[Cerpen] Indhang* Demang

sumber: google image

“Kau akan melenyapkan Sukarmin?”
Kupikir indhang monyet hanya bisa ‘wuk-wuk’. Ternyata dia bakat jadi cenayang. Jujur padanya akan mengail cemburu. Bohong? Menyulut api amarah … cemburu lagi! Aku berpindah ke ranting pohon Sukun yang lebih tinggi. Indhang monyet bergelantungan mengikuti. Biar pun dia tahu rencana pelenyapan nyawa ini, dia tidak boleh tahu cara apa yang akan kupakai.
“Kenapa?”
“Kau akan membuat pintu yang dapat menyatukan dunia kita dan dunia Sulastri? Mimpi! Kau tak pernah sadar, kita nyata berbeda!”
Indhang monyet benar. Pada satu sisi itu saja. Tapi, tresna ini abadi hanya untuk Sulastri. Wanita sintal dengan rambut selalu rapi—istri seorang pemain ebeg[1]. Dan sebentar lagi, aku akan melenyapkan sainganku itu pada saat ebeg mendhem. Besok di lapangan Mertasinga.
“Apa kau akan merasukinya lalu mendhem[2] bersama? Menyisir kelengahan dan mencabik-cabik napasnya?”
Busyet! Indhang monyet tahu dari mana akan rencanaku? Apa dia memiliki pengalaman serupa dengan indhang lain?
Dengan satu lompatan, indhang monyet sudah berada di atas pangkuanku. Beda sekali baunya dengan Sulastri. Aku tak tahan. Apek! Pelan, kedua tanganku mendorong badan tambunnya. Indhang monyet meringis.
“Aku akan masuk ke dalam tubuh Sukarmin terlebih dulu. Jika kau melenyapkannya, maka juga menyakitiku. Kau akan mendapat pengusiran dari para indhang karena mengusik sesama indhang. Sepanjang Pantai Selatan, dan semua indhang Kabupaten Cilacap tidak akan menerimamu. Kau tidak lagi bisa melihat Sulastri. Aku dengan senang hati akan menyusulmu. Pergi denganmu ke mana pun.”
 Najis!
            Lembayung menghiasi langit. Bias-bias cahaya matahari mulai hilang. Benda panas raksasa itu menenggelamkan diri dalam pelukan malam. Malam itu, aku terpaksa menuruti keinginan indhang monyet. Pura-pura menyukainya dengan menahan napas.
***
Melambung, terbang, aku turun perlahan ke pangkuan Sulastri. Bait lagu mengalun merdu dari bibirnya. Jari-jari lentik kusentuh. Pelan. Napas wangi kemangi, tubuh beraroma melati. Wanita itu menambal lubang celana suami. Kecemburuan menarik pikiran, ingin kusambar kain cokelat usang itu, dan melempar ke atas pohon sukun. Tapi, nanti Sulastri terkejut, berdiri, ngacir dengan wajah pucat. Hilang  kesempatanku bermanja.
“Aduh! Sudah hati-hati, masih tertusuk.”
Setitik darah segar membulat kecil di jari tengah tangan kiri. Sulastri buru-buru mendekatkan bibir. Sebelum mengecup darah itu, aku terlebih dulu merasakan lembut bibirnya. Menggairahkan. Dia masih lanjut menambal. Kupikir akan berhenti, cukup duduk saja di atas lincak. Membiarkan tempat duduk bambu itu menopang kami yang memadu kasih.
“Kau sedang apa, Demang?”
Hampir saja aku terlonjak dari pangkuan Sulastri. Uh, monyet betina itu lagi! Dia selalu saja datang mangganggu keasyikan. Tresna. Hal yang menjadi alasannya terus mengekoriku. Benar-benar terkutuk!
Aku terpaksa meninggalkan Sulastri, daripada monyet itu naik ke tubuhku. Bisa kutuan! Aku ambil ancang-ancang. Lari ke selatan. Sayang! Tangan si monyet begitu cepat menyambar. Aku tetap berlari, dan akhirnya suara gedubruk tak dapat kami tahan. Jaran Kepang jatuh dari dinding ruang tamu. Sulastri melongok, bertanya tanpa ada yang menjawab, “Siapa yang menjatuhkan ini? Padahal tidak ada angin.”
Semakin sering si monyet datang, akan sering pula kejadian aneh yang dilihat oleh Sulastri. Ini bisa menggugurkan rencanaku untuk sering bersamanya. Aku mendelik ke arah si monyet. Dia hanya meringis. ‘Wuk-wuk’.
***
           
Kendang, saron, kenong, gong[3], dan terompet sudah siap di tempatnya. Bunga-bungaan, pisang raja,  pisang mas, kelapa muda, jajanan pasar, dan lainnya tertata rapi. Lima belas orang bersiap di pinggir lapangan. Delapan orang akan menari dengan Jaran Kepang. Dua lagi sudah memakai topeng. Yang wajahnya bertopeng putih namanya Penthul, sedangkan yang topengnya melelehkan air mata adalah temannya, si Tembem. Jalan raya tepi lapangan Mertasinga mendadak macet. Warga siap menonton selepas dhuhur. Termasuk Sulastri. Langit tidak terlalu cerah, penonton berdesakan.
            Tembang Ricik-Ricik masih mengalun diiringi musik tradisional. Aku bersiap di bawah gawang, pinggir lapangan sebelah utara. Ke mana indhang monyet? Dari beberapa indhang yang sudah tak sabar menunggu  untuk merasuk, hanya indhang monyet yang tidak terlihat. Kuharap, dia percaya bahwa aku tidak akan membawa tubuh Sukarmin mencebur ke Laut Lengkong. Laut paling dekat dari lapangan ini.
            Ebeg sudah mulai. Sebagian penonton menyeruput es teh dalam plastik. Walau tidak terik, desak-desakan membuat suhu udara naik. Aku menatap Penthul dan Tembem, lalu mencari wajah Sukarmin. Kenapa dia ada di pinggir lapangan?
Ricik gemricik grimise wis teka sedela maning
Bapake wis teka nyong kaget
Aduh rika mbekta napa
Bungkus pethak niku isi napa
[4]
Lagu pengiring ebeg masih mengalun. Teman-teman mulai merasuk. Hanya tubuh Sukarmin yang masih normal. Ada yang langsung makan beling, menggenggam bara, duduk di atas pisau tajam yang ditata berdiri, meringkik, menyepak, serta perilaku lain. Lalu, indhang monyet masuk ke tubuh siapa? Tak satu pun di antara pemain ebeg bertingkah seperti monyet. Apa indhang monyet sedang tidak tertarik merasuk? Persetan!
            Aku segera masuk ke tubuh Sukarmin. Berlari. Menyeberang jalan. Orang-orang berteriak seraya menjauhiku, “Sulastri kesurupan! Sulastri kesurupan!” Kakiku mengerem. Semua orang minggrir.
Mana Sulastri? Tidak ada di mana pun.
Kenapa mereka memanggilku Sulastri?
Aku kembali membawa tubuh yang kurasuki menyusuri jalan kecil tepian sawah, menuju laut Lengkong. Setelah melewati pemakaman di tikungan, aku menambah kecepatan. Seorang bapak yang sedang naik sepeda kutabrak. Wajahnya pucat. Beberapa orang mengejar. Aku  terus berlari.
            Kuceburkan tubuh Sukarmin ke dalam ombak. Menyeretnya ke tengah laut. Hidung mencium wangi kemangi. Mungkin Sukarmin telah menerima resep wangi dari istrinya. Aku naik. Membiarkan tubuh yang kubawa mengambang. Aku akan bebas mencintai Sulastri.
***
           
Kulihat indhag monyet di bawah gawang. Dia tersenyum menyiratkan sesuatu. Entah apa. Aku terperanjat mendapati Sukarmin sedang minta air kelapa muda pada seorang pawang. Orang-orang merubung. Kukerjap-kerjapkan mata tak percaya. Mana mungkin secepat ini Sukarmin sampai ke darat?
            “Sulastri belum kembali?” tanya pawang kepada rombongan ebeg.
            “Belum!” jawab lainnya kompak.
            Sul—?
            Indhang monyet mendekat. Dia mengerling, setelah meringis. Kerlingan aneh. Menggaruk-garuk kepala dan pantat. Membuka-buka mulut, dan menepuk-nepuk pundakku. Belum enyah rasa penasaran ini, tiba-tiba serombongan orang datang. Kerumunan melonggar. Mereka beralih ke rombongan orang yang menggotong? Sul—?
            “Sulastri!” ucap indhang monyet seolah tahu yang kutanyakan dalam hati.
            “Apa yang terjadi?” tanyaku diliputi cemas.
            “Bukankah kau yang membawanya ke laut? Kenapa tanya padaku?”
            Jawaban indhang monyet membuat harapan yang tadinya berkobar mendadak padam. Seolah ada bongkahan es yang menyiram kesaradan. Dingin. Sangat!
            “Aku terpaksa melakukan ini. Sebelum kau merasukinya. Aku sudah membaca mantra untuk menukar rupa Sulastri dengan Sukarmin di matamu. Setelah kau ada di dalam tubuhnya sampai ke laut. Kau masih yakin dia Sukarmin. Namun, begitu air laut menyentuh tubuhnya, mantra itu sudah hilang, dan kau tak menyadarinya.”
            Bedebah!
            Jadi wangi kemangi dan melati itu memang datang dari tubuh yang kutenggelamkan? Aku ingin mencekik indhang monyet, tapi para indhang sudah berkumpul. Mereka sudah keluar dari tubuh para pemain ebeg. Tubuhku lemas. Aku melesat ke tubuh Sukarmin.
            “Kau mau apa, Demang?”
            Tak kuhiraukan lagi pertanyaan indhang monyet. Aku hanya ingin melihat tubuh Sulastri. Orang yang kucintai telah pergi. Dan aku lah yang meloloskan nyawa dari raganya.
            “Sukarmin mendhem lagi!”
            Orang-orang ribut. Aku sengaja membuat ulah sebagai pelampiasan amarah. Kuangkat tubuh pawang dan melempar ke pinggir lapangan. Topeng Penthul dan Tembem kubuka. Kukenakan bergantian. Aku menari bersama tubuh Sukarmin. Tari kepedihan. Aku berpindah dari tubuh Sukarmin ke tubuh pemain ebeg lain. Membuat suasana sore tambah ramai. Langit mulai senja. Kesurupan belum reda. Aku sengaja.
            Aku kembali ke tubuh Sukarmin. Pawang itu bangun. Dia mendekat. Ada satu hal yang ingin kuminta. Sebelum benar-benar pergi dari tubuh ini. Sesuatu yang ada hubungannya dengan Sulastri. Bukan seikat kemangi, atau segenggam melati. Aku ingin merasakan sentuhan cinta yang dibuatnya sebelum pergi.
            “Kamu mau apa?” tanya pawang.
            Aku njaluk madhang!” jawabku lemas.
            Hanya minta makan. Mereka membawa makanan enak. Ingkung bakar dan komplit lalapan. Kuambil tampah sebagai wadah. Mengangkatnya tinggi-tinggi diiringi jeritan beberapa orang.
            “Aku minta masakan yang dimasak Sulastri hari ini.”
            Semua bengong. Mereka saling pandang. Untuk pertama kalinya mungkin indhang minta makan dan pesan siapa yang masak. Aku tak peduli! Beberapa orang terdengar berembug, lalu kulihat mereka sepakat melakukan sesuatu.
            “Kami akan ke rumah Sulastri mengambil makan,” ucap seorang bertubuh cungkring.
            Aku melangkah ke arah Sulastri. Indhang monyet mengikui. Kedua mata wanita ayu memejam, tubuhnya kuyup kaku. Rambut yang biasa dicepol, tergerai. Kulitnya yang bersih mulai memucat. Kugerakkan tangan Sukarmin membelai wajah Sulastri. Dingin.
            “Ini makan yang kau pesan,” ucap seseorang mengejutkan.
            Kulihat sepiring nasi, sambal terasi, daun kemangi, dan tempe goreng dengan garis-garis yang rapi. Warnanya mulai gosong. Melalui mulut Sukarmin, aku bisa merasakan rasa lezat menu sederhana ini. Rasa cinta. Alangkah beruntungnya Sukarmin mendapatkan cinta utuh dari Sulastri. Betapa malang laki-laki tukang ebeg ini setelah istrinya pergi.
            Aku keluar dari tubuh Sukarmin. Wajah-wajah pemain ebegbegitu lusuh. Mungkin juga denganku yang tak dapat mereka lihat. Ini terakhir kali aku merasuk ke tubuh para pemain ebeg. Aku tidak tertarik merasuk lagi. Mungkin akan menjadi pertapa di kuburan tua,  berpindah-pindah dari satu pohon besar ke pohon besar lain, atau dari satu gua ke gua yang entah. Musik ebegtak akan menyeretku datang lagi. Aku janji. []
—–
Oleh: Kayla Mubara
* Indhang: disandarkan pada makhluk halus yang merasuk pada tubuh pemain ebeg
[1] Ebeg: di tempat lain biasa disebut dengan jaran kepang, jathilan
[2] Mendhem: mabuk karena kesurupan. Tidak sadar melakukan sesuatu.
[3] Kendang, saron, kenong, gong: perlengkapan yang ada dalam pertunjukan ebeg.
[4] Terjemah bebas lagu (biasa dibawakan saat pertunjukan ebeg): suara gemericik air gerimis sudah datang, saya terkejut, Bapak datang, kamu bawa bungkusan putih berisi apa?

5 thoughts on “[Cerpen] Indhang* Demang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *