[Cerpen] Bidadari Subuh

sumber: persisalamin.com

Pintu masjid berderit, tandanya Subuh sudah datang. Dia adalah seorang muadzin di sebuah pesantren yang terletak di perbukitan Menoreh. Meski Subuh santri kalong, dia selalu datang di waktu tahajud. Santri kalong itu sebutan untuk santri yang tidak menginap di pesantren. Meski begitu, dia tidak pernah meninggalkan sholat tahajud. Sebelum Subuh mengumandangkan adzan, suara qiratinya selalu menggema ke penjuru dusun dari sudut surau.
Lelaki itu diberi nama Subuh, sebab dia lahir ketika adzan subuh berkumandang. Dia tinggal dengan ibunya yang sudah tua renta. Ibunya sudah sangat menginginkan Subuh untuk menikah. Tapi, diusia yang sudah hampir memasuki 31 tahun, belum ada keberaniannya untuk melamar seorang gadis.
Dia memang pemalu. Dia juga tidak percaya diri untuk menyatakan keinginannya menikah kepada seorang gadis. Dia bahkan tidak bisa mengutarakan perasaannya pada seorang perempuan yang dia sukai.
Setelah selesai menunaikan sholat subuh, Subuh terlihat masih di dalam surau.. Pagi ini, dia membereskan rak kitab di surau. Rupanya, kemarin malam selepas mengaji para santri tidak menyimpannya lagi.
“Le, gimana Ibu kamu? “ Pak Kyai selalu memanggil Subuh dengan panggilan Le. Panggilan Le ini dari kata Tole atau anak laki-laki.
“Alhamdulillah, sehat Kyai,” jawab Subuh sambil tertunduk. Subuh tidak berani menatap Pak Kyai kalau Pak Kyai sedang berbicara.
“Le, ibumu sudah sangat tua, apakah kamu tidak mau memberikan dia seorang menantu?”  tanya Pak Kyai.
Sepertinya, Subuh sangat kebingungan dengan pertanyaan ini. Memang Pak Kyai selalu rajin menanyakan ini kepada Subuh. Sebenarnya, Subuh ini banyak disukai santri putri. Tapi Subuh selalu merasa tidak pantas untuk para santri putri itu.
“Maaf Kyai, saya sangat takut Kyai, saya hanya seorang petani. Apakah saya mampu menghidupi istri saya nanti. Satu lagi Kyai, ibu saya, Apakah ada yang mau menerima ibu saya? Saya takut ketika saya menikah, tapi istri saya tidak mau ikut mengurus ibu,” jawab Subuh. Subuh memang anak semata wayang. Sehingga sejak ayahnya sudah tiada, dialah satu-satunya yang merawat sang ibu.
“Gini Le, sekarang kamu sholat hajat dan sholat istikhoroh.” Nasehat Pak Kyai. “Yowes, ya, Le, semoga apa yang kamu inginkan segera terkabul.” Pak Kyai seraya pergi meninggalkan surau.
Sebenarnya, Subuh ingin sekali mengutarakan kegundahan hatinya, kalau sebenarnya Subuh sangat menyukai Putri Pak Kyai. Tapi, Subuh merasa tidak pantas, dia hanya santri biasa. Sebab, Subuh mendengar desas desus kalau Putri Pak Kyai ini dekat juga dengan teman sepondoknya.
                                                                        ***
Sesampainya di rumah, Subuh disambut ibunya dengan senyuman. Meski sudah tua, ibunya masih bisa membuatkan sarapan untuknya. Tidak perlu dengan makanan mahal, cukup ketela pohon dari samping rumah itulah menjadi sarapan mereka pagi ini. Subuh dan ibunya adalah petani yang sangat ulet di dusun itu. Berbekal dari sawah sepetak dari ayah Subuh itulah, mereka bertahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Le, kok baru pulang?”
Nggih Bu, tadi ngobrol dulu dengan Pak Kyai,” jawab Subuh sambil melirik rebusan ketela pohong yang sudah ibunya siapkan di atas meja.
“Oh, begitu Le, sarapan dulu sebelum ke sawah,” kata ibunya sambil menunjukan rebusan ketela pohong yang sedari tadi sudah diliriknya.
 “Kamu kapan membawa bidadari ke rumah ini?” tanya ibunya, belum juga sepotong rebusan ketela itu dia habiskan. Pertanyaan ini lagi, pertanyaan yang sama seperti yang diutarakan Pak Kyai. Pertanyaan yang sebenarnya membuat kupingnya semakin panas.
“Semoga secepatnya ya, Bu,” jawab Subuh. Subuh mungkin hanya mampu memendam apa yang ada dalam hatinya. Menginginkan seseorang yang sepertinya tidak mungkin dia gapai. Tapi, dalam hatinya dia masih terus berharap sebuah keajaiban dari Allah. Subuh, tidak mampu mengutarakan ini ke ibunya, dia hanya mampu mengutarakan ini kepada Allah dalam sujud manisnya disepertiga malam.
***
            “Le, bagaimana sudah ketemu dengan jawaban tadi pagi? Menantu untuk ibumu?” Pak Kyai bertanya sore itu selepas mengajar madin. Selain seorang muadzin, Subuh juga membantu Pak Kyai mengajar madin di surau. Dia santri kepercayaannya Pak Kyai. Dia juga, yang selalu mengantarkan Pak Kyai kalau ada undangan untuk mengisi pengajian. Ketika Pak Kyai, tidak bisa mengajar di surau, dia jugalah yang menggantikannya mengajar.
            “Belum Kyai, saya masih bingung,” jawab Subuh. Setiap menjawab pertanyaan ini, dia ingin rasanya matur ke Pak Kyai, kalau dia sangat menyukai putri Pak Kyai. Namun, keinginan itu hanya mampu dia redam. Sekali lagi, dia merasa tidak pantas. Dia selalu mengingat bahwa putri Pak Kyai sudah dekat dengan teman sepondoknya, yaitu Ali. Ali adalah putra dari salah satu Kyai Besar di Yogyakarta. Meski Subuh tidak tahu persis sedekat apakah mereka.
            Yowes, kalau begitu. Kamu besok selo, kan? Besok siang, antar saya dan Bu Nyai ke pesantrennya nak wedok, ya?” Nak wedok itu panggilan Pak Kyai kepada putrinya.
            Nggih, Pak Kyai,” Subuh selalu tidak bisa menolak perintah Pak Kyai. Dia memang selalu menurut apapun yang diperintahkan Pak Kyai. Apalagi, tentang sesuatu yang berhubungan dengan putri Pak Kyai, Subuh pasti sangat mau.  Pak Kyai hanya mengajak Subuh saja sebab Ali yang menjaga pondok. Pak Kyai hanya mempercayakan pondok kepada Subuh dan Ali.
                                                                          ***     
Tepat pukul 10.30, mobil APV putih berstiker pecinta sholawat Kulon Progo itu akhirnya tiba di sebuah pintu gerbang asrama pondok pesantren putri di kota Klaten. Terlihat, beberapa santri keluar masuk asrama, rupanya hari ini adalah hari minggu. Itu yang menyebabkan para santri bisa bebas keluar masuk.
            “Le, nanti parkirnya di dekat aula saja,” ucap Pak Kyai seraya turun dari mobil dan menuju ke aula. Di aula, Pak Kyai dan Bu Nyai sudah disambut oleh pengasuh pondok pesantren. Sementara, Subuh memarkirkan mobil di dekat aula seperti yang diminta oleh Pak Kyai.
            Subuh tiba di aula, di sana ternyata sudah ada Putri Pak Kyai. Putri Pak Kyai yang mampu meluluhkan hatinya. Putri Pak Kyai yang menjadikan dia belum ingin meminang gadis lain. Di dekat tempat duduknya Putri Pak Kyai, ada beberapa tumpukan tas dan kardus. Mungkinkah, Putri Pak Kyai ini akan mukim? Subuh masih berkutat dengan pikirannya. Hati Subuh, semakin berdegup semakin kencang, Subuh membayangkan setiap hari akan bertemu dengan Putri Pak Kyai.
            “Subuh, apa kabarmu?” Pengasuh pondok itu menyapanya. Dari awal putri Pak Kyai masuk ke pesantren ini, Subuh yang sering mengantar Pak Kyai. Jadi, tidak heran jika pengasuh pondok sampai hafal dengannya.
            “Alhamdulillah, Kyai,” jawab Subuh.
            “Kamu sudah jadi menikah belum, Le? Kok, belum ada kabar sampai sini?”
            “Minta barokah do’anya Kyai, kalau memang Allah menghendaki secepatnya mendapat jodoh. InsyaAllah, saya juga akan menikah secepatnya, Kyai,”
            “Aamiin, mudah-mudahan habis dari sini, kamu mendapatkan jodoh,” ucap pengasuh pondok sambil tersenyum kepada Subuh.
                                                                           ***
            “Le, kamu sudah selesai nderesnya?” Pak Kyai rupanya sudah berdiri di belakang Subuh.
            “Sampun, Kyai,” jawab Subuh. “Ada apa nggih, Kyai?”
            “Le, kemarin ibumu ke sini. Dia inginkan kamu segera menikah. Kalau kamu tak carikan bagaimana, Le?”
            Kulo nderek, Kyai? Kalau memang ada yang mau dengan saya, dan dia memang pilihannya dari, Kyai. Saya mau,” jawab Subuh pasrah. Memang subuh selalu menurut dengan perkataan Pak Kyai. Suduh sudah menganggap Pak Kyai seperti bapaknya. Setiap menjawab ini, hati Subuh selalu bergejolak, tapi dia tidak berani jujur tentang hatinya ini kepada Pak Kyai.
            Yowes, kalau begitu nanti sehabis isya kamu tak tunggu di ndalem, ya?” tutur Pak Kyai seraya meninggalkan surau. Ndalem itu sebutan untuk rumah Abah Kyai kalau di pesantren-pesantren.
                                                                          ***
            “Masuk, Le,” suara Pak Kyai mengagetkan Subuh yang sedari tadi sudah berada di depan ndalem.
            Nggih, Kyai,” Subuh masuk ke ndalem Pak Kyai.
            Di ruangan itu terlihat ada rak buku yang sangat penuh dengan kitab-kitabnya Pak Kyai. Di samping rak, ada sebuah lukisan kaligrafi yang sangat besar. Menambah suasana yang teduh di dalam ndalem. Di sebelah kirinya, ada meja yang penuh dengan tumpukkan kertas, itu adalah meja belajar Pak Kyai. Pak Kyai, selalu menghabiskan waktunya di meja itu jika tidak mengajar.
            “Le, diminum dulu,” Pak Kyai sudah menyiapkan minum, dan ada beberapa kue untuk Subuh. Di ruangan itu, tidak ada siapa-siapa lagi selain Pak Kyai dan Subuh.
            Nggih, Kyai,” Subuh mengiyakan perintah Pak Kyai. Dia mengambil minum dan menikmati beberapa kue.
            “Le, kamu sudah berapa lama ngaji di sini?”
            “Sudah hampir 20 tahun, Kyai,” ucap Subuh sambil mengingat-ingat.
            “Bagaimana kalau saya titip pesantren ini ke kamu, Le?”
            “Maksud, Kyai?” Subuh kaget dengan maksud Pak Kyai.
            “Kamu jadi menantuku, Apa kamu mau menikahi putriku, Le?”
            Subuh semakin kaget dengan pernyataan Pak Kyai. Pak Kyai  hanya mempunyai 1 putri. Memang selama ini, Subuh sudah dianggap seperti anak sendiri. Tapi, Subuh tidak menyangka kalau Pak Kyai ingin menjadikannya mantu. Bahkan, menitipkan pesantren ini kepadanya.
            “Kemarin, saat ibumu ke sini, sudah saya beritahu tentang ini. Putriku, juga sudah bersedia menikah denganmu. Selama ini, kamu sangat mematuhi perintahku.”
            “Maaf, Kyai. Bukankah, Putri Pak Kyai ini dekat dengan Ali?”
            “Putriku memang dekat dengan Ali, karena mereka sepantaran, Le. Mereka juga kuliah di jurusan yang sama meski dari universitas yang berbeda. Jadi, mereka hanya berdiskusi tentang perkuliahan saja. Kemarin yang merekomendasikan kamu menjadi mantuku ini juga Ali, Le,”
            “Bismillah, kalau begitu kulo nderek. Tapi, saya tidak mempunyai apa-apa untuk melamar, Kyai.”
            “Hafalanmu itu, sudah cukup untuk putriku, Le,” ucap Pak Kyai. Subuh selain muadzin, dia juga santri penghafal Al Qur’an. Karena itu, Pak Kyai sangat mempercayakan pesantren ini ke Subuh.
            Subuh, inilah bidadarimu. Yang selama ini, kamu minta kepada Rabbmu sebelum subuh tiba. Bidadarimu itu ternyata adalah Putri Pak Kyai. Dia yang selama ini kamu idamkan. Dia yang selama ini membuat hatimu selalu gelisah. Dia adalah seorang penghafal Al Qur’an. Dialah bidadari Subuh.
//–//
Ditulis oleh: Sifa Dila. Penggiat literasi dari Kulon Progo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *