[Cerpen] Jodoh dari Dewi

Siang itu aku melihat Dewi begitu lemah dengan selang di sekujur tubuh. Gadis yang  semasa SMA itu terlihat sangat cantik, sekarang sudah sangat berbeda. Bibirnya tak lagi merah merekah seperti dulu. Rambutnya pun tak terlihat terurai hitam panjang. Saat SMA, dia menjadi salah satu primadona. Tak heran, banyak teman atau kakak kelas yang menginginkan menjadi pacarnya. Tapi sekarang wajah cantik itu sudah menjadi layu, bibir yang merah merona itu sudah menjadi putih pucat pasi, rambut yang lebat semakin habis karena rontok.

Sudah dua tahun, gagal ginjal menemaninya. Rumah sakit juga sudah sangat akrab dengannya. Dua kali dalam seminggu untuk cuci darah, aku rasa itu membuat dia merasa sangat jenuh. Rumah Sakit bukan lagi menjadi momok, tapi sudah menjadi teman. Aku selalu  merinding setiap kali mendengar ceritanya tentang teman sesama penderita gagal ginjal. Dewi selalu memberi mereka semangat, meski aku paham itu sangat sulit untuk dia lakukan.

Aku ingat saat Dewi masih bisa bersekolah. Dia sering ijin ke UKS, dengan keluhan mual. Aku juga ingat, sebelum Dewi tidak bisa berangkat ke sekolah lagi, dia jadi sering pingsan. Kami dibuat panik. Kami tidak tahu kalau saat itu Dewi terkena gagal ginjal stadium empat. Karena sebelumnya, temanku ini masih sangat sehat.

Kami kaget, ketika orang tua Dewi datang ke sekolah, dan mengabarkan kalau dia tidak bisa berangkat sekolah lagi. Saat itu, hatiku hancur. Dewi adalah teman yang selalu mendengarkan curhatku, tapi selama ini dia tidak pernah mengeluhkan tentang tubuhnya.

Saat itu, Dewi menyuruhku untuk ke rumah sakit. Padahal, biasanya dia tidak pernah memintaku untuk menemani periksa dan cuci darah. Di tengah keadaannya yang begitu lemah, dia memberi aku sebuah pesan. Pesan khusus mengenai Elang, kekasih Dewi.

“Aku harap kalian bisa akrab, sebelum aku tiada.”

Waktu itu. aku marah-marah ketika Dewi berbicara seperti itu.

“Wi, kamu bicara apa sih, kamu harus yakin, kalau kamu akan sembuh.”

Tapi, dia tersenyum, dan aku dibuat bingung dengan senyumannya.

“Kalian nanti harus sering-sering ketemu, ya. Meski, aku sudah tidak ada di antara kalian.”

“Dewi!” Aku terpaksa membentaknya. Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, karena dia sudah sering berbicara ngawur. Meski aku tahu kemungkinan terburuk dari gagal ginjal stadium 4, tapi aku tidak mau berpikir sesuatu yang buruk akan terjadi.

                                                               ***

“Dil, kamu nanti temani aku lagi ke rumah sakit, ya.”

Aku terima pesan dari sahabatku saat itu. Dewi selalu tahu kalau aku sedang libur, dan pasti akan memintaku untuk menemaninya meski sudah ada Elang.

Kadang, aku hanya seperti kacang garing di antara mereka berdua. Dewi begitu manja pada Elang, begitu pun sebaliknya. Momen romantis mereka selalu aku saksikan dengan jelas. Belakangan aku sadar, Dewi menunjukkan itu untuk mengajariku. Begini loh, cara memperlakukan Elang. Kadang dia memintaku untuk ikut bergabung di antara mereka. Aku sering menolaknya, meski itu akan membuat Dewi marah.

Pernah Dewi ngambek tidak mau makan, karena aku belum datang bersama Elang. Lalu Elang menjemputku seusai jam kantor. Baru setelah aku datang bersama Elang, Dewi mau menyantap makanannya.

Sore itu Dewi bersikap manja sekali padaku dan Elang, dia memintaku untuk menemani jalan-jalan. Dia berbisik kepadaku, ”Dil, pantai itu tempat favoritnya Elang.” Kala itu, aku hanya mengangguk.

Sepanjang perjalanan dia hanya bicara tentang Elang. Dari warna, lalu makanan dan apa pun yang Elang suka. Dia juga menceritakan apa saja yang Elang tidak suka. Rasanya semua rahasia Elang dibongkar di hadapanku.

“Dil, mungkin sebulan lagi aku udah tidak bisa melihat pantai bersama kalian.” Ucapan Dewi yang sangat mengagetkanku.

Aku selalu marah, setiap Dewi berbicara tentang mati. Seolah hidupnya tinggal besok pagi. Padahal, aku melihat semangat berobatnya sangat luar biasa. Meski, kadang sikapnya seperti anak kecil kalau sedang bersama aku dan Elang. Ibunya saja, sering bingung mengapa dia manja padaku, bukan dengan beliau. Karena itu, ibunya seringkali berkata, “Ibu titip Dewi ya, Dila.”

  Ibunya sering kali bercerita, kalau Dewi ingin bekerja seperti aku setelah sembuh. Karena itu, dia semangat berobat. Tapi, aku bingung kenapa kalau denganku dia seolah memberi isyarat kalau dia akan meninggal esok hari? Dewi selalu memberi pesan-pesan yang tidak aku mengerti.

                                                            ***

Siang itu aku terburu-buru menuju ke rumah sakit. Elang menelponku memberitahu kalau Dewi tidak mau cuci darah kalau aku tidak di sampingnya. Untungnya, aku sedang tidak terlalu sibuk di kantor, jadi aku bisa langsung ke rumah sakit untuk menemani Dewi.

Sampai di lorong rumah sakit, aku melihat senyum manis yang agak masam. Dewi sudah pucat. Aku segera antarkan dia ke ruang pemeriksaan. 

Aku lega, karena proses cuci darah berjalan lancar. Aku sudah tidak melihat senyum masam lagi di wajahnya. Dia sudah terlihat begitu cantik. Tiba-tiba, dia menyentuh tanganku dan mendekatkan tangan Elang.

“Wi, maaf maksudnya apa?” Aku jengah ketika tangan Elang menggenggam tanganku.

“Elang, aku nitip Dila, ya.”

Aku langsung memeluknya erat, dalam batinku bergolak. Wi, jangan bilang kamu akan pergi. Aku belum siap. Hampir saja aku menangis, tapi segera aku tepis. Aku ingin terlihat selalu tersenyum di depan Dewi.

                                                            ***

Peristiwa berikutnya akan selalu aku ingat. Saat itu aku sibuk sekali di kantor karena waktunya laporan akhir bulan. Untuk membuka hp saja tidak sempat. Apalagi aku memang sengaja mematikan deringnya. Tapi kemudian aku menyesal. Ternyata Elang menghubungiku berkali-kali. Berpuluh-puluh pesan singkat aku terima. Ada satu pesan yang membuatku ingin menangis. Pesan dari Dewi yang terkirim pada pukul 07.00 pagi.

‘Dil, hari ini ke rumah, Aku kangen.’

Itu adalah pesan terakhir darinya. Karena tepat pukul 12.00, Dewi pergi. Allah lebih menyayanginya. Allah lebih menginginkan dia bersamaNya, tidak bersama dengan kami.

                                                            ***

Hari ini tepat satu tahun Dewi pergi. Saat ini juga, aku dan Elang ada di depan pusaranya. Aku bercerita pada batu nisan bahwa satu bulan yang lalu Elang telah melamarku. “Bulan depan kami akan menikah. Dewi, kami meminta restumu. Semoga aku bisa menjaga Elangmu, begitu juga sebaliknya.”*)

                                                            ——–

Cerpen ini terinspirasi oleh seorang temanku yang telah dipanggil Allah terlebih dahulu.

Ditulis oleh: Sifa Dila

Reviewer: Oky E. Noorsari

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *