[Cerpen] Kemarahan Gentayu

Aku melewati pintu rimba hutan yang ditakuti para penduduk kampung. Menurut cerita yang kerapkali menyusup rongga telinga penduduk, hutan akan bersuka cita mengirimkan kabar kematian lewat angin di petang hari, saat mega merah gagah tampakkan keanggunan warna, ada pula yang menafsir sebagai waktu bergelimang darah. Dari peredaran rumor, hutan tak segan menghisap nyawa kehidupan setiap jiwa bila selangkah kaki berhasil meliarkan niat lalu menyelinap di lebar pintu hutan yang memang terbuka. Rumor terus berkembang menjadi turun-menurunkan generasi ketakutan.

Kayu berderit saat hendak kupatahkan ketebalan ukurannya. Kerapuhan yang tampak di muka kayu pada tatapan tak lama ternyata menipu pandangan. Tak cukup puluhan detik terhabiskan guna menuntaskan asa itu. Beberapa kali aku berhenti dan berniat mengambil napas yang beterbangan di sela-sela rindang daun. Setelah dirasa cukup, kembali kupegang ujung kayu tak panjang itu untuk segera dipatahkan.

Memang berjatuhan para bubuk bukanlah pertanda kayu bakal mudah dipatahkan. Buktinya berkali-kali percobaan harus dilaku, malah kadang disertai melantangkan suara untuk merayap ke setiap jengkal hutan. Memenuhi ruang itu. Kadang pula aku berkomat-kamit tak jelas yang kupercaya sebagai upaya pemompa tenaga. Hanya sebatas komat-kamit, bukan berzikir, membaca mantra, menyairkan puisi, atau menginang seperti kebanyakan orang tua di pedesaan.

Sebenarnya, ketiadaan rencana kupersiapkan untuk berada di hutan itu. Tiba-tiba saja di balita pagi, aku tersadarkan oleh riuh cericau burung dari pepohonan. Di pinggiran hutan. Seingatku, minggu sore aku bersengaja menumpangi sebuah bus renta yang terlihat keseringan batuk berdahak, terkadang berhenti dan bernapas beberapa detik sebelum melanjutkan napas perjalanan menuju kota tetangga.

Perihal kota tetangga, sesungguhnya aku tak begitu tahu. Pada perputaran detak waktu, ia adalah kota imajinasi tempatku selama tiga tahun mendatang meraup ilmu dan menerima warisan pengetahuan yang belum ditemu. Kata kebanyakan orang yang berhasil meringkus pikiranku pada suatu waktu, kota menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari pelbagai sudut nusantara. Mereka rela menderma biaya, mendaki para gunung-melewati para lembah, apalagi membiarkan lenyap waktu tak terbaca jumlahnya, hanya untuk bersama-sama mengais ilmu yang tergeletak di sekitar tanah itu.

“Lantas, jarak tak seberapa jauh dari alas pemberdirianmu ini bakal kau biar sia begitu saja? Esok, usia akan menghukum dan menghujatmu berkepanjangan bila sempat tak dimanfaat sebagaimana khalayak. Lihat saja nanti! Menyesal tiada berperih,” tantang lelaki bertubuh bungkuk dan bermata sayu yang aliran katanya mampu menghanyutkan keliaran tingkahku di akhir temu.

Aku terdiam beku di marung1 depan gedung serba guna kecamatan kala itu, hingga tiga hari berselang lewat mimpi tak sempurna, bayang lelaki itu menawar lagi. Tanpa berbasi menit, aku segera mengangguk.

Ah, belum sampailah sehari sejak kepergian berestu dan lambaian doa mengejar saat roda bus perlahan berputar, tatapan hatiku seolah berpindah. Langit harapan untuk segera ke tanah entah itu tak terlaksana. Langit berubah suram, payung mendung berlagak tegas lalu membuka layar lebarnya. Di samping itu, kisah lain meminta segera dinyala. O, gelimang dosa apakah yang menjalar hingga lara hati menyelang panjang dan tancapkan kemerahan senja?

Ketiadaan parang bukanlah perkara yang mesti diperdebatkan bagi seorang yang keberadaannya tak disengaja. Kebingungan mematahkan kayu adalah kewajaran yang pantas diterima oleh gundul kepala pikiran. Penyalahan berkelanjutan tanpa dasar hanya terkesan meracik sandiwara dan memantik api masalah yang kemudian bermaksud mengundang pasang mata untuk menyaksi. Menjadi tontonan sarat luka berontak, sekaligus hiburan bagi hati berlara.

Sebagai pendatang baru, aku membiar tangan-kaki melaku apa yang hendak diperbuat. Memang sebelumnya terdapat cemas melingkar di hati kala pertama kali aku mendekap di kerimbaan hutan itu, namun bukan berdasar dari peredaran rumor di kalangan para penduduk sebab aku sendiri tak pernah menjumpa mereka sebelumnya. Zahir ketakutan lebih mengarah pada rimbun entah untuk berteduh, dan harus seberapa lama mendekam di sana. Apalagi aku telah terlanjur memasuk ke pintu hutan yang jalan pulang sepertinya telah menutup pandangan.

Di suatu malam yang tak seberapa terang—purnama datang belum begitu sempurna—aku sendiri berpura-pura mengingat isi kalender yang sama sekali tak pernah dihafal. Ah, di masa terjepit itu ada-ada saja tingkah buah pikiran: tepat isi kalender mendadak penting. Padahal simpang siur mata biasanya membiar lembar kalender hanya tergantung di dinding ruang tengah.

Tak berselang lama, sekilas melayang bayangan seseorang ke arahku. Aku memincingkan mata ragu, tapi aku pula tak mampu menghindar jauh. Lalu, terlihat sesosok gadis berparas anggun mendekat. Remang cahaya tak mampu menutupi kemolekan lekuk tubuh dan menawan parasnya. Aku terdiam. Kebinggungan menggelayut di langit pikiran. Akankah membisukan suara berkepanjangan? Atau terhujam oleh almanak alam naluri sebab menyiakan bercakapan dengan putri yang bisa jadi tak menemu kembali?

Dengan menangkupkan kedua tangan, gadis itu berjalan lebih mendekat.

“Aku bermimpi bertemu Umak, itukah kamu?”

Halilintar memenuhi gendang telinga, lalu mengalir ke rongga hati. Berpilin-pilin dan menciderai pelbagai dinding. Di tengah luka tak pasat, aku menatap tajam gadis itu.

“Usia kita terlihat sama, mungkinkah itu?” tanyaku heran, “Pun jenis kelaminku tak layak dipanggil sebagai Umakmu.”

“Tapi, perulangan mimpi telah memecah nyenyak tidurku. Malam akhir-akhir ini mewajahkan gelisah. Jika sekali-dua, rasanya bisa disebut hanya sebatas khayalan saja. Namun, ini berkali-kali. Belasan kali!” lengkingan suara gadis itu pecah.

“Oooo…,” jawabku singkat, sedang mataku enggan melepas wajahnya yang dirasa mampu tenangkan ketakutanku di kerimbaan hutan itu.

“Sebab itu, aku nekat menerobos pelbagai dinding hutan dengan membawa cahaya matahari bila siang, juga mengoborkan cahaya bulan kala malam datang. Muasal tinggalku yang terletak di kaki Bukit Sulap, jauh kutinggalkan demi membuktikan kebenaran mimpi. Berhari telah kuhabiskan waktu mendaki dan menuruni lembah bermacam bukit, hingga sampai di alas tanah yang serupa dengan gambaran dalam mimpiku!” jelas gadis yang barulah kemudian kuketahui bernama Gentayu.

Aku berlagak menjadi pendengar setia seperti para orangtua kala membiarkan anak-anak mereka membatukkan segala pengalaman hidup yang telah dilalui.

“Aku pula memantik api keberanian untuk kemudian menelan titah Ubak yang merupakan kepala Suku Ulak Dalam agar tidak menjalarkan langkah ke hutan di bukit lain. Tapi, pagi itu, aku meliarkan kaki menerobos tebalnya tirai kabut. Kepergian itu dikira Ubak tak lebih sehari seperti biasanya. Kebiasaan memainkan senjata untuk memburu para mangsa—semisal rusa, kijang, ular, kambing hutan, ayam berugo, atau rimau—untuk dijual di pinggiran kampung kadang mendapa setengah restu Ubak,” runtutan kata mengalir deras dari bibir manisnya.

“Lalu?”

“Aku hendak mengajakmu pulang dan berdiam di kampung halamanku yang telah menciptakan ketentraman para penduduk, kecuali aku. Kehadiran seseorang dalam mimpi itu telah menceburkan gelisah ke sisi hidupku. Terus menghantui. Akhirnya, terputuslah keyakinan bahwa manusia pertama yang dijumpa harus ikut serta dalam perjalanan pulangku,” Gentayu menarik napas dalam, membiarkan sekumpulan udara bebas memasuki rongga hidung dan mulutnya. “Tak dapat diduga, ternyata dirimulah yang beruntung. Mari pulang?” sambungnya.

Aku mendadak tenggelam dengan kelebat kata yang tiba-tiba melayang dalam pikiran. Perpaduan antar kata ternyata mengatupkan kepura-puraan mendengar, hingga hendak beranjak dengan mendobrak suara agar keluar dari liangnya. Namun, rangkaian kata itu masih terjelimet sendiri, lalu jelaslah tiada luncuran tatanan rapi kata di ruang bebas.

“Ehhhm…,” bibirku gemetar.

“Kita tentu akan hidup berkuntum bunga bahagia yang memekarkan aroma cinta. Percayalah!” desaknya.

Aku memejamkan mata dan mengalirkan anak udara ke ruang penampung oksigenku.

“Tak mungkin. Sungguh!”

Akhirnya hawa takut telah berubah dan bersiap mengawali cakap.

“Tiada yang tidak mungkin. Punggung restu Kuasa tentu mempersilah kita bersama,” Gentayu bersikeras.

“Lebih dari itu, renungilah pendirianmu itu! Jangan sampai jerat nafsu mempengaruhi alur hidupmu.”

“Waktu telah mengangsur itu semua, cukuplah belasan hari aku terkungkung ilusi yang akhirnya terjadi di sini. Marilah!” ajaknya lagi. Dijulurkan tangan halusnya itu ke wajahku.

“Dalam ceritamu, bukankah kau mencari seorang Umak?”

“Benar!”

“Aku lelaki gagah yang tak pantas menjadi seorang Umak. Kodratnya berbeda. Berbeda!” suaraku mengeras.

“Tapi, kau harus tetap pulang bersamaku,” bujuknya dengan pikat kerendahan suara seorang gadis.

“Aku tak bisa.”

“Kalau begitu, kita menikah saja!”

“Sulit.”

“Kurangkah keanggunan parasku?” Gentayu mengedipkan mata berharap agar aku kian terpikat oleh kecantikannya.

“Tidak.…”

Sebagai lelaki yang mencintai buku, aku pernah menemui kisah perihal suku Gentayu. Kekangan keyakinan melarang anak-cucu untuk merakit bahtera keluarga dengan beda suku. Jika itu benar-benar terjadi, pilihan selanjutnya hanya ada dua: dibunuh atau diasingkan dari kampung halaman.

“Tahukah, kau telah melahirkan nyinyir hatiku, hujaman gerombolan kata yang kau layangkan itu begitu menyakitkan. Membuat goresan yang jika dibiarkan akan makin meluas. Aku terluka…,” Gentayu membalikkan wajah. Dibelakanginya aku yang mencoba membaca gerak-gerik tubuhnya.

“Siapa yang enggan hidup bersama gadis cantik jelita sepertimu. Tapi, sebenarnya aku masih harus melanjutkan perjalanan. Sebuah tanah tengah menungguku. Terpaksa saja aku di sini, yang penyebabnya sendiri masih asing dari pikiranku,” aku berharap kelembutan bahasa mampu melenturkan panggulan berat hidupnya yang berujung menghentikan kehendaknya itu.

“Atau…” Gentayu bergerak dan mendekati tubuhku, tinggal sedepa lagi. Lalu tanggannya cepat menyusur ke bagian depan tubuhku. Pisau menancap tajam di perut. “Kematian memang pantas untuk pengganti rasa puas!”

Darah mengucur deras menebas kata-kata yang hendak keluar. Aku layu di atas akar kayu. Selang beberapa menit, tubuh telah terkapar, nyawa meloncat keluar. (*)

* * *

marung1: bangku

Baca Juga:   [Cerpen] Jodoh dari Dewi

Ditulis oleh: Wahyu Wibowo

Yogyakarta, 2015 – 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *