[Cerpen] Bukit Permata

Nduk, Pak Danu menanyakanmu lagi.” Mbok Nah tergopoh-gopoh saat Sirod datang, takut anak perempuannya itu langsung masuk kamar. Sejak Mbok Nah sering membahas tentang pernikahan, gadis itu memilih menghindar atau bungkam tanpa sepenggal kata.

“Anaknya juga sudah dewasa, mereka ingin besanan dengan kita.”

Pak Danu adalah pemilik swalayan yang disetori gula semut, hasil olahan Mbok Nah. Ibu Sirod itu menginginkan anaknya segera menikah. Usia Sirod yang baru menginjak 20 tahun, sudah sangat memalukan jika belum ada yang melamarnya. Sedangkan Sirod adalah anak yang berpikiran maju, dia tidak ingin menikah cepat-cepat.

Dua bulan belakangan, Sirod sangat terganggu dengan permintaan Mbok Nah,  karena masih banyak yang ingin dia raih. Dia tidak ingin menyia-nyiakan beasiswa yang dia terima. Sebelum gelar sarjana dia sandang, dia tidak ingin menikah. Dia juga ingin sekali melanjutkan S2, cita-citanya menjadi dosen harus terlaksana.

“Jawab saja, Sirod masih ingin kuliah.” Setelah menjawab pertanyaan itu, Sirod langsung berlalu masuk kamar. Dia tidak ingin pertanyaan seputar pernikahan jadi melebar.

Nduk, tapi apa kamu tidak ingin menyenangkan, mbokmu ini?” Mendengar itu, Sirod semakin masam. Meski tak tampak ada gemuruh di hatinya. Tapi, anak itu sedang mengalami kebingungan yang dahsyat. Anak perempuan Mbok Nah itu semakin lesu, dia hanya menutup bibirnya saja. Langkahnya semakin cepat, dia ingin segera masuk kamar dan tidur siang. Agar seolah-olah, hari ini tidak ada apa-apa. Setidaknya, dia melupakan segala pertanyaan yang membuat dadanya semakin sesak.

Mbok Nah tidak pantang menyerah. Dia terus mengikuti Sirod sampai kamar. Dia menginginkan sebuah jawaban yang melegakan hatinya. “Nduk, kemarin Simbok mendengar omongan tetangga yang tidak enak tentang dirimu.”

“Biarin saja, Mbok.”

“Tapi, teman-temanmu juga sudah banyak yang menikah. Apa kamu tidak ingin seperti mereka?” Mbok Nah masih saja mendesak Sirod dengan pertanyaan yang sama. Sementara Sirod bungkam, dia hanya tersenyum dengan pertanyaan itu, sambil memainkan jari-jarinya. Dia tidak ingin mengulang jawaban yang sama.

Dia ingin menjawab dalam hatinya, Mbok aku mencintai Wahid. Sirod mengenal Wahid di tempat PKL. Mereka sudah dekat, enam bulan terakhir ini. Meski dia tidak pernah mengatakan keinginannya tentang pernikahan, tapi perhatiannya itu sudah cukup membuat Sirod melambung jauh ke langit tingkat tujuh. Wahid terlalu memanjakan anak gadis Mbok Nah itu sebagai seorang teman. Karenanya, banyak yang bilang kalau Wahid ada rasa dengan Sirod. Walaupun keduanya sering saling menghindar, tapi perasaan mereka sulit untuk disembunyikan. Rasa itu harus diabaikan, karena Sirod ingin fokus dengan cita-citanya. Wahid pun sepertinya tidak menginginkan sebuah hubungan yang disebut pacaran. Wahid lebih suka menikah tanpa pacaran.

                                                            ***

Mbok Nah bingung, karena Sirod belum pulang. Tidak biasanya dia terlambat pulang. Teman-temannya sudah dihubungi, tetapi tidak ada yang tahu di mana keberadaan Sirod.

Nduk, kok belum pulang? Simbok khawatir. Itu kita-kira isi dari pesan Mbok Nah untuk Sirod.

Mbok Nah tidak membolehkan anaknya itu pulang larut malam. Di desa itu pantang untuk anak perempuan yang masih perawan pulang larut malam. Selain itu, Mbok Nah adalah orang yang terpandang di sana. Sudah turun temurun, keluarga Mbok Nah adalah juragan penderes gula merah. Tidak heran jika masyarakat sangat hormat kepadanya. Itu yang membuat Sirod harus menjaga perilakunya. Karena pasti akan menjadi omongan warga.

 Mbok Nah bisa saja menyekolahkan Sirod sampai S2 karena hasil dari produksi gula semut itu lebih dari cukup. Tapi, dia sangat sedih dengan omongan tetangga yang selalu menyebut Sirod itu perawan tua. Di desanya memang usia menikah itu sangat dini. Lulus SMA sudah banyak yang dilamar oleh pemuda desa, kecuali yang pergi merantau. Sedang Sirod kuliah tapi tetap tinggal di rumah. Itu yang menyebabkan banyak pemuda desa ingin cepat melamarnya. Untuk apa berpendidikan tinggi bagi seorang perempuan, toh nanti akan kembali ke dapur. Sebagian masyarakat desa masih berpendapat seperti itu.

                                                  ***

Siang itu, Sirod pulang. Dia sudah tahu resiko apa yang dia terima. Di pintu depan, Mbok Nah terlihat menunggu. Beliau sudah berdiri sejak terdengar motor Sirod datang.

Melihat anaknya itu datang, Mbok Nah langsung memeluknya. “Nak, maafkan Simbok yang memaksamu menikah, tapi jangan minggat lagi, ya? Simbok tidak bisa tidur semalaman.” Mbok Nah, menangis di dalam pelukan Sirod.

Sirod yang tadinya enggan untuk pulang menjadi merasa bersalah karena perbuatannya. “Maafkan Mbok, semalam tidak mengabari.” Dalam hatinya, dia berjanji untuk tidak membuat Simbok khawatir lagi.

Dugaannya meleset, ternyata Simbok tidak marah. Beliau justru menangis dan memeluknya dengan hangat.

“Mbok, Sirod masuk kamar dulu, ya. Semalam tidak bisa tidur di kost teman,” kata Sirod seraya mencium kedua pipi Mbok Nah.

                                                            ***

Senja menawarkan ronanya yang menawan di atas bukit itu. Rumah Mbok Nah terletak di bawah tebing, dari sana kemolekan senja itu bisa dinikmati tanpa penghalang. Warnanya yang kuning keemasan menjadikan ciptaan Tuhan itu sangat elegan. Bukit Menoreh sangat layak dengan sebutan bukit permata. Mungkin hanya Sirod yang menyebutnya begitu. Karena sinar yang memancar seperti permata itulah yang sering Sirod nikmati.

Setiap dia kalut dengan hidupnya,  Sirod selalu menghabiskan waktunya di sana. Untuk menuju di atas tebing itu, telah dibuatkan jalan tikus yang berundak, jadi sangat aman untuk dilewati. Di sana, anak remaja yang hampir dewasa itu sering menceritakan kisah hidupnya. Apakah salah jika dia ingin berpendidikan tinggi? Dia sadar, senja tak akan mampu menjawab semua ini, tapi setidaknya dengan menikmati rona senja, gundahnya sedikit terobati.

Nduk, sudah magrib!” Suara Mbok Nah menyadarkan kemabukan Sirod pada senja.

“Iya, Mbok.” Sirod lalu beranjak turun dari tebing. Kalau tidak segera turun, pasti simboknya itu tidak akan berhenti memanggil.

Sebelum Mbok Nah mengomel, Sirod sudah lebih dulu mengambil air wudhu. Simboknya itu selalu marah jika dia tidak melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Perkara ibadah kepada yang mempunyai hidup memang nomor satu untuknya.

            Sirod masih menerawang jauh, sinan-sinar temaram dari bohlam itu menemaninya di kamar. Memikirkan kisah hidup ini, membuatnya tidak nyaman. Antara kepuasan hatinya atau menyenangkan simboknya. Haruskah dia menghabiskan ambisinya itu untuk kesenangan dia semata, atau dia harus berbagi ambisi itu dengan Simbok yang sangat dia cintai.

            Hati dan pikirannya tidak bisa menyatu. Sirod hanya membolak-balikkan tubuhnya ke kanan ke kiri. Entah, harus bagaimana caranya tidur malam ini. Sudah hampir pagi, pikirnya. Sirod melangkahkan kakinya untuk mengambil air wudu. Dia berharap dengan sholat malam, semua pergolakan hati ini akan menemukan titik terang.

Malam itu, menjadi malam tersyahdu dari malam sebelumnya. Bermanja dengan Sang Pencipta, akan menjadikan dia lebih bijak menyikapi ini. Kegetiran, kengerian hidup yang dia bayangkan tentang keputusan menikah atau lanjut kuliah. Gadis itu masih tertunduk dalam sajadah panjangnya, permohonan akan kebaikan-kebaikan dari setiap peristiwa yang akan dilaluinya nanti. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk menyakiti hati Mbok Nah. Meski simboknya itu tidak memahami cita-citanya, tapi dia yakin kalau Simbok melakukan yang terbaik untuknya.

                                                                   ***

            Pagi menawarkan rasa yang berbeda. Di atas tebing, Sirod menikmati suasana pagi. Dia ingin sendiri, dia juga ingin menghindar dari rentetan pertanyaan yang sama.

            Rasanya tebing itu lebih mengerti dirinya. Nuansa hijaunya membuat hati damai. Sinar kuning dari ujung timur sana menambah keindahan bukit permata milik Sirod. Jika pagi, seperti berada di atas awan. Gumpalan awan putih itu, seolah-olah tepat berada di sekitar Sirod duduk. Padahal, awan itu berada teramat jauh di sana. Mungkin karena siluet dari sinar pagi membuat awan-awan itu menjadi terasa dekat.

            “Nduk!” ternyata Mbok Nah tahu kepergian Sirod yang diam-diam. Mbok Nah berteriak memanggil Sirod yang berada di atas tebing.

            “Sudah siang, Nak.” Mbok Nah pun naik ke atas tebing untuk menemui anaknya itu.  Sementara, Sirod tidak memedulikan panggilan simboknya. Dia masih sibuk dengan pemikirannya yang masih tidak fokus. “Nduk, Ayo turun! Ada tamu, Pak Danu datang ke rumah.”

            “Apa?” Sirod kaget dengan perkataan simboknya ini. Ya Allah, harus bagaimana ini, harus menjawab apa nanti. Batinnya semakin kisruh. Dia seakan ingin berlari sejauh mungkin untuk menghindari pertanyaan yang masih membebani dirinya.

            “Iya, kamu nanti harus menjawab dengan dewasa, ya. Simbok sudah sangat menginginkanmu untuk menikah.” Mendengar pernyataan itu lagi, rasanya seperti ingin menutup telinga dan bungkam. Tapi, kalau sudah begini, apa yang mau dikatakan lagi?

            Sirod berjalan dengan sedikit menunduk, seperti  tanpa tenaga. Andai dia itu bunga mawar, dia seperti bunga mawar yang masih kuncup dan lupa disiram, layu sebelum berbunga sempurna.

                                                                   ***

            “Wahid!” Sirod setengah berteriak melihat anak laki-laki dari Pak Danu yang sering Mbok Nah sebut dengan Rafa. Sirod tergesa mengatur napasnya yang tak beraturan saat itu. Rasa tidak percaya akan semua ini pun muncul. Orang yang akan meminangnya ternyata juga orang yang dia cintai. Meski dia tidak menginginkan pinangan itu untuk saat ini.

Sirod seperti disidang, menjadi tersangka yang tak punya salah. Di sana ada Simbok, Bapak, Pak Danu dan Rafa. Pertanyaan demi pertanyaan telah diutarakan oleh Pak Danu. Namun, Sirod hanya bungkam seribu bahasa. Dia masih bingung harus menjawab apa. Di satu sisi dia menginginkan tetap melanjutkan pendidikan. Tapi di hatinya tidak menginginkan Wahid atau Rafa itu menjadi milik orang lain.

            Ruangan yang sederhana itu, meski pemandangan di atas tebing sangat terlihat dari sana, tetap tidak mampu mencairkan suasana yang tiba-tiba bersuhu tinggi di benak Sirod.

            “Saya mau menikah, tapi ada satu syarat.” Sirod akhirnya mengeluarkan kata-kata.

            Pak Danu terlihat sumringah ketika mendengar Sirod berucap. “Iya, apa syaratnya?”

            “Saya mau menikah, tapi saya masih dibolehkan untuk melanjutkan pendidikan.”

Pak Danu tercengang mendengarnya.

            Tiba-tiba satu ruangan itu terdiam.

                                                                        ***

            Bukit permata yang indah itu, tak seindah takdir Sirod, yang harus menikah di usia muda. Hatinya entah bahagia atau sedih, tapi yang dia tahu adalah tugas sebagai anak, dia harus patuh pada orang tuanya. Dan setelah menjadi istri, dia harus patuh pada suami.*)

Ditulis oleh: Sifa Dila

Reviewer: Oky

1 thought on “[Cerpen] Bukit Permata”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *