[Cerpen] Gadis Beraroma Melati

Puspa berlalu melewati jendela kamarku tanpa menoleh. Dia menuju halaman samping rumah. Mungkin hendak menemui Buk Nah, ibunya yang juga ibu asuhku.  Tanganku yang bertopang pada bingkai jendela mendadak goyah demi menahan kegugupanku yang datang entah dari mana. Seharusnya aku sapa dia.

Postur tubuhnya masih sama seperti ketika terakhir kali aku melihatnya.  Wajahnya pun, sejauh yang dapat aku ingat, tidak banyak berubah. Aku masih ingat saat dia melambai dari jendela mobil pamannya, yang membawa anak semata wayang Buk Nah itu ke Jakarta. 

Aku menjerit seperti ketika menemukan anak kucing kesayanganku mati terlindas sepeda Kak Mala. Dari buramnya mataku, masih bisa kulihat wajah Puspa yang juga basah. Ketika wajah itu menghilang di tikungan, aku sontak berbalik dan menangis sepuasnya dalam dekapan Buk Nah. Lengan kecilku hanya melingkari separuh pinggangnya yang gemuk, namun kepalaku nyaman terbenam di perutnya.

@@@

 “Pagi Den Bagas….” Suara yang tanpa sadar aku rindukan menyapa ramah sesaat setelah aku keluar kamar. 

Rupanya aku kesiangan parah, karena rumah sudah lengang. Para pegawai Bapak yang biasanya lalu lalang dan ramai ikut sarapan bersama sudah berangkat ke kebun. 

Aku tanpa sungkan memeluk Buk Nah seperti kebiasaan kecil dulu. Namun kali ini kepalaku sudah jauh melampau tinggi badan Buk Nah, dan tanganku tidak mungkin lagi melingkari pinggangnya. Kini berganti dengan bertengger di kedua bahu pengasuh yang sudah seperti bundaku sendiri.

“Bapak mana, Buk?  Saya ketinggalan sarapan, ya?” Aku menarik kursi dan otomatis menunggu Buk Nah mengambilkan piring dan membukakan tudung saji.

“Bentar ya Den, Buk Nah hangatkan dulu nasi gorengnya.” Buk Nah sudah berbalik badan ke arah dapur saat aku buru-buru mencegahnya.

“Nggak usah Buk, keburu lapar….” Aku menyeringai sambil menepuk perut.

Buk Nah menghela napas dan menatapku penuh sayang.

“Ya sudah, Buk Nah ambilkan jus jeruknya saja dari kulkas ya?”

Aku mengangguk disela kesibukanku mengunyah makanan. Tiba-tiba ada sesuatu yang membuatku menoleh ke belakang, sesuatu yang mengganggu hidungku. Wangi melati. Tapi tidak ada apa-apa, tidak ada siapa-siapa juga. Padahal aku berharap Puspa menghampiri dan menemani aku sarapan di sini.

“Bapak ke mana, Buk?  Kebun?”

“Katanya ke Bandung, Den.”

Selesai sarapan, aku bergegas membawa piring ke dapur, sebelum Buk Nah mengambil alih tugas itu.  Aku tahu, aku bisa menemukannya di situ.  Puspa.

@@@

Dia setahun lebih muda dari kakak perempuanku, Kak Mala. Itu artinya usia kami terpaut 9 tahun. Tapi perbedaan usia yang cukup jauh itu tidak menghalangi bayangnya untuk selalu mengganggu pikiranku. Berapa usianya sekarang?  30?  Tak masalah.

Mungkin sejarah akan berulang, seperti bapakku yang masih berumur 18 tahun ketika menikah dengan Bunda yang berusia 26 tahun.  Mungkin itu sebabnya, fisik Bunda melemah setelah memaksakan diri mengandung dan melahirkan aku diusia 37 tahun dan wafat 3 tahun kemudian.

Selama ini aku bahkan masih memelihara mimpi masa kecilku, bahwa kelak aku akan menikah dengan Puspa. Buk Nah mungkin yang merawat fisikku sepeninggal Bunda. Tapi Puspa yang menjaga jiwaku, sementara Bapak sibuk dengan perkebunan sedangkan Kak Mala, perhatiannya ada di banyak hal selain aku. 

Kak Mala sekarang tinggal di Jakarta, dengan keluarganya. Mungkin masih rutin berhubungan dengan Puspa. Aku sendiri tidak melihat kehadiran Puspa di pernikahan Kak Mala, 5 tahun yang lalu. Mungkin kami berselisih waktu dan tempat. Mungkin aku saja yang tidak mencoba mencarinya, karena terburu-buru pulang ke Surabaya.  Lagipula aku masih sakit hati, karena suratku tidak pernah berbalas.

“Hei, Bagas!”  Seseorang menepuk bahuku dari belakang.

Aku menahan diri untuk tidak segera menoleh. Kupuaskan dulu syaraf-syarafku menciumi aroma melati ini dalam-dalam, sebelum akhirnya aku berbalik dan tak aku sangka Puspa memelukku erat. Wangi melati kembali memenuhi rongga dadaku.

Kedua telapak tangannya menempel lekat di pipiku. Matanya tampak berkaca.  Sungguh, kalau ada orang yang melihat adegan kami ini mungkin akan keliru menyangka. Kami seperti pasangan kekasih di sinetron-sinetron yang lugas mengumbar ungkapan kasihnya.

“Teh….”  Dia memang Puspa di hatiku, tapi tetap seorang Teteh Puspa dalam kehidupan nyataku.

“Adikku sudah sebesar ini…, meuni kasep pisan….”

Aku seperti mendengar suara gemeretak jantungku sendiri. Berada sedekat ini dengan gadis melatiku benar-benar di luar batas anganku. Aku hampir selalu membayangkannya sudah menikah bahkan beranak pinak.

Di serambi belakang kami saling bertukar kisah. Tepatnya Puspa yang berkisah, aku hanya mendengarkan. Sesekali aku bersuara, hanya jika ditanya. Rentetan ceritanya sempat membuatku mengira kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama.

Namun sampai pada cerita bahwa dia dipindah tugaskan oleh instansinya untuk menangani perkebunan di kawasan Ciwidey ini, harapanku kembali mengembang.  Satu tahun lagi aku lulus. Tunggu saja Puspa!

Berikutnya yang aku ingat adalah Puspa yang tersenyum tulus, sambil berujar, “Gas, kamu tahu kenapa Bapak memintamu pulang?  Besok kami akan melaksanakan ijab qabul.  Bapak melamarku setahun yang lalu.  Sayang kamu tidak bisa pulang karena banyak tugas katanya….”

Jiwaku lesap bersama aroma melati yang semakin pekat. Selebihnya hanya terdengar seperti, “Bla…bla…bla…bla…blaaaa….”

*****

Baca Juga:   [Cerpen] Resep Rahasia

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *