[CERPEN] KOTAK MUSIK LAYSA

Menunggu, aktivitas hal yang membosankan untuk sebagian orang, tapi tidak dengan Laysa. Gadis berambut lurus sepunggung, si pemilik lesung pipi itu cukup menikmati keramaian taman. Mendengar suara anak-anak ceria, gelak tawa, dan sesekali terdengar suara ibu melarang anaknya ketika minta untuk jajan es. Menjadi hiburan tersendiri untuk gadis tersebut.

Taman ini menjadi tempat favoritnya sedari kecil, dia selalu ke sini untuk mengisi waktu luang. Dulu, ada Papa yang rela mengantarkan, sekarang sudah tidak mungkin, karena Papa sudah ‘pulang’ lebih cepat saat Laysa berumur enam belas tahun. Lagi pula, karena terlalu sering ke sini, kini gadis itu sudah hafal setiap jengkal jalan dari rumahnya, jadi bisa sendirian.

Tiba-tiba, seseorang mendekap dari belakang, menutup kedua mata gadis itu, “Sudahlah, Jack.”

“Ya…, ketebak deh.” Laki-laki itu memilih duduk di sebelah Laysa.

“Kamu lucu.”

“Ketawa dong, kalau lucu.”

‘Sial, justru dia yang meledekku,’ batin gadis itu, “Kamu sendirian ke sini?”

“Iya, sendiri kok. Ada perlu apa sih, mendadak banget ketemuannya?”

Laysa tersenyum ke arah sumber suara, “Aku cuma mau pamit, besok harus berangkat ke Singapura untuk operasi mata.”

“Hah! Secepat itu perginya?”

“Iya, sudah. Gak usah sok-sok kaget segala, haha.” Laysa diam sejenak, dimasukkan tangannya ke dalam tas mengambil sebuah bingkisan, “Ini aku ada sesuatu untukmu, Jack. Ya, anggap aja kenang-kenangan.”

“Apa ini?” tanya Jack dengan bingung sambil menerima benda tersebut.

“Rahasia dong, jangan dibuka di sini. Kamu harus membukanya ketika aku sudah berangkat ke Singapura. Janji pokoknya!”

“Iya-iya, bawel!” Jack mengacak-acak rambut Laysa yang lurus. Reflek seutas senyum mengembang di wajah gadis bermata indah itu. Obrolan mereka berlanjut, tergambarkan betapa indahnya persahabatan itu. Mereka pun di temukan dengan cara yang unik.

Beberapa musim yang lalu, ketika Laysa hendak duduk di tempat biasanya, ternyata sudah ada yang menempatinya yakni si Jack. Laki-laki itu dikagetkan dengan sebuah tongkat yang mengenai kakinya, pada saat itulah perkenalan mereka dimulai.

Baca Juga:   LARI DARI GODAAN WANITA PENGGODA

***

“Sudah sampai,” ujar Jack menghentikan motornya. Dengan pelan membantu Laysa turun.

“Terima kasih ya, Jack,” ucap Laysa, “Pokoknya aku mau bingkisannya besok bukanya.”

“Iya, janji. Saya pulang dulu ya, Laysa… Kamu jaga diri baik-baik.” Jack melaju dengan motornya, meninggalkan Laysa.

***

Suara jangkrik telah meramaikan suasana malam itu, di tempat yang berbeda ada dua insan yang terjebak rindu yang menggebu. Laysa tidak sabar untuk melihat wajah yang selama ini sudah setia berbagi waktunya, sedangkan Jack hanya membolak-balik kado yang diberikan cewek yang telah mencuri sepotong hatinya. Bagaimana pun dia sudah berjanji, untuk tidak membuka benda itu sampai esok.

Dari kamar, Jack mendengar percakapan Mama bersama seorang lelaki, ‘Lagi-lagi, siapa yang diajak Mama malam ini?’ tanya Jack dalam benaknya.

Pemuda itu sudah merasa tertekan dengan tingkah mamanya, setelah Papa pergi, perempuan yang seharusnya dihormati itu justru menumbuhkan kebencian dalam hati karena menjadi wanita simpanan lelaki-lelaki hidung belang.

Diambilnya earphone lalu dipasangkan ke telinga dengan volume full, terdengar musik beraliran rock, tidak ketinggalan lintingan kertas yang ditambahkan serbuk untuk memberikan sedikit ketenangan, sampai ia larut dalam kenikmatan.

Berbeda dengan Laysa, dia justru sibuk menenangkan hatinya, keberangkatan besok membuat malam ini sulit untuk tidur, tidak sabar untuk melihat warna lagi, mengamati ekspresi orang-orang sekitar dan tahu akan sosok Jack.

***

Matahari sudah menyingsing, sinarnya menerobos masuk ke kamar Jack melalui ventilasi dan sela-sela gorden jendelanya. Laki-laki itu baru saja tersadarkan dari tidurnya. Sedangkan Laysa sudah mengudara sejak tadi. Jack teringat akan bingkisan dari gadis pemilik tongkat itu, ia pun langsung meraih kotak yang kemarin diberikan padanya, pelan tapi pasti ia membukanya.

Baca Juga:   Episode Rumah – Bagian 2

Ternyata sebuah kotak musik. Ini bukan kotak musik yang biasa, ada tombol play dan record pada permukaannya. Jack langsung memilih play. Terdengar suara Laysa.

‘Hai Jack… Ada sepenggal puisi untuk mu.
-Kau bukan cahaya
Namun kau mengisi tiap untai doaku
Kau tak perlu warna
Aku mengagumimu apa adanya-
Tetaplah menjadi dirimu sendiri ya, Jack.’

Senyum Jack mengembang ketika mendengarnya, ‘Puisi yang manis’. Namun, tiba-tiba badannya terasa sangat nyeri, menggigil, terasa sakit di setiap sendinya. Diambil lagi sebuah lintingan di meja samping tempat tidur, dia hirup dalam-dalam lalu mulai membakarnya, menikmati setiap aroma yang keluar, menghisap setiap rasa yang ada. Memberikan rasa nyaman.

***

Hari kedua Laysa berada di rumah sakit, dengan keadaan mata masih diperban paska operasi.

Dokter pun memasuki ruangan, untuk mengecek keadaan Laysa, melihat kondisi gadis itu sudah membaik, dibantu dengan asistennya mulai melepaskan perban yang melingkari kepala Laysa. Setelah melepas kapas yang menutup sementara matanya, “Sekarang kamu bisa buka matamu, dengan perlahan,” himbau Dokter.

Dengan sangat pelan gadis itu membuka mata, buram, perlahan tapi pasti, terlihat seorang dokter dan suster di sekitar serta mama yang terlihat haru.

“Mama…!” ucapnya senang.

“Iya, Nak. Ini Mama. Akhirnya kamu bisa melihat.”

Mereka pun berpelukan, Laysa tidak bisa menahan rasa senangnya. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Jack, “Mama, bisa minta tolong hubungi Jack.” Mama mengangguk, dihubunginya nama Jack pada kontak handphone. Tidak ada respons, dicoba lagi dan tetap tidak ada jawaban.

Mama menggeleng, “Mungkin Jack lagi sibuk, Nak.”

Terlihat ada kesedihan pada raut wajah Laysa, “Kapan kita pulang, Ma?”

“Dalam beberapa hari, sayang….”

Baca Juga:   [Cerpen] Boneka untuk Murni

Rona bahagia sangat nampak jelas di wajah Laysa. Tidak sabar untuk memberi kejutan untuk Jack, dia sudah berjanji dengan hatinya sendiri bagaimana pun keadaan laki-laki itu dia akan tetap pada rasa yang sama.

***

Esok harinya, Laysa mencoba menghubungi Jack, tapi tetap nihil. Tidak ada jawaban atau respon. Dia mulai cemas, dan khawatir dengan apa yang terjadi pada Jack.

Nada tanda pesan berbunyi, dengan cepat Laysa ambil, dari Jack. Langsung Laysa buka pesan tersebut.

‘Laysa, ini Mamanya Jack. Jack telah pergi satu minggu yang lalu, karena overdosis. Mohon doanya, ya.’

Tubuh Laysa mematung, tidak menyangka dengan apa yang barusan dia baca, matanya memanas, waktu seakan berhenti. Seharusnya dia bisa melihat wajah yang selama ini membuatnya nyaman, justru tidak akan pernah. Pesan masuk lagi, dari Jack.

‘Jack dimakamkan di Kebun Jeruk.’

Pesan itu justru menusuk-nusuk perasaan Laysa. Dia menjerit, membuat sang mama datang menghampiri.

“Ada apa, Nak?”

“Mama…, Jack, Ma! Jack telah pergi.”

Mama mendekap erat gadisnya, memberikan ketenangan.

“Jaahaat! Tuhan jahat, Ma.”

Mama merasakan betapa hancur hati anaknya, seperti saat dia kehilangan suaminya dulu.

“Kamu yang sabar, Nak. Kamu yang kuat.”

Mama mencoba untuk menenangkan, Laysa yang sedang kacau.

“Temani, Laysa ke makamnya Jack, Ma.”

Dengan mata sendu, mereka melesat kepemakaman Jack. Setibanya di pemakaman, perlahan dengan jantung berdetak tidak karuan, Laysa memasuki area makam, matanya seketika tertuju pada beberapa makam yang tampak baru. Namun, kedua retina gadis itu terfokus pada benda yang tidak asing baginya, sebuah kotak musik yang ada di depan batu nisan yang tertulis Jack Ardius.

Laysa pun tak sadarkan diri.

*Selesai*

Ditulis oleh: Nurwahiddatur Rohman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *