[Cerpen] Lara Sendiri

“Nanti aku nggak bisa ikut les, kamu berangkat sendiri, ya….”

Lara menyodorkan kotak bekalnya pada Arjun yang baru kembali dari ruang guru.

“Nanti sore aku harus latihan untuk persiapan ke Merbabu minggu depan.”

Lara berhenti mengunyah. Tatapan matanya menyempit. Dia masih kurang suka dengan hobi sahabatnya itu. Menurutnya naik gunung itu berbahaya, menegangkan dan nggak asyik.

“Lanang juga ikut?”

Tangan Arjun bergerak mengambil sepotong kue lagi. Mama Lara memang juara kalau membuat kue. Toko roti paling nge-hits di kota saja kalah, kalau menurut lidah Arjun.

“Jelas, lah! Dia kan, ketuanya. Besok aku berdua sama dia jadi tim penyapu,” jawab Arjun dalam lafal yang tak jelas karena mulutnya setengah penuh.

Tiba-tiba Arjun mendesis. “Ra, jangan tengok ke belakang!”

Terlambat. Lara sudah lebih dulu curiga dengan wajah Arjun yang tiba-tiba menegang. Dia pun menoleh ke belakang. Seketika wajahnya murung.

“Sama Astrid lagi,” Lara melempar pandangannya ke samping, “kenapa sering aku lihat Lanang berdua-dua sama Astrid?”

Arjun gusar melihat bening yang mulai membayang di mata bulat Lara.

“Lanang nggak cuma berdua sama Astrid, kok. Tuh, teman-teman Astrid ada di belakang mereka. Mungkin mereka baru dari kantin, Ra.”

Arjun tahu hiburannya untuk Lara percuma saja. Teman sebangkunya itu gegas bangkit dan pergi setengah berlari dengan kepala tertunduk. Arjun tidak ingin mengejar, dia hafal kemana Lara pergi. Pasti ke kamar mandi cewek.

***

“Dulu kalian akrab?”

 Lara menerawang. Arjun suka melihatnya. Lara terlihat lebih manis kalau sedang bicara tentang Lanang. Ada bintang yang tersimpan di kedua mata bulatnya.

“Bisa dibilang kami dekat. Yah…, meski hanya sekadar dekatnya anak-anak. Kami sering belajar kelompok, atau main sepedaan. Dulu rumah kami berdekatan, sebelum Lanang pindah ke Bandung.”

Selanjutnya Arjun sudah tahu jalan ceritanya. Lanang pindah lagi ke Semarang saat masuk SMA. Lara yang masih menyimpan rasa sejak belia kembali berbunga ketika menemukan Lanang berada di sekolah yang sama dengannya. Hanya saja Lara harus kecewa. Dia tidak merasakan kerinduan yang sama dari Lanang.

“Tapi aku lihat kalian masih akrab.”

Lara mendengus. “Akrab apaan, dia juga akrab sama teman-teman cewek yang lain!”

“Dia masih ingat hari ulang tahunmu, kan?”

Mata Lara kembali bersinar. “Iya, dia selalu menuliskan kata-kata yang manis di kartu ucapannya.”

“Kenapa kamu nggak bilang aja langsung, Ra?”

Lara menggeleng cepat. “ Bilang ke Lanang kalau aku suka dia? Nembak gitu? Enggak, lah!”

Dalam hati Arjun juga berharap Lara tidak melakukan itu. Lebih baik begini. Selalu dekat meski Lara tidak seutuhnya ada untuk Arjun.

 “Pulang sekarang?” Arjun menunjuk arloji di tangan kirinya. Sebenarnya Arjun masih ingin berlama-lama. Tapi dia tidak enak kalau mengantar Lara pulang saat hari telah gelap.

Lara menghabiskan minumnya hingga tandas dalam sekali hirup sebelum menyusul Arjun meninggalkan teras kafe tempat mereka mampir setiap pulang les. Langkahnya riang meloncat-loncat lalu sekali lompat sudah duduk di boncengan Arjun. Kedua tangan Lara menggenggam erat pinggang kemeja cowok itu. Sayangnya Lara tidak bisa menangkap degup bahagia di dada Arjun.

***

“Ah!” Lara sigap berpegangan pada pilar di puncak anak tangga menuju ruang guru. Ada air yang mengalir keluar dari bawah pot tanaman. Itu yang membuat kakinya terpeleset tadi.

Lara memang batal jatuh, tapi tumpukan kertas hasil ulangan harian Matematika kelasnya jadi bertebaran. Dengan bersungut Lara mulai memungut kertas-kertas itu. Menyesal tadi dia menolak tawaran Arjun yang ingin menemani. Cuma ambil kertas ulangan, sendiri juga bisa, pikir Lara tadi.

“Tahu gini, ajak Arjun aja tadi,” gumam Lara. Lumayan juga capeknya memungut kertas sambil membungkuk dan setengah berjongkok.

“Nih,” tiba-tiba setumpuk kertas disodorkan di bawah hidung Lara. Lanang!

Ucapan terima kasih Lara terdengar terbata-bata. Duhai jantung…, tenanglah, doanya dalam hati.

Perhatian Lara teralih pada ransel besar di punggung Lanang.

“Buat ke Merbabu, ya?” tanya Lara.

“Ya. Kami berangkat besok siang, pulang sekolah.”

Lara mengangguk-angguk meski dia sudah tahu sebelumnya dari Arjun. Dia juga membawa ransel yang katanya akan disimpan di ruang OSIS.

“Nanti sore mau dicek lagi, ada kelengkapan yang kurang atau tidak, jadi masih ada waktu untuk mencarinya,” begitu kata Arjun tadi.

“Oh, engg…, take care, ya. Hati-hati.” Lara bisa mendengar suaranya sendiri yang bergetar. Dia bahkan tak sanggup menatap wajah Lanang. Ada yang terasa berat di dadanya. Terasa ada yang salah.

***

Lara meraba sekat terluar tas punggungnya. Napasnya berhembus lega saat sebuah benda kotak terasa masih ada di dalamnya. Kemarin saat ikut papanya ke pasar sunmor[1] dia menemukan kaset album lawas milik Phil Collins, penyanyi kesukaan Arjun. Lara ingin memberi kejutan.

Sayangnya tadi dia bangun kesiangan. Niatan untuk datang lebih awal dari Arjun dan menyembunyikan kaset itu di dalam laci sepertinya tak akan terjadi. Yang sudah-sudah, secapek apa pun sepulang dari kegiatan pecinta alam, Arjun selalu datang pagi sekali. Sementara Lara lebih suka tiba saat kelas sudah ramai. Karena menurut Lara yang penakut, kelas yang masih kosong itu hawanya menyeramkan.

Namun halaman sekolah pagi itu tampak ramai tak sewajarnya. Di luar pagar terparkir satu mobil polisi. Lara mengenali beberapa wajah orangtua murid yang berkerumun di teras gedung utama. Sebagian tampak keluar masuk ruangan Kepsek.

Lara lebih heran lagi saat di gerbang samping beberapa teman perempuannya tampak menyusut hidung dengan mata merah. Beberapa terlihat saling berpelukan.

“Ada apa, sih?” Lara menghampiri Seto yang tengah menenangkan Mira.

“Anak-anak yang naik gunung kena longsoran. Dua orang masih belum ketemu.”

Lutut Lara lemas, namun langkahnya terasa ringan ketika dengan setengah berlari menuju kelasnya. Hanya satu nama yang berdentam dalam pikirannya.

Kosong, bangku sebelahya masih kosong. Arjun belum datang. Lara bersandar lemas di pintu kelas. Arjun, oh…. Lara tergugu. Tak dirasakannya ketika teman-temannya menghampiri dan memberi pelukan.

Dalam ambang sadar, Lara merasakan kesendirian yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Bukankah Arjun selalu ada di sampingnya?

Keributan juga terdengar dari kelas sebelah. Kelasnya Lanang. Samar-samar Lara mendengar kasak-kusuk tentang Lanang yang belum ditemukan juga. Lara tak lagi pedulikan itu.

Sampai kemudian seseorang tampak berlari dari arah gedung utama. Rupanya Weda, dari kelas Lanang. Disela napasnya yang tersengal, Lara menangkap kalimat bahwa ‘Lanang selamat’.

“Tapi satunya, yang sama-sama jadi tim penyapu, tidak.”

Seketika  hening dan gelap menyergap Lara. []

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Reviewer: Rohman

[1] Sunday morning, Minggu pagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *