[Cerpen] Jo, Aku Pulang

Sumber gambar: eksotisjogja.com  

“Jo, aku pulang dulu, ya,” katamu lembut. Jo adalah panggilan khususmu untukku. Panggilan yang berbeda dengan orang lain. Kata “Jo” kamu ambil dari nama depanku, Joko. Bukan dari kata Jodoh. Karena pada akhirnya kita tidak berjodoh.
 
Lidah ini kelu untuk menjawab “Ya.”  Ada kegetiran yang mendalam saat kuantar kau ke Pelabuhan Tanjung Priok. Perjalanan yang panjang dengan menumpang kereta api dari Yogyakarta. Aku mengantarmu cukup sampai di sini, sampai dermaga yang ramai ini. Selanjutnya kamu meneruskan perjalanan sendiri, ke pulau Bangka, tanah kelahiranmu.
 
Tidak ada alasan bagiku menahanmu lebih lama, sementara kuliahmu sudah selesai. Wisuda sudah berlangsung sebulan yang lalu. Kamu masih bertahan di Yogyakarta untuk mempersiapkan diri dan sanggup berkata, “Aku pulang.” Terlalu banyak kenangan bersamamu. Masih ingat betul saat pertama kali kita bertemu di Kinahrejo. Kita ditempatkan di sana, sebagai mahasiswa yang sedang  melaksanakan Kuliah Kerja Nyata. Aku tahu kamu sudah memiliki lelaki lain. Jadi sia-sia saja aku banyak berharap. Justru aku tidak berani berharap. Berharap banyak, maksudku.
 
“Jo, temani aku ke sini ya?” ajakmu.
 
Cukup. Itu saja cukup. Menemanimu ke mana kamu pergi. Sungguh, tak berani aku menaruh harapan lebih padamu. Meskipun kuliah kita tidak seangkatan namun kita ditempatkan di waktu dan tempat yang sama. Kebetulan sekali bukan? Dan aku senang dengan hal itu. Sungguh! Memang sih posko-ku lebih jauh. Tempatku naik lagi ke atas tetapi itu malah menjadi keberuntunganku. Sebab aku bisa turun ke pusat kota dan melewati posko-mu. Atau sebaliknya. Ah, semua serba kebetulan.
 
Posko-ku hampir mendekati Kali Kuning. Kau tahu? Kali Kuning ketika itu belum terkenal seperti sekarang. Kita pernah pergi berdua ke sana. Eh tidak, kita tidak pergi berdua, banyak temanmu ikut serta. Dan kamu memilih berboncengan denganku. Ingatkah kamu beberapa temanmu meledek?
 
 “Ciee, yang lagi pacaran,” goda temanmu membuatku tersipu.
 
 Dan dengan suara cempreng-mu kamu selalu menjawab, “Iya, po Jo? Kamu suka aku po?” Begitu tanyamu dengan logat Jawa yang masih kaku. Walau sulit kujawab pertanyaanmu, namun aku suka. Jika ada cermin di depanku, pasti aku terlihat tersipu malu. Itulah jawaban telakmu saat teman-teman meledek.
 
Ah, aku rindu kata-kata itu. Saat di Kali Kuning, aku mengajakmu menepi berdua dan menjauhi teman-temanmu. Saat itulah, kita bebas bercerita tentang apa saja. Kamu pun cerita tentang sosok kekasihmu. Dia yang telah menunggumu di Bangka sana. Dia yang setia. Dia yang …. aku tidak kuasa melanjutkan.
 
Kamu sangat menikmati cerita itu. Kamu ungkap cerita dengan santai dan riang. Namun tahukah kamu bahwa itu menyakitkan? Sungguh. Apalagi saat kamu bilang akan menerimaku jika kamu belum memiliki kekasih. Ah, pengandaian yang berlebihan. Entahlah, itu sekadar kata-kata penghibur atau hanya penolakan yang halus. Apa pun anggapanmu terhadapku; sebagai teman, kakak atau apa, aku akan tetap berusaha membuatmu bahagia.
 
Bukan apa-apa, aku hanya merasa dapat chemistrydenganmu. Caramu memperlakukanku, menggoda dan bersikap semua membuatku betah berada di sampingmu. Bahkan tiap kali aku turun gunung menuju ke Yogyakarta, aku selalu menyempatkan mampir ke posko-mu. Aku sudah tidak mempedulikan lagi anggapan teman-temanmu. Aku hanya berharap bertemu denganmu dan mendengar kata-katamu, “Hati-hati, ya, Jo!” Perhatian yang keluar dari mulut dan suara cemprengmu, sungguh kusuka.
 
Pernah suatu ketika aku datang ke posko-mu dan kamu menawarkan makan siang. Dengan percaya diri, kamu berujar bahwa semua masakan itu hasil kreasimu. Kamu tahu tidak bahwa aku merasa tersanjung? Mungkin aku bukan siapa-siapa namun jika perlakuanmu seperti itu, aku bisa jatuh cinta setengah mati. Kamu bilang kalau itu masakan khas Bangka. Pantesan aku belum pernah merasakan, batinku. Tiga bulan masa KKN pun berakhir, hubungan kita masih samar-samar. Kalau berteman kok terlalu akrab, kalau kakak adik kok ada rasa, kalau sepasang kekasih kok tidak ada ikatan.
 
Aku mencoba bersabar dan mencari saat yang tepat untuk menembak-mu. Aku sudah tidak peduli lagi apakah kamu akan menerima atau bahkan menolak mentah-mentah. Senyatanya, kamu memang sudah punya kekasih jauh di Bangka sana. Namun biarlah, aku tetap akan melakukannya, sebelum semua terlambat dan aku menyesali. Waktu yang kutunggu-tunggu telah tiba, tiga minggu setelah penarikan KKN, aku menghubungimu lagi. Dalam benak, waktu bersamamu adalah kesempatan emas untuk kutunjukkan bahwa dalam diriku telah tercipta ruang indah untuk dirimu yaitu kamu, “Gadis Bangka.” Dengan alasan kangen dengan tempat KKN di Kinahrejo, Sleman, aku mengajakmu ke sana. Untungnya, kamu mau pergi ke sana.
 
Kita pergi ke Kinahrejo mengendarai sepeda motor berdua. Tujuan kita mengunjungi posko KKN masing-masing untuk menjalin silaturahmi dengan pemilik posko. Setelah dari posko,  aku mengajakmu ke Kali Kuning. Kali Kuning yang pernah kita datangi bersama teman-teman dahulu. Kita menyelusuri jalan yang dahulu kita pernah lewati. Kemudian melihat sungai yang mengalir jernih, melihat bendungan dan berjalan menyelusuri jembatan. Saat kaki terasa capek, kita pun duduk di tepi sungai.
 
Disitulah saatnya kuutarakan rasa cinta. Walaupun susah untuk berterus-terang, akhirnya aku sanggup mengucapkan dengan lancar. Aku menatapmu dengan tajam dan berharap kamu mengetahui keseriusan itu. Begitulah, tanpa sepatah kata terucap dari mulutmu, hanya senyuman manis sebagai jawaban, kita semakin erat. Sejak hari itu, kita selalu bersama menghabiskan hari-hari di sini, di Yogya-ku, sampai kau diminta pulang orangtua. Aku tahu tanpa jawaban lisanmu, aku bisa memastikan bahwa kamu pun mencintaiku. Namun jika saat ini, kita akan berpisah itu cerita yang lain. Bukan begitu, Dik?
 
 

 

Ditulis oleh: Jack Sulistya.
Baca Juga:   PESONA ISTRI SALIHAH

4 thoughts on “[Cerpen] Jo, Aku Pulang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *