[CERPEN] KEPUTUSAN NANING

sumber: kompasiana.com
Warga kampung Jati geger, saat Naning kembali ke rumah.  Perempuan itu pergi tanpa pesan enam bulan lalu. Orang-orang terkejut melihat penampilan Naning yang tampak trendi dengan mode pakaian terkini. Bahkan, pipi Naning yang dulu tirus pun tampak lebih berisi. Belum lagi HP keluaran terbaru yang ditentengnya ke sana kemari. Naning tampak sumringah, tak ada tanda-tanda kesusahan di wajahnya.
Enam bulan lalu, warga kampung Jati heboh saat tersiar kabar Naning minggat. Kasak-kusuk yang santer terdengar, Naning pergi karena cekcok dengan mertuanya. Keluarganya sudah mencari kemana-mana, tapi tak juga berjumpa. Ada yang bilang, Naning mengadu nasib ke Jakarta. Ada juga yang bilang, Naning jadi gelandangan, hidup terlunta-lunta di jalanan.
Kehidupan Naning memang sepertinya tak pernah jauh dari kata derita. Sejak dalam kandungan ia sudah menderita, karena ibu Naning tak menginginkan kehadirannya. Bagi ibunya, ia hanya akan menambah beban ekonomi keluarga. Bapak Naning seorang tukang batu, dan ibunya buruh serabutan. Mereka sudah dikaruniai dua orang anak laki-laki. Saat mengetahui dirinya hamil lagi, ibu Naning berusaha keras menggugurkannya.
Tapi, Tuhan menghendaki Naning tetap lahir ke dunia. Akibat obat-obatan peluruh janin itu, Naning terlahir dengan fisik yang tidak sempurna. Matanya juling, kakinya pincang, dan bicaranya cadel. Kekurangan fisik ini membuat Naning dijauhi teman-teman, padahal sebenarnya Naning cukup supel dalam bergaul.
Kecerdasan Naning tampaknya juga tidak sama dengan teman-teman sebayanya. Semasa sekolah, ia sering tinggal kelas. Pendidikan Naning terhenti, saat ia lulus SD. Kekurangan-kekurangan itu tidak membuat ibu Naning semakin sayang padanya, namun malah membuat Naning semakin menderita. Seringkali, Naning dimarahi tanpa sebab yang jelas. Naning tidak berani bercerita pada bapaknya, karena setiap pulang kerja laki-laki pekerja keras itu sudah terlihat sangat lelah, dan tak ada waktu untuk ngobrol.
Hubungan dengan kakak-kakaknya juga kurang baik. Mereka tak peduli pada Naning. Saat ibunya hamil lagi, Naning terus jadi sasaran kemarahan. Dan ketika sang adik lahir, Naning semakin tersisih. Ibu Naning lebih menyayangi si adik perempuan yang sempurna fisiknya.
Seperti anak perempuan lainnya, Naning yang beranjak remaja juga mulai tertarik pada lawan jenis. Suatu hari, Naning bertemu dengan Pardi saat menghadiri acara pernikahan kerabatnya. Rumah Pardi persis di sebelah si empunya hajat. Awalnya Pardi yang pendiam tak menunjukkan rasa tertarik pada Naning. Pardi tak pernah terlihat akrab dengan lawan jenis. Laki-laki itu memang tak pandai bergaul dengan perempuan. Tangannya akan gemetar, dan bibirnya menjadi kelu saat ada gadis yang mendekatinya.
Namun Naning yang supel, dan ceria berhasil meluluhkan hati Pardi yang dingin. Naning sering mengajak ngobrol Pardi dengan santai. Ia tak peduli sikap Pardi yang tak memedulikannya. Setiap Naning berkesempatan bertemu dengan lelaki pendiam itu, Naning akan langsung menyapa dengan centil, dan bercerita panjang lebar tentang banyak hal. Batu yang terkena tetesan air akan berlubang juga, begitu pun hati Pardi.
Gayung bersambut. Pardi pun sering mengunjungi Naning, dan mengajaknya jalan-jalan. Laki-laki itu tak peduli pada fisik Naning, ia merasa nyaman bersama gadis itu. Bu Kemi, ibu Naning, tampak senang melihat ada lelaki yang menaruh hati pada anak gadisnya yang tak sempurna itu. Selama ini, bagi Bu Kemi, Naning tetap dianggap sebagai anak tak berguna, dan pembawa sial dalam keluarganya.
Hubungan Naning, dan Pardi pun semakin erat. Setelah beberapa lama, akhirnya Naning dipersunting Pardi. Meskipun Pardi pengangguran, Bu Kemi tetap merestui hubungan mereka. Itu karena ibu Pardi adalah seorang pedagang yang cukup mapan di pasar kecamatan. Bu Kemi merasa bangga punya besan orang berpunya. Ia sangat berharap pernikahan Naning bisa mengangkat ekonomi keluarganya.
Sebaliknya, bagi Mbok Ginem, ibunya Pardi, mempunyai menantu seperti Naning sangatlah jauh dari impiannya. Tetapi, Pardi yang sudah terlanjur bertekuk lutut pada Naning terus bergeming pada keinginannya untuk menikahi Naning. Mbok Ginem pun mengalah demi anak semata wayangnya.
Pernikahan Naning, dan Pardi berlangsung meriah. Bu Kemi memang sengaja mengadakan pesta pernikahan itu untuk menunjukkan pada warga kampung Jati bahwa ia sekarang punya besan kaya. Selama acara perhelatan itu, tak henti-hentinya Bu Kemi menebar senyum pada tamu-tamu, seraya mengulang-ulang cerita tentang betapa beruntungnya Naning bisa menikah dengan Pardi. Sementara, dua sejoli di pelaminan pun tampak tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka.
Seperti pengantin baru pada umumnya, awal pernikahan mereka masih tampak baik-baik saja. Setahun kemudian, anak mereka lahir tak kurang suatu apa. Bayi mungil itu diberi nama Juwita. Naning dan Pardi masih tinggal di rumah orang tua mereka. Kadang seminggu di rumah Naning, lalu seminggu di rumah Pardi begitu seterusnya. Mereka memang belum punya pekerjaan tetap. Biaya hidup masih ditanggung orang tua. Hal itulah yang lama kelamaan mulai memunculkan kerikil-kerikil dalam rumah tangga mereka. Bu Kemi mulai gerah melihat Pardi yang menganggur, sedangkan Mbok Ginem semakin tak bisa menutupi rasa bencinya pada Naning.
Pagi itu adalah puncaknya. Mbok Ginem uring-uringan sepulang dari pasar. Hatinya jengkel melihat keadaan rumah yang berantakan. Naning sedang tidur-tiduran di kamar, sambil meninabobokan anaknya, sedangkan Pardi mengurusi burung peliharaannya di belakang rumah.
“Ealah …, orang tua sibuk kerja, yang di rumah, kok, santai-santai. Dasar kebangetan!” teriak Mbok Ginem.
Mbok Ginem melemparkan bakul berisi karung-karung bekas pembungkus beras ke pojok ruang tamu. Lalu ia menyapu sambil terus nyerocos memuntahkan segala uneg-uneg tentang Naning yang dianggapnya hanya menambah beban keluarganya.
Mendengar gerutuan ibunya, Pardi pun bergegas menghampirinya.
“Ada apa to, Mbok?” Pardi berusaha bertanya sepelan mungkin.
“Ada apa? Lihat itu! Rumah berantakan begitu, mana istrimu?” Mbok Ginem menjawab dengan nada tinggi. Wajahnya memerah menahan amarah.
“Lagi di kamar sama Denok, Mbok,” ujar Pardi.
“Setiap pagi, kok, cuma di kamar. Mbokmu ini dulu juga ngurus anak, tapi juga bisa beresin rumah, dan jualan ke pasar. Memang dasar istrimu itu pemalas kok, Di.”
Pardi cuma terdiam. Ia sebenarnya sudah sering mendengar keluhan ibunya tentang Naning. Ia juga sudah berusaha memberi pengertian agar ibunya bisa bersikap lebih baik pada istrinya itu. Tapi, setiap hari, selalu saja ada yang membuat ibunya uring-uringan gara-gara hal sepele yang mungkin luput dari perhatiannya, seperti lantai yang belum disapu, piring kotor yang menumpuk, dan lainnya. Pardi juga sudah berupaya mengajak Naning untuk lebih rajin membantu di rumah, tapi karena anak mereka yang masih balita, Naning lebih memerhatikan anaknya daripada mengurus pekerjaan rumah.
“Sudah Mbok bilang sejak dulu. Mbok enggak suka kamu nikah sama dia. Kamu masih saja ngeyel, sekarang terbukti, kan? Dia itu perempuan yang bawa sial. Coba dulu kamu nikah sama Maryati, anaknya Bu Darto, pasti kamu lebih bahagia,”
“Aku bahagia sama Naning, kok, Mbok.” Pardi berucap dengan wajah memelas.
“Bahagia apa? Kamu masih nganggur gitu, luntang-lantung enggak ada kerjaan. Istrimu bisa kerja apa? Beres-beres rumah aja enggak becus. Mending kamu ceraikan saja dia.”
“Mbok, aku nggak mau. Aku cinta sama Naning.“ Pardi meraih tangan ibunya, berusaha mencium tangan perempuan yang telah melahirkannya itu.
“Oh, kalau memang kamu lebih cinta sama istri sialmu itu daripada Mbokmu ini, ya sudah. Silakan pertahankan dia, tapi Mbok enggak mau kamu tinggal di sini lagi.” 
Mbok Ginem menepis tangan Pardi, dan bergegas ke kamarnya. Tanpa mereka sadari, Naning mendengarkan semua percakapan itu di balik pintu kamarnya. Tiba-tiba, hatinya terasa panas, dan sakit sekali. Semua ucapan Mbok Ginem seperti anak panah yang meluncur deras, dan menancap tepat di hatinya, membuatnya sangat terluka. Dan, tanpa berpikir jernih, Naning pun pergi meninggalkan rumah yang sudah bagai neraka baginya. Meninggalkan suami, dan anaknya yang masih terlelap. Mengubur semua impian bahagia keluarga kecil mereka. Entah ke mana, ia tak tahu.     
Dengan langkah tergesa, Naning pergi. Tanpa sepeser uang, dan hanya membawa baju yang melekat di badan. Air mata tak kuasa lagi dibendung. Kata-kata Mbok Ginem terus saja terngiang di telinga, membuat air mata semakin deras membasahi pipi tirusnya. Naning terus berjalan menyeret kaki pincangnya, pergi menjauh.
Mengetahui istrinya minggat, Pardi pun kalut. Pardi berusaha mencari Naning tapi tak kunjung bersua. Ditelusuri jalan di sekitar kampung, namun Naning seperti hilang ditelan bumi. Tak ada pilihan lain, Pardi pun pergi ke rumah mertua sambil menggendong putri kecilnya. Di rumah Bu Kemi, Pardi hanya bisa duduk terdiam, dan menelan semua caci maki yang terlontar dari bibir ibu mertuanya itu.
“Suami macam apa kamu? Enggak becus ngurus istri. Pokoknya aku enggak terima Naning minggat. Kamu harus cari Naning sampai ketemu. Kalau sudah ketemu ceraikan saja dia, biar anakmu kami yang urus.”
            Bu Kemi meraih Juwita dari gendongan Pardi. Lelaki itu semakin tak berdaya, hari itu ia tidak hanya kehilangan satu, tapi dua permata hati sekaligus. Hatinya pun berdarah, tapi pantang bagi lelaki kurus itu untuk menangis, meski luka batin menganga lebar tak terperi.
Jauh di pinggiran kota, Naning duduk termenung di tepi jalan. Wajah suami, dan anaknya berkelebatan dalam angan. Sudah beberapa hari ia habiskan waktu mengukur jalan, tanpa tahu harus ke mana. Lalu lalang kendaraan tak dihiraukan. Bajunya sudah lusuh, rambut pun kusut masai, perempuan itu tampak seperti gelandangan. Jika lapar, ia akan mengemis pada orang-orang yang lewat. Beberapa orang yang iba lalu memberikan sekedar recehan. Dengan uang itu, Naning membeli nasi, dan lauk seadanya, yang penting cukup untuk mengganjal perut yang berkeriut.
Naning duduk melamun di depan sebuah warung soto, ibu pemilik warung yang sudah memperhatikan beberapa saat, merasa penasaran. Dengan hati-hati, wanita paruh baya itu mengajak Naning ngobrol. Naning pun tak mampu lagi menahan perasaan. Semua yang ia rasakan selama pelariannya tumpah ruah. Ia menangis sejadinya, dan menceritakan apa yang telah dialami.
Pemilik warung merasa kasihan, dan prihatin dengan nasib Naning. Lalu, dia berbaik hati menawarkan pekerjaan, dan tempat untuk Naning bernaung. Naning dengan senang hati menerima tawaran itu.
“Terima kasih Bu, saya janji akan bekerja dengan baik,” ucap Naning sambil mencium tangan ibu pemilik warung.
“Iya, Ning. Yang penting kamu rajin bantu-bantu biar warung Ibu bisa lebih rame lagi,” kata ibu pemilik warung terharu.
Sejak hari itu, seperti ada curahan semangat baru di hati Naning. Luka batinnya belum sirna, tapi perlahan Naning mulai bangkit. Naning menjadi tenaga serabutan di warung soto itu, kadang ia ikut belanja ke pasar, kadang membantu menyiapkan masakan, melayani pelanggan, sampai cuci piring. Semua dilakukannya dengan penuh suka cita.
Naning bertekad untuk membuktikan pada orang-orang yang selama ini meremehkannya, bahwa ia juga bisa bekerja, dan berhasil. Dengan sifatnya yang ceria, dan supel Naning berhasil membuat pelanggan bertambah banyak. Bahkan kadang ada yang berbaik hati memberikan sekedar tips untuknya. Naning menabung sebagian uangnya. Ia selalu teringat anaknya, dan berjanji akan membelikan apapun yang diinginkan Juwita jika kelak mereka berkumpul kembali. Ia ingin menebus rasa berdosa karena telah meninggalkan putri kecilnya.
Kini, Naning telah kembali. Ia bahagia bisa memeluk Juwita lagi. Dengan tabungannya, ia membelikan baju, dan mainan untuk putri kesayangannya itu. Bu Kemi tampak senang Naning pulang. Ia begitu membanggakan anaknya yang pulang dengan membawa banyak oleh-oleh. Namun, kepulangan Naning hanyalah sesaat, ia sudah memutuskan untuk kembali bekerja. Kali ini ia benar-benar akan pergi jauh. Ia mendapat tawaran bekerja di Jakarta sebagai asisten rumah tangga.
Siang itu, Naning bertemu dengan Pardi. Mereka bertemu di sebuah taman bermain. Naning memang mengajak Juwita ke taman itu. Juwita tampak riang bermain ayunan. Pardi tersenyum. Hati lelaki pendiam itu bahagia bisa berjumpa dua permata hatinya.
“Apa kabar, Ning?” Pardi tak bisa menahan debar dalam dadanya saat menyapa Naning.
“Baik,” Naning menjawab singkat, tangannya mendorong ayunan dengan pelan. Juwita tertawa senang.
“Kamu semakin cantik,” kata Pardi. Ia begitu pangling dengan penampilan Naning.
“Apakah kamu masih cinta sama aku, Mas?” Naning bertanya seraya menatap Pardi.
“Tentu saja. Aku selalu cinta sama kamu,” kata Pardi, membalas tatapan istrinya.
“Bagaimana dengan ibumu? Apakah dia masih benci padaku?” Pertanyaan Naning menghunjam hati suaminya.
Pardi terdiam. Lelaki itu tertunduk, tak mampu menjawab. Ia tahu ibunya masih belum bisa memaafkan Naning yang telah pergi tanpa pamit.
“Aku akan kerja ke Jakarta. Kalau Mas Pardi cinta sama aku, ayo kita pergi bersama-sama. Kita bisa hidup bertiga di sana.” Naning sangat berharap Pardi mau ikut dengannya.
“Maafkan aku, Ning. Aku tak bisa meninggalkan ibuku,” ucap Pardi lirih. Pardi tahu ibunya tak akan mengijinkan jika ia pergi bersama Naning. Batinnya perih. Ia sangat mencintai Naning, namun ia tak ingin mendurhakai ibunya.
Naning memandang suaminya lekat-lekat. Bulir bening mulai membasahi pipi. Ia pun menggendong Juwita yang masih asyik bermain.
“Baiklah, jika itu keputusanmu, Mas. Maaf aku harus pergi.” Naning melangkah meninggalkan Pardi yang masih mematung di samping ayunan. Lelaki itu tak kuasa menatap kepergian istri, dan putri kecilnya. Sekali lagi, ia harus merelakan dua permata hatinya. Entah kapan dia bisa berjumpa lagi.
Ditulis oleh Maya Romayanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *