jangan Sri tidak meminumnya, ucapku dalam hati. Aku melihat jam dinding yang tertempel di tembok, di atas cermin yang pecah. Sudah hampir subuh. Waktunya terlewat.

Aku tak mau ambil risiko. Sejenak, aku keluar dari tempat itu. Kuambil ponsel yang ada di meja rias, di samping tempat tidur. Segera aku menghubungi temanku yang bertugas di RS Ghrasia. Aku butuh bantuan untuk menenangkan Sri yang sedang kalap.

Sri, sampai kapanpun aku tetap mencintaimu. Tak peduli seberat apa masa lalumu.

-o0Oo-

Ditulis oleh: Seno NS

Reviewer: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *