[Cerpen] Broken Heart

sumber: freepik.com

Malam pukul 23.15.
Terdengar suara mesin motor dimatikan dari arah teras. Aku bangkit dari rebahanku, bergegas menuju pintu, menyambut kepulangan Ayah.
“Kok, belum tidur, Kak?” tanya Ayah, begitu pintu terkuak.
“Kakak mau pinjam laptopnya, Yah. Mau bikin tugas,” sahutku seraya menyambut ranselnya. Di belakangku, Ayah mendorong motornya masuk ke ruang tamu. Ya, di malam hari, ruang tamu rumah kami beralih fungsi menjadi garasi.
“Yah, kayanya Ibu sakit.” Beritahuku seraya meletakkan segelas air bening di hadapan Ayah. Kuperhatikan Ayah, dari mengambil gelas hingga menandaskan isi dan meletakkankanya kembali kemeja. Tidak ada respon. Aku sengaja mencermati bibirnya, memastikan aku mendengar kalau-kalau Ayah menyahutiku, meski sekedar gumaman. Namun, bibir itu tetap mengatup rapat. Bisu tanpa kata.
Sebagai marketing asuransi, jam kerja ayah memang fleksibel. Bekerja pada after hour atau ketika weekend bukan hal aneh. Namun, belakangan ini, intensitas pulang malam ayah semakin larut dan lebih sering.
Entah kenapa, ada rasa tak nyaman yang menggelitik. Seperti ada sesuatu. Tapi sulit menjelaskan, apa sesuatu itu?  Yang jelas, sesuatu itu sangat mengganggu.
Akhir-akhir ini, aku merasa atmosfir rumah berbeda dari biasanya. Pada awalnya, aku tidak langsung menyadari perubahan ini. Satu kejadian tak biasa menyusul kejadian tak biasa berikutnya, memaksaku berpikir dan menghubung-hubungkan, mencoba menemukan benang merah, apa yang membuat suasana rumah sepi, tak sesemarak seperti dulu.
Mendung di wajah Ibu. Ayah yang semakin sering pulang larut malam. Obrolan dan perdebatan yang absen di meja makan. Ayah yang sering membawa oleh-oleh aneka rupa makanan yang melimpah, tapi anehnya, aku tak pernah melihat Ibu menyentuhnya sedikitpun.
Dari mana Ayah mendapat oleh-oleh sebanyak ini, nggak mungkin kan, Ayah sengaja membeli dengan uang sendiri, sementara, iuran komite sekolahku lima bulan belum dibayar. Jika oleh-oleh ini pemberian orang, siapa orang baik ini?
Suasana rumah yang biasanya ramai oleh canda tawa atau debat kusir, kini berubah menjadi tenang. Tapi, bukan tenang yang menentramkan, melainkan tenang yang terasa asing.
Ada apa …?
Apakah mereka sedang terlibat masalah? Segenting apa masalah yang mereka hadapi, hingga satu sama lain, kompak memasang silent mode?
Ini sangat bukan mereka. Setahuku, Ayah dan Ibu bukan tipe orang tua yang jaim. Mereka tidak sungkan beradu argumen di hadapan kami.
Jadi, jika kali ini Ayah dan Ibu, saling diam, aku sungguh tidak bisa menebak, apa yang sedang terjadi dengan mereka.
Argh, bomat!1Entar juga pulih sendiri, batinku, seraya mengeluarkan laptop dari ransel ayah.
Besok, giliranku presentasi makalah. PR Sosiologi yang diberikan minggu lalu. Aku sudah mengklasifikasikan, materi mana saja yang akan kujabarkan panjang lebar dalam makalah, dan poin-poin penting mana yang akan kubuatkan slide.
“Kak,” panggil Ayah dari ruang keluarga. Telingaku siaga untuk mendengar instruksi selanjutnya, “kalau tugasnya sudah selesai, langsung off, ya? Sudah malam.
“Iya, Yah …,” sahutku sambil menatap layar laptop yang sedang proses opening.
Aku sering membuat slide power point. Jadi, estimasiku, menyelesaikan tugas ini tidak butuh waktu lama, apalagi aku sudah menuliskan, apa-apa yang akan kubuat dalam slide nanti. Tinggal memindahkan saja.
Sambil menunggu aplikasi power pointterbuka, kuarahkan kursor ke folderFamily, tempat di mana aku menyimpan file-fileku di laptop ayah.
Tapi, sebentar ….
Tiba-tiba saja dadaku bergemuruh. Jantungku berderap. Kuklik tombol back dengan jari gemetar, memastikan, apa yang kulihat-selintas lalu-tadi, nyata, bukan halusinasi.
DEG!!!Tubuhku membeku. Rahangku mengatup kelu.
Tampak sebuah foto wanita dengan rambut sebahu dengan beberapa layer berwarna cokelat kemerahan, duduk menyamping di sebuah mobil yang pintunya terbuka. Wanita itu tersenyum ceria. Cantik. Dari latar dan penampilannya, aku menebak, wanita seperti ini yang sering orang bilang sebagai kaum sosialita.
Harusnya, aku tidak perlu heran, jika menemukan foto-foto asing di laptop ayah, mengingat pekerjaan ayah, yang memungkinkan, menyimpan foto-foto kliennya sebagai dokumentasi dan administrasi, jika saja aku tidak membaca, nama file yang Ayah sematkan untuk foto itu. My Love.
MAKSUDNYA APA INI?!
Dadaku rasanya seperti cucian, yang diremas dan diputar sepenuh tenaga. Sekarang, bukan hanya jariku yang gemetar, tapi juga seluruh tubuhku. Seperti  ada gulungan ombak tsunami yang siap mengempas lalu siap menelanku hidup-hidup.
Inginku, detik ini juga, mendatangi Ayah untuk menuntut penjelasan. Tapi, tubuhku terlalu lemas untuk bangkit dari duduk. Bahkan, rasanya tubuh juga hatiku, tiba-tiba lumpuh, tak berkutik.
Dalam beberapa saat, mataku masih nanar menatap layar monitor. Mencerna ulang fakta yang baru saja kutemukan. Me-review kembali, kilasan kejadian beberapa waktu terakhir. Seperti halnya rangkain puzzle, aku berharap dengan merangkai dan menghubungkan satu kejadian tak biasa dengan kejadian tak biasa lainnya, aku bisa menemukan ‘bentuk’ yang bisa menjawab menjawab keganjilan-keganjilan yang belakangan ini terjadi di rumah.
Huft ….
Rasanya sesak. Seperti ada batu besar yang menindih di sini.
Jelas, aku harus mendapat penjelasan dari Ayah. Tapi tentu bukan malam ini. Sekarang sudah larut malam, hampir pagi. Ayah tentu juga capek. Aku pun perlu waktu untuk menstabilkan diri. Topik ini tidak cukup dibahas hanya 5-10 menit. Layaknya persiapan presentasiku besok, aku juga harus menyiapkan data dan fakta untuk mendukung pertanyaan-pertanyaan yang siap kuluncurkan nanti.
Sambil meredakan degup jantung dan sisa gemetar tubuhku, aku berjuang mengembalikan  fokusku pada makalah yang harus kuselesaikan.  Melawan pertanyaan dan pikiran yang mengejek dan menggoda di kepalaku.
***
Hari ini, aku pulang lebih awal dari biasanya karena latihan tonti2 ditiadakan. Sekarang aku duduk di kelas X di sebuah SMU favorit di kotaku. Aku antusias dengan status baruku. Tidak tanggung-tanggung, aku mengambil empat ekskul sekaligus. Dan yang menyenangkan, Ayah dan Ibu sangat mendukungku.
Mereka bilang, nilai akademis saja tidak cukup, harus didukung dengan personal skill, yang bisa ditempa dengan berkecimpung di berbagai organisasi. Lebih baik sibuk dengan berbagai kegiatan positif dan bermanfaat, daripada grudak-gruduktidak jelas.
Ya … ya. Aku sepakat soal itu.
“Assalamu’alaikum…,” salamku seraya mendorong knop pintu yang tak terkunci. Lengang. Tak ada sahutan. Rio–adikku-pasti sedang TPA. Lagu anak islami, berkumandang dari masjid di kampung kami, pertanda hari ini ada jadwal TPA.
Tapi, kemana Ibu?
Kuteruskan langkah. Niatku, menuju ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan. Tapi langkahku terhenti, saat melihat celah terbuka pada daun pintu kamar orangtuaku. Instingku  langsung on.
“Bu?” panggilku pelan, khawatir mengejutkan.
Ibu sedang rebahan dengan sebuah buku terbuka di pangkuan, saat kepalaku melongok dari celah pintu. Ibu segera menutup bukunya, begitu aku melangkah mendekat. Tidak ada waktu bagi Ibu untuk menyembunyikan matanya yang basah. Aku sudah berdiri dihadapannya. Mata menyipit, hidung dan bibirnya merah membengkak, sudah menjelaskan dengan gamblang, seberapa lama Ibu menangis.
Aku menghambur ke pelukan Ibu. Kami berbagi perasaan dan tangis. Ibu yang tidak bisa lagi berkelit, akhirnya, menumpahkan sesak dadanya. Tangisnya makin tersedu dan pilu.
“Sejak kapan, Bu?” tanyaku, setelah euforiasesak mereda, dan pelukan kami terurai.
“Apanya?” Aku benci mendengar itu. Jelas-jelas, baru saja kami berbagi tangis dan perasaan bersama. Memang tanpa kata. Tapi kupikir, bahasa tubuh kami sudah ‘berkata’ banyak hal. Dan sekarang Ibu masih bertanya, seolah-olah aku masih seorang bocah, yang hanya tahu bersenang-senang saja. Tidak bisa menyembuyikan marah dan  kecewa, aku bangkit berdiri. Menatap Ibu dengan kecewa, merasa tak dipercaya
“Jane ….” Sorot mata Ibu menyiratkan kesakitan sekaligus permohonan.
Sangat bukan Ibu.
Meskipun Ibu cerewet, aku tahu beliau mencintai dan menyayangi kami dengan sepenuh hati. Dalam situasi ekonomi terbatas, Ibu adalah wanita tangguh yang jarang mengeluh. Aku juga tahu, meskipun Ibu hanya seorang IRT, Ibu adalah wanita yang cerdas. Tapi sosok yang ada di hadapanku sekarang, adalah sosok wanita yang lemah dan kalah.
“Kamu tahu?” tanya Ibu akhirnya, setelah kami saling diam beberapa saat
“Apa Ibu ada rencana akan memberi tahuku? Kapan, kira-kira?” Alih-alih aku menjawab pertanyaan Ibu, aku justru melempar pertanyaan yang aku tahu, menyudutkan wanita, yang sumpah demi apa pun, begitu kusayang dan kukagumi. Tapi melihat sosok rapuhnya kali ini, membuat hatiku seperti dicubit kecil. Panas dan perih.
***
Aku keluar dari kamar ibu, satu jam kemudian. Saran ibu agar aku berganti pakaian dan makan tak kuindahkan. Aku tidak akan keluar kamar sebelum mendengar penjelasannya. Setelah ancaman dan desakanku, mengalirlah sebuah cerita.
Ada WIL–wanita idaman lain-di hati ayah. Wanita itu kaya dan cantik. Paduan yang serasi. Don’t judge a book by it’s cover. Kemasan cantik tidak selalu menjamin isinya, kan?
Wanita itu adalah salah satu klien Ayah. Berawal dari urusan prospek asuransi merembet menjadi prospek hati. Terjadilah affair.
Disinyalir, wanita itu juga banyak membantu Ayah mendapatkan klien-klien baru dengan merekrut teman-teman sosialitanya. Tidak cukup sampai di situ, konon Ayah juga dimanjakan dengan berbagai fasilitas.
Apa ini juga ada kaitannya dengan buah tangan yang Ayah bawa pulang ke rumah? Jika iya, maka menjadi masuk akal, melihat Ibu tak pernah menyentuh oleh-oleh itu sedikitpun.
Apakah Ayahku serendah itu?
Ibu meminta Ayah memilih, dirinya atau WIL itu. Jika Ayah tak tegas mengambil keputusan, maka Ibu yang akan menentukan sikap. Ibu yang akan melepaskan diri dari Ayah.
Peliknya, Ayah tidak mau melepas Ibu.
Ketika Ibu mengatakan ini, Ibu memelukku, meminta maaf. Berharap pengertianku atas keputusan yang diambilnya.
Entahlah, aku sulit menggambarkan bagaimana perasaanku. Ayah yang kukagumi, yang kubanggakan, tiba-tiba menjadi sosok asing hanya dalam waktu singkat.
Aku tidak pernah merasa berkecil hati saat teman-teman berlibur ke berbagai wahana wisata, sedang aku hanya mudik ke tempat Eyang, yang sejujurnya sangat membosankan, tapi tak pernah kukatakan.
Aku juga tidak minder, saat teman-temanku begitu mudahnya mendapat barang-barang yang mereka inginkan, sementara aku membutuhkan waktu untuk menabung demi barang impian.
Intinya, aku tidak minder dengan keadaan ekonomi keluargaku. Aku tidak pernah merasa miskin, karena Ayah selalu berkata, ‘kita boleh saja miskin harta, tapi jangan sampai miskin hati dan ilmu. Karena, dengan hati dan ilmu, akan membuat kita selalu merasa kaya.’ Dan karena prinsip itu, aku sangat mengangumi dan bangga akan Ayah….
Tapi sekarang, apa?
Hatiku patah. Sosok agungnya di benakku, hancur berkeping-keping. Aku kecewa dan sakit hati. Rasanya semakin menghujam ketika aku mengingat satu nasehat, kamu tetap harus berbakti, seburuk apapun orangtuamu.
***
Dilihat dari luar, semua tampak baik-baik saja. Hanya, jika diperhatikan lebih seksama, tampaklah, Ayah dan Ibu saling menjaga jarak dan menghindari obrolan.
Padahal sebelumnya, ada saja yang Ayah komentari tentang Ibu. Entah untuk diskusi atau debat dengan tujuan menggoda. Ibu pun selalu mempunyai jawaban untuk komentar dan godaan Ayah. Itulah momen mesra ala mereka.
Ketika momen itu hilang, ketika rumah ini menjadi sepi dan tenang, justru aku merasa rumah ini jadi asing. Mati. Yang ada hanya jasad, tanpa nyawa.
Tak terelakkan, terbentang jarak antara aku dan Ayah. Biasanya, jika aku bersikap aneh di luar kebiasaan, Ayah akan mencecar dengan rasa ingin tahunya. Tapi tidak kali ini. Ayah diam membisu. Aku pun tak ambil peduli.
Kepada Ibu, aku sengaja menjaga jarak. Bedanya, bukan karena aku tidak peduli pada Ibu. Tapi, lebih karena ingin memberi ruang dan waktu. Memberi privasi.
Kemarin, Eyang Uti–ibu dari pihak Ayah-, meneleponku. Inti pesannya, aku dan adik, apapun yang terjadi, harus tetap fokus dan rajin belajar. Tetap hormat dan sopan pada Ayah dan Ibu. Eyang Uti berjanji, akan segera membantu menyelesaikan masalah keluarga kami.
Huft!
***
Dear Ayah ….
A father is his daughter’s first love.
Seperti itu juga Ayah bagiku.
Ayah adalah laki-laki pertama dalam hidupku. Ayah yang mengenalkanku, arti cinta, sayang, semangat dan perjuangan.
Aku pikir, dulu, Ayah adalah laki-laki yang tidak akan pernah menyakitiku. Ayah adalah laki-laki yang akan selalu menjaga dan membelaku.
Nyatanya?
Ayah yang mengenalkanku akan arti cinta. Ayah pula yang mengenalkanku sakitnya patah hati.
Apa yang terjadi hari ini, membukakan mata kesadaranku, betapa cinta itu kejam, betapa murahnya sebuah kesetiaan.
Aku masih ingin menghormati Ayah.
Aku masih ingin mencintai Ayah.
Aku masih ingin berbhakti pada Ayah.
Tapi, bagaimana caranya aku melakukan semua itu, sementara aku di sini terluka?
Hatiku patah. Cintaku hancur berkeping-keping.
Ayah ….
Masihkah Ayah ingat, julukan yang Ayah sematkan untukku, dulu?
Aku hanya ingin tahu, apakah aku masih menjadi sunshine bagi Ayah?
Jika masih, tentu Ayah tahu, bagaimana membuat sunshine itu kembali bersinar.
Jika Ayah sudah tidak peduli, apakah dia akan bersinar atau tidak, maka aku jadi tahu, sebesar apa cinta Ayah padaku.

Jane,
Your sunshine gone by
*** S E L E S A I ***
Note:
1Bomat: Bodo(h) amat, sejenis umpatan.
2Tonti: Pleton Inti, sebutan ekstra kurikuler baris-berbaris (paskibra) di sekolah

Ditulis oleh: Lyan SM.

3 thoughts on “[Cerpen] Broken Heart”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *