[Cerpen] Boneka untuk Murni

“Udiiinnn …!!!”

Suara Mak Maemunah yang tipis melengking membuat Udin siaga. Dia menarik badannya supaya lebih tersembunyi di antara tumpukan kardus yang memenuhi separuh rumah singgah itu. Sedikit lagi, tinggal kutambahkan pita, lalu selesai. Udin bergegas merampungkan pekerjaaannya.

Sejak tadi Mak Maemunah berkeliling pemukiman dari satu gubuk ke gubuk yang lain. Beberapa kali tangannya menyibak ke depan untuk menyingkirkan kain dan pakaian-pakaian lusuh yang dijemur sembarangan di atas seutas tali rafia dari satu bedeng ke bedeng yang lain.

“Hey …! Jangan kencang-kencang lu tarik jemuran gue, Mae! Bisa rubuh gubuk gue nanti!”

Mak Maemunah hanya mengibaskan tangannya—tanda tak peduli—pada tetangganya itu dan tetap melanjutkan langkahnya yang tegap bak petugas satpol masuk lebih jauh lagi ke dalam pemukiman kumuh itu.

“Udin…!” jeritnya lagi.

Udin yang mengendap-endap bersiap hendak pulang terkejut saat mendapati Mak Mae sudah berjarak hanya beberapa langkah saja di depannya.

“Udin! Ayo, pulang! Banyak kerjaan malah keluyuran enggak guna!”

Dua kali melompat saja, ibu yang gagah itu berhasil menangkap pergelangan tangan anaknya dan menyeretnya pergi. Udin hanya bisa mengernyit dan terbirit-birit mengikuti langkah-langkah lebar ibunya.

Udin menunduk memperhatikan gerak kakinya sendiri. Magrib mulai menua, tidak mudah untuk mengenali apa-apa yang ada di satu meter di depannya. Dan benar saja. Cepproottt…! Genangan sewarna tanah lolos dari mata Udin yang tak henti memincing.

Ujung celana Mak Mae yang sudah tak jelas warna aslinya terkena percikan air comberan yang terinjak Udin tadi. Si empunya celana mendadak berhenti dan mendelikkan matanya pada Udin.

“Din! Elu sengaja?!”

Udin menggeleng lemah. Dari eratnya genggaman tangan emak di pergelangan tangannya, dia bisa tahu seberapa besar kadar kemarahannya. Murka yang bertumpuk-tumpuk sejak berkeliling mencarinya tadi.

@@

Dari jarak 10 meter sudah terlihat pintu rumah yang terbuka. Bang Juki, bapak si Udin, tampak sedang duduk-duduk di lincak reyot yang ada di samping pintu. Kedua kakinya terlipat santai di depan dada. Sebatang rokok tampak mengepulkan asap tipis dari sela jari tangannya.

Cengkeraman maut Mak Mae terasa semakin pedih di kulit Udin. Tak sadar Udin meringis. Kakinya seperti terseret-seret karena Mak Mae tiba-tiba mempercepat langkahnya.

“Pak…!!! Kenapa hanya duduk-duduk roko’an? Macam juragan aja gaya lu, Pak!” Pegangannya pada tangan Udin terlepas, berganti dengan menekan dadanya sendiri, dalam-dalam.

“Nggak akan kekejar juga Mak, udah jam segini, yang pegang duit di kantor Pak Bos juga pasti udah pulang,” dengan santai Bang Juki atau yang akrab dipanggil Bapak oleh Udin menghisap batang rokoknya, tak memedulikan perempuan tinggi besar yang sedang ngap-ngapan di hadapannya.

“Terus duit dari mana bakal buat masak besok, Paaak?”

Bang Juki terkekeh, memutar-mutar batang rokoknya yang tinggal satu senti dari busa filternya.

“Pas tuh! Besok kan, hari Kamis, puasa aja kita, hehehee…. Gimana, Din? Kuat kan, puasa besok? Kagak pake sahur loh .…”

Mak Mae menggeram. Lalu spontan tangan kanannya menghantam pundak Udin berulangkali.

“Gara-gara elu, main melulu bukannya bantuin orang tua! Huhhh…huhhh…!!”

Udin berniat lari menghindar, tapi dia tahu kalau itu percuma. Jadi dia hanya diam sambil menatap bapaknya dalam-dalam, seolah berkirim pesan S.O.S.

“Udah! Kamu masuk, Din!” sergah Bang Juki. “Daripada lu keluyuran nyariin si Udin, mendingan lu tadi bantuin gue. Kerjaan pasti dah kelar dan kita nggak perlu puasa besok!”

Tanpa menunggu dua kali Udin berkelit dari tabokan Mak Mae yang berikutnya. Kelanjutannya sudah bisa ditebak, pecahlah perang adu mulut yang sudah jadi santapan sehari-hari buat Udin dan Murni, adik perempuan satu-satunya.

“Kita kagak perlu puasa besok kalo Abang nggak ngabisin sisa duit yang ada buat beli rokoookkk!”

Udin berhenti sejenak di depan tumpukan barang bekas yang menggunung di samping kasur tempat tidurnya yang masih tergulung di sudut ruang itu. Mau tidak mau, ratusan botol plastik dan kaleng bekas itu harus dibereskan malam ini, supaya dia bisa menggelar kasurnya dan tidur dengan lebih ‘layak’.

Udin menoleh ke kanan, mencari sosok Murni. Di balik kaosnya ada kejutan untuk adik kesayangannya itu. Rupanya si adik sedang di dapur, berdiri tegak di depan kompor. Ceret usang peninggalan almarhumah Emak bertengger di atasnya.

“Kenapa, Mur?”

Murni menoleh dan Udin bisa melihat kecemasan di wajah kanak-kanaknya.

“Apinya mati, Kak. Airnya enggak mau mendidih. Bapak minta dibuatkan kopi.”

Belum selesai Murni bercerita, Mak Mae sudah menyerbu masuk ke dapur. Rupanya dia sempat mendengar ucapan Murni.

“Aduuhhh …, kalau minyaknya habis, turunin sumbunya anak begoooo….!!! Kalo begini gua mesti nyabutin sumbunya lagi. Sana! Minta uang sama bapak kalian buat beli minyak tanah!”

Murni mengkeret di samping Udin. Tangannya menggenggam ujung kaos Udin.

“Kagak ada duit lagi, Makkk….,” Bang Juki menyahut dari tempatnya duduk.

Klaanngg…!!! Panci yang tergantung di dinding anyaman bambu jatuh berdentam di lantai dapur yang berupa semen kasar. Tangan Mak Mae yang baru saja menghantamnya.

“Tuker aja itu sisa rokok pake minyak! Dasar lelaki, rokok melulu yang diduluin. Pikirin nih, perut istri, perut anak-anak elu!”

Ya, Mak Mae memang ibu sambung buat Udin dan Murni. Ibu tiri. Ibu tiri yang cukup baik meskipun tindak tanduknya kasar bukan main. Meski begitu, dia masih mau mengurus Bang Juki dan anak-anaknya.

Udin menggandeng Murni dan mengajaknya beringsut menjauh. Tidak cukup jauh sebenarnya, karena mereka hanya bisa bergeser dua meter melewati dinding yang membatasi ruang depan dan dapur.

Kakak beradik itu duduk di samping tumpukan botol dan kaleng bekas. Tangan mereka mulai melakukan pekerjaan yang sudah biasa mereka lakukan. Udin menggunting kaleng-kaleng bekas dan meluruskannya, sedangkan Murni membersihkan botol-botol plastik dengan lap basah. Mereka bekerja dalam diam, berharap keributan segera mereda.

Tiba-tiba Udin teringat sesuatu. Tangannya mengeluarkan sesuatu dari dalam kemejanya lalu diulurkan pada Murni.

Raut wajah gadis cilik berusia lima tahun itu seketika berubah. Mata kantuknya tak lagi redup. Namun tangannya ragu untuk menyambut pemberian Udin.

Udin mengangguk. Dia tak ingin menimbulkan suara gaduh, jadi dia memberi isyarat pada Murni untuk tidak bersuara juga. “Met ulang tahun ya…,” ujarnya sambil meletakkan jari di bibirnya.

Murni menimang boneka yang diberikan si kakak. Meski hanya dari botol mineral bekas, berkepala bola plastik usang dengan uraian rambut dari tali rafia yang sudah di sikat halus dan berpita kain perca, namun boneka ini benar-benar miliknya. Udin bahagia luar biasa hanya dengan melihat binar di mata Murni.

Sejak ibu mereka meninggal satu tahun yang lalu, hanya kebahagiaan Murni yang dia pedulikan. Menyelinap pergi selepas shalat ashar di musala ke rumah singgah di ujung jalan kampung dilakukannya hampir setiap hari. Salah satunya untuk ini, membuatkan boneka untuk Murni.

Klontang!

Kebahagian dua kakak beradik cilik itu terkoyak, oleh lemparan panci yang mendarat di lantai semen tepat di antara tempat mereka berdua duduk. Keduanya terlonjak. Wajah Murni memucat sementara Udin bersiap menegangkan otot-otot punggungnya untuk menangkal pedihnya sabetan tangan Mak Mae.

“Jadi itu kerjaan lu tiap sore, hah…?!” Mak Mae menyambar boneka botol dari tangan Murni lalu memekik, ”Kapan lu nyolong botol ini? Kurang sebiji aja kagak bisa dapat satu kilo! Dasar anak begooo!”

Sekali remas saja boneka yang baru pertama kali dipunyai Murni itu langsung gepeng. Dan tiba-tiba suasana menjadi ricuh. Murni memekik kencang lalu pingsan. Udin berteriak memanggil bapaknya sambil memeluk erat adiknya. Bang Juki seketika melompat dari duduknya dan menyerbu masuk. Tanpa babibu melayangkan tangan ke wajah istrinya. Hal yang baru sekali dia lakukan dalam hidupnya.

“Ampun ya Allaaaah…, ampun… Bapaaak…. Udin bukan bermaksud mencuri, Udin cuma mau bikin Murni senang, Udin mau kasih kado buat Murni …,” Udin mengguncang-guncangkan badan adiknya, ”Murniii! Jangan matiii …!”

Bang Juki melompati tumpukan barang bekas hasil buruannya seharian tadi dan memeriksa keadaan Murni. Lalu berseru pada istrinya, ”Mak…! Singkirin barang-barang ini ke pojokan sana!” lalu dengan lembut menyentuh bahu Udin, “Lu, ambil air dari gentong sama kain bersih. Kalau sudah, lu cari Pak Mantri Budi, lu ajak kemari buat periksa adik lu.”

Mak Mae sudah pulih dari shock-nya akibat tamparan keras dari suami yang baru enam bulan menikahinya. Dengan tangan gemetar dia memindahkan semua barang-barang bekas tadi secepat yang dia bisa.

Tiba-tiba Bang Juki berteriak ke arah pintu gubuknya.

“Minggir lu semua, anak gua pingsan, butuh udara segarrrr…, jangan pada berdiri disitu!” Tangannya sibuk membasuh dahi Murni dengan kain basah yang diberikan Udin.

Bang Juki berulang memanggil-manggil Murni, dan memijat lembut kaki dan tangan gadis kecilnya. Berkali-kali jarinya meraba pergelangan tangan dan lubang hidung Murni, mencari denyutan ataupun hembusan lembut yang menandakan Murni masih ada bersamanya. Rasanya begitu lama menunggu Udin datang membawa Pak Mantri dan hampir putus asa hingga Bang Juki hendak membopong Murni keluar saja dari gubuknya dan berlari membawanya ke klinik Pak Mantri Budi.

Gumaman tetangga membuat telinga Bang Juki seperti berdengung, memacu jantungnya sendiri hingga udara terasa semakin panas. Dia hanya bisa menatap wajah Murni yang garis-garis wajahnya mengingatkan Bang Juki pada Imah—almarhumah ibu kedua anaknya. Dalam hati dia meratap, ‘Imah…jangan kau ajak Murni pergi.…

Tapi lengan Murni yang sebelah lagi sudah lunglai sedari tadi. Kulit jari-jari Bang Juki yang menebal tak dapat menangkap denyut yang melemah dan menghilang. Sementara tangannya masih saja mengusap dahi dan pipi putri kecilnya.

Ketika Udin datang menyeruak kerumunan, dia seketika tahu, karena memang hanya dia yang diberi tahu Emak bahwa jantung Murni lemah. Mantri Budi yang berjalan melewatinya hanya bisa memastikan dan memberitahukannya pada Bang Juki, bahwa Murni sudah tidak ada.

Bang Juki lemas, namun pelukannya pada tubuh mungil Murni justru semakin erat. Sejak tadi hanya erangan pendek ‘ahh…’ saja yang keluar dari mulutnya. Berulang-ulang. Sementara Mak Mae tergugu di pojok ruangan itu, berseberangan dengan keluarga kecil yang tengah berduka dalam kediaman mereka. Jelas dia bukan bagian dari keluarga kecil itu.

Di tangan Udin ada boneka botol yang sudah peyot. Murni sudah di tidurkan rapi di atas kasur butut yang biasa mereka tiduri berdua setiap malam. Buru-buru dia menyelipkan boneka itu di bawah tangan Murni yang terlipat rapi di dadanya. “Jangan lupa dibawa boneka dari Kakak, Murni.”

*****

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *