[Cerpen] HARI-HARI UNTUK KAKEK

Bus berhenti, kereta pengangkut barang berwarna putih dengan puluhan gerbong melintas, mengingatkanmu akan masa kecil, rumah sakit, dan selang infus yang terpasang di lengan lelaki tua. Kamu dan adikmu berdiri dengan jengah di lantai dua rumah sakit terbesar di kota ini, menunggu kereta selanjutnya, kereta yang kalian harap akan lebih panjang dari yang sudah-sudah.

Itu hari Minggu dan liburan sekolah benar-benar memenjarakanmu. Bau obat-obatan menyeruak, suara bisik-bisik puluhan orang, atau menggelikannya bunyi gesekan roda kursi dan dipan yang didorong dan membuat pening kepala. Kamu tidak bisa pergi jauh kecuali sekadar berjalan-jalan dari satu lorong ke lorong lain dan lantai dua rumah sakit tempatmu berdiri saat ini, yang menghadap pada hamparan sawah luas, menjadi satu-satunya tempat favorit.

“Mbak, keretanya datang!” teriak adikmu, rambutnya yang dikuncir miring sisi kiri bergoyang-goyang.

“Mari kita hitung! Satu, dua, tiga….” Sebuah cahaya terbit pada bola matamu.

Kereta itu berjalan terlampau cepat, melesat jauh meninggalkan rel kereta di tengah sawah. Hasil hitungan kalian tak pernah sama. Namun, kamu yakin milikmu yang benar, sedang adikmu ngotot bahwa dia lebih benar darimu. Katanya, bisa jadi kamulah yang salah karena nilai tes kenaikan kelas matematika adikmu itu jauh lebih bagus dari milikmu. Pertengkaran tentang jumlah gerbong kereta yang lewat hampir terjadi tiap kali kalian berkunjung menjenguk kakek. Namun, pertengkaran itu tak berlanjut karena tiba-tiba seorang perempuan tua datang sambil memanggil nama kalian secara bergantian.

“Kakek mencari kalian. Ayo, masuk!”

“Baik, Nek!” jawabmu setengah hati sambil memberengut. Merasa bosan, juga kesal. Sesuai tebakan, sesampainya di ruang inap, kakek mengulurkan sebuah kipas yang terbuat dari bambu. Padahal, pegal di tanganmu selepas memijat tubuh kakek sebelumnya belum juga hilang.

Tubuhmu terdorong ke depan, membawa kesadaranmu kembali. Bus lagi-lagi berhenti mendadak selepas melaju tersendat-sendat dengan goyangan-goyangan. Membuat makin sesak dada. Pipimu menghangat, ada tetesan air yang mengalir di balik masker yang menutup wajahmu. Perasaan bersalah itu kembali hadir, berdesak-desakan hendak ke luar. Namun, kamu tak pernah mengizinkannya sekali pun, menyimpannya sendiri selama puluhan tahun.

***   

Setelah mama tak ada henti-hentinya menelpon, membujuk, mengatakan betapa teganya jika kamu habiskan sepanjang liburan di Jakarta, kamu pun memutuskan pulang kampung dengan setengah hati. Masih dapat kamu ingat dengan jelas betapa hari-hari liburan semester sebelumnya terasa begitu panjang serta membosankan. Dan kamu masih dihantui penyesalan-penyesalan yang sama. Kenangan-kenangan tentang hari-hari bersama kakek begitu membelenggu. Dan kamu tidak tahu sampai kapan hendak terjerat  masa lalu.

Harusnya, usianya enam puluh tiga tahun kini. Kamu membayangkan betapa banyak kerutan di wajah. Barangkali, rambutnya telah seluruhnya memutih. Seketika, sebuah senyum yang menggelikan begitu saja hadir, memperlihatkan sebaris gusi tanpa gigi. Jika kalian masih dalam satu dunia, mungkinkah dia akan sepemarah dulu? Saat usianya di kisaran lima puluh.

“Niar, kalau ngepel mundur, jangan maju. Kalau maju ya sama aja, kotor lagi.”

Kamu terkekeh, suaranya bahkan masih terdengar jelas di telingamu setelah bertahun-tahun. Dulu, kamu tak berani membantah, tak pernah membalas omelan-omelannya dengan satu kecap kata pun. Meski, terkadang, kamu dibuat teramat sebal karena terus dinasehati ini itu. Kebanyakan anak remaja memang begitu bukan? Tidak suka diceramahi.

“Niar, ketika Kakek cerewet terhadapmu bukan berarti Kakek membencimu. Kakek  hanya ingin Niar jadi anak yang hebat, jadi cucu membanggakan.”

Kepalamu tertunduk. Kakek masih melanjutkan kalimatnya panjang lebar.  Namun, selang beberapa waktu, nenek datang membawa nampan.

“Ini untukmu.”

Kakek menyodorkan piring berisi mie instan kuah yang baru saja dia bagi dari mangkoknya. Kamu terima piring itu dengan bahagia mengingat kemarin kamu juga menghabiskan mie instan dalam kemasan gelas bersama adik bungsu. Maklum, untuk bisa makan mie instan, kamu harus menunggu akhir pekan. Mama akan marah-marah jika satu di antara anak-anaknya secara sembunyi-sembunyi mengonsumsi makanan dengan bahan pengawet itu di hari yang lain. Dan Minggu adalah hari anak-anak terbebas dari hukuman-hukuman.

“Anak-anak sekolah dilarang mengonsumsi makanan dengan penyedap rasa. Sesekali boleh, tapi jangan banyak-banyak. Nanti otaknya lemot.” Begitu, mama senantiasa menekankan.

Kalian santap mie instan dalam wadah masing-masing dengan lahap. Mata kakek penuh binar saat mengatakan, “hutsss…ini makan siang rahasia. Kamu nggak boleh cerita mama atau yang lainnya.”

Seketika, nenek tertawa. Kamu temukan binar cinta di mata keduanya. Saat itu kamu menyadari satu hal, bahwa tak sepenuhnya salah jika cucu yang lain suka cemburu dan mengatakan, “Kamu enak, cucu kesayangan!”

***

Sebelum hari kematiannya, hari-hari panjang kakek dihabiskan di ruang inap rumah sakit dengan bantuan selang infus dan terkadang juga bantuan pernapasan. Itu ialah saat-saat yang dia benci, kamu tentu tahu benar. Ketika dia harus jauh dari keluarga dan cucu kesayangannya. Belajar di sekolah formal menuntutmu masuk kelas tiap hari, sedang jarak rumah dengan rumah sakit hanya dapat ditempuh dalam waktu tiga jam perjalanan.

Suatu hari nenek menelpon dan mengatakan pada mama untuk membujukmu serta adik bungsu agar mau menginap di rumah sakit saat hari masuk sekolah. Katanya, kakek terus memanggil nama-nama kalian. Dan ketika nenek menyadarkan kakek bahwa mereka sedang di rumah sakit dan kalian sedang sekolah, kakek justru menangis.

Kamu benci rumah sakit, sebagaimana kamu membenci obat yang bagimu rasanya teramat pahit. Bau rumah sakit sama halnya dengan aroma obat yang mama paksakan untuk kamu minum saat kamu tak enak badan setelah dilarutkan dalam air. Dan tak kalah menyebalkan ialah saat kakek memaksamu untuk tetap duduk di samping ranjangannya dengan tangan terus memijat atau mengipas-ngipas.

Kamu tersiksa. Teringat Vivi, Rianti, dan teman-teman sepermainan lain. Mereka pasti sedang sibuk lompat tali. Atau barangkali boneka-bonekaan, tapi bisa jadi mereka semua justru main kelereng bersama Didan, Fajar, dan Rizal. Semakin jauh kamu mengingat teman-temanmu, tanganmu makin terasa lelah, tapi tak berani mengatakan pada kakek dan hanya bisa terus memijat-mijat. Kakek pasti akan marah seperti yang sudah-sudah ketika kamu menolak disuruh ini dan itu.

***

Bagaimana cara terbaik memaafkan diri sendiri? Ada banyak cara. Mungkin dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kamu membuang pandang ke gedung-gedung di sepanjang jalan. Kesehatan kakek membaik setelah hampir sebulan dirawat inap, dan memaksa keluarga agar membawanya pulang ke rumah. Sudah nggak betah, katanya.

Sekitar seminggu selepas pulang, keadaan kakek kembali memburuk, dokter didatangkan ke rumah. Gerakmu kembali terbatasi, tidak lagi bisa main lompat tali sepulang sekolah. Kakek ingin kamu di dekatnya,  menemani, memijat-mijat, mengipas-ngipas dan kamu tidak menyukainya. Kamu teringat Vivi, Rianti, dan teman-teman.

Itu hari Kamis dan kamu sudah berjanji pada Rianti akan datang ke rumahnya untuk mengerjakan tugas kelompok yang harus dikumpul besok. Namun, kakek lagi-lagi memintamu untuk memijat-mijat, kamu menolak pada awalnya, tapi kakek bilang, “Sebentar saja, Niar. Kakek kangen.”

Meski kesal dan terpaksa, kamu menuruti kemauan kakek. Kamu memijat dengan asal, mengipas sembarangan. Berharap, kakek mau mengerti lantas semua pekerjaan ini lekas usai, dan kamu bisa segera menyiapkan buku gambar dan sekotak cat air. Selain mengerjakan tugas kelompok, kamu juga ingin mewarnai gambar animasi yang kamu buat berminggu-minggu lalu dan hampir saja terlupakan.

“Niar, apa kamu tidak sayang sama kakek?” tanya kakek tiba-tiba, memecah lamunan. Pertanyaan yang menggantung dan tak terjawab. Kamu ingat, saat itu hampir saja tangismu pecah, tapi kamu tahan kuat-kuat. Kata kakek selanjutnya, “Kalau sayang, Niar harusnya tulus menemani kakek, ikhlas saat memijat dan mengipas.” Kemudian dia mempersilahkanmu pergi ke rumah Rianti.

Sebuah wajah dengan mata berkaca-kaca menyergapmu. Dan kamu susah payah menahan diri untuk tidak tergugu. Kakek meninggal pukul sembilan malam saat kamu masih berada di rumah Rianti. Bapak menjemput, dan ketika tiba di depan pintu rumah telah dipenuhi para tetangga. Kamu tak bisa melakukan apapun, selain menjatuhkan air mata yang sebelumnya kamu sembunyikan dari kakek.

Bus berhenti di terminal. Sesampai di ruang tunggu, pandanganmu bertabrakan dengan tatapan wanita paruh baya dengan kain penutup di kepalanya. Kamu menarik kopermu dengan setengah berlari. Seutas senyum merekah di wajah kalian masing-masing. Tergesa, kamu jabat tangan wanita itu, kamu peluk tubuhnya, dan sebuah kata kamu bisikan di samping telinga, “Mama, Niar sayaaang…sama Mama. Mama tahu itu ‘kan?” Kamu terisak.

*****

Ditulis oleh: Nunuk Priyati

Reviewer: Oky E.Noorsari

NB: cerita pendek ini penulis persembahkan untuk Santasir Kanan, almarhum kakeknya tersayang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *