[Cerpen] Laki-laki Tanpa Nama

Sumber gambar: humairoh.com

 

Kendaraan roda dua itu melintas tanpa sapa dari laki-laki yang duduk di atasnya.  Seolah dia tidak mengenalku.  Meski satu tangannya pernah saling genggam dengan tangan tuaku ini, ketika dia mengucapkan kalimat ijab qobul untuk menikahi anak perempuanku satu-satunya.
 
Bukan satu-satunya sebenarnya, karena aku punya dua anak perempuan.  Ratih dan Marni.  Tapi Tuhan rupanya tidak ingin anak itu, si bungsu, melihat laki-laki yang dipanggilnya Bapak menjalani takdir seperti ini.  Marni meninggal di usia yang masih sangat belia, 12 tahun.  Masih anak-anak, belum ada bias remaja dalam tingkah polahnya, bahkan datang bulan pun dia belum dapat.
 
Marni … Marni …, aku mengelus dada menahan perih.  Lahirmu terpaut jauh dari kakak laki-lakimu, Rahmat, si nomor tiga.  Saat ketiga saudaramu beranjak dewasa, tak lagi bisa kuajak bercanda, cuma kamu Nduk, cuma kamu yang masih mau Bapak pangku, Bapak cubit pipinya, Bapak sembunyikan barang kesukaannya.  Oh, mengapa kau tak ajak Bapak untuk menemanimu di alam kubur sana, Nak
 
Mau tak mau aku tersenyum kecil, anak bungsuku itu bukan anak yang pemberani, terutama dimalam hari.  Ke rumah temannya yang hanya dibelakang rumah saja minta aku temani.  Bukan malam yang dia takuti, tapi gelap. Bagaimana kamu bisa sendiri di tempatmu sekarang?  Tak sadar aku terisak, pasti orang yang melihat akan mengira aku tak waras lagi.  Gila seperti istriku.
 
Kalau saja kalimat-kalimat dalam hatiku ini terdengar oleh orang-orang, mungkin mereka akan memakiku karena menyebut istriku gila.  Yah.., mereka hanya mau mengakui Sam sebagai istriku, sedangkan istriku yang itu, yang sedang terkekeh-kekeh di depan tv itu,  mereka tidak menganggapnya.
 
“Pak…, Pak…., permisi Pak…”
 
Sepertinya anak muda itu sudah memanggilku berulang kali, dan baru pada panggilan yang terakhir itu aku menoleh padanya.  Untunglah tak ada air mataku yang keluar.  Mungkin sudah mengering diusia yang renta ini.
 
“Ya?”  Aku menyahut tanpa beranjak dari duduk.
 
Anak muda itu membawa sepeda motornya mendekat.  “Bengkelnya sudah buka, Pak?”
 
Rupanya ban belakangnya sudah rata menempel tanah.
 
“Sebentar, ya, Mas.” Tak terlalu bergegas aku mulai menyiapkan peralatan tambal ban yang hanya seadanya itu.
 
Dari sudut mata yang mulai blawur ini, kuikuti gerak-gerik pemuda yang sepertinya anak kuliahan itu.  Aku tersenyum dalam hati.  Wajahku ini entah sejak kapan sulit untuk diajak tersenyum.  Bahkan untuk sekedar senyum pahit pun hanya bisa kulakukan dalam hati. 
 
Kali ini yang membuatku tersenyum kecut adalah ekspresi tak sabar dari anak muda itu.  Ya, Nak. Beginilah aku, serba lamban.  Berjalan lamban, berpikir lamban bahkan bekerja pun lamban.  Sabar, ya, Nak, akan kuselesaikan pekerjaan pertama di hari ini secepat aku mampu, ujarku dalam diam.
 
“Untung cuma satu lubangnya, Mas.” Akhirnya aku harus bicara juga.
 
Ucapanku tadi rupanya membuat si Mas mahasiswa terkejut dan menoleh ke arahku tiba-tiba.  Wajahnya terlihat canggung.
 
Pandanganku terarah pada pintu depan gudang.  Bangunan itu mau tak mau kusebut sebagai rumah, setelah hampir satu tahun beralih fungsi menjadi tempat tinggal.  Betul, menjadi ‘rumah’ tempat tinggalku, dan sekarang di ambang pintunya duduklah perempuan yang sekarang menjadi istriku.  Duduk bersila begitu saja di lantai semen tanpa ubin, bersandar pada satu sisi kusen pintu dan wajah ayunya tersenyum lebar.  Bukan padaku, tapi pada tamuku ini.
 
Mau tak mau kutarik juga garis bibir agar terbentuk seulas senyum untuk menenangkan anak muda ini.  “Memang agak kurang waras, Mas. Tapi jangan takut, dia tidak akan berani keluar dari pintu itu.”
 
Anak muda ini mengangguk-angguk.  “Anaknya, Pak?”
 
Ingatan pada anak-anak perempuanku kembali meremas dada.  Hanya gumaman yang bisa aku suarakan dan pemuda ini mengartikannya sebagai ‘iya’.  Ya Allah…., aku hanya berharap semoga pekerjaan ini cepat selesai dan lelaki ini segera berlalu.
 
***
 
“Pak Sam, ini, lho, Ari ….” Tergopoh-gopoh Lastri menghampiriku di bengkel sambil mendekap bocah balita di depan dadanya.
 
Kalau ada lagi alasan untuk aku tersenyum, mungkin karena anak ini, Ari.  Anak dari Rahmat.  Sudah dua bulan ini dia dititipkan di rumah Lastri, dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore, selama anak dan menantuku pergi bekerja.  Dan Lastri yang baik hati selalu membawa Ari padaku, jika dilihatnya aku sedang tidak ada pekerjaan.
 
“Putuku cah bagus…., sudah makan kamu, Nak?” Selalu itu yang kutanyakan kali pertama.  Tapi bocah itu tak pernah bosan ditanya begitu, lagipula aku pun tak tahu harus bertanya apa lagi pada bayi 9 bulan yang bicarapun masih berupa ‘aaa …uuu …’.
 
Tanganku terulur untuk mengambilnya dari gendongan Lastri, namun urung demi melihat ujung-ujung jariku yang kehitaman terkena oli dari roda motor tadi.  Kupuaskan rasa sayangku hanya dengan memandang wajah polos itu lekat-lekat.  Sesekali senyum tanpa dosa terkembang dari muka mulusnya ketika kudekatkan wajahku sambil mengeluarkan lidah.
 
“Sudah ya Mbah, Dek Ari mau ke posyandu dulu,” ujar Lastri sembari mengencangkan gendongan Ari dipundaknya.
 
Kuluruskan kembali punggung tua ini yang sedari tadi membungkuk mengajak bercanda cucu semata wayang kami.  Helaan nafas kecewaku mungkin tak tertangkap oleh Lastri, karena dia tetap berbalik dan membawa Ari pergi.
 
Yoh … sana, hati-hati!” Tanganku spontan melambai pada cucuku yang masih menatapku meskipun pengasuhnya membawanya menjauh.  Untuk beberapa saat dadaku terasa sejuk, sesaat aku seperti mempunyai alasan untuk bahagia, sampai terdengar teguran dari arah belakang.
 
“Harusnya Lastri jangan lagi bawa-bawa Ari ke sini.  Bapak juga harusnya melarangnya ke sini.  Bapak mau Rahmat marah-marah lagi seperti waktu itu?”
 
Rupanya Ratih yang barusan bicara.  Dia memilih untuk setengah berteriak dari teras, tempatnya berdiri sekarang ketimbang mendekat dan berkata padaku dengan suara yang pelan.  Oh, Ratih, aku tak hanya kehilangan sosokmu sebagai gadis kecilku yang dulu merengek minta kuantarkan ke sekolah, aku juga kehilangan rasa hormatmu padaku sebagai bapak.  Tapi paling tidak dia masih memanggilku Bapak.
 
Aku pun sudah kehilangan rasa percaya diri di depannya, sehingga aku hanya bisa menanggapi ucapannya dengan suara yang hanya aku sendiri yang bisa mendengarnya.
 
“Lastri masih lebih baik padaku daripada kau, anak kandungku sendiri.” 
 
Tentu saja Ratih tidak mendengar ucapanku karena dia telah bergegas masuk dan menutup pintu.  Mungkin dia tidak ingin terlihat sedang bercakap denganku.  Dada yang sempat menghangat tadi seketika kembali mengeras bahkan berkerut.
 
Tak perlu Ratih ingatkan, masih membekas dalam ruang kepalaku bagaimana murkanya Rahmat waktu dia tahu anaknya dibawa oleh pengasuhnya ke bengkel.
 
“Pak, aku nggak mau Bapak dekat-dekat sama Ari.  Aku nggak mau Ari tahu kalau Mbahnya itu orang yang nggak bener! Nggak tahu malu!”
 
Waktu itu aku sengaja hanya duduk, menunduk dan diam.  Nada bicara anakku terlalu menakutkan sampai rasanya tak sanggup untuk melihat wajahnya ketika itu.  Pasti wajahnya juga menakutkan.  Jika aku lelah menunduk, kulempar pandangan ke jalan, dan di sana tetanggaku berkerumun, orang-orang yang kami kenal tengah menyaksikan ketidakberdayaanku. 
 
Lamat-lamat kudengar satu dua suara yang bermaksud menyudahi kemarahan anakku, tapi seperti dikuasai oleh iblis dia tidak juga berhenti, tidak juga merendahkan nada suaranya.  Rahmat baru diam dan pergi setelah Ari yang saat itu tengah digendong ibunya menangis dengan sangat keras.  Seolah melalui Ari, Allah ingin menegur anakku untuk berhenti mempermalukan aku di muka orang banyak.
 
Lastri juga tak luput dari amukan Rahmat, meski pada akhirnya dia tetap memintanya untuk menjaga Ari, karena sulit  menemukan pengasuh sebaik gadis itu.  Dan Lastri yang baik tetap membawa Ari padaku meski dengan sembunyi-sembunyi.  “Jangan sampai Ari tidak kenal simbahnya sendiri.” Begitu alasannya. 
 
Lastri … Lastri …, semoga Allah memuliakanmu, dunia dan akhirat.  Untuk orang seperti aku ini, hanya bisa membalas  suatu kebaikan hati dengan doa yang baik.  Bukan berarti yang jahat padaku akan kudoakan tidak baik, tidak.  Bahkan anakku yang sudah menyakiti hati pun masih dan akan selalu kudoakan yang baik.
 
Ya Allah, lama sekali siang-Mu ini.  Aku ingin segera sore, lalu datang gelap, supaya badan dan jiwa ini tersejukkan oleh angin malam yang menenangkan.  Langit yang kupandangi sangatlah cerah, padahal aku mengharapkan mendung, agar atap seng rumahku berkurang panasnya.  Hhh…, kalaulah ada uang akan kuganti dengan asbes, tapi dasar belum rejeki, hari ini saja baru ada satu ban bocor yang menjadi peruntunganku.
 
***
 
“Pak Sam, apa baik kalau anak-anakmu bersikap seperti itu? Aku khawatir, anak-anak yang lain di lingkungan ini mencontoh mereka,”  ujar Harto yang sudah sedari tadi ada di bengkel menungguku membetulkan sepedanya yang putus rantai.
 
Harto pernah bekerja padaku, waktu aku masih jadi mandor bangunan.  Dia tangan kananku karena jarang ada tukang yang bisa menangani kayu sekaligus batu.  Sekarang dia punya pekerja-pekerjanya sendiri.  Roda berputar, Harto jadi mandor, sedangkan aku? Siapa lagi yang mau memakai tenagaku?  Kerjanya lamban, mukanya masam, itu selentingan yang pernah aku dengar tanpa sengaja.  Buat apa marah?  Memang begitu adanya.
 
“Nanti anak-anak pikir berbicara kasar pada orangtuanya itu hal yang wajar.”
 
Telunjukku menekan pada rantai beberapa kali untuk melihat ketegangannya, lalu kulanjutkan dengan mengoleskan sedikit oli pada gir sambil kuputar pedal sepedanya.  Nafasku terhela panjang menanggapi perkataan Harto.
 
“Aku bisa apa, Har? Wibawaku sudah jatuh di mata anak-anakku.  Sejak ibu mereka meninggal mereka mulai menjauh dariku tanpa aku sendiri menyadarinya.  Aku terlalu dalam tenggelam dalam kehilangan, sampai perlu waktu lama untuk bangkit.”
 
“Sebenarnya tidak akan seburuk ini kalau saja kamu tidak ….”  Kalimat Harto terpotong oleh suara pintu rumahku yang terbuka tiba-tiba.
 
Ginah, istriku melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.  Pasti ada adegan tv yang membuatnya senang.  Dia selalu ingin menunjukkannya padaku.  Melihatku menggeleng sambil menunjuk sepeda milik Harto membuatnya masuk ke dalam dan menutup pintu kembali.
 
“Memang aku khilaf, Har. Lupa diri.  Istriku meninggal, aku terlalu sedih, lalu ada Ginah yang datang entah dari mana, selalu duduk di depan bengkel, bercerita hal-hal yang menyenangkan.  Dia masih muda, segar, kamu tentu mengerti .…”
 
“Ya, dia seperti memberikan darah baru untuk ragamu yang sudah beberapa saat mengering, terhisap oleh kesedihan.  Tapi anak-anakmu, bagaimana mereka bisa menerima?  Belum sampai satu tahun ibu mereka wafat, kamu sudah menikah lagi.”
 
Aku terdiam.  Setelah istriku meninggal, aku menyibukkan diri di bengkel ini.  Kadang tidur  pun di sini.  Bengkelku hanya berada di seberang rumah, sangat dekat.  Tapi nyatanya sanggup menjauhkan aku dari anak-anak.  Aku hanya pulang untuk mandi.  Selama dua bulan berjalan seperti itu, lalu  Bambang anak sulungku datang menemui di bengkel.
 
“Pak, kantorku pindah ke Jogja, anak istriku biar tinggal di sini, memakai kamar Ibu, bagaimana?”
 
Kamar Ibu itu juga kamarku, Nak. Tapi yang terucap hanya ‘ya’.  Maka resmilah aku menghuni gudang yang terletak di samping bengkel.  Dengan keahlianku sebagai tukang, gudang itu menjadi cukup layak untuk ditempati.  Bahkan aku buat sendiri kamar mandi kecil supaya aku tidak perlu kembali ke rumah dan bertemu dengan anak-anakku yang selalu berwajah kecut padaku.
 
Lalu datanglah Ginah, yang wajahnya selalu tersenyum.  Apa salah kalau kemudian aku betah berlama-lama berbicara dengannya?  Cuma Ginah yang mau tersenyum tulus padaku, bukan senyum terpaksa seperti yang diberikan tetangga-tetangga jika berpapasan atau melintasi jalan depan bengkel.
 
Aku bukan tidak tahu kalau Ginah kurang waras.  Tapi dia tidak mengganggu siapa-siapa dengan perilakunya yang terkadang terlalu gembira, terlalu bersemangat, terlalu ceria.  Buat Ginah rupanya juga hanya ada aku yang mau diam mendengarkan celotehannya yang tak menentu arah. 
 
Aku seperti dipertemukan kembali dengan sosok jodoh.  Hanya aku untuk Ginah dan hanya Ginah untuk aku.  Namun tidak terpikirkan olehku untuk menikahinya, meskipun kehadirannya melengkapkan kembali keberadaanku sebagai laki-laki.
 
Lima bulan yang lalu Ginah mengetuk pintu gudang tengah malam.  Wajahnya tampak ketakutan.  Ketika aku bertanya ada apa, dia justru menangis keras.  Lama dia menangis sampai akhirnya tertidur di atas dipan reyot tanpa kasur yang aku buat sendiri dari sisa-sisa kayu bekas bongkaran rumah tetangga.  Aku hanya memandangi Ginah yang lambat laun nafasnya teratur, tidak lagi memburu seperti ketika sedang menangis tadi, sambil bersandar di kaki dipan.
 
Waktu pintu gudang digedor dari luar, aku pikir itu hanya orang yang ingin buru-buru menambalkan sepedanya.  Betapa terkejutnya ketika di depan pintu sudah ada tak kurang dari lima orang, dan salah satunya adalah Pak RT Mahmud.  Wajah-wajah yang lainnya belum kukenal namun entah mengapa mereka tampak marah padaku.
 
Salah seorang yang berdiri paling depan, yang berwajah paling garang menanyakan keberadaan Ginah.  Pak RT Mahmud paham dengan wajah dunguku yang terlihat jelas tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
 
Ternyata orang-orang itu mengira aku telah melarikan Ginah, dan meski telah kujelaskan berulangkali bahwa Ginah yang datang sendiri, mereka tetap pada vonis mereka.  Bahwa aku harus menikahi Ginah, karena menurut mereka kami sudah berzina.  Apa yang bisa aku katakan lagi?  Mereka dapat melihat dengan jelas Ginah yang tengah pulas bergelung dalam sarung kumal milikku.
 
Aku hanya bisa pasrah, ber-istighfar dalam hati dan menanyakan pada Allah, dosa besar apa yang sudah aku perbuat dan sudah cukupkah aku menebusnya dengan semua cobaan yang menimpaku?  Aku segera merasa ujian ini belum akan berakhir saat kuedarkan pandangan dan menemukan anak-anak dan menantuku diseberang jalan. 
 
Tatapan mereka tidak akan pernah aku lupakan.  Seolah seketika itu aku bukan bapak mereka lagi.  Aku bisa apa?  Hanya dapat menghela nafas. Satu-satunya yang aku perlukan untuk menjalani semua ini adalah nafas. 
 
Keesokan hari aku resmi kembali beristri, hanya ada Harto yang bersedia menjadi saksi.  Anak-anakku tidak ada yang sudi, bahkan pintu dan jendela rumah pun tertutup rapat saat aku yang berboncengan sepeda dengan Ginah berangkat menuju KUA.
 
“Sudah Har ….” Aku  meraih kain dan membersihkan kedua tanganku.
 
‘Sudah’ bisa berarti aku sudah selesai membetulkan rantai sepedanya atau bisa juga sudah cukup Harto menghujaniku dengan nasehat yang aku tidak tahu apa gunanya untuk keadaan yang sudah terlanjur morat-marit ini.
 
Harto bangun dari duduknya, menyelipkan lembaran dua ribuan dalam telapak tanganku, lalu menuntun sepedanya keluar dari pekarangan bengkel. 
 
Suwun,” sepatah kata itu saja yang diucapkan Harto sembari berlalu.
 
Aku memandangi perginya Harto dengan batin berkecamuk.  Mengapa tidak ada yang datang untuk memberikan aku dukungan?  Mengapa justru pertanyaan dan pernyataan menyudutkan yang selalu orang-orang lontarkan padaku?  Mungkinkah esok hari akan ada Harto-Harto lain yang meluangkan waktunya untuk datang hanya untuk memberitahuku mana yang salah dan bagaimana yang benar?
 
Keluh kesahku terhentikan oleh suara adzan dhuhur.  Teringat pada uraian khotbah shalat Jumat yang lalu, bahwa Allah memuliakan umatnya melalui ujian dan cobaan yang diberikan oleh-Nya.  Aku masih ingin memegang janji Allah dan setidaknya masih punya harapan pada anakku yang akan lahir tujuh bulan lagi.  Begitu kata Bu Bidan padaku malam tadi.
 
Tiba-tiba terlintas dalam benak keinginan untuk pergi, mencari harapan yang lebih besar di tempat baru nanti.  Memulai keluarga baru bukan berarti aku akan berhenti mendoakan anak-anakku, mereka tetaplah keluarga, darah daging.  Dan, aku bisa mulai menggunakan namaku lagi.  Bertahun-tahun orang-orang mengenal dan menyapaku dengan sebutan Pak Sam, kependekan dari Samsiah, nama almarhum istriku.  Ya, ditempat baru nanti aku bukan lagi laki-laki tanpa nama.
 
***

 

 
Ditulis olehOky E. Noorsari. Tinggal di Bantul. Menyukai buku sejak kecil, dan sekarang sedang belajar menulis, supaya bisa bikin buku.. FB : Oky E. Noorsari
Baca Juga:   5 Masalah Penulis dengan Penerbit

9 thoughts on “[Cerpen] Laki-laki Tanpa Nama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *